Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Ruang Cempaka


__ADS_3

Rajesh sadarkan diri. Dilihatnya sekeliling dan bisa dilihatnya mama Rina tanpa ditemani papa Gunawan duduk menungguinya. Mama Rina tersenyum begitu melihat Rajesh membuka mata.


"Kamu udah sadar Jesh. Syukurlah kamu nggak apa apa. Kamu cuma pingsan karena terlalu shock saja kata dokter. Nggak ada luka serius. Istirahat sehari dua hari saja sudah boleh pulang." oceh mama Rina.


"Kamu kenapa sih kok bisa sampai kecelakaan lagi? Lagi lagi kamu kecelakaan karena semobil sama si babu itu. Ini sih namanya emang pembawa sial. Mama menyesal membawa anak itu masuk dalam keluarga kita." lanjut mama Rina yang mendapat tatapan tidak suka dari Rajesh.


"Kenapa? Ada yang salah? Atau ada yang terasa sakit?" tanya mama Rina tidak mengerti dengan arti tatapan itu.


"Rajesh mau ketemu dia." ucap Rajesh langsung berusaha bangun meski kepalanya masih sangat pusing.


"Buat apa? Sudahlah, istirahat saja di sini. Lagipula dia juga tidak bisa ditemui." ujar mama Rina santai.


"Tidak bisa ditemui? Apa maksud mama?" Rajesh bingung.


"Dia koma. Mama menyesal kenapa cuma koma? Kenapa gak mati sekalian." gerutu mama Rina.


"Koma??????" pekik Rajesh membuat mama Rina kaget.


"Rajesh!!! Apa apaan sih? Bikin mama kaget saja. Untung jantung mama ini sehat." lagi lagi mama Rina menggerutu.


"Indah koma??" kali ini Rajesh bertanya lebih pelan.


"Iyaa. Bagus kan? Akhirnya kamu bisa sedikit bebas tanpanya untuk beberapa saat. Dokter bilang, mereka belum bisa memastikan sampai kapan dia koma. Ini kesempatan bagus untukmu untuk menikah lagi dengan alasan kamu juga butuh pelampiasan kebutuhan biologismu. Mama sudah punya calon buat kamu. Dan kamu juga pasti suka. Dia sahabatmu dulu. Nadine,,, iya Nadine. Kalau gak salah kamu dulu pernah curhat kalau kamu menyukainya kan??" mama Rina bicara panjang lebar.


Rajesh sama sekali tak menyahut karena otak dan pikiran serta jiwanya seakan ikut koma seperti Indah. Perasaan bersalah mulai menghantuinya dan tidak bisa ia hentikan.


"Rajesh!! Kok diam saja sih?? Diajak bicara juga. Jadi gimana??" desak mama Rina.


"Apanya ma?"


"Isshh,,, kamu gak dengerin mama tadi?? Mikirin apa sih?? Babu koma itu?? Biarkan saja. Sudah ada temanmu yang mengurusnya." ujar mama Rina santai.


"Temanku mengurusnya?? Siapa?" tanya Rajesh bingung.

__ADS_1


"Ya siapa lagi kalau bukan Delvara. Mama lihat dia menyukai babu itu. Dia sampai donorkan darahnya yang kebetulan sama golongannya. Dia juga belum beranjak dari ruangan tempat si babu dirawat. Saran mama,,, Berikan saja sudah si babu padanya. Kamu sama Nadine. Lebih cocok dan gak malu maluin untuk diajak kemana mana."


"Rajesh mau kesana!! Rajesh nggak suka Indah menerima donor darah darinya!!" ketus Rajesh langsung berdiri dan untuk sesaat ia terhuyung huyung namun akhirnya bisa menstabilkan langkahnya.


"Kenapa sih? Biarin aja lah. Tadinya kamu yang maunya diambil darahnya karena darahmu juga cocok. Tapi mama menolaknya. Mama gak sudi kamu menyumbangkan darahmu walau setetes untuk babu itu." susul mama Rina karena langkah Rajesh terhenti saat ia kembali merasa pusing dan masih lemah.


"Ma!! Dia istriku!!!"


"Apa?? Sejak kapan kamu mengakuinya istri?? Kepalamu baik baik saja kan? Jangan jangan kecelakaan itu membuat otak kamu bergeser sedikit Jesh." mama Rina terlihat cemas.


Rajesh tak menjawab dan berjalan lagi mencari cari di mana ruangan Indah.


"Kamu mau kemana sih Jesh??" susul mama Rina.


"Di mana ruangan Indah? Rajesh mau kesana ma."


"Isshh,,, buat apa sih??? Udah balik ke kamar saja yuk. Istirahat saja. Pulihkan dirimu sendiri." tawar mama Rina.


"Nggak ma!!! Indah istriku dan aku akan menemuinya dengan atau tanpa bantuan mama!!!" tegas Rajesh membuat mama Rina langsung diam tak lagi berani bersuara.


