
Hampir 3 hari dirawat di rumah sakit, kondisi Indah perlahan membaik. Selama 3 hari itu juga kakek Wardoyo ikut menjaganya sekaligus mengawasi kelakuan Rajesh.
Jujur dalam hatinya, beliau masih belum percaya dan justru tambah curiga kalau baiknya Rajesh memang karena ada maunya saja.
Indah membaik begitu juga mama Rina. Mama Rina yang memang hanya sedikit shock tentu hanya cukup istirahat sehari saja. Tapi tentu saja dia tidak diperbolehkan untuk ikut menunggui Indah di rumah sakit karena takut nanti kondisinya memburuk lagi. Dokter masih menyarankan untuk mama Rina perbanyak istirahat dulu.
Sementara itu, papa Gunawan juga disuruh kembali kerja saja oleh kakek Wardoyo. Menjaga Indah bisa dilakukannya sendiri dengan Rajesh tentunya yang paling wajib.
"Sudah selesai semuanya sayang. Kita udah bisa pulang." Ujar Rajesh sekembalinya dari mengurus segala biaya dan administratif Indah.
"Alhamdulillah." Indah bersyukur.
Berbaring terus disini juga membuatnya bosan. Selain itu juga merasa kasihan pada kakek Wardoyo yang tidak pernah pulang.
"Kakek mau langsung pulang ke Bogor?" tanya Rajesh.
"Kamu ngusir kakek?" Kakek Wardoyo bertanya balik.
"Kok kakek gitu ngomongnya? Rajesh kan cuma tanya. Kalau emang kakek mau langsung pulang, biar Rajesh suruh sopir kakek siap siap. Kalau kakek mau ikut pulang ke rumah mama, ikut mobil Rajesh aja." Rajesh menjelaskan maksud perkataannya.
"Oh,, kakek kira kamu ngusir biar bisa berlaku seenaknya lagi sama Indah." sindir kakek Wardoyo.
"Kek,,, mas Rajesh kan sudah mengakui kesalahannya dan sudah meminta maaf juga. Mas Rajesh sudah janji nggak akan mengulangi kan? Jadi Indah mohon, jangan terus diungkit ungkit. Yang lalu biar berlalu." pinta Indah.
"Benar itu Kek. Rajesh kan udah janji mau berubah." wajah Rajesh memelas.
"Kakek gak butuh sekedar janji tapi bukti!!" suara kakek Wardoyo meninggi.
"Kakek,,, Sudah ya. Ingat kesehatan kakek. Indah percaya, mas Rajesh sungguh sungguh ingin berubah. Pasti dia bisa membuktikan itu pada kakek. Yang penting kakek harus percaya dulu sama mas Rajesh. Ya kek,,, Indah mohon." Indah melerai agar tak sampai kakek dan cucu itu bertengkar.
Tatapan kakek Wardoyo melembut kala suara lembut Indah terdengar. Beliau mengusap kepala Indah dengan lembut. Kemudian tatapan matanya kembali pada Rajesh.
"Kamu beruntung dapat istri seperti Indah. Ingat itu!!" tegas kakek Wardoyo.
__ADS_1
"Iya kek. Terima kasih udah cariin aku jodoh seperti Indah." Rajesh mengangguk hormat meski dalam hatinya berkata lain.
"Dasar kakek kakek,,, bawel bener. Pingin nyumpahin yang jelek jelek tapi aku masih inget pesan mama. Huhhh menyebalkan." batin Rajesh.
Perjalanan pulang lumayan memakan waktu karena terjadi kemacetan yang lumayan panjang. Kakek Wardoyo jadi ikut pulang semobil dengan Rajesh dan Indah. Rasanya masih berat melepaskan Indah begitu saja.
Sopir kakek Wardoyo mengekor di belakang mobil Rajesh. Mobilnya berada di urutan paling belakang antrian mobil. Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara rem yang begitu keras lalu terjadi benturan yang cukup keras.
Ckkkkkiiiiiiittttt,,,,, Brrrraaaakkkkkkk,,,,,
Tabrakan beruntun pun tak terelakkan. Sebuah truk pengangkut semen mengalami rem blong dan menabrak hampir semua yang ada di depannya tak terkecuali mobil yang dikendarai kakek Wardoyo yang lalu akibat dorongan yang terlalu kuat juga merangsek ke depan menabrak mobil Rajesh.
"In,,, daaaahhhh,,," suara kakek Wardoyo sebelum akhirnya beliau memejamkan mata.
Indah panik melihat Rajesh yang sudah terkulai di balik kemudi dengan kepala bagian belakang mengucurkan darah segar, lalu kakek Wardoyo yang tubuhnya terhimpit oleh badan mobil belakang yang ringsek dan juga dalam kondisi berdarah darah. Sementara itu, Indah sendiri meski tak banyak berdarah juga tidak bisa banyak gerak karena posisinya juga terjepit.
