Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Seringai Licik Nadine


__ADS_3

"Del,,,huhuhuhu,,,," Nadine menutup wajahnya.


Dengan alaminya tangis Nadine pecah. Tapi meski terlihat alami tapi sesungguhnya itu tetaplah tangis buatan. Nadine tengah berakting layaknya wanita yang sangat menderita. Berhenti menutup wajahnya lantas ia pun mengusap usap kepala sang anak dengan tetap berderai airmata memancing belas kasihan Delvara.


"Anak mama,,, kasihan sekali kamu nak huhuhu,,," Nadine tetap melancarkan aksinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nadine?" tanya Delvara.


Bohong jika ia tak merasa iba akan apa yang dilihatnya. Wanita yang terlihat mengenaskan itu bagaimana pun pernah menjadi wanita terkasihnya dan mereka nyaris menikah. Delvara juga tidak memungkiri bahwa wanita itu pernah menjadi ribuan tawa kebahagiaannya meski sekaligus memberinya segudang luka.


"Rajesh menceraikanku,,, ia mengusirku,,, dan kemudian dengan teganya mengambil semua yang ku miliki. Dia lantas pergi bersama wanita lain. Meninggalkan aku dan anaknya ini. Tiap hari ku doakan agar dia hancur juga sepertiku ini. Agar kekayaan yang diambilnya dariku juga diambil darinya. Ku sumpahi dia jadi miskin. Huhuhu,,,," Nadine menjadi histeris dan itu tetap bagian daripada sandiwaranya.


Entah dari mana Nadine mendapat skenario yang tiba tiba mengalir begitu saja itu.


"Stop Nadine. Jangan terus bersandiwara begini. Meski kita tidak pernah bertemu sekian lama, tapi aku tau bukan begitu ceritanya. Bukan Rajesh yang meninggalkanmu, tapi kamu yang pergi,,, bersama om Gunawan. Berhentilah membuatku terus membencimu dengan sikapmu yang seperti ini Nadine. Aku lebih senang dan menghargaimu jika kamu cerita yang sebenarnya saja." ucap Delvara yang sangat kecewa mengetahui Nadine tak berubah juga.


Masih licik.


Nadine terdiam sesaat. Wajahnya pun memerah karena malu ternyata Delvara malah tau banyak. Nadine segera memutar otak memikirkan langkah apa yang seharusnya di ambil.


"Ternyata kamu masih selalu mencari tau kabar tentangku Del. Aku tau dan percaya,,,kamu memang selalu mencintaiku." Nadine tersenyum dan merasa percaya diri mengatakannya.


"Jangan salah paham Nadine. Aku melakukannya untuk Zoya, adikku. Aku mencari kabar Rajesh agar bisa dan tau apa yang harus adikku ini lakukan ke depannya. Menyelamatkan rumah tangganya atau melepaskannya saja. Ini semua bukan tentangmu sama sekali." Delvara menjelaskan karena tak ingin Nadine salah paham.


Seketika wajah Nadine kembali muram dan tatapannya beralih pada wanita yang terlihat lebih muda darinya dan saat itu juga menatapnya dengan tatapan iba. Dan Nadine paham akan arti tatapan itu. Sebenarnya Nadine kesal dipandang seperti itu namun memang beginilah kenyataan dirinya sekarang.


"Apa benar dia cewek kampung itu???" batin Nadine mencoba mengingat ingat wajah Zoya yang dikenalnya sebagai Indah dulu.


Nadine memperhatikan Zoya dari atas hingga ke bawah dan merasa takjub dengan perubahan gadis kampung yang selalu dihinanya dulu. Nadine kesal sekaligus malu saat tak sengaja menatap pantulan dirinya sendiri di sebuah cermin yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Lusuh dan jauh dari kata cantik.


Siapa yang pantas disebut kampungan sekarang??? Bukankah malah dirinya yang lebih cocok disebut demikian sekarang??


"Ku harap kamu tidak lupa kepadanya Nadine. Ini Zoya atau Indah,,, Adik dari laki laki yang kamu sakiti sekaligus korban dari perselingkuhanmu dengan Rajesh." Delvara malah makin gencar menyudutkan Nadine.


"Kak,,, sudah,,," Zoya berbisik.


"Tidak apa apa,dek. Semoga saja dengan begini, dia bisa sadar diri. Syukur syukur kalau akhirnya bisa berubah dan memperbaiki diri juga." jawab Delvara.


