
"Ku mohon Rajesh. Jangan berpikir lagi. Nikahi dia. Untuknya, untukmu dan juga untukku."
Rodie menangkup sepuluh jarinya di depan dada dengan wajah mengiba. Ia sangat takut Rajesh akan berubah pikiran melihatnya masih hidup dan dalam kondisi yang terlihat sangat mengenaskan. Pipi tirus, tubuh kurus, mata cekung dan setengah bagian tubuh lumpuh.
Rodie tak ingin dikasihani oleh siapa pun termasuk Rajesh. Ia sudah bertekad melepas Zoya untuk Rajesh dan ia tak ingin hanya karena melihatnya begini, semua sia sia.
"Baiklah, akan ku nikahi dia! Tapi,,, hanya dengan satu syarat." suara Rajesh membuat mata Rodie memicing.
"Syarat?" Rodie mengulang kata itu.
"Aku ingin kamu menemuinya. Memberinya jawaban atas semua pertanyaannya tentang kepergiaanmu selama ini. Aku mau kamu jujur padanya atas semua yang menimpamu."
Rupanya itu syarat yang diminta oleh Rajesh. Rodie menunduk dan berkali kali menggeleng lemah. Syarat itu sangat sulit untuk dipenuhinya. Selama ini susah payah ia menghilang dan menahan kerinduannya pada sang wanita pujaan demi membuatnya tidak pernah tau apa yang dialaminya.
Rodie tidak ingin Zoya menangisinya atau mengasihaninya. Bagi Rodie itu lebih menyakitkan daripada dimusuhi oleh Zoya. Rodie selalu berpikir bahwa lebih baik membuat Zoya membenci dirinya. Karenanya ia memang menghilang dengan sengaja. Agar Zoya marah dan membencinya. Agar tak ada airmata kesedihan di kedua mata yang selalu membuat Rodie terpesona itu.
"Aku ingin dia yang memutuskan, memilih siapa. Jika memang dengan melihatmu ia menjadi memilihmu, maka meski berat rasanya di hati ini, akan tetap ku lepas ia untukmu. Sama dengan yang kamu lakukan. Tapi jika memang ia tetap memilihku, maka setidaknya ia melalukannya setelah ia benar benar ikhlas berpisah denganmu. Aku tidak mau lagi membina rumah tangga tanpa berdasarkan atas perasaan yang lega. Aku tidak ingin lagi menikah dengan membebani atau menyakiti satu hati lainnya. Aku ingin keterbukaan."
Rajesh tidak berubah pikiran. Ia tetap meminta Rodie tak lagi bersembunyi dari Zoya.
"Aku akan segera mati Rajesh. Dia akan sedih." lirih Rodie.
"Itu pasti. Tapi akan lebih sedih lagi jika suatu saat nanti ia tau kebenaran tentangmu dari orang lain atau mungkin setelah kamu pergi. Ia akan menanggung rasa bersalah seluruh sisa umurnya. Rasa bersalah akibat kebohonganmu. Bukankah itu tidak adil baginya? Kamu yang berbohong tapi dia yang harus menanggung rasa salahnya."
Rodie menutup telinganya dan berkali kali menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tak mau mendengar semua kemungkinan yang dikatakan oleh Rajesh meski ia membenarkannya.
"Pilihlah,,, aku turun sendiri dan meninggalkannya dalam ribuan pertanyaan seperti yang kamu lakukan padanya,,, atau,,, kamu ikut turun bersamaku. Kita temui ia bersama sama dan katakan semuanya. Berikan semua jawaban atas pertanyaannya selama ini." Rajesh tetap mengintimidasi.
Rodie mulai menangis sesengukan. Itu pilihan berat baginya.
__ADS_1
"Hadapi Rodie,,, jangan terus berlari atau bersembunyi. Mari kita tuliskan garis jodoh kita sendiri kali ini. Mari kita sama sama berusaha menjemput jodoh kita. Dan mari dengan jiwa lelaki dan lapang dada,,, kita terima apa pun keputusannya."
Kali ini Rajesh duduk bersimpuh di depan Rodie. Memegang kedua lutut lemah itu dan berharap pemilik tubuh itu meluluh. Rajesh sungguh tidak mampu rasanya menikahi Zoya setelah melihat kondisi rivalnya ini. Ia tak akan merasa menang dan malah sebaliknya jika tetap menikahi Zoya tanpa mempertemukan keduanya terlebih dahulu.
