Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Didoakan Ketemu Jodoh


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,,,


"Mama,, Zoya pamit berangkat dulu ya." Zoya meraih tangan kanan sang mama lalu menciumnya dengan takzim.


"Lho bukannya ini hari minggu nak. Kamu mau kemana memangnya?" tanya Karin heran.


"Mama lupa ya kalau tiap hari minggu sekarang Zoya jadikan sebagai hari tali kasih? Hari untuk berbagi ke sesama yang membutuhkan." Zoya mengingatkan agenda barunya yang memang belum lama ia jadwalkan.


"Astaghfirullah iya mama lupa nak." Karin menepuk jidatnya sendiri.


"Mama mulai pikun tuh dek,,," ledek Delvara dengan wajah menyebalkannya.


"Hmmm iya mama sudah tau mama sudah hampir pikun tapi kamu masih belum juga bawakan mama menantu." Karin balik meledek sang putra dan memasang wajah pura pura masamnya.


"Syukurinnn,,, weeekkkk" ganti Zoya yang meledek sang kakak yang kini wajahnya memerah tersindir oleh Karin.


"Ah,,, yang penting kakak kan gak sendirian kayak gitu. Kamu juga belum bisa bawakan mama menantu lagi wekkkk,,," Delvara tak mau kalah.


"Beda kasus yaaa,,, kalau aku kan hanya belum bisa bawakan lagi. Kalau kakak,,,sama sekali belum bisa bawakan hahaha,,,"


Adik dan kakak yang sebenarnya sudah sama sama move on dari kisah cintanya sebelumnya malah saling ledek di depan sang mama yang memancing terlebih dulu.


"Yeee,,, ok yuk kita lomba dapat calon menantu buat mama. Berani kamu dek??" tantang Delvara kemudian.


"Siapa takut???" Zoya tak mau kalah.


"Aduh aduh kalian berdua ini. Kok malah cari pasangan dijadikan ajang lomba? Mama nggak mau ya nanti dapat menantu abal abal lagi." tegur Karin.


"Hahaha,,, tuh mama sindir kamu lagi dek. Menantu abal abal hahaha,,," Delvara memang tak pernah bosan menggoda adik kesayangannya itu.


"Yeeee,,, abal abal gitu juga dulu soulmate kakak kan??" sindir Zoya dengan wajah manyunnya.


"Hehehe iya sih,,," Delvara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Udah ah Zoya mau berangkat saja. Ngeladenin kakak di sini sampai seabad juga gak bakal selesai." ujar Zoya menyambar tas kecilnya.


"Kali ini di mana targetmu dek?" tanya Delvara bangkit dari duduknya dan sedianya mengantar sang adik sampai depan pintu.

__ADS_1


Itu sudah jadi kebiasaan keluarga ini. Bila ada yang mau pergi maka salah satu akan mengantar sampai depan pintu.


"Kota S kak." jawab Zoya sambil terus berjalan.


"Kota kecil itu? Memangnya kamu sudah dapat datanya di sana?" tanya Delvara hanya memastikan sang adik tidak salah sasaran.


"Udah kok kak. Minggu lalu aku sudah suruh sekretarisku melakukan riset di sana. Dan hasilnya memang di sana masih banyak penduduknya yang hidupnya kekurangan. Memang mereka punya tempat tinggal tapi kebanyakan masih jobless. Rumah tempat tinggal mereka juga bukan milik sendiri melainkan masih mengontrak. Nih beberapa foto penampakan rumah kontraknya."


Zoya menyodorkan ponselnya yang menampilkan beberapa slide foto keadaan sekitar dan rumah rumah serta beberapa penduduk di area yang akan dituju Zoya kali ini. Memang terlihat masih agak kumuh dan tidak tertata lingkungannya.


"Ok dek. Baik baik di sana ya. Kalau ada apa apa jangan lupa kabari kakak. Syukur syukur kalau kamu datang kesana dan balik balik bawa calon adik ipar buat kakakmu ini." lagi lagi Delvara menggoda sang adik.


"Bawakan dulu adikmu ini calon kakak ipar. Note,, yang baik dan sayang sama kakak, aku dan mau nerima mama yaaa." setengah menyindir juga Zoya membalas sang kakak.


"Dasar kamu dek." Delvara mengacak rambut Zoya.


"Kakak ih,,, nanti hilang cantikku lho." sungut Zoya.


"Yang penting tetap cantik hati dan jiwa." sela sang mama yang rupanya menyusul ke depan.


"Aamiin." sahut kedua kakak beradik itu.


"Mama,,," Delvara mendahului memeluk sang mama.


