Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Tujuh Bulan Kemudian


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian,,,,


🌸🌸🌸


"Beri sambutan yang meriah untuk CEO baru kita. Adik tercinta saya, Zoya."


Delvara dengan sangat memperkenalkan Zoya pada semua karyawannya. Hari ini adalah hari penobatan Zoya sebagai CEO di salah satu perusahaan milik keluarga Delvara yang setelah diyakini dan dilihat kemampuannya, Zoya mampu melanjutkan dan membawa perusahaan ini jauh lebih maju dengan ide ide muda dan briliannya.


Siapa sangka,,, meski tinggal dalam keterbatasan pergaulan selama ini karena sikap protektif kakek Wardoyo, ternyata selama di bangku sekolah Zoya selalu berprestasi dan semua pengetahuan yang didapatnya itu kini dituangkannya dan digunakannya untuk mendukung dedikasinya pada perusahaan milik keluarga.


Zoya naik ke tempat di mana Delvara berdiri merentangkan tangannya diiringi riuh suara tepuk tangan semua yang hadir. Keduanya berpelukan sebentar.


"Now, its your time my little sista,,," bisik Delvara.


"Thank you, kak." Zoya balas berbisik dan sempat mencium pipi Delvara.


"Halo semuanya. Perkenalkan, saya Zoya. Gadis beruntung yang terlahir sebagai putri dari mendiang papa Dion, pencetus dan perintis perusahaan ini. Saya yakin papa saya sudah tenang di sana. Melihat saya sudah kembali berkumpul bersama orang orang yang sangat menyayangi saya. Terima kasih mama,,, terima kasih kak,,, terima kasih untuk semua nama nama yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu per satu di sini. Kasih sayang dan cinta kalian semua,,, luar biasa berarti bagi saya."


Dengan mata mulai basah dengan airmata haru dan bahagianya, Zoya berterima kasih pada semua yang menyayanginya selama ini. Tujuh bulan ini bukan waktu yang singkat bagi Zoya berusaha bangkit dari keterpurukannya.


Berusaha sembuh dengan masalah ingatannya, berusaha mengubur semua kenangan masa lalu yang terlampau sakit untuk diingat meski ada serpihan serpihan kebahagiaan selama ia bersama kakek Wardoyo.


"Hari ini,,, dengan bangga sekaligus penuh permohonan saya berdiri di depan anda semua. Saya bangga bisa melanjutkan jejak papa saya. Sekalian saya memohon untuk para senior senantiasa membimbing saya. Saya meminta dengan segala kerendahan hati, bantu saya memajukan perusahaan ini. Jangan posisikan saya hanya sebagai atasan kalian, tapi jadikan perusahaan ini wadah untuk sebuah hubungan kekeluargaan. Saya dan kita semua,,, bersaudara. Bukan atasan dan bawahan."


Beberapa pasang mata mulai basah mengingat pimpinan mereka sebelumnya. Mereka bak melihat sosok seorang Dion dalam diri Zoya sekarang. Bos yang rendah hati dan selalu menganggap semua karyawannya sebagai saudara.


Begitu juga sepasang netra milik Karin. Sudah basah sedari tadi. Basah oleh airmata haru dan bahagianya. Sang putri telah kembali dan sudah berada di posisi seharusnya sebagai putri penerus kerajaan bisnis Dion.

__ADS_1


"Om papa,, Lihatlah putra dan putri kita. Mereka sudah mendapatkan apa yang memang menjadi hak mereka. Tidurlah dengan tenang di sana. Karena Karin juga sudah tenang, tak lagi dirundung rasa bersalah telah lalai merawat titipanmu." bisik Karin dalam hati untuk mendiang suaminya.


Acara formal kemudian diubah ke acara non formal yakni makan makan para karyawan. Seperti biasa, semua hidangan yang tersaji adalah semua makanan permintaan dari para karyawan sendiri. Mereka diharuskan menyerahkan selembar kertas bertuliskan nama makanan yang ingin mereka makan di setiap acara gathering seperti itu.


Itu adalah salah satu langkah yang diambil oleh Delvara selaku pemimpin tunggal selama ini. Ia ingin tau apa yang diinginkan oleh para karyawannya. Ia ingin menyatu dengan mereka.