Meski hanya dengan membayangkan jika keputusan Zoya ternyata adalah kembali pada Rodie sudah membuat seluruh bagian hatinya terasa pedih,, namun tetap harus ia lakukan.
"Aku,,,aku,,," Rodie tak sanggup berkata kata.
"Aku tidak bisa berlama lama di sini. Ingat, aku hanya pamit ke toilet. Seharusnya tidak selama ini. Aku tak ingin dia mencari cariku dan malah dia sendiri yang menemukan kita di sini. Itu akan lebih memukul hatinya. Kamu ingin hal itu terjadi?" tanya Rajesh lembut.
Dan bersamaan dengan itu memang keduanya mendengar panggilan yang ditujukan kepada Rajesh. Sepertinya itu suara Angie.
"Rajesh,,, Rajesh,,,kamu di mana?"
Benar itu memang Angie di lantai bawah yang sepertinya mencari cari keberadaan Rajesh. Angie pasti sangat takut kalau Rajesh malah menemukan Rodie.
"Mas,,, Di mana kamu?" selanjutnya suara Zoya yang terdengar dan membuat dua pria yang sama sama mencintainya saling berpandangan untuk sejenak.
Rodie merasa rasa rindunya akan suara itu selama ini terobati. Begitu meneduhkan namun kemudian menyedihkan mengingat situasi dan kondisinya saat ini. Ingin rasanya Rodie menyahut namun lidahnya kelu. Ingin rasanya segera berlari dan memeluk pemilik suara itu tapi apa daya,,, kedua kakinya pun tak mampu diajak kerjasama.
Kondisinya terlalu menyedihkan untuk dilihat Zoya,,,
Sementara itu di lantai bawah,,,
"Ketemu?" tanya Zoya pada Angie yang masih kebingungan karena tak menemukan Rajesh di toilet tamu.
"Nggak. Honey,,, kamu tadi benar kasih tau arah ke toilet?" Angie memastikan pada Daniel yang juga bingung mencari.
"Benar honey,,," jawab Daniel pasti.
__ADS_1
"Apa mungkin dia ke atas ya? Tapi ngapain juga mas Rajesh naik ke atas? Kan bukan ke sana arah toiletnya." Zoya memandang ke arah lantai dua.
Membuat Angie dan Daniel seketika gugup. Mereka takut Zoya meminta untuk diantar ke atas dan malah mengetahui keberadaan Rodie.
"Apa di atas ada toilet juga? Mungkin toilet yang di bawah sedang rusak makanya mas Rajesh ke atas. Angie,,, Boleh aku naik?" kali ini Zoya benar benar meminta izin untuk memeriksa di atas.
"Eh,,, ng,,, ja,,, jangan." larang Angie dengan gugup.
"Aku hanya khawatir dengan mas Rajesh, Angie. Takut dia kenapa kenapa. Aneh saja rasanya kalau dia begitu lama di toilet kan? Kalau pulang duluan rasanya juga tidak mungkin. Kan pintunya cuma di sana. Pasti kita melihatnya dan tidak mungkin juga dia meninggalkanku di sini." Zoya mengungkapkan alasannya meminta izin naik ke atas.
"Iya aku ngerti kok. Tapi,,, mmm,,," Angie tak bisa menjelaskan alasannya melarang.
"Biar aku saja yang periksa di atas." Daniel maju.
"Terima kasih Daniel." Zoya menoleh dan mengangguk hormat.
Namun belum juga Daniel melangkah,,, mereka bertiga dibuat terkejut oleh suara Rajesh.
"Kami di sini,,,"
Yang lebih mengejutkan lagi adalah Rajesh tidak sendirian melainkan dengan seorang pria kurus duduk di kursi roda yang didorong oleh Rajesh. Wajahnya terus menunduk.
Angie tak sanggup menahan airmatanya. Daniel memeluknya. Keduanya sudah pasti tau siapa yang ada di kursi roda itu. Tapi tidak dengan Zoya. Zoya merasa heran siapa yang dibantu oleh Rajesh itu.
"Mas,,, itu siapa?" tanyanya.
...\=\=\=\=\=...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....