"Kami juga bangga punya papa seperti papa. Yang punya istri secantik bidadari ini. Yang sudah bersedia mengandung kami selama sembilan bulan dan bertaruh nyawa demi melahirkan kami. Terima kasih mama."


Zoya pun menyusul memeluk sang mama dan sang kakak. Menyisakan mbok Rati yang juga ikut menyeka sudut matanya yang basah melihat momen haru itu.


"Si mbok. Sini." Zoya menarik tangan mbok Rati dan mengajaknya berpelukan ria juga.


"Sudah sudah peluk pelukannya. Kamu berangkat dulu nak. Nanti kamu kesiangan nak. Jangan lupa berkabar pada kakakmu kalau ada apa apa di sana." Karin menyudahi momen itu.


"Siap ma. Zoya berangkat dulu ya. Doakan semuanya lancar dan semoga perjalanan ini menjadi ibadah Zoya."


Zoya mengucapkan salam sebelum pergi diiringi dengan lambaian tangan seluruh anggota keluarganya. Ditemani oleh Siska, sekretarisnya yang sangat setia kepadanya, Zoya pun menuju ke kota S.


"Semua sudah dibawa kan mbak Siska?"

__ADS_1


Di perjalanan Zoya memastikan kembali bahwa semua bawaan sudah masuk di mobil box yang menyusul di belakang mobil mereka. Zoya yang suka menyetir sendiri memang membawa mobil pribadinya untuk kesana dan membawa sebuah mobil box juga untuk mengangkut bawaan mereka. Bahan sembako dan beberapa pakaian baru adalah yang akan mereka bagikan di sebuah lingkungan kecil di kota S.


"Sudah bu. Sudah saya double check dan semua sudah check list." jawab Siska sopan seperti biasanya.


"Terima kasih mbak." Zoya selalu begitu, sering berterima kasih pada karyawannya.


"Sama sama ibu." Otomatis sikap sang bos pun membuat para karyawan lebih sungkan untuk tidak bertindak atau bersikap lebih sopan.


Perjalanan pun berlanjut diselingi beberapa percakapan pribadi antara Zoya dan Siska yang usianya hanya terpaut beberapa tahun saja. Siska lebih tua dan sudah menikah dan mempunyai seorang anak.


"Ibu kapan nyusul nih? Jangan kerja terus bu. Sediakan waktu untuk diri ibu juga. Sudah saatnya ibu mencari pengganti. Nanti kalau kelamaan sendiri disangka nggak bisa move on lho." ujar Siska yang sudah banyak tau tentang cerita perjalanan hidup Zoya.


"Hehehe,,, biarin saja mbak. Mau orang bilang apa deh yang jelas kan akunya bahagia walau masih sendiri. Tapi iya sih,,, aku juga harus memikirkan mama. Tapi ya gimana ya? Belum nemu yang cocok sih." Zoya mengangkat bahunya santai.


"Iya bu saya doakan semoga kali ini,,, di perjalanan kita ini, Ibu mendapat berkah ekstra berupa ketemu jodoh ibu ya. Aamiin." Siska mendoakan.


"Hehehe Mbak Siska ini udah kayak mama aja. Tadi mama juga berdoa begitu. Kakak juga."


"Di aamiinkan dong bu. Doa baik lho itu." Siska kembali berujar.


"Iya deh iyaa. Aamiin." Zoya pun menurut lalu membelokkan mobilnya ke sebuah mini market untuk membeli minuman dingin sebelum mereka masuk ke perkampungan tujuan mereka yang sudah tidak jauh lagi.


Zoya pun turun disertai Siska. Langsung menuju ke lemari pendingin dan memilih beberapa minuman kesukaan mereka.


"Mas,,, Ini aku bawakan bekal makan siangmu. Tadi kamu lupa bawa." suara seorang wanita yang sebenarnya tidak dikenal Zoya.


Tapi Zoya agak terganggu konsentrasinya ketika mendengar suara lelaki yang tadi dipanggil oleh wanita yang ketika Zoya melihat ke arahnya ternyata sedang hamil. Perutnya terlihat membuncit.


"Kamu kok repot repot sih bawain kesini. Aku kan bisa pulang nanti siang. Kasihan kamu." lelaki itu pun mengelus perut buncit wanita hamil itu.


"Bu,,, Ibu,,, Ibu nggak apa apa? Ibu kenal mereka?" Siska menyadarkan Zoya yang matanya sama sekali tak berkedip.


"Cepat bayar dan kita pergi dari sini mbak." ujar Zoya dan melangkah cepat menuju mobil meninggalkan Siska yang masih bingung.


...\=\=\=\=\=...


...Silahkan ditebak,,, Zoya ketemu siapa barusan?? Double up nggak ya enaknya nih?? 😀...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2