
"Monggo cah bagus. Si mbok sudah siap."
Mbok Rati siap dengan tas bawaannya. Delvara tersenyum melihat semangatnya mbok Rati mau diajak ke rumah Delvara di mana ada sang mama di sana.
"Iya mbok. Kita ke bandara sekarang."
"Lho!!! Bandara???" wajah mbok Rati memucat.
"Iya mbok. Kita naik pesawat. Rumah Del kan jauh. " kata Delvara.
"Si mbok takut naik pesawat cah bagus. Nanti kalau pesawatnya mogok di tengah jalan piye?? Kehabisan bensin piye?? Apa nggak jatuh nanti??" mbok Rati mengungkapkan kecemasannya dan bayangannya tentang pesawat terbang.
Delvara tertawa kecil tapi ia bisa memahami ketakutan mbok Rati. Karenanya dengan sabar ia menjelaskan bahwa sebelum berangkat, semua mesin dan kondisi pesawat sudah di cek. Mbok Rati mengangguk angguk meski sempat protes karena buktinya masih ada saja kejadian pesawat jatuh. Tapi Delvara tetap menjelaskan bahwa itu adalah musibah.
"Yang namanya musibah itu kita nggak pernah tau kapan dan bagaimana terjadinya mbok. Manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk menghindari hal hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Tapi tetap saja, kalau Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa mengelak. Jangan musibah yang menimpa pesawat jatuh, orang jalan kaki sudah benar pada jalurnya saja kadang masih bisa disrempet mobil." Delvara memberi pandangan.
"Iya juga ya cah bagus. Yowes, yang pentingnya intinya harus berdoa dan pasrah sama Gusti Allah ya." mbok Rati meyakinkan diri dijawab dengan anggukan dan acungan jempol Delvara.
Keduanya lantas berangkat ke bandara.
Siang itu bandara cukup ramai baik itu di bagian keberangkatan domestik maupun internasional. Suara Hiruk pikuk dan lalu lalang para penumpang memenuhi atmosfir di bandara. Namun di antara sekian banyak manusia, mata Delvara menangkap satu sosok yang sangat dikenalinya.
"Sedang apa Nadine di sini? Bukannya dia bilang sibuk?" batin Delvara saat melihat Nadine baru turun dari mobil berlabel nama sebuah hotel yang cukup terkenal di kota itu.
"Dan siapa yang bersamanya itu?" gumamnya saat melihat seorang pria paruh baya mengenakan masker yang membuat wajah dan penampilannya susah dikenali.
"Lihat siapa to cah bagus?" Delvara dikejutkan oleh mbok Rati.
"Mmm itu,,, Nadine mbok."
"Mana?? Mana?? Si mbok boleh kenalan?" mbok Rati penasaran.
"Jangan dulu mbok. Saatnya tidak tepat." jawab Delvara dengan wajah sendunya kala ia melihat Nadine dengan mesra menggandeng sosok paruh baya itu.
__ADS_1
Sudah bisa dipastikan mereka ada hubungan yang lebih daripada rekan kerja biasa. Awalnya Delvara menduga lelaki itu adalah bos Nadine. Tapi melihatnya menggandeng mesra bahkan sesekali bermanja manja di lengan lelaki itu, Delvara yakin hubungan mereka bukan hubungan kerja.
"Cah bagus baik baik saja kan?" mbok Rati mengikuti arah pandang Delvara dan paham sepertinya Delvara tengah patah hati.
"Nadine mbok,,," Delvara tak sanggup melanjutkan bicaranya.
Delvara terlalu kecewa mendapati kenyataan ini. Bertahun tahun mereka menjalin hubungan dan kenapa saat mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan meski masih ada kendala, tapi Nadine malah begini? Sejak kapan? Kenapa?
Berbagai pertanyaan singgah di otak Delvara.
"Coba saja ditelpon dulu. Coba tanyakan dia sedang apa dan di mana. Kan siapa tau itu bukan non Nadine. Siapa tau hanya mirip cah bagus." mbok Rati memberi ide yang sebenarnya untuk mengetes kejujuran Nadine.
Delvara tidak mengiyakan namun langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Delvara menelpon Nadine dan melihat betapa gadis itu terganggu dengan telponnya. Nadine tampak sebal melihat ponselnya dan tak menjawab. Delvara kembali menelponnya sampai akhirnya lelaki tua yang bersama Nadine itu tampak menyuruh Nadine menjawab telponnya.
"Halo." ketus Nadine.
"Kamu lagi dimana Nadine? Sibuk ya?" tanya Delvara mencoba bersikap biasa saja.
