
Sesampainya di rumah sakit yang terletak lumayan jauh dari tempat kejadian, Alyssa segera mendapatkan pertolongan. Tinggallah para pengantar yang tenggelam dalam pikiran masing masing.
Siska tidak berani bicara banyak melihat Zoya yang masih membisu. Rajesh juga membisu. Hanya tinggallah Rodie yang sibuk mengutak atik ponselnya mengusir rasa bosan.
"Suami ibu Alyysa??" panggil seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Alyssa ditangani.
"Bagaimana kondisinya dok?" Rajesh segera berdiri.
Membuat nyeri dalam hati Zoya kembali perih. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Yang jelas Zoya merasa sakit. Cemburukah ia?? Melihat seorang Rajesh yang ternyata bisa dan pandai menjadi suami siaga. Yang bisa juga bersikap hangat dan sayang pada istrinya. Dan semua itu tidak ia dapatkan saat ia menjadi istrinya dulu.
"Katanya move on?? Ayolah Zoya,,, kendalikan hatimu." perintah otak Zoya pada hatinya namun rasanya sia sia.
Zoya tetap merasakan sakit.
"Beruntung pasien segera dibawa kemari. Meski akhirnya kami terpaksa mengeluarkan bayinya karena efek pendarahannya bisa beresiko jika memilih tetap melanjutkan kehamilan secara normal." jelas dokter wanita itu.
"Lalu bagaimana keadaan ibu dan bayinya dok?" tanya Rajesh lagi dengan nada cemas dan lagi lagi itu membuat rasa sakit tersendiri di relung hati Zoya.
"Ibu dan bayinya selamat. Anak bapak laki laki. Normal tanpa cacat apa pun." wajah dokter itu pun terlihat sumringah.
"Alhamdulillah."
Kalimat yang sama keluar dari bibir semua yang mengantar kecuali Zoya. Entah ia harus ikut bersyukur atau tidak. Ia sendiri sedang bingung dengan hati dan jiwanya sendiri. Hingga akhirnya ia tak kuat lagi.
Zoya bangkit. Berdiri dan bergegas berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan Siska yang heran dengan sikapnya kali ini.
"Bu,,, mau kemana??" kembali Siska berteriak namun Zoya tak menggubrisnya, ia tetap berjalan cepat.
"Biar ku susul saja Siska." ujar Rodie yang juga merasa aneh dengan sikap Zoya.
"Baik pak. Saya di sini dulu mengurus administrasi dan segala yang dibutuhkan oleh pasien." tegas Siska.
Rodie mengangguk lalu segera menyusul langkah kaki Zoya yang entah sudah menghilang kemana. Rodie kehilangan jejak.
Sementara itu Rajesh masih tak beranjak dari tempatnya meski dokter sudah mempersilahkannya untuk melihat Alyssa dan bayinya. Rajesh malah tetap terpaku ke arah di mana tadi Zoya melangkah cepat.
__ADS_1
"Pak,,, bapak." panggil Siska.
"Ya? Ada apa?" tanya Rajesh lirih.
"Ini kartu nama atasan saya dan saya juga. Untuk sementara seluruh biaya yang berkaitan dengan pasien akan kami tanggung. Lalu ke depannya, bapak bisa menghubungi saya atau langsung atasan saya juga bisa pak kalau memang ada tambahan biaya atau hal apa pun menyangkut kesehatan pasien. Ini bentuk tanggung jawab kami atas kecerobohan atasan saya tadi pak. Sekali lagi atas nama atasan saya, saya meminta maaf atas kejadian tadi. Kami sungguh tidak sengaja."
Panjang lebar Siska bicara dan Rajesh tidak bergeming.
"Pak,,," tegur Siska.
"Terima kasih. Bisa saya minta tolong pada anda sekali lagi?" tanya Rajesh.
"Bisa pak. Apa yang bisa saya bantu?" Siska begitu tidak keberatan.
"Tolong temani ibu dan bayinya sebentar. Saya ada perlu sebentar di luar. Terima kasih." Rajesh segera pergi.
"Pak,,, tapi,,," Siska heran dengan sikap semua orang hari ini.
"Aneh sekali. Mana ada istrinya lahiran malah dititipkan sama aku? Kirain suami siaga hmmm,,, untung suamiku nggak kayak gitu." sungut Siska tapi tetap menjalankan apa yang diminta oleh Rajesh tadi.
"Selamat atas kelahiran putranya ibu Alyssa. Perkenalkan saya Siska. Asisten pribadi ibu Zoya yang tidak sengaja menabrak anda tadi. Ibu Zoya masih ada keperluan di luar, sebentar lagi datang untuk menyampaikan sendiri permohonan maafnya." Siska masuk dan bicara sopan.
