
Malam itu mbok Rati makin takjub dengan sifat kedua tuannya itu. Mereka mengajaknya dan Nita makan malam satu meja.
"Nggak apa apa mbok. Bu Karin sama mas Delvara memang selalu menganggap kita kita ini keluarganya. Dulu saya juga awalnya kaget dan merasa nggak enak tapi lama lama sudah terbiasa. Mereka nggak pernah membedakan makanan dan tempat duduknya. Kita akan makan makanan yang sama dengan yang mereka makan, duduk pun bersama sama mereka." ujar Nita meyakinkan mbok Rati yang masih urung melangkah.
"Beneran Nita? Mbok takut dibilang lancang." mbok Rati ragu ragu.
"Beneran mbok. Sumpah. Nita nggak bohong. Ayo, kita ke meja makan dulu kalau si mbok nggak percaya. Bantu Nita menyiapkan makanan. Nanti pasti mbok akan diminta bergabung juga."
"Si mbok bantu kamu siapin makanan tapi su mbok makan di meja dapur saja ya. Ora penak rasane." mbok Rati tetap menolak.
"Ya sudah. Tapi nanti kalau dipanggil, si mbok datang ya." Nita tidak mau lagi memaksa.
"Iyo." mbok Rati mengangguk.
Keduanya lantas bergegas ke dapur dan menyiapkan semua masakan yang sudah dimasak Nita tadi. Mereka membawanya ke meja makan. Bertepatan dengan Delvara yang keluar dengan menggandeng Karin.
"Wah masak apa malam ini mbak Nita?" sapa Delvara yang tampak tergugah seleranya melihat bulatan bulatan kesukaannya.
"Ya kesukaan mas Delvara dong. Sambel pete dan jengkol balado." Nita menunjuk dua hidangan yang sedari tadi memang memikat mata Delvara.
"Mbak Nita tau aja kesukaan saya." Delvara merasa senang.
"Mbak Nita nggak lupa lagi masak sayur untuk saya kan? Biasanya kalau Del sudah pulang, mbak Nita hanya ingat kesukaan Del saja." tukas Karin sambil tersenyum mengingat sebuah kejadian dimana Nita pernah saking senangnya menyambut kepulangan Delvara, ia malah hanya memasak semua menu kesukaan Delvara.
"Hehehe ibu masih ingat saja." Nita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah, yuk kita makan. Mana mbok Rati? Kok nggak kelihatan?" tanya Karin mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok mbok Rati.
"Si mbok nggak mau saya ajakin makan bareng bu. Katanya nggak enak sama ibu dan mas Delvara." ujar Nita seadanya.
"Ya sudah, biar saya saja yang memanggilnya." Karin urung duduk.
"Biar Del saja ma."
__ADS_1
"Nggak apa apa. Kamu duduk saja." tolak Karin dan tak lagi dibantah oleh Delvara yang tau sekali perasaan sang mama kepada mbok Rati seperti apa.
"Mbok."
"Eh cah ayu. Perlu apa kok sampai jalan ke dapur? Kenapa tidak panggil atau suruh si mbok saja?" mbok Rati yang hendak menyuap nasi dengan lauk telur ceploknya meletakkan kembali nasinya.
"Mbok ikut saya makan bersama ya." ajak Karin.
"Tapi cah ayu,,," mbok Rati ingin menolak tapi ucapannya segera dipotong oleh Karin.
"Di rumah ini tidak pernah ada yang namanya tuan atau bawahan mbok. Kita semua sama. Jangan pernah memberi batas atau jarak. Ayo,, saya sudah lapar lho. Mbok mau buat saya sakit maag karena harus berlama lama membujuk mbok??" ancam Karin halus.
"Eh ora ora,,, Ora cah ayu. Yowes ayo kita makan bersama."
Mbok Rati buru buru bangkit dan menggamit lengan Karin. Karin hanya senyum senyum saja dengan ulah mbok Rati.
"Dibilangin nggak percaya sih si mbok ini." cibir Nita begitu melihat keduanya berjalan bersama ke arah meja makan.
"Huusstt,,, Iyo iyo Nita. Sudah,, jangan dibahas lagi hehehe." ucap mbok Rati yang sejatinya malu karena sempat tidak percaya pada Nita.
