
Mata Zoya tidak bisa serta merta terlepas begitu saja dari pemandangan di hadapannya. Hatinya berdenyut nyeri melihat lelaki dan wanita hamil yang tampak saling mengasihi itu.
Terlihat lelaki itu berkali kali mengusap perut buncit wanita yang dengan melihat mereka begitu saja, bisa dipastikan keduanya terikat sebuah pernikahan dan tengah menantikan kehadiran buah hatinya.
Sungguh istri yang baik dan perhatian yang meski dalam kondisi hamil besar begitu masih menyempatkan diri membawakan kotak makan sang suami. Dan lelaki itu,,, Sungguh sosok suami yang sangat menyayangi istri dan pandai menghargai usaha dan perjuangan istrinya.
"Bu,,,Ibu nggak apa apa?"
Teguran Siska serta tangannya yang mengguncang guncang tangan Zoya akhirnya mampu menyadarkan kembali Zoya. Siska yang sedari tadi sudah menyusul masuk ke dalam mobil tanpa disadari oleh Zoya, merasa khawatir dengan atasannya itu.
"Eh,,, apa? Apa mbak??" Zoya mengedip ngedipkan matanya yang isinya hampir tumpah ruah menyaksikan kebahagiaan dua insan itu.
"Ibu nggak apa apa? Sedari tadi ibu nggak kedip melihat mereka. Ibu juga sama sekali gak merespon panggilan saya. Ibu kenal mereka???" Siska penasaran karena hal seperti ini baru sekali ini terjadi.
Atasannya itu adalah orang dengan konsentrasi penuh dan tidak pernah sampai tidak merespon dipanggil berulang ulang begitu.
"Eh,,, ng,,, nggak kok. Aku nggak apa apa mbak." Zoya mengibaskan tangannya berulang ulang membuat gerakan seolah tidak membenarkan apa yang ditakutkan atau diduga oleh Siska.
"Yakin bu? Mau saya telponkan bapak Delvara?"
"Eh jangan. Nggak usah mbak. Aku nggak apa apa kok. Udah ah,,, Yuk kita lanjutkan perjalanan. Lagi sebentar saja udah sampai kan kita." Zoya langsung tancap gas dengan posisi mundur.
"Buuu,,, Awas,,," teriak Siska sambil menutup matanya.
Bruuggghhh,,,,
Zoya terlambat menyadari dan bisa merasakan ia menabrak sesuatu dan saat menoleh ke belakang,,, benar saja. Terlihat beberapa orang mengerumuni untuk membantu seseorang yang ditabraknya tadi.
Belum juga kesadarannya kembali,, Zoya dikejutkan oleh gedoran di kaca mobilnya. Zoya langsung pucat menyadari kesalahan yang dibuatnya. Ia kehilangan konsentrasi sampai tak melihat ada seseorang berjalan di belakang mobilnya dan ia langsung saja memundurkan mobilnya.
"Buka!!! Buka pintunya. Tolong tanggung jawab!!" suara yang sangat dikenal Zoya kini pemiliknya telah berdiri di kaca mobil Zoya dan menggedornya.
__ADS_1
"Bu,,, Nggak apa apa. Biar saya saja yang turun. Ibu di sini saja dulu."
Siska yang pengertian pun pandai membaca situasi meski ia masih heran sebenarnya atasannya itu kenapa. Ia bisa melihat bahwa psikis atasannya saat ini tidak memungkinkan untuknya turun menghadapi orang orang yang tampak menuntut tanggung jawab itu.
"Suruh dia turun!! Dia sudah ceroboh dan menabraknya. Saya minta untuk bawa dia ke rumah sakit." Lelaki itu menunjuk kepada wanita hamil yang jadi korban.
Rupanya saking tidak konsentrasinya tadi Zoya tidak melihat wanita itu sudah keluar meninggalkan mini market tersebut dan berdiri di belakang mobilnya untuk menunggu ojek yang menjemputnya.
"Baik bapak. Kami akan bertanggung jawab. Kami akan membawa istri bapak ini ke rumah sakit. Mungkin sebaiknya bapak juga ikut kami saja untuk memastikan semua yang kami lakukan nanti sesuai dengan kemauan dan tuntutan bapak." ucap Siska dengan tenang namun tetap sopan.
"Baik. Saya ikut." ujar lelaki yang langsung membopong wanita hamil yang mengalami pendarahan itu.
Bisa Zoya lihat dari spion tengahnya, lelaki itu bahkan menolak bantuan beberapa lelaki lain yang ingin membantunya menggotong istrinya itu. Terlihat sangat takut istrinya disentuh orang lain. Dan itu kembali membuat hati Zoya berdenyut makin nyeri.
