
"Pergi!!!! Dan jangan pernah datang kembali!!!"
Lagi lagi hanya kata kasar dan pengusiran yang didapatkan oleh Rajesh dari Delvara ketika dirinya mengunjungi rumah sakit. Rajesh melangkah lesu. Tidak ada yang bisa ditanya atau sekedar mau memberi informasi tentang kondisi Zoya.
"Nak,,, mama rasa kamu sudah keterlaluan padanya. Bagaimana pun juga, dia itu sahabatmu dan juga masih terikat pernikahan dengan adikmu. Apa kamu tidak bisa sedikit bersabar padanya?"
Karin setengah berbisik saat Delvara masuk ke ruangan di mana Zoya sudah dipindahkan. Kondisi Zoya kembali dinyatakan stabil meski tingkat kesadarannya masih sangat rendah. Dia sudah keluar dari ICU namun masih sangat terbatas komunikasinya.
"Ma,,, mantan sahabat tepatnya. Sejak dia dan Nadine mengkhianatiku. Sejak saat itu tidak ada lagi yang namanya sahabat. Karena sahabat tidak akan berlaku begitu kepada sesama sahabat."
"Mama mengerti kamu kecewa nak. Mama juga mengerti betapa kamu menginginkan Nadine sebelumnya. Maafkan mama,,, jika keberadaan mama membuat kalian tidak bisa bersama. Tapi nak,,, meski kamu bisa melupakan atau mengabaikan persahabatan kalian, tapi tetap saja kamu nggak bisa menutup akses seorang suami menjenguk istrinya sendiri."
"Tapi ma,,,"
"Mama sudah pernah merasakan bagaimana beratnya ketika papa kamu dulu sakit dan mama dibatasi oleh keluarga papamu. Mama bahkan dijauhkan dari papa saat itu. Jadi mama mohon, kamu jangan berlaku demikian juga." pinta Karin.
"Ma,,, itu berbeda kasusnya." tolak Delvara yang sudah sangat sakit hati.
"Setidaknya biarkan adikmu sendiri yang menentukan apakah suaminya itu masih layak untuk dia perjuangkan atau memang sudah harus dilepaskan. Setidaknya perlakukan dia baik baik sampai adikmu sendiri yang memintanya pergi. Nak,,, ini bukan tentang kemarahanmu saja. Ini bukan tentang perasaanmu saja. Tapi ini tentang hidup, perasaan dan hati adikmu juga."
Delvara menundukkan pandangannya. Dia tidak pernah sanggup menatap mata sang mama jika sudah sang mama keluar bijaknya seperti itu. Pandangannya kini tertuju pada tubuh Zoya yang terbaring lemah di atas brankar.
Delvara mendesah dengan napas beratnya.
"Berikan adikmu kebebasan memilih. Mama tau kamu menyayanginya, sangat menyayanginya bahkan. Mama pun demikian. Tapi justru itu, kita tidak boleh bertindak semau kita sendiri. Ada hati lain yang harus kita jaga. Ada perasaan lain yang harus kita utamakan. Dan ada keputusan lain juga yang harus kita hormati."
"Apa jika mama berada di posisi Zoya, mama akan memaafkan Rajesh? Apa mama akan memberi Rajesh kesempatan kedua?" tanya Delvara.
"Kamu sudah tau jawabannya nak." ujar Karin sambil mengusap tangan Delvara.
Delvara menunduk lagi dengan desah napas beratnya. Susah memang kalau sudah bicara tentang bakti istri pada suami dengan sang mama. Sang mama yang sudah berkali kali jatuh bahkan rumah tangganya diambang kehancuran oleh pihak ketiga,,, namun tetap berbesar hati memaafkan dan memberi kesempatan pada sang papa.
Delvara menggeleng geleng beberapa kali. Susah ia menerima dengan logika namun memang begitu adanya sang mama.
"Mama mau temui adikmu dulu. Sepertinya dia bangun." tunjuk Karin pada Zoya yang terlihat mengerjap ngerjap perlahan.
__ADS_1
Delvara mengangguk. Membiarkan sang mama lebih dulu menemui sang adik karena mereka memang masih dibatasi untuk menemuinya meski sudah berada di ruang inap. Dokter hanya tidak mau terlalu banyak yang mengajak Zoya bicara agar tidak terlalu membuatnya lelah atau malah drop lagi.
"Makan dulu cah bagus." mbok Rati datang dengan sekotak nasi yang sudah dipesan tadi.
"Terima kasih mbok. Mbok udah makan?" tanyanya sambil menerima kotak nasib tersebut.
