
"Baiklah mas Rajesh. Tapi sebelum saya menikahkan kalian berdua nanti, saya hanya ingin memastikan bahwa pernikahan ini bukan paksaan kan? Kalian berdua juga sama sama single kan? Saya hanya tidak mau nanti kena masalah ke depannya selaku yang menikahkan kalian."
Pak ustad mengiyakan permintaan Rajesh untuk menikahkannya dengan Alyssa tapi juga tak serta merta memuluskannya. Ada hal hal yang memang harus diluruskan terlebih dahulu.
"Aman pak, inshaallah." jawab Rajesh mengabaikan perasaannya sendiri.
Ia hanya ingin segera selesai. Ia ingin membungkam Alyssa agar ia punya waktu santai untuk meratapi perceraiannya dengan Zoya tanpa tuntutan ini dan itu dari Alyssa.
"Bagas itu kan bukan,,,," pak ustad merasa tidak nyaman melanjutkan.
"Benar pak. Tapi inshaallah saya bisa menerimanya. Inshaallah itu tidak akan jadi masalah ke depannya." jawab Rajesh yang sudah paham arah pertanyaan pak ustad.
"Baiklah kalau begitu mas Rajesh. Nanti saya ke rumah mas jam 7 saja ya. Selepas sholat isya'. Tolong mas Rajesh siapkan dua orang saksi juga. Wali dari mas Rajesh ada kan? Mbak Alyssa walinya siapa ya mas?"
"Kami berdua tidak punya siapa siapa lagi pak ustad. Keluarga kami semua tinggal jauh. Saya hanya ada mama. Alyssa sebatang kara."
Pak ustad tampak berpikir keras. Namun segera saja Rajesh tidak memberinya ruang untuk berpikir.
"Tolong kami berdua pak. Nanti kalau memang sudah ada dana cukup, pasti saya akan menikahinya secara sah hukum dan negara. Saat ini,bantu kami agar kami jauh jauh dari perbuatan zina. Saya takut kami berdua tidak bisa menahan diri atau termakan bujuk rayu setan."
"Baiklah mas."
"Terima kasih pak ustad. Saya pamit dulu.Saya tunggu pak ustad di rumah jam 7 malam. Assalamu'alaikum." pamit Rajesh.
"Wa'alaikumsalam." sahut pak ustad sembari geleng geleng kepala memikirkan pernikahan yang begitu dadakan ini.
Sempat terbersit pikiran buruk tentang Rajesh dan Alyssa dalam kepalanya namun segera beliau tepis. Beliau kenal betul siapa Rajesh. Lelaki yang dulu datang kepadanya menangis nangis menceritakan semua beban hidupnya itu kini beliau percayai sebagai orang yang beriman. Pasti sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk.
Rajesh berjalan pulang setelah sempat singgah di rumah beberapa orang yang dirasa pantas untuk dijadikan saksi pernikahannya nanti malam. Sesampainya di rumah, ia heran kenapa ada sebuah mobil mewah parkir di jalan depan rumahnya.
"Siapa ya?" pikiran Rajesh menerka nerka.
__ADS_1
"Mas,,," Alyssa menyambutnya dengan wajah dan mata sembab sehabis menangis.
"Kamu kenapa Alyssa? Kita akan menikah. Jangan khawatir. Pak ustad akan datang malam ini jam 7 untuk menikahkan kita. Aku juga sudah meminta beberapa orang untuk menjadi saksi." ujar Rajesh yang menduga Alyssa menangis karena mengira mereka akan batal nikah.
"Justru itu,,," tangis Alyssa kembali pecah.
"Sebenarnya ada apa ini Alyssa? Dan mobil siapa itu di depan?" tanya Rajesh.
"Itu mobil saya." seorang lelaki sebaya dengan Rajesh berpenampilan bak orang kaya keluar dari rumah Rajesh.
"Anda siapa?" tanya Rajesh yang tak mengenali lelaki yang diam diam juga pernah jadi duri dalam pernikahannya dengan Nadine selain papanya.
Rajesh memang tak pernah kenal Ferry sebelumnya. Papa Gunawanlah yang memergokinya bersama Nadine memadu kasih di ranjang panas mereka setelah Rajesh mereka usir dari rumahnya sendiri.
"Maaf kalau saya terkesan lancang atau mungkin mengganggu niat baik anda menikahi Alyssa. Tapi kenalkan dulu,,, saya Ferry. Ayah Bagas sekaligus lelaki breng*sek yang sudah membuat Alyssa sampai di titik ini."
Bugh,,, Bugh,,, Rajesh tak bisa menahan dirinya untuk tidak memukul Ferry beberapa kali pukulan saja. Emosinya memuncak sebagai sesama lelaki yang membenci perbuatan bejad Ferry dan teman temannya pada Alyssa hari itu. Perbuatan yang akhirnya juga menjebaknya dalam rencana pernikahan yang berlandaskan oleh kata iba.
