
"Kakak mendukung sepenuhnya apa pun keputusanmu, dek. Ingat,,, kamu nggak sendirian sayang. Ada kakak, ada mama, ada mbok Rati yang akan selalu mensupportmu."
Delvara mengguncang guncang bahu Zoya yang terlihat lesu memandangi selembar kertas bertuliskan nama sebuah kantor pengadilan agama. Surat yang dalam pengurusannya sepenuhnya dilakukan oleh pengacara Arya sudah selesai dan tinggal Zoya tanda tangani saja.
"Kalau kamu belum yakin, jangan ditandatangani dulu nak." sang mama berucap lembut.
Sepertinya sang mama paham betul apa yang dirasakan oleh putri kesayangannya itu. Ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya memang terbukti pada diri Karin dan Zoya. Keduanya sama sama punya sifat kuat dan memilih bertahan semampunya dalam hal menjadi istri.
Bukankah Karin dulu juga melewati masa susah sebagai istri Dion? Ia terbuang,,, putus asa dan bahkan di titik paling putus asanya karena merasa harapan telah sirna,,,merasa tak ada lagi takdir yang bisa mempertemukan dirinya dengan Dion,,, Karin hampir menikah dengan orang lain.
Kali ini hal yang serupa menguji putrinya. Zoya diuji kesabaran dan keteguhan hatinya memiliki suami seperti Rajesh. Dan gadis itu masih memilih bertahan. Tidak mudah menyerah seperti sang ibu.
"Inshaallah Zoya yakin ma."
Dengan mantapnya Zoya pun mengukir tanda tangannya di kertas gugatan cerainya kepada Rajesh itu. Sungguh ia terpaksa melakukannya karena tak ingin sang suami terus menggantungnya. Bukan karena ia ingin lebih dahulu mencari pengganti, melainkan sang suami sudah lebih dulu dapat penggantinya.
Jadi untuk apa lagi mempersulit keadaan? Semua sudah jelas. Rajesh sudah mengabaikannya. Sudah memilih wanita lain yang bisa dilihat Zoya mampu memberi pengaruh baik pada Rajesh. Dan meski sedih karena harus bercerai, Zoya tetap bahagia untuk Rajesh.
"Semoga Alyssa benar benar bisa menjadi istri paling baik untukmu mas." lirih Zoya dalam hati.
Zoya lantas menyerahkan kembali kertas itu pada pengacara Arya untuk segera ditindaklanjuti. Tidak perlu berlama lama lagi.
"Semoga ini awal dari bahagiamu,dek." Delvara memeluk sang adik dan mendoakannya dengan tulus.
"Aamiin. Terima kasih kak."
Delvara sebenarnya sangat setuju jika sang adik menjalin hubungan serius dengan Rodie. Pengusaha muda sukses yang sudah terlampau lama menambatkan hatinya pada Zoya meski cinta itu tak pernah terjawab. Namun Delvara rasa saat ini tidak tepat saja membahas lelaki itu.
Adiknya masih terlihat kacau meski bibirnya mengatakan dirinya sudah mantap bercerai. Delvara terlalu tau adiknya itu masih mencintai Rajesh dalam diamnya. Masih menempatkan Rajesh sebagai suaminya meski selama mereka menikah, Rajesh sama sekali belum memberinya nafkah batin.
"Saya pamit undur diri dulu kalau begitu, tuan dan nona. Begitu ada perkembangan pasti segera saya kabari." pengacara Arya pamit.
"Pak Arya terima kasih banyak sudah melakukan banyak hal untuk kami." ujar Karin.
"Sama sama nyonya. Ini memang sudah jadi bagian dari janji dan tugas saya kepada nona Zoya selaku pewaris tuan Wardoyo."
__ADS_1
Rupanya, meski keluarga Delvara sudah punya pengacara sendiri, untuk urusan Zoya masih tetap menjadi tanggung jawab pengacara Arya. Beliau memohon untuk tidak dibebastugaskan mengingat janji beliau pada mendiang kakek Wardoyo. Dan sedikit banyak, beliaulah yang paling paham tentang semua hak Zoya.
"Wes,,, jangan sedih nduk Indah. Hilang satu tumbuh seribu. Lha iyo toh??" kelakar mbok Rati berusaha menghibur Zoya yang masih terlihat sendu.
"Hehehe iya mbok."
"Den Rajesh memang cakep. Tapi si mbok rasa, cakep hatinya masih kalah kalau dibanding Den cakep satunya." bisik mbok Rati.
Jika Delvara merasa belum tepat waktunya membahas lelaki lain dengan Zoya, lain pula mbok Rati yang memang sudah sangat akrab dengan Zoya sedari dulu. Bagi mereka, tidak perlu mencari waktu khusus untuk membahas semua hal.
