Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Bumbu Cinta


__ADS_3

...🌸POV Zoya🌸...


Rodie,,,


Ku harap kamu baik baik saja dan sudah bahagia bersama wanita itu dan anak kalian,,, Tak mengapa jika kamu pergi dariku dengan cara seperti ini. Tak mengapa jika kamu membuatku terbelenggu status seperti ini. Tapi maafkan aku Rodie,,, aku tak bisa lagi menunggu. Aku lelah seperti ini. Bukankah aku juga berhak bahagia? Satu hal lagi,,, aku juga wajib membuat mama dan kak Del untuk tidak terus bersedih atas nasib diriku. Karenanya,,, ijinkan aku memulai lembaran baru hidupku,,,


Ku tutup buku nikahku yang di dalamnya terdapat fotoku dan Rodie lalu ku masukkan kembali ke dalam sebuah map berisi surat gugatan perceraian yang sudah disiapkan oleh pengacara keluargaku. Surat gugatan cerai juga sudah ku tanda tangani.


Hufttt,,, Rasanya tak berbeda dari rasa sebelumnya,,, seperti mengulang kembali kejadian beberapa waktu silam saat aku menandatangani jenis surat yang sama tapi untuk mas Rajesh,,,


Namun rasa yang sama itu kali ini membuat sesak yang sempat ku rasa dalam dada perlahan mengurai. Seharusnya sudah ku lakukan ini jauh jauh hari sebelumnya tanpa menunggu Rodie,,, namun apalah daya,,, sebagai wanita berstatus istri kadang memang serba salah. Buru buru menggugat cerai nanti yang ada malah dibilang kegatalan,,, padahal justru sebagai wanita, aku perlu kejelasan.


Sudahlah,,,


Semoga keputusan ini tepat. Semoga setelah ini takdir diri dan jodoh sebenarnya diri ini segera datang. Aku percaya kepadaMU ya Rabb. Semua ujian dan cobaan ini semata mata hanya akan membawa hamba berlabuh pada dermaga kebahagiaan.


Ku serahkan kembali map beserta isinya itu pada Bapak Arya selaku pengacara keluargaku. Beliau masih bekerja pada kami karena selain janjinya kepada mendiang kakek Wardoyo, juga tentunya kami tak memberinya gaji yang buruk.


"Sudah nona Zoya?" pengacara keluargaku memastikan aku sudah menandatangani surat itu.


"Sudah bapak Arya. Terima kasih. Maaf masih merepotkan anda dengan hal yang sama." ucapku yang sebenarnya merasa malu juga.


"Tidak mengapa. Namanya saja jalan takdir dan jodoh. Kita tidak pernah tau. Bukan kuasa kita sebagai manusia." jawabnya bijaksana.


Dan aku hanya tersenyum mengiyakan. Siapa juga yang bahagia dengan hal semacam ini. Bercerai itu berat. Beban moralnya berat. Traumanya juga mendalam. Tapi aku tetap harus tersenyum. Kenapa?? Karena kalau aku terus menerus menunjukkan perilaku bersedih atau semacamnya, maka itu hanya akan membawa kesedihan untuk keluargaku.


Aku harus tegar,,,


"Kalau begitu saya permisi nona Zoya dan Nyonya Karin,,," pengacara kami pamit padaku dan mama yang sedari tadi duduk mendampingiku.

__ADS_1


"Hati hati pak Arya. Terima kasih atas kesetiaan anda pada kami selama ini." mama terdengar santun seperti biasanya.


Wanita yang paling ku sayangi dan kagumi itu makin terlihat menua. Wajar saja,,, disamping memang usianya sudah tak lagi muda, beliau juga pasti menanggung beban jiwa yang berat mengingat aku masih saja seperti ini. Itu tentu menjadi salah satu faktor makin bertambahnya kerutan di dahinya.


Maafin Zoya ya ma,,, masih saja membuat mama sedih.


Ku hela nafas dalam dalam agar oksigen lebih banyak masuk ke paru paru dan otakku. Biar diri ini tidak lagi terlihat mengenaskan.


Makanya Zo,,, move on.


Memang tak ada salahnya kali ini mengikuti bisikan diri. Sudah cukup menutup dan membatasi diri ini dari dunia luar. Cukup menyiksa yang sudah menanti sekian lama dan menunjukkan perubahan baik seiring berjalannya waktu. Saatnya mengakui, bersuara dan jujur pada dunia bahwa aku masih sangat mencintai mas Rajesh.