Suara kegaduhan dan kepanikan,,,asap knalpot yang mengepul,,, asap asap dari mesin mobil yang terkena terjangan truk tadi dan rusak,,, hiruk pikuk dan teriakan minta tolong. Orang orang yang keluar dengan kondisi berdarah darah. Sungguh pemandangan yang mengerikan ketika tabrakan beruntun tak terelakkan.
Indah lemas. Pandangannya mengabur. Ia tak kuat lagi. Hingga semua gelap.
Suara tangisan mama Rina terdengar lamat lamat di telinga Indah dan memaksanya untuk membuka mata. Ia kembali tersadar di sebuah rumah sakit. Indah berusaha mengingat ingat apa yang terjadi lalu menangis setelah bisa mengingat semua.
Indah berusaha bangun meski beberapa bagian tubuhnya terasa ngilu akibat himpitan body mobil yang ringsek tadi. Perih juga dirasakannya di beberapa bagian tubuh yang tergores namun Indah tak mempedulikannya.
"Mama,,, Ma,,, Mas Rajesh ma,,, Kakek ma,,,Bagaimana keadaan mereka???" tanyanya sambil menangis.
Mama Rina menghentikan tangisnya sesaat lalu menoleh dengan tatapan benci.
"Semua gara gara kamu!!!" sentaknya sambil mendorong tubuh Indah hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ma,,," Indah terperangah mendapati perlakuan kasar dari mama Rina yang selama ini berlaku lembut padanya.
"Jangan pernah berani lagi panggil aku dengan kata mama!! Gara gara memilih menjagamu papaku meninggal!! Dan kamu bukan siapa siapa kami tanpa beliau!!! Aku benci!! Aku benci kamu anak pembawa sial!!!" teriak mama Rina yang langsung histeris lagi setelahnya.
__ADS_1
"Innalillahi,,, Kakek meninggal??" airmata Indah lolos kembali tanpa bisa ditahan.
Papa Gunawan berusaha menenangkan mama Rina yang terus menangis histeris. Tidak dipungkiri bahwa mama Rina sangat menyayangi kakek Wardoyo karena beliaulah yang sudah berjasa besar kepadanya. Selama belum menikah dengan papa Gunawan, kakek Wardoyolah satu satunya yang menganggapnya ada.
Dan kini,,,kecelakaan tragis itu merenggut satu satunya orang yang dulu mau menerimanya di saat semua orang menolaknya. Mama Rina menyalahkan Indah untuk hal ini.
"Seandainya saja papa gak milih mengantarmu pulang! Seandainya saja papa memilih langsung pulang ke Bogor,,, Papa pasti masih hidup sekarang. Semua ini gara gara kamu!!!" kembali mama Rina menuding Indahlah penyebabnya.
Mama Rina lantas pingsan saking lelah menangis terus dan disertai emosi. Papa Gunawan segera meminta suster untuk menolong mama Rina.
"Pa,,, Bagaimana kondisi mas Rajesh?" tanya Indah memberanikan diri.
Papa Gunawan menghela napas berat. Beliau juga merasa risih dengan panggilan papa untuknya dari Indah saat ini. Meski beliau tidak terlalu bersedih atas meninggalnya kakek Wardoyo, tapi beliau kesal juga pada Indah karena mama Rina jadi pingsan dan merepotkannya. Belum lagi Rajesh yang kondisinya juga tidak terlalu baik.
"Entahlah Indah. Lebih baik kamu lihat sendiri sana." ketus papa Gunawan yang enggan menjelaskan.
Indah kembali sedikit bersedih atas perlakuan papa Gunawan yang dinilai berbeda olehnya. Baru saja kakek Wardoyo meninggal tapi seakan seluruh dunia membencinya.
"Mas Rajesh,," Indah membungkam mulutnya sendiri melihat kondisi Rajesh yang banyak dibalut perban di bagian kepala, tangan dan kakinya.
Tangan kanan di gips, begitu juga kaki kanannya. Bisa dipastikan Rajesh mengalami patah tulang di bagian yang di gips itu.
"Ya Allah segera berikanlah kesembuhan untuk suami hamba. Dan terimalah segala amal baik kakek Wardoyo. Berikan beliau tempat terindah di sisiMU. Aku bersaksi,,, beliau orang baik."
Bulir bulir bening terus membasahi wajah pucatnya. Kesedihan atas meninggalnya kakek Wardoyo, sekaligus bahagia atas masih diberikannya umur untuk Rajesh meski kondisinya tidak baik,,, semua itu membuat Indah tak mampu berkata kata lagi.
...\=\=\=\=\=...
...Pasti ada yang seneng Rajesh celaka ya?? ...
...Atau malah kesel kok gak sekalian mati aja??...
...Ya jangan dong sayang,,, kan dia pemeran utamanya wkwkwk kalau dia mati ya game over dong novel ini 😩😩...
__ADS_1
...With love, Author....