"Oh suami ibu tadi juga masih ada keperluan sebentar. Beliau meminta saya menemani ibu Alyssa dulu." jawab Siska.
"Oh,,, terima kasih. Maaf merepotkan anda." Alyssa terlihat kecewa sekaligus tidak enak hati pada Siska.
"Ibu ada keluhan? Atau perlu bantuan saya? Jangan sungkan sungkan." ucap Siska.
"Tidak ada. Terima kasih." Alyssa menolak.
Selanjutnya Siska tak lagi banyak bicara atau bertanya. Ia lebih memilih melihat bayi Alyssa yang sangat menggemaskan. Siska hanya bicara mengenai sang bayi saja untuk mencairkan suasana. Siska tau, ibu yang baru lahiran pasti senang diajak membahas bayinya.
Sementara itu di depan pintu musholla yang tersedia di rumah sakit itu, Rajesh menatap Zoya sayu. Sebenarnya penuh kerinduan namun tidak mampu untuk sekedar menyentuh.
"Indah,,, aku,,,"
__ADS_1
"Oh God,,, ternyata kamu di sini Zo. Aku cari kamu kemana mana lho." baru juga sepatah dua patah kata keluar dari bibir Rajesh, Rodie sudah datang menginterupsi.
"Lho,,, anda kan suami pasien? Kenapa malah di sini? Apa masih ada yang masih belum bisa diterima dari apa yang sudah kami lakukan hingga anda masih menemuinya?" tanya Rodie setengah menuduh.
"Saya,,, tidak,,," Rajesh bingung mau jawab apa.
"Rodie,,, ini mas Rajesh, yang pernah aku ceritakan dulu. Dan mas,,, Ini Rodie. Kekasihku." Zoya menengahi dengan membuat pernyataan yang mengejutkan.
Zoya yang juga menggandeng lengan Rodie membuat pernyataan itu makin kuat dan terasa menyakitkan di hati Rajesh. Rajesh berpikir keras bagaimana bisa sang istri yang secara status juga masih terdaftar sebagai istrinya tapi dengan lugasnya mengenalkan lelaki lain sebagai kekasihnya.
"Oh ini orangnya. Halo Rajesh,,, Oh ya, selamat atas kelahiran putramu." Rodie mengulurkan tangannya.
"Terima kasih. Kalau begitu aku kembali ke kamar Alyssa saja. Dia pasti membutuhkanku. Permisi." segera Rajesh undur diri dari sana sebelum airmatanya tumpah saking perihnya luka dihatinya.
Zoya memandang kepergian Rajesh dengan tatapan hampa. Tak terasa bulir bulir bening mulai jatuh membasahi pipi putihnya.
"Maaf mas,,, jika aku menyakitimu dengan pernyataanku." batin Zoya.
"Zo,,, kamu baik baik saja?" Rodie bersimpati dan mempererat genggaman tangannya.
"Rodie,,, tolong lepasin. Kamu tau aku cuma sandiwara. Dan kamu juga tau hari ini kamu sudah berulang kali melakukan hal yang tidak ku suka." lirih Zoya.
"Maaf Zo. Soal pelukanku tadi di tempat kejadian, itu spontan ku lakukan cuma untuk memberimu support. Aku minta maaf untuk itu. Meski aku berulang kali menyatakan perasaanku padamu, tapi aku sama sekali nggak sedang mengambil kesempatan di atas kesempitan. Dan ini,,, maaf juga." Rodie melepaskan pegangan tangannya.
"Aku hanya berusaha mengimbangi aktingmu di depannya. Aku nggak ingin dia melihat kamu yang lemah seperti ini. Aku nggak ingin lelaki itu merasa menang lagi dan lagi karena dia masih saja berhasil membuatmu menangis." terang Rodie.
"Aku yang harusnya meminta maaf untuk hal ini. Aku sudah menjebakmu dalam sandiwaraku. Maaf sudah melibatkanmu." Zoya tidak enak hati pada Rodie.
"Nggak apa apa. Kamu tau,, aku rela melakukan apa pun untukmu. Kalau hanya sandiwara seperti ini,,, sama sekali tidak merepotkanku malah aku senang kamu ajak sandiwara terus selama peranku adalah kekasihmu. Bahkan hanya sandiwara pun aku sudah bahagia kamu anggap kekasih Zo."
Zoya menatap manik manik mata Rodie yang setiap kali dilihatnya tidak pernah menyiratkan kebohongan. Namun lagi dan lagi,,, Zoya belum menemukan jawaban apakah Rodie adalah pengganti Rajesh yang baik?
...\=\=\=\=\=...
...Author malah galau mau kasih Zoya buat siapa??...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....