
"Mas,,, itu siapa?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan dari Zoya itu. Semua menunggu agar sang pemilik wajah tertunduk itu sendiri yang mengangkat wajahnya dan memberikan jawaban.
"Mas???" kembali Zoya bertanya.
Rodie pun perlahan mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan airmata. Rindu pada Zoya, cinta yang tak pernah surut sedikit pun untuk Zoya, bersalah telah meninggalkan tanpa kata, marah akan keadaan,,,, semuanya kini bercampur menjadi satu. Semua rasa itu bergemuruh dalam dadanya.
"Rrrr,,, Ro,,, Ro,,, Rrrroodiiee??? Kamukah itu??" bibir Zoya gemetar menahan tangisnya melihat kondisi Rodie saat ini.
Tubuh kurus, pipi tirus, mata cekung dan semua keadaan tubuh yang dengan sekali tatap saja sudah bisa membuat siapa pun yang melihatnya tau bahwa ia tengah dalam kondisi sakit. Namun meski semua dari Rodie tampak berubah, ada satu hal yang tak pernah berubah.
Tatapannya pada Zoya selalu penuh cinta.
"Hai Zo,,," sapa Rodie dengan senyum kecutnya.
Zoya dengan tubuh bergetarnya perlahan mendekat. Matanya terus mengeluarkan bulir bulir bening yang tak bisa dikendalikannya. Bibirnya gemetar. Ingin bicara banyak namun semua untaian kalimat terasa tertelan kembali.
Zoya duduk bersimpuh di depan Rodie masih dengan berurai airmata. Kenyataan tentang kondisi Rodie sangat memukul hatinya. Tanpa dijelaskan pun, kini Zoya bisa mengerti apa alasan Rodie meninggalkannya.
"Jangan menangis Zo. Ku mohon,,," pinta Rodie lirih dan sembari berurai airmata juga.
Hatinya sangat sakit melihat Zoya terus terusan menangisi dirinya seperti itu. Inilah yang ditakutkannya jika sampai Zoya tau kebenaran tentang dirinya. Rodie paling tidak bisa melihat kesedihan di mata Zoya.
Untuk beberapa saat keadaan menjadi sangat mengharukan. Semua yang ada di sana tenggelam dalam perasaan masing masing. Tak ada yang bicara lewat kata, semua membiarkan sepasang mata milik masing masing orang yang berbicara lewat tarian tangis.
"Jadi ini??" akhirnya bibir kelu Zoya mampu berucap.
Rodie mengangguk pelan. Ia sudah paham arah pertanyaan Zoya. Mereka bukan sehari dua hari saja saling mengenal jadi tidak perlu kalimat panjang dilontarkan.
"Maaf, Zo."
__ADS_1
"Tidak, bukan kamu yang harus meminta maaf. Seharusnya akulah yang meminta maaf. Aku yang tidak pernah peka akan keadaanmu, aku yang hampir tidak pernah menyempatkan diri memikirkanmu, aku yang selalu tenggelam dalam kenangan masa laluku dan dengan egoisnya aku mengabaikan semua tentangmu. Semua salahku Rodie. Maafkan aku,,,,"
"Tidak, Zo. Bukan salahmu. Itu adalah pilihanku sendiri dan kamu tidak wajib untuk membuatku senang dengan menuruti apa mauku. Ini pilihan hatiku jadi biarkan hatiku sendiri yang menanggungnya. Jangan libatkan hati dan dirimu, Zo. kamu gak salah. Kamu gak pernah salah dalam hal ini." Rodie sangat sedih.
"Kenapa? Kenapa sebesar ini cintamu kepadaku?"
Untuk selanjutnya Zoya tak mampu menahan ledakan tangisnya. Ia sandarkan keningnya di lutut lemah Rodie. Zoya tersedu sedu di sana. Menyesali semuanya. Termasuk gugatan cerainya.
Kenyataan ini terasa begitu menamparnya. Zoya bukan tidak tau selama ini Rodie mencintainya, hanya saja ia tak pernah menyangka sebesar ini cinta Rodie kepadanya.
"Aku mencintaimu tulus Zo. Tidak menuntut jawaban atau timbal balik apa pun. Aku mencintaimu karenaNYA. Dan itu tidak akan pernah berubah. Meski takdir tidak memihakku, meski tubuh ini tak mampu menjadi pelindungmu, tapi aku bangga jika harus mengalah demi lelaki baik itu. Dia yang juga mencintaimu karenaNYA meski ia terlambat menyadarinya. Berbahagialah dengannya Zo,,, menikahlah. Dia cintamu."
Kini Zoya mengangkat wajah basahnya. Seolah baru ingat bahwa ada hati lain yang juga harus ia jaga. Seolah baru ingat bahwa ada Rajesh yang sedari tadi bisa melihatnya menangisi Rodie dengan teramat sedihnya. Lelaki yang bisa saja gelap mata dan merasa marah mengetahui wanitanya begitu bersedih untuk lelaki lain.
"Mas,,, Aku,,," Zoya merasa tak enak hati pada Rajesh namun belum selesai ia bicara, Rajesh sudah memotongnya.
"Tidak apa apa. Aku yang memintanya menemuimu. Aku ingin semuanya jelas sebelum kita melangkah lebih jauh. Aku tidak ingin kamu menyesali keputusanmu menikah denganku. Sayang,,, dalam hal ini seharusnya akulah yang harus meminta maaf kepada kalian. Aku sudah tau Rodie sakit selama ini, bahkan aku juga curiga bahwa kepergiannya darimu karena penyakitnya. Dia pernah datang dan memintaku,,,,"
"Tidak. Itu juga bukan salahmu. Semua salahku. Aku yang melarangmu menyampaikan kebenarannya kepada Zoya. Aku yang memaksamu Rajesh. Jadi jangan salahkan dirimu." ganti Rodie yang memotong ucapan Rajesh.
"Menikahlah dengannya Zo. Untukku,,, Setidaknya, biarkan sisa hidupku ini tenang melihatmu sudah bahagia bersama cintamu." pinta Rodie dengan hati hancur meski bibir tersenyum.
"Tapi,,, Aku,,," Zoya bingung harus bicara apa.
Ia mencintai Rajesh, sejak dulu,, bahkan sebentar lagi impiannya menikah dengan Rajesh juga akan terwujud,,, tapi kenyataan hari ini yang telah begitu menamparnya membuatnya sadar bahwa Rodie juga layak dicintai setelah semua yang dilakukannya untuknya.
"Aku akan baik baik saja. Ada Angie dan Daniel serta malaikat kecil itu yang akan menjagaku." ujar Rodie meyakinkan.
"Rodie,,, aku,,," Zoya masih sulit berucap.
Zoya kembali menatap Rodie. Lelaki itu memang terus saja tersenyum tapi Zoya tau persis hatinya menangis.
__ADS_1
"Baiklah,,, Sekarang biarkan aku yang bicara. Kalian berdua sudah terlalu banyak bicara. Biarkan sekarang aku yang bicara mewakili diriku sendiri." Zoya berdiri sambil mengusap airmatanya, berusaha tegar.
Kini semua mata tertuju kepadanya. Semua penasaran apa yang akan dikatakan oleh Zoya.
"Rodie,,, maafkan aku jika selama ini aku tak bisa mengimbangi besarnya cintamu kepadaku. Aku ucapkan terima kasih banyak untuk itu. Aku minta maaf jika hatiku selalu hanