Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Mabuk Jamur


__ADS_3

"Saya lihat, pernikahan ini sudah tidak mungkin dilanjutkan bukan? Sekarang giliran kalian menandatangani semua berkas ini." ujar bapak Arya, pengacara yang selama ini menjaga amanah kakek Wardoyo.


"Apa ini?" tanya Rajesh lesu.


"Tentu saja pengalihan semua aset kepada nona Indah, dalam hal ini sekarang disebut sebagai nona Zoya." jawab bapak Arya.


"Baiklah." Rajesh sama sekali tak ingin mendebat.


Dengan sigap ia membawa semua berkas itu dan akan menandatanganinya namun tangan mama Rina lebih sigap menghalanginya.


"Kamu apa apaan sih?? Ini tuh hak kita. Bukan hak si babu!! Mama yang merawat kakek. Mama yang mendampinginya. Papamu dan kamu juga yang sudah menjalankan bisnis kakekmu. Semua kalian yang kerjakan. Jadi kita lebih berhak mendapatkannya." tegas mama Rina.


"Oh tentu saja nyonya. Kalian memang berhak. Dan tuan Gunawan juga sudah mengambil apa yang menjadi hak kalian. Sejujurnya ini tidak sesuai dengan prosedur dan ingin saya bawa ke jalur hukum. Namun sesuai dengan permintaan nona Zoya, saya tidak akan membawa perkara ini ke hukum. Nona Zoya sudah merelakan apa yang sudah tuan Gunawan ambil." terang bapak Arya.


Namun bukannya mengerti, baik mama Rina dan Rajesh saling berpandangan. Wajah keduanya menyiratkan keheranan dan ketidakpahaman.


"Papa sudah mengambil hak kami?" tanya Rajesh untuk memastikan.


"Benar. Bahkan hal itu sudah terjadi cukup lama. Tidak mungkin kalian tidak tau. Bahkan ada tanda tangan kalian berdua di sana." tambah bapak Arya.


"Hah?? Tanda tangan kami berdua?? Bapak jangan ngaco deh!! Saya sama sekali tidak merasa pernah menandatangani hal hal seperti itu. Suami saya mengambil hak kami juga saya tidak tau. Ohhh,,, saya tau. Ini pasti akal akalan si babu itu kan???" tuduh mama Rina.


"Nyonya,,, saya tegaskan di sini bahwa klien saya bernama Zoya. Dan dia bukan babu. Bukankah justru anda yang sebenarnya anak babu?" sindir bapak Arya yang tau segala seluk beluk keluarga kakek Wardoyo.


"Ma?? Maksudnya apa ini?" Rajesh benar benar bingung dibuatnya.


"Jaga bicara anda ya bapak Arya." mama Rina tidak menjawab Rajesh dan lebih memilih mengintimidasi pengacara Arya.


"Saya sudah sangat menjaga lisan saya dengan mengatakan yang sebenarnya saja nyonya. Justru anda yang mengatakan hal yang tidak tidak. Ingat nyonya, cara anda menyebut klien saya bisa saja kami adukan sebagai tindakan tidak menyenangkan. Dan akan ada konsekuensi hukum untuk itu." pengacara Arya sukses membuat mama Rina tidak lagi berdebat dengannya masalah itu.


"Sudahlah ma. Lagipula papa sudah ambil bagian dan Zoya sendiri sudah tidak mempermasalahkannya. Kelar masalah." ujar Rajesh sudah pusing.


"Terserah kamu saja." sahut mama Rina masih sangat tidak terima.


Mama Rina juga kesal karena sedari tadi menghubungi ponsel papa Gunawan tapi tidak berhasil juga. Bahkan sampai urusan dengan pengacara Arya selesai pun, papa Gunawan masih tidak bisa dihubungi.


"Papa ini kemana sih?? Bisa bisanya pas penting begini malah ngilang. Nggak siaga banget jadi suami." omel mama Rina.

__ADS_1


Rajesh hanya diam. Termenung. Memikirkan banyak hal yang ia sendiri tidak paham apa sebenarnya. Rajesh memang jadi pendiam akhir akhir ini. Terutama sejak terakhir kali ia membuat Zoya kembali harus merasakan sakit karena kehadirannya.


Rajesh makin sibuk menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang sudah terjadi. Buruknya adalah semakin ia melakukannya, cinta untuk Zoya semakin bersemi.


"Jesh!!! Jangan ngelamun aja dong!! Ini papa nggak bisa dihubungin." mama Rina menyenggol bahu Rajesh.


"Meeting kali ma makanya nggak bisa jawab telpon." sahut Rajesh enteng.