"Mas,,, tolong hentikan. Jangan pukuli dia mas." Alyssa memohon untuk Ferry.
"Tidak apa apa Alyssa dan ibu. Saya memang berhak dihajar setelah apa yang sudah saya lakukan pada Alyssa. Tapi semua ini tidak akan mengubah atau menyurutkan niat saya untuk bertobat, memohon maaf pada Alyssa dan meminta kesediaannya untuk kembali bersama saya merajut mimpi kami. Dan kepadamu juga mas Rajesh,,,saya mohon kelapangan hati anda untuk membatalkan rencana pernikahan kalian. Relakan Alyssa bersama saya. Biarkan Bagas hidup bersama ayah kandungnya. Tentu saja tidak lupa mengucapkan ribuan terima kasih karena anda dan ibu sudah menjaga Alyssa dan Bagas dengan begitu baik."
Rajesh tertegun sejenak. Rasanya napasnya belum normal sekembalinya ia berjalan kaki mengunjungi rumah pak ustad dan beberapa tetangga lainnya, tau tau sekarang rencana pernikahan yang sedianya akan dilaksanakan beberapa jam ke depan diminta untuk digagalkan.
Bagus,,, itu bagus untuk Rajesh tapi Rajesh juga tidak bisa serta merta bersenang hati. Ia perlu meyakinkan bahwa lelaki di hadapannya ini benar benar layak untuk dimaafkan oleh Alyssa atau tidak. Memastikan juga apa Alyssa sendiri juga bersedia kembali padanya atau tidak.
"Apa pendapatmu Alyssa? Ini semua tentang hidupmu. Tentang Bagas juga. Kamulah yang paling berhak menentukan di sini. Kalau kamu mau kembali padanya, maka aku tidak akan pernah melarang selama kamu yakin dia sudah berubah dan layak untukmu dan Bagas." kata Rajesh.
Alyssa tergugu sejenak sebelum menjawab.
"Mas,,, maafkan aku. Sejujurnya aku masih selalu mencintai mas Ferry meski aku juga sangat membencinya. Tapi aku merasa tidak enak hati juga kepadamu yang sudah menyiapkan pernikahan kita. Apa kata orang orang nanti mas?" Alyssa bimbang.
__ADS_1
Ia memang selalu mengira bahwa Rajesh itu punya perasaan kepadanya. Karena itu Rajesh selalu baik padanya dan Bagas. Alyssa sama sekali tidak peka pada perasaan Rajesh yang sesungguhnya.
"Jangan dengarkan kata orang. Dengarkan sendiri kata hatimu Alyssa." tegas Rajesh.
"Mas,,, aku ingin kembali pada mas Ferry. Dia cintaku mas. Apa kamu nggak apa apa? Apa aku menyakitimu mas?" tanya Alyssa tidak enak hati.
Rajesh menggeleng dan tersenyum.
"Sama sekali tidak Alyssa. Kamu sudah pernah dengar kan bahwa aku hanya mencintai satu wanita dalam hidupku yang entah kami bisa bersatu atau tidak kelak,,, aku akan tetap mencintainya." ujar Rajesh.
"Mbak Zoya?" lirih Alyssa.
Rajesh mengangguk membenarkan. Membuat Alyssa merasa perasaannya tidak karuan juga. Antara kasihan pada Rajesh yang kehilangan Zoya sekaligus senang karena dirinya sendiri kembali berpeluang mendapatkan Ferry, cintanya.
"Pergilah Alyssa. Berbahagialah bersama Bagas dan ayahnya." seru Rajesh.
"Bagaimana denganmu mas?" tanya Alyssa.
"Aku akan baik baik saja. Aku masih selalu percaya kalau jodoh itu tak kemana. Mungkin saat ini dia lepas dariku, tapi aku akan tetap menunggunya kembali padaku hingga akhir hayatku."
"Terima kasih sudah begitu baik kepadaku dan Bagas selama ini mas. Apa yang kamu lakukan begitu berharga dan tidak akan pernah aku lupakan. Semoga kamu juga bisa menemukan bahagia setelah ini meski tanpanya." Alyssa mendoakan Rajesh.
"Aamiin."
Rajesh dan mama Rina melepas kepergiaan Alyssa dan Bagas dari hidup mereka. Pernikahan memang akhirnya batal dan perlu beberapa kalimat panjang untuk menjelaskan pada pak ustad dan beberapa orang yang sudah diundang. Namun itu sama sekali tak menjadi beban bagi Rajesh.
Ia justru bahagia karena terlepas dari pernikahan yang memang tak seharusnya terjadi. Setidaknya itu membuat ia merasa tak menjadi pengkhianat untuk cinta sucinya pada Zoya.
...\=\=\=\=\=...
...Kisah belum ending ya pemirsah,,, sabar dan tetap dukung author dengan like, komen dan juga vote serta hadiah jugalah wkwkwk,,, udah double up lho,,, ...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....