Mas Rajesh,,,


Bibir ini reflek melengkungkan senyum mengingat janji makan siang kami nanti. Aku sendiri yang mengundangnya untuk datang ke rumahku. Makan siang bersama keluargaku. Dan menunya,,, tentu semua akan ku masak sendiri. Aku rindu memasak untuknya.


Yaah,,, meski dulu disentuh atau dicicip pun tidak. Yang ada hanya dicela dan dicela. Tapi sudahlah,,, jangan mengingat itu lagi. Bagaimana pun itu terjadi alami karena dulu memang tak pernah ada rasa dalam dirinya untukku. Sekarang,,, aku bisa merasakan cintanya padaku. Semoga saja dugaan dan perasaan ini tidak salah ya Rabb,,,


"Ma,,, Zoya masak dulu ya."


"Masak??" mama mengerutkan dahi keheranan.


"Iya ma. Zoya libur hari ini. Makanya Zoya mau masak. Mama sudah lama kan nggak makan masakan Zoya?" tanyaku sangat bersemangat tanpa ingin memberitahu mama bahwa aku juga mengundang mas Rajesh.


Mama pun tersenyum. Senyum yang sudah lama tak ku lihat menghiasi wajah teduhnya. Senyum yang berbeda dengan hari hari lainnya. Senyum yang mengisyaratkan bahwa beliau bahagia dengan semangat baru dalam jiwaku ini.


"Apa ada yang membuatmu bersemangat seperti ini selain mama?" tanyanya menyelidik.


Ah,,, mama memang selalu juara membaca pikiran anak anaknya hehehe aku jadi malu,,,

__ADS_1


"Apa ada tamu special nanti?" kembali pertanyaan mama membuat pipiku auto bersemu merah.


"Mmm,,, Mas Rajesh ma. Zoya mengundangnya untuk makan siang bersama kita. Apa mama keberatan?" aku jadi takut mama tidak setuju.


"Tentu saja tidak. Nak Rajesh orangnya baik. Kakakmu juga pasti akan senang kalau tau kamu mengundang sahabat lamanya itu. Perlu mama bantu masak? Atau mbok Rati yang bantu?"


"Jangan ma. Biar Zoya masak sendiri saja." tolakku karena aku benar benar ingin menghidangkan hasil dari seluruh usahaku sendiri. Di samping itu, aku tak mau membuat mama lelah.


"Nduk Indah dari dulu kalau masak memang nggak suka dibantuin cah ayu." mbok Rati menimpali.


Ucapan mbok Rati membuat aku kembali tersenyum dan merasa dikelilingi oleh orang orang baik yang menyayangiku. Wanita lanjut usia itu masih ingat betul apa saja yang menjadi kebiasaanku. Kami memang cukup lama tinggal bersama dulu sewaktu aku masih ikut keluarga mas Rajesh.


"Baiklah, kalau begitu mama sama mbok Rati tinggal dulu ya. Kamu masak yang enak. Ingat ya,,, bumbunya harus spesial. Bumbu pakai cinta nak,,," celetuk mama.


"Maaamaaaa,,," pipiku makin memerah digoda seperti itu.


Mama hanya tersenyum lantas bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya ditemani mbok Rati. Kedua wanita itu memang sudah tidak pernah terpisahkan. Bahkan tidur pun mama sekarang ditemani mbok Rati. Syukurlah ada mbok Rati,,, setidaknya di usia mama sekarang yang tanpa punya pendamping hidup, mama tidak terlalu merasa kesepian.


Ok baiklah,,, mari menyiapkan segala yang diperlukan untuk menyajikan masakan penuh cintaku. Tidak boleh gagal atau nggak enak. Semua harus bisa mewakili perasaanku untuk keluargaku dan juga mas Rajesh.


Aku pun mulai menyibukkan diri dengan segala bahan dan barang barang di dapur. Mulai mengeksekusi masakan kesukaan mas Rajesh dan keluargaku.


Semoga nanti mereka suka,,,


...\=\=\=\=\=\=...


...Alohaaaa,,,, author masih sibuk nih,,, up sesempatnya dulu ya,,,...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2