"Mbok,,, temani saya di kamar ya." pinta Karin begitu mereka telah menyelesaikan makan malamnya.
"Nggih cah ayu." mbok Rati langsung mengikuti langkah Karin.
"Lihat ini mbok." Karin memperlihatkan sebuah foto.
"Ini siapa cah ayu?" tanya mbok Rati yang merasa heran sekaligus merasa tidak asing dengan foto gadis kecil itu.
Mbok Rati merasa pernah kenal gadis kecil itu tapi lupa dimana dan kapan.
"Ini Zoya,,, putri saya. Adiknya Del." lirih Karin.
"Usianya baru 10 tahun saat foto ini diambil. Ini bertepatan dengan pesta ulang tahunnya. Foto terakhir yang saya punya sebelum,,,," Karin tak kuasa melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Sabar cah ayu. Semua sudah kehendakNYA. Jangan dilanjutkan kalau berat rasanya bercerita. Lagipula cah bagus juga sudah cerita ke si mbok. Mbok sudah tau ceritanya cah ayu." mbok Rati mengusap usap punggung Karin yang tersedu.
"Salah saya mbok. Kalau saja saya tidak mengabaikan lelaki itu, mungkin sampai saat ini Zoya masih hidup."
"Ssstt,,, nggak boleh bicara begitu. Belum tentu juga kalau pun saat itu cah ayu menerima cintanya lalu dia tidak akan nekad. Hidup mati sudah ditentukan cah ayu."
"Kenapa harus Zoya ya mbok? Kenapa bukan saya saja yang dibunuhnya?" Karin masih tenggelam dalam penyesalan.
"Cah ayu,,, sabar. Eling sama gusti. Tidak baik bicara seperti ini seolah menentang takdirNYA. Sudah ya,,, Sini biar si mbok yang letakkan fotonya." Mbok Rati meminta foto Zoya yang didekap erat oleh Karin.
"Cah ayu harus ingat,,, Kalau anak cah ayu itu bukan hanya nduk Zoya. Ada cah bagus Delvara juga yang paling merasa bersedih dengan kondisi cah ayu sekarang. Sedih itu boleh, tapi jangan berlebihan. Ikhlas ya cah ayu. Inshaallah kalau cah ayu ikhlas,,, semua bisa terasa lebih ringan. Kasihan juga nduk Zoya. Kalau terus ditangisi begini, malah tidak tenang nanti di sana. Cah ayu nggak mau kan kalau seperti itu?"
Mbok Rati membujuk Karin karena Karin masih enggan melepas bingkai foto itu. Namun kemudian tangannya mengendur dan membiarkan mbok Rati mengambil foto itu.
Mbok Rati mengamati sekali lagi wajah gadis kecil itu. Beliau berusaha keras mengingat ingat wajah siapa itu. Kalau dari namanya memang mbok Rati yakin tidak pernah kenal atau dengar nama Zoya. Tapi wajah itu,,
"Sopo sih? Kok malah lali aku." gerutu mbok Rati karena kesal dengan daya ingatnya.
"Kenapa mbok?" tanya Karin.
"Nggak apa apa cah ayu. Cuma merasa tidak asing dengan wajah cantik ini tapi dimana? Ah,,, tapi kayaknya memang bukan. Mungkin hanya mirip saja. Atau si mbok saja yang mengada ada." mbok Rati menyerah meski masih penasaran.
"Mbok yakin?" tanya Karin antusias dengan harapan besar dan masih menyala.
Sebagai seorang ibu, hingga kini ia belum bisa menerima kenyataan ini karena nalurinya berkata bahwa sang putri masih hidup di suatu tempat.
"Coba diperhatikan lagi mbok. Perhatikan. Coba lagi mengingatnya mbok. Ayo mbok. Lihat wajah Zoya mbok. Benar dia kan yang mbok lihat?? Benar Zoya kan mbok?? Zoya masih hidup kan mbok???"
Karin menjadi memaksa dan mulai histeris lagi.
...\=\=\=\=\=...
...Hari ini judulnya author masih lembur gengs 🥵 Ini nyuri nyuri waktu ngetik ðŸ¤...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....