Karin berdiri didampingi oleh Zoya dan Delvara dari tempat yang lebih tinggi agar mereka bisa melihat betapa para karyawan itu sangat berbahagia.


"Mama bangga sama kalian berdua. Tetaplah seperti ini. Rendah hati dan tetap berlaku manusiawi. Jadi atasan yang baik dan mengerti apa yang diperlukan dan dibutuhkan oleh karyawan kalian." ujar Karin.


"Baik ma." sahut keduanya serempak lalu memeluk Karin.


Bahagia,,, hanya kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini setelah mendung tebal yang menyelimuti. Kini mentari tersenyum dengan segala kehangatannya.


Sementara itu,,, di tempat lain,,,


Rajesh menyerahkan semangkuk bubur nasi tanpa lauk apa pun kecuali cairan kecap asin sebagai penambah rasa kepada mama Rina.


"Bubur lagi???" mama Rina tampak lesu melihat makanan itu.


Selera makannya langsung hilang melihat menu makanan yang rasanya hampir setiap hari dimakannya itu. Kadang isi suwiran ayam, namun keseringan hanya kecap asin.


"Sabar ma. Rajesh belum gajian. Bulan ini katanya gajian ditunda karena bos masih liburan." terang Rajesh yang kini sudah bekerja di sebuah kantor swasta sebagai admin.


"Mama heran sama kamu. Kamu itu dulunya bos. Punya skill memimpin. Kenapa sekarang mencari pekerjaan dengan posisi sedikit terhormat susah sekali bagimu." sungut mama Rina sambil mengambil alih mangkuk bubur itu dari tangan Rajesh.


Lapar yang melanda membuatnya mengesampingkan selera lidahnya. Mama Rina menyantap bubur itu selagi hangat semata mata agar penyakit asam lambungnya tidak kambuh jika harus menunggu Rajesh mendapatkan makanan yang diinginkannya.

__ADS_1


Rajesh hanya tersenyum melihat sang mama yang menghabiskan buburnya.


"Kamu nggak makan?" tanya mama Rina setelah sadar sedari tadi Rajesh hanya melihatnya makan, bukan ikut makan.


"Rajesh masih kenyang ma."


Mama Rina hanya mengangguk tanpa curiga. Padahal cacing di perut Rajesh sudah meronta ronta sedari tadi. Rajesh hanya berharap mama Rina tidak habis dan menyisakan sedikit bubur untuknya. Namun mama Rina yang juga kelaparan, rupanya tidak peka.


Selama ini Rajesh memang bekerja kantoran. Namun gaji yang didapatnya tidaklah cukup untuk bayar sewa kontrakan dan makan mereka berdua serta kebutuhan perbulannya. Seperti hari ini, beras mereka tinggal cukup untuk memasak 3 porsi bubur saja. Untuk makan pagi, siang dan malam mama Rina saja.Hanya saja, Rajesh tidak sampai hati mengatakannya kepada sang mama.


Lalu Rajesh?? Makan apa?? Rajesh lebih sering memilih untuk berpuasa saja. Sejak kejadian terakhir dirinya di usir oleh papa Gunawan, hari hari yang berat telah banyak dilaluinya sebagai gelandangan hingga akhirnya ada yang menawarkannya kerja di sebuah toko yang lalu setelah melihat kemampuannya, pemilik toko itu pun mengajaknya kerja di sebuah kantor swasta miliknya.


Rajesh baru tau kerasnya hidup. Bagaimana rasanya hidup direndahkan. Baru paham bagaimana rasanya jika dirinya yang awalnya kaya raya lalu dianggap tak berguna dan tak ada derajatnya.


Sejak itu, Rajesh lebih dekat dengan Rabbnya. Memohon ampunan atas semua dosa dosanya sekaligus memohon perlindungan dan kekuatan serta kesabaran merawat sang mama dalam segala keterbatasannya saat ini.


"Biarlah aku yang menanggung ini sendiri. Mama sudah cukup baik mau merawatku dan melahirkanku ke dunia ini meski aku adalah aib baginya. Bahkan demi bisa melahirkanku, mama juga sampai dibutakan oleh Gunawan."


Menyebut lelaki itu dengan sebutan Gunawan, bukan papa lagi.


...\=\=\=\=\=\=...


...Masih karma Rajesh ya...


...With love, ...


...Author....

__ADS_1


__ADS_2