"Silahkan bapak." Siska membantu membukakan pintu tengah dan membiarkan lelaki itu memasukkan tubuh istrinya.
Zoya hanya melengos dan memilih untuk tidak menampakkan wajahnya ketika mereka masuk.
"Mm,,, pak. Mohon maaf. Apa bapak bisa menyetir?" tanya Siska kemudian.
"Mohon maaf pak. Sepertinya atasan saya masih shock dengan kejadian barusan. Kalau memang bapak bisa menyetir, mungkin sebaiknya bapak saja yang menyetir. Lagipula juga biar bisa lebih cepat menuju ke rumah sakit terdekat. Kasihan istrinya."
"Baiklah. Bu,,, silahkan turun. Saya saja yang menyetir." pinta lelaki itu dan hanya dijawab Zoya dengan anggukan cepat.
Siska memang sekretaris sekaligus asisten pribadi yang sangat bisa mengerti kondisi atasannya. Bahkan dalam saat seperti ini pun dia tau apa yang harus dia lakukan meski akhirnya hal itu membuat Zoya dan lelaki itu akhirnya bersitatap setelah Zoya turun.
Lelaki yang tadinya bergerak cepat turun dan memutari mobil menuju ke tempat sopir kini gerakannya pun melambat saat menyadari siapa pengemudi mobil itu sebenarnya.
Keduanya terpaku dalam tatapan dan ribuan kata dalam hati. Ada sedih,,, luka,,, kecewa,,, kaget,,, Segala macam. Hingga rasanya atmosfir di sekitar mereka pun ikut merasakan. Rajesh merasakan tenggorokannya tercekat. Napasnya seolah terhenti mengetahui bahwa yang berdiri di depannya saat ini adalah sosok sang istri terdahulu.
Mereka masih tetap bertatap dalam kebisuan tanpa ada yang tau atau paham apa sebenarnya yang terjadi, hingga,,,,
__ADS_1
"Zo,,, are you ok?? Ada apa ini??"
Seorang lelaki muda sebaya dengan Zoya datang dan langsung memeluk tubuh kaku Zoya. Membuyarkan semua kebisuan dan menyisakan berbagai tanya dalam benak Rajesh. Menimbulkan kecemburuan serta perasaan tak suka dalam hatinya.
"Siapa lelaki ini? Kenapa tampak begitu akrab dan sayang pada Indah? Dan kenapa Indah juga seolah tak menolak saat lelaki itu memeluknya." batin Rajesh bertanya tanya.
"Siska. Ini ada apa sebenarnya?" lelaki itu kemudian menuntut jawab pada Siska karena Zoya masih membisu.
"Maaasss,,,, perutku sakit."
Astaga,,,, mereka semua hampir melupakan wanita hamil yang telah jadi korban. Rajesh tersentak begitu pula Zoya dan semuanya.
"Siska??" tanya lelaki muda yang masih belum melepas pegangan tangannya di jemari Zoya.
"Oh nanti ya pak Rodie,,, nanti saya jelaskan. Sekarang kami harus ke rumah sakit dulu. Silahkan pak." Siska pun kemudian mempersilahkan Rajesh yang semula diminta menyetir.
"Biar saya saja yang menyetir. Siska,,, antar Zoya duduk di sana." lelaki bernama Rodie itu menunjuk kursi sebelah sopir dan tidak membiarkan Rajesh menyetir.
Baik Zoya maupun Rajesh hanya menurut saja. Tidak banyak protes. Kini Rodie sudah berada di balik kemudi dengan Zoya duduk tertunduk di sebelahnya. Siska duduk di belakang Zoya dengan membantu memegangi Alyssa yang duduk di tengah antara Siska dan Rajesh. Alyssa terus mengeluhkan sakit di perutnya.
"Mas sakit,,," rintihnya pada Rajesh dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri Rajesh yang duduk di belakang sopir.
"Iya sabar ya. Bertahanlah." ujar Rajesh sambil mengusap usap kepala Alyssa dan menggenggam tangannya seolah memberinya kekuatan.
Namun meski begitu,,, tatapan mata Rajesh mencari cari wajah Zoya dari pantulan spion tengah. Dan pada suatu titik,,, mata keduanya pun bertemu.
Degh,, kembali dunia terasa berhenti berputar.
...\=\=\=\=\=...
...Rodie itu siapa yaaa,,,, Boleh nggak author jodohin sama Zoya??...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....