"Ih,,, nggak biasanya begini. Mama tuh mau tau perkara pengambilan bagian itu. Kok bisa papa ambil bagian tanpa tanya mama dulu. Memangnya papa tau mama maunya seberapa???" cerocos mama Rina.


"Ya mana Rajesh tau?? Rajesh juga nggak diajak ngomong kok."


"Nah itu dia anehnya. Papa kamu nggak biasanya begini."


"Hai Jesh,,,"


Menantu kebanggaan hadir dengan membawa banyak tentengan barang belanjaan. Terlihat dari merek merek di paper bagnya, barang barang itu adalah barang mahal.


"Lagi banyak uang nih kayaknya menantu mama. Lain kali ajakin mama juga dong." ujar mama Rina.


"Hhh,,, apa?? Ajak?? Nggak salah?? Memangnya situ siapa??" ejek Nadine.


"Haduh,,, Nadine lelah ya habis shopping. Dan Nadine mau,,, kalian secepatnya enyah saja dari sini. Lelah tau menampung orang miskin di rumah ini." ujar Nadine sambil mengibaskan rambut wanginya yang habis perawatan mahal di salon langganannya.


"Nadine!! Siang siang udah ngelantur aja bicaramu!!" ketus Rajesh.


"Siapa yang ngelantur?? Orang bener kok. Aku sebagai pemilik rumah wajar dong keberatan kalau kalian masih di sini. Bikin sepet mata saja." sinis Nadine.


"Istrimu ini kayaknya makan jamur merang deh Jesh. Mabuk!! Ngelantur nggak jelas." ujar mama Rina mulai kesal.


"Heh nenek tua!! Jaga bicaramu ya!!" umpat Nadine kesal.


"Apa?? Kamu memanggilku apa barusan???" mama Rina melotot dan berdiri menantang.


"Nenek tua. Kuda nil. Gembrot. Nggak guna. Oon. Puas???" ejek Nadine melawan.


"Nadine!!" Rajesh ikut berdiri di tengah tengah keduanya dengan sikap frustasinya.

__ADS_1


"Ada apa ini?? Ribut saja terus."


Papa Gunawan datang tepat waktu dan itu membuat mama Rina merasa terselamatkan.


"Ini nih si Nadine. Mabuk jamur merang. Ngelantur kemana mana ngomongnya." tuding mama Rina.


"Nadine ngomong apa memangnya barusan?" papa Gunawan bertanya dengan sangat lembut pada Nadine.


"Ngomong apa adanya aja. Nadine cuma meminta mereka pergi dari rumah ini saja. Kan ini rumah Nadine. Ada yang salah??" tanya Nadine balik.


"Tuh kan papa dengar sendiri. Ngelantur nggak jelas." sungut mama Rina.


"Nggak ada yang ngelantur di sini ma. Apa yang Nadine bilang itu memang benar kok. Ini rumah Nadine." tegas papa Gunawan.


"Papa ikut ikutan salah obat ya?? Gimana ceritanya ini rumah Nadine?? ini rumah kan papa sendiri yang beli pakai uang jual rumah lama kita. Sama sekali nggak ada hubungannya sama Nadine. Papa bahkan membelinya sebelum Rajesh menikahinya." mama Rina tidak terima.


"Itu benar. Namun rumah ini sudah papa hibahkan atas nama Nadine. Jadi memang hak dia sepenuhnya untuk tetap membiarkan mama dan Rajesh tetap tinggal di sini atau justru sebaliknya,,, mengusir kalian." terang papa Gunawan santai.


"Ini apa maksudnya pa??" Rajesh semakin pusing.


"Jelasin sama mama pa!!! Papa udah cukup buat mama kaget dengan diam diam mengambil bagian harta papaku tanpa konfirmasi pada mama dan Rajesh. Sekarang malah hibahkan rumah ini juga. Papa waras???" cecar mama Rina.


"Oh jadi kalian sudah tau masalah itu? Pengacara Arya sudah datang ya?" dengan enteng papa Gunawan menanggapinya.


"Pa!!! serius dikit dong!!"


"Dua rius bahkan. Rumah ini sudah jadi milik Nadine. Dan harta peninggalan kakek tua itu juga udah atas nama papa yang sebentar lagi akan papa hibahkan pada Nadine juga. Dia hamil anak papa, jadi wajar kan kalau papa memberinya semua ini?"


Buuugghhh,,,,


Mama Rina terjatuh lemas dan tak sadarkan diri. Rajesh hanya bisa linglung dengan semua ini. Belum bisa benar benar mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


...\=\=\=\=\=...


...Slow guys,,, author lagi ada upacara keagamaan 🙏...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2