"Sampun cah bagus. Si mbok kan nggak tahan lapar dan harus tetap makan biar gak ikutan sakit. Kalau si mbok sakit nanti malah merepotkan cah bagus dan cah ayu." ujar mbok Rati.
"Terima kasih ya mbok. Sudah begitu memikirkan kami."
"Jangan bicara begitu cah bagus. Si mbok yang harusnya berterima kasih sama cah bagus karena sudah membawa si mbok. Kalau nggak ada cah bagus, entah apa jadinya si mbok."
Delvara tersenyum lalu mulai makan. Mbok Rati setia menemani di sampingnya.
"Ada yang mau mbok bicarakan sama saya?" tanya Delvara setelah ia selesai makan.
"Cah bagus ini memang paling tau isi hati si mbok." mbok Rati tersipu malu.
"Hehehe,,, ada apa mbok?" tanya Delvara setelah meminum air yang sempat diulurkan oleh mbok Rati.
"Kenapa Nadine? Mbok ketemu dia?"
"Ng,,, anu,,,"
"Kenapa mbok? Bicara saja. Saya sama Nadine kan juga sudah nggak ada hubungan. Jadi apa pun yang menimpanya, sebenarnya saya sudah tidak peduli." ujar Delvara santai.
Sejak melihat perbuatan Nadine dengan Rajesh di ruangan kerja Rajesh memang langsung membuang semua cinta dalam dada Delvara untuk Nadine.
"Si mbok lihat non Nadine kok gandengan mesra sama tuan Gunawan ya? Bukannya non Nadine sudah menikah dengan mas Rajesh? Tapi kok mesranya sama tuan Gunawan?" mbok Rati takut takut mengatakannya.
"Mbok yakin itu om Gunawan? Kapan mbok melihatnya?" selidik Delvara.
"Kapan hari cah bagus. Di rumah sakit ini juga tapi mereka keluar dari poli kandungan."
"Poli kandungan?? Siapa yang hamil?" mata Delvara menyipit.
__ADS_1
"Sepertinya sih non Nadine. Soalnya tuan Gunawan kelihatan mengelus elus perut non Nadine lho cah bagus. Menciumi perutnya lagi. Tapi perutnya masih datar. Si mbok cuma tiba tiba kok merasa kasihan juga sama mas Rajesh. Sebenarnya dia itu anak baik. Tapi cuma salah didikan saja dari nyonya. Selalu dihasut oleh nyonya. Dulu sewaktu kecil, mas Rajesh itu selalu sama si mbok jadi mbok tau sifat aslinya dia." kenang mbok Rati.
Delvara diam. Berpikir. Otaknya berputar berusaha mencerna semua perkataan mbok Rati tadi.
"Nadine hamil? Wajar sih karena dia sudah menikah. Tapi kenapa om Gunawan yang mengantarnya? Kenapa bukan Rajesh? Kenapa mesra? Kenapa menciumi perut Nadine? Meski senang akan punya cucu, tapi mencium perut menantu rasanya berlebihan." pikir Delvara.
"Del,,, Adikmu mencarimu nak." teguran lembut Karin membuyarkan semua pikiran Delvara.
"Eh iya ma." segera Delvara bangkit dan menemui Zoya.
"Hai adik kakak yang paling cantik. Apa kabarmu hari ini?" sapa Delvara.
"Baik kak. Aku kangen kakak." ucap Zoya lirih.
"Kan kakak nggak kemana mana. Di sini aja." Delvara menggenggam tangan Zoya lembut.
"Kak,,, Zoya kok rasa rasanya mulai ingat sesuatu ya."
"Jangan dipaksakan. Pelan pelan saja ya. Kakak nggak mau kamu sampai drop lagi. Takut tau kalau lihat kamu drop lagi. Kakak nggak mau kamu pergi lagi."
"Maaf udah bikin mama dan kakak khawatir ya." Zoya tersenyum lemah.
"Jangan bilang begitu. Wajar kalau kami begitu karena kami sayang kamu."
Zoya mengangguk lalu matanya menatap sosok tambun mbok Rati yang memandanginya dari kejauhan. Zoya tersenyum.
"Mbok Rati,,, sini. Indah kangen." ujarnya walau lemah.
Dan itu sukses membuat semua saling lempar pandangan. Mereka bahagia sekaligus takut. Takut seorang Indah akan mengingat dan menanyakan keberadaan Rajesh.
...\=\=\=\=\=...
...Hai maapkan othor yang libur tanpa pamit kemarin ya. Soalnya othor lagi hari rayaan di Bali hehehe. Jadi masih sibuk sama keluarga kemarin kemarin....
...With love, ...
__ADS_1
...Author....