"Oh gitu. Maaf ya sudah ganggu." Delvara menutup telponnya dengan kecewa mendapati Nadine berbohong.
Lebih kecewa lagi karena Nadine tampak biasa saja dan bisa dengan seceria itu kembali menggandeng lelakinya. Sama sekali tak ada raut wajah terbebani setelah mendapat telpon dari Delvara. Dan itu membuat Delvara yakin bahwa Nadine tidak menganggapnya penting.
"Sabar cah bagus. Mungkin ini jawaban dari Gusti. Gusti Allah menunjukkan dan memberi jawaban atas doa cah bagus tadi. Cah bagus meminta diberi petunjuk kan? Ya ini jawabannya." mbok Rati mengusap usap punggung Delvara.
Delvara masih diam dengan mata yang terus mengekori kemana Nadine dan lelakinya melangkah. Mereka masuk ke terminal keberangkatan internasional yang artinya mereka akan keluar negeri.
"Untuk apa?? Hanya berdua? Kamu bahkan tidak pernah bilang pernah ke luar negeri. Apa mungkin selama ini kamu bilang sibuk dan berhari hari tidak bisa ditemui karena hal semacam ini?" Delvara hanya bisa membatin sedih.
"Cah bagus seharusnya bersyukur karena semua belum terlalu terlambat. Untung kalian belum sampai menikah. Cah bagus ini orang baik. Pantas dan berhak dapat jodoh terbaik juga. Diikhlaskan saja ya cah bagus. Yakin dan percaya kalau dibalik semua ini, Gusti Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik dari non Nadine."
"Aamiin." jawaban singkat Delvara terdengar begitu mantap ditambahi dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
"Jangan suka senyum senyum gitu cah bagus. Nanti si mbok makin jatuh cinta lho. Nggak lucu kan kalau penggantinya non Nadine malah si mbok??" kekeh si mbok berusaha menghibur Delvara.
__ADS_1
"Ayo mbok kita masuk. Biarkan saja Nadine dengan kegiatannya." Delvara tak mau lagi tenggelam dalam seribu tanya tanpa jawaban tentang Nadine.
"Monggo." mbok Rati tak kalah semangat.
Delvara tak lagi ingin menoleh ke arah dimana Nadine masih berdiri bersama lelakinya. Kenyataan yang dilihatnya hari ini memang belum seratus persen membuatnya langsung ingin memutuskan hubungannya dengan Nadine. Tapi Delvara ingin diam diam mencari jawaban atas semua pertanyaannya.
Bukan berharap Nadine bisa kembali padanya. Hanya ingin Nadine mendapat pelajaran saja untuk pengkhianatannya ini. Bukan juga dendam melainkan justru karena ia menyayangi Nadine sebagai teman juga dan ingin Nadine berubah setelah mendapat pelajaran.
Sama sekali Delvara tak inginkan hubungan mereka membaik sebagai pasangan. Tapi cukup sebagai teman saja. Nama Nadine otomatis terhapus dari hatinya untuk dijadikan pendamping hidup.
Lain Delvara, lain pula mbok Rati yang semakin gencar berdoa semoga Delvara ada jodoh dengan Indah.
"Duh gusti,,,persatukan dan temukan mereka dalam sebuah ikatan. Aamiin. Cah bagus dan nduk Indah pantas untuk bahagia." diam diam dalam hati, mbok Rati selalu berdoa demikian.
Pesawat yang membawa mereka ke rumah Delvara sudah mengudara diwarnai dengan drama tangisan ketakutan mbok Rati. Delvara begitu sabar menenangkannya meski banyak tatapan mata mengejek. Delvara tidak peduli. Dia menyayangi mbok Rati sudah seperti nenek sendiri.
Tangis ketakutan mbok Rati berakhir ketika pesawat sudah terbang stabil di udara.
"Gimana? Apa masih takut mbok?" tanya Delvara ketika merasakan cengkeraman erat tangan mbok Rati di lengannya mengurai.
"Ternyata alus ya jalannya cah bagus. Nggak kerasa apa apa hehehe,,," mbok Rati nyengir dan garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Percaya kan naik pesawat itu enak?"
"Ho'oh. Besok besok lagi ajak si mbok naik pesawat lagi ya cah bagus." mbok Rati malah ketagihan.
...\=\=\=\=\=...
...Siapa disini yang mau daftar jadi pengganti Nadine??? Mumpung author lagi baik hati dan lagi setia sama pak su 😉 kalau pas khilaf ya author embat sendiri Delvaranya 🤣...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1