"Cempaka. Ruang cempaka." cetus mama Rina setengah takut kalau Rajesh sudah marah begitu.


"Cempaka?? Itu ruang VVIP kan??" tanya Rajesh heran.


"Iya." sahut mama Rina pendek.


"Siapa yang memutuskan dia dirawat di sana?" selidik Rajesh.


"Sahabatmu itu lah. Udah mama bilang di ruangan biasa aja kayak punyamu tapi temanmu bersikeras menempatkannya di ruang VVIP. Dia pikir siapa mau bayar tagihannya?? Masak kamu?? Babu itu kan koma. Mau sampai kapan di ruang VVIP??" sungut mama Rina yang sama sekali tidak rela kalau sampai Rajesh yang harus membayarnya.


Rajesh tak bicara apa apa lagi. Hatinya tiba tiba berdenyut nyeri lagi. Rasa takut kehilangan Indah semakin merajai. Dengan cepat Rajesh memaksakan diri melangkah menuju ke ruang Cempaka.


Langkahnya terhenti ketika melihat dari balik kaca di pintu ruangan tempat Indah dirawat. Ia bisa melihat saat ini Delvara tengah duduk di samping brankar Indah dengan menggenggam erat tangan Indah. Bahkan terlihat Delvara beberapa kali menciumi tangan Indah.

__ADS_1


Rajesh merasa hatinya terbakar melihat pemandangan itu. Ia merasa sangat dilangkahi oleh Delvara. Ia saja sebagai suami belum pernah menyentuh langsung tapi Delvara berani beraninya berlaku demikian.


"Singkirin tangan lo!! Jangan karena lo merasa lo sudah mendonorkan darah lo lalu kira lo bisa seenaknya menyentuh dia!!!" Rajesh langsung masuk dan memaki Delvara.


"Keluar dari ruangan ini!! Gue tidak memperbolehkanmu masuk apalagi melihat keadaannya. Gue melarang keras!!" Delvara tak kalah sengit.


"Hah?? Lo gila?? Dia istri gue!! Lo siapa?? Berani beraninya membatasi gue. Gue yang lebih berhak atas dirinya." Rajesh menepuk dadanya sendiri.


"Dia memang istri lo saat namanya Indah. Tapi dia bukan Indah sekarang dan sebagai kakaknya, gue melarang keras siapa pun yang sudah menyakitinya untuk mendekatinya lagi!!"


"Adik lo?? Lo gila???" Rajesh terkekeh.


"Suka nggak suka,,, lo harus terima bahwa gue gak setuju dan gue melarang adik gue Zoya menjadi istri lo!!!" tegas Delvara.


"Hahaha,,, dia yang koma, gue yang kecelakaan tapi lo yang jadi gak waras." Rajesh makin terbahak bahak.


"Lo boleh tertawa sepuas lo sekarang. Tapi saat lo yang menangis, maka di situ gue yang akan menertawakan lo. Lo dengar baik baik,,, selagi lo masih belum sadar, gue yang mendonorkan darah gue padanya karena darah kami cocok. Dan karena sudah sejak awal gue curiga siapa Indah sebenarnya karena kalian menemukannya dalam kondisi hilang ingatan di area di mana Zoya terjatuh dulu, maka langsung saja sekalian gue tes DNA nya. Dan hasilnya,,, lo mau tau???" tantang Delvara.


Rajesh diam dan pucat menanti ucapan Delvara selanjutnya.


"99,99% kecocokan. Indah adalah Zoya. Adik gue!! Dan gue,,, nggak sudi dia jadi istri lo. Lelaki bangsatt yang bisanya hanya main perempuan di luaran!!!"


Rajesh menelan ludahnya dengan susah payah.


"Oh ya satu lagi,,, Lo udah lama kenal gue dan lo pasti tau kan gue sebenarnya bukan pendendam kalau hanya gue yang disakiti?? Tapi berhubung ini Zoya yang disakiti, gue anggap ini sebagai dendam pribadi antara gue sama lo. Karenanya, gue udah cabut semua saham di perusahaan lo. Selanjutnya,,, kita bukan rekan melainkan lawan. Baik itu dalam bisnis maupun dalam kehidupan pribadi!!!"


Rajesh makin tak berkutik. Ruang cempaka ini seketika terasa begitu sempit dan menghimpitnya. Kepalanya terasa berat karena otaknya dipaksa keras menelaah semua perkataan Delvara.


"Sekarang,,, lo keluar!! Jangan pernah coba coba temui Zoya lagi!! Dia nggak butuh lo!!" usir Delvara tanpa ampun.


...\=\=\=\=\=\=...


...Bali hujan terus guys,,, Tempat kalian gimana?...

__ADS_1


...With love,...


... Author....


__ADS_2