Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Rencana Rajesh


__ADS_3

Sebelumnya,,,


"Aku gak bisa tinggal diam. Aku harus balas dendam sama pembantu sialan itu. Dia pikir siapa dirinya?? Melambung tinggi dia kalau tau sampai kakek pun rela membuang kami yang sudah jelas jelas meski bukan anak dan cucu kandung tapi asal usulnya jelas. Bukan pembantu yang katanya mirip kekasih lama kakek. Dasar orang tua edan,,, ya kali jaman sekarang mirip doang bisa dapat warisan."


Rajesh tidak terima. Bahkan sangat tidak terima. Ia merasa dirinya dan papa Gunawan lah yang selama ini bekerja keras mengembangkan usaha dan segala bisnis yang telah dirintis oleh kakek Wardoyo dari nol.


Memang benar,,, papa Gunawan hanya sekedar meneruskan apa yang sudah berjalan dan Rajesh juga hanya turut andil melanjutkan usaha keluarga. Tapi tetap saja,, rasanya tidak adil kalau tiba tiba semua diambil paksa dari mereka hanya karena seorang gadis gak jelas.


"Aku harus bisa mengambil kembali semua yang sepatutnya memang jadi hak kami. Kami yang susah payah. Bukan dia!! Dia itu cuma numpang dan nyusahin. Sudah cukup apa yang kakek dan mama berikan kepadanya selama ini. Dia gak berhak untuk dapat lebih banyak lagi!!!"


Rajesh sedikit menyusun rencana. Mau tidak mau memang dia harus merendahkan dirinya di depan kakek Wardoyo dan Indah demi bisa mendapatkan simpati keduanya lagi.


"Tak mengapa terlihat lemah dan murah sementara. Yang penting bisa memperkuat diri lagi dan menendangnya suatu hari nanti. Lagipula kakek sudah uzur. Bentar lagi juga pasti sudah game over. Saat itu tiba,,, kamu bakal ku tendang!! Pembantu sialan!!"


Rajesh meremat jari jemarinya menahan emosi. Kemudian dia kembali ke ruangan di mana mama Rina dirawat.


"Rajesh. Kamu dari mana?" papa Gunawan sempat bingung mencari cari dirinya tadi.


"Hanya menenangkan diri saja." sahut Rajesh acuh.


"Mama udah mendingan?" tanyanya kemudian.


"Sudah kok. Kamu jangan gegabah. Jangan ambil tindakan macam macam. Mama mohon. Mama tau kamu pasti kesal dengan keputusan kakek. Tapi bagaimana pun juga, mama tetap gak mau kalau kamu sampai hilang respect pada beliau. Beliau itu satu satunya orang yang paling berjasa dalam hidup mama. Jadi mama ingin kamu juga berterima kasih kepada beliau karena tanpa beliau mungkin mama gak pernah ada lagi di dunia ini, begitu juga kamu." nasehat mama Rina.


"Tenang ma. Rajesh memang kesal awalnya. Tapi sekarang udah nggak kok. Rajesh malah akan meminta maaf sama kakek dan Indah."

__ADS_1


"Apa?? Mama gak salah dengar kan? Kamu beneran mau minta maaf??" mama Rina meyakinkan.


Hatinya antara senang dan curiga. Dia kenal betul sifat seorang Rajesh. Anak satu satunya yang ia besarkan dan paling dekat dengannya dibanding pada papanya. Dan kali ini, rasanya ia tak mengenal putranya itu. Meminta maaf bukan hal yang pandai dilakukan oleh Rajesh.


"Benar ma. Tapi ya nggak beneran minta maaf lah." sahut Rajesh enteng.


"Apa maksudmu? Jangan macam macam, Jesh!!" mama Rina mulai kembali mengenal putranya.


"Nggak macam macam kok ma. Rajesh cuma ingin berjuang untuk keluarga kita. Berjuang untuk mendapatkan apa yang memang seharusnya kita dapat. Sesuai dengan cerita mama tadi. Kakek gak pernah menikah dan kekasihnya sudah meninggal. Anak satu satunya juga sudah meninggal kan? Punya cucu perempuan juga entah dimana sekarang. Di luar negeri?? Di mana?? Masih hidup nggak?? Gak ada yang tau kan??" Rajesh berteori.


"Jangan berbelit belit, Jesh. Katakan saja poinnya." papa Gunawan mulai tertarik pada pembahasan ini.


Bagaimana pun juga, beliau sepemikiran dengan Rajesh. Papa Gunawan merasa selama ini dirinya dan Rajesh punya andil besar dalam keberlangsungan usaha keluarga ini. Bahkan keduanya juga inti dan otak dari perusahaan. Akan sangat tidak adil jika mereka main dihapus saja.


"Santai pa. Slow. Tapi pasti." Rajesh memberi isyarat kepada papanya untuk menahan diri.


"Begini,,, karena semua pewaris kakek sudah tidak jelas keberadaannya, sekarang satu satunya yang tersisa cuma mama. Mama anak adopsi yang jelas dan kuat posisinya secara hukum bukan?"


Mama Rina mengangguk mengingat dulu kakek Wardoyo mengadopsinya bukan sekedar merawat saja melainkan juga mengurus semua data administratifnya dan sah secara hukum yang berlaku.


"Nah itu. Rajesh cuma mau berjuang mendapatkan hak mama kembali. Mama lah satu satunya pewaris kakek. Aku dan papa hanya embel embel belaka meski kenyataannya kamilah yang bekerja. Bukan mama. Tapi dengan mama dapat hak mama, kami juga pasti dapat. Sedangkan Indah, siapa dia?? Hanya mirip saja kan? Mirip bukan berarti memang sedarah kan? Bukan berarti punya asal usul dari gen yang sama kan? Jadi dia tidak berhak dapat semua ini." tegas Rajesh.


"Kamu benar, Jesh. Indah memang secara hukum tidak punya kekuatan yang sama dengan mama. Tapi sekarang dia istri kamu. Dan dia punya jalur untuk bisa mendapatkan itu. Dia sudah masuk lingkup keluarga." kata mama Rina.


"Benar itu. Tidak masuk lingkup keluarga pun kalau yang mau mewariskan sudah menunjuk juga kita bisa apa? Iya kan?" Tanya Rajesh.

__ADS_1


"Kamu bikin papa pusing deh." papa Gunawan merasa diputar putar otaknya.


"Kuncinya tetap di kakek sama Indah untuk bisa dapatkan semua itu lagi. Karenanya, demi keluarga kecil kita ini,,, Rajesh akan berkorban. Rajesh akan mengalah pura pura meminta maaf dan meminta kesempatan agar tetap diperbolehkan melanjutkan pernikahan ini. Dengan begitu, kakek pasti luluh dan kembali mempercayakan semua pada kita pa. Kita bisa perlahan menguasai semuanya lagi dan menunggu saat dimana kita bisa tendang saja si Indah itu. Sambil menunggu kakek dipanggil tuhan tentunya." kekeh Rajesh.


"Rajesh!!! Mulut kamu itu lho." mama Rina tak terima dengan candaannya.


"Lho ma kan benar. Suatu saat kakek pasti meninggal. Kita hanya perlu bermain cantik saja. Rajesh butuh dukungan kalian dalam hal ini. Bantu Rajesh meyakinkan kakek bahwa Rajesh bisa melanjutkan pernikahan ini. Indah itu lemah. Gampang diancam. Yang penting adalah kakek tidak sampai tau." tegas Rajesh.


Mama Rina manggut manggut mengiyakan. Meski ia sayang pada kakek Wardoyo tapi ia tidak memungkiri bahwa ia juga menginginkan harta yang jumlahnya tidak sedikit itu. Kalau hanya berbagi sedikit dengan Indah tak masalah. Tapi kalau harus merelakan semua dan gigit jari,,, ya tidak terima juga rasanya.


"Baiklah kalau begitu. Mama setuju. Papa juga pasti setuju. Yang jelas mama gak mau kamu mengambil tindakan yang sampai membahayakan kakek. Kakek memang suatu saat akan meninggal tapi mama gak mau kalau kematiannya kamu rekayasa. Mengerti Jesh??" tegas mama Rina yang masih merasa tetap terlilit hutang budi pada kakek Wardoyo.


"Ngertilah ma. Masak gitu aja Rajesh gak paham? Rajesh yakin gak usah susah susah cari ide buat rekayasa. Kakek udah uzur. Udah sakit sakitan. Baterainya bentar lagi juga udah drop. Gak bakalan lama lagi udah game over." Rajesh kembali tergelak.


"Rajesh!!" mama Rina tidak suka dan merasa itu berlebihan.


"Iya ma iyaaa. Maaf. Baiklah,,, berarti kalian setuju ya dengan rencana ini? Ngerti kan kalau aku gak pernah ada rasa sama Indah? Jadi jangan pernah protes dengan apa pun yang kulakukan padanya. Ingat!! Rajesh hanya pura pura. Rajesh punya banyak wanita di luar sana yang mengantri untuk bisa jadi menantu papa dan mama. Kalian tinggal pilih saja. Yang jelas,,, sabar menunggu saat itu tiba."


Mama Rina dan papa Gunawan mengangguk mengerti dan menyetujui rencana Rajesh yang tampak menggiurkan.


...\=\=\=\=\=\=...


...Harta memang segalanya wkwkwk Bisa merubah yang baik jadi buruk dan yang buruk makin buruk 😆...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2