"Tapi kak,,, Kasihan kak." bisik Zoya yang memang susah untuk bisa menyimpan dendam apalagi pada orang yang sudah terlihat banyak menanggung derita seperti Nadine saat ini.


"Kamu kasihan pada orang yang sudah menyakitimu? Dia itu dulu madumu, dek. Dia bersenang senang dengan suamimu saat kamu terbaring antara hidup dan mati. Dia bahkan sama sekali peduli atau kasihan padamu, dek." Delvara sekedar mengingatkan Zoya.


"Aku tau kak. Tapi itu sudah berlalu. Lihatlah,,, dia sudah mendapatkan karmanya. Yang dia rebut dariku, kini juga sudah menjadi milik orang lain, sudah bahagia bahkan bersama istri dan bayinya." ujar Zoya.


"Rajesh dan Alyssa maksudmu dek?" tanya Delvara dijawab dengan anggukan kepala Zoya.


"Alhamdulillah. Selamat ya dek. Kakak ikut bahagia untukmu."


Untuk sesaat, Delvara lupa dengan keadaan sekitar. Ia memeluk Zoya erat saking bahagianya mendengar berita ini. Rodie sudah seperti saudara sendiri bagi Delvara, dan sebentar lagi akan jadi adiknya juga. Tidak terlukiskan bahagianya Delvara mengingat Rodie sudah terlalu lama menunggu adiknya.


Nadine yang awalnya sempat malu karena semua perbuatannya diungkit oleh Delvara, mendengar semua itu termasuk jadi tau betapa hati Zoya iba kepadanya. Hal itu membuatnya kembali memutar otak.


"Dia sedang bahagia,,, aku harus pandai pandai memanfaatkan situasi ini. Dia lemah. Dia tentu tidak sampai hati membiarkanku merana sendiri." batin Nadine.


"Indah,,, maafkan aku." ucap Nadine yang seketika membuat kakak beradik itu melepaskan pelukan lalu menoleh kepadanya, begitu juga Siska.


Rasanya aneh saja mendengar seorang Nadine meminta maaf.

__ADS_1


"Del,,, maafkan aku. Aku tau aku sangat banyak punya dosa kepadamu dan Indah. Bahkan sampai hari ini pun aku masih saja berbuat keburukan di depan kalian. Aku tidak tau harus bagaimana lagi setelah semua ini. Aku stress sampai aku kadang kehilangan akalku sendiri. Sebenarnya tidak mengapa kalau ini hanya menyangkut aku saja. Mati pun tak mengapa sudah. Tapi anak ini??? Aku tidak bisa membiarkannya ikut mati denganku. Dia punya hak untuk hidup tapi aku sebagai ibunya sama sekali tak bisa diandalkan. Aku tidak berguna!!"


Plak,,,plakkk,,,plakkk,,, Nadine menampar nampar pipinya berulang ulang kali.


"Mbak,,, sudah. Hentikan. Jangan seperti ini." Zoya mendekat dan menahan tangan Nadine.


"Biarkan saja Indah. Aku pantas dipukuli begini. Aku sudah hancur." Nadine meronta ronta.


Lalu kehisterisannya membuat bayinya ikut menangis dan situasi pun makin pelik. Raungan Nadine yang tergugu dalam pelukan Zoya, bayinya yang tangisannya juga memekakkan telinga meski kini Delvara sudah menggendongnya tapi tetap tak bisa mendiamkannya.


"Mbak,,, tenanglah. Lihat bayimu. Dia merasakan kesedihanmu juga mbak. Kasihan dia. Dia masih lemah dan sudah cukup menderita, jangan ditambahi lagi." Zoya memberi nasehat pada Nadine.


"Tidak. Aku tidak akan berhenti sampai kamu dan Del memaafkanku." Nadine menggeleng gelengkan kepalanya.


"Mbak,, aku sudah maafin mbak jauh sebelum mbak meminta maaf. Begitu juga kak Del."


"Benarkah??" mata Nadine berbinar.


"Iya mbak. Kami tidak dendam pada siapa pun yang pernah berbuat buruk pada kami." tegas Zoya.


"Terima kasiiiihhh." Nadine memeluk Zoya dan tertawa di balik punggung Zoya.


"Yessss!!!" seringai licik Nadine.


...\=\=\=\=\=\=\=...


...Yakin kalau mereka sebodoh itu bisa ditipu Nadine lagi??...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2