"Den cakep satunya? Siapa mbok?" tanya Zoya heran.
"Halah nduk Indah ini,,, ya siapa lagi toh kalau bukan Den Rodie?? Kurang apa coba? Cakep rupa,,, cakep hati,,, cakep dompet pula hihihi,,," mbok Rati tertawa geli sendiri.
"Ih si mbok mah matre ih." kelakar Zoya mulai melupakan kesenduannya.
"Kakak dengar kalian bikin sandiwara sebagai sepasang kekasih yang udah mau married ya?" melihat sang adik sudah ceria, Delvara pun ikutan membahas Rodie.
"Tau dari mana??" Zoya mendelik kaget tak menyangka sandiwara itu sampai juga di telinga sang kakak.
Zoya pun sempat menuduh Rodie yang ember tapi mengingat cirkle sang kakak memang luas, hal apa memangnya yang bisa terlewatkan dari mata dan pendengarannya?? Tidak ada. Apalagi ini mengenai dirinya, sang adik kesayangan. Tak mungkin sang kakak lalai.
"Hhmmm dasar detektif jadi jadian." olok Zoya pada Delvara.
"Jangan salah ya,,, ini detektif lulusan terbaik lho." Delvara menyombong.
Semua lantas tertawa. Bersama sama membantu Zoya melupakan masalah hidupnya yang sebentar lagi akan segera selesai. Sama sama mendampingi Zoya melangkah mencari kebahagiaan barunya.
"Wah wah,,, ramai sekali. Ada apa ini? Pesta apa yang kalian lewatkan tanpa aku??"
"Hai Rodie." sapa Zoya pada lelaki yang sudah punya akses keluar masuk rumah keluarga Delvara dengan bebas karena ia sudah sangat dekat bahkan terasa sudah menjadi keluarga.
"Hmmm yuk ma. Kita cabut aja. Kasih waktu dua merpati kecil ini untuk saling melepas rindu." seloroh Delvara membuat Zoya mendelik kepadanya.
"Makasih lho bang. Abang emang yang paling pengertian. Tau aja kalau adiknya ini masih malu malu mengakui perasaannya padaku hehehe." Rodie terkekeh.
__ADS_1
"Rodieeee!! Kakak juga!!!" keduanya berhasil membuat pipi Zoya bersemu merah.
"Kalian berdua ini memang paling suka buat princess satu ini wajahnya kayak kepiting rebus." sang mama malah menimpali.
"Hehehe tapi tetap cantik kok tante. Buktinya saya masih tetap betah menunggunya." ujar Rodie tanpa malu malu.
Rodie memang sudah sangat lama mengutarakan perasaannya itu. Bahkan ia melakukannya langsung di depan Karin dan Delvara demi menunjukkan bahwa ia bersungguh sungguh mencintai Zoya.
"Sabar. Sebentar lagi. Lagi dikit." Karin membuat jarak dengan jempol dan telunjuknya dan sangat dekat.
"Serius tante??" Rodie berbinar.
"Mamaaaaa!!!" teriak Zoya yang sudah sangat malu.
"Udah ah,,, tante mau nyusul Delvara saja. Ayo mbok. Biar para merpati kecil ini yang melanjutkan sisanya."
"Mamaaaaaa,,,," Zoya sudah menghentak hentakkan kakinya dengan lucu karena tampaknya semua orang suka membuatnya malu kali ini.
Karin hanya tertawa dan meninggalkannya bersama dengan Rodie saja di ruangan itu. Membuat Zoya salah tingkah. Ia menebak nebak Rodie pasti akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan kali ini.
"Beneran Zo?? Lagi dikit??" benar kan, Rodie penasaran.
"Hmmm,,, masih lama." Zoya mengerucutkan bibirnya.
"Yaahhh,,, nggak apa apalah. Menunggumu itu satu satunya hobiku yang menyenangkan." Rodie malah terkekeh.
Zoya memandangnya dengan intens. Lelaki itu memang tak pernah tampak memiliki beban berat menunggunya. Tak pernah ada kata protes,,, tak pernah ada kata lelah,,, Terlihat begitu tulus.
"Jangan pandang pandang gitu. Nanti kalau kamu ikutan jatuh cinta bagaimana??" goda Rodie yang tau dirinya tengah diperhatikan Zoya.
"GR banget deh,,," Zoya melemparnya dengan bantal sofa dan Rodie hanya tertawa.
...\=\=\=\=\=\=...
...Dibuat luluh nggak ya enaknya si Zoya ini?? 🤔...
__ADS_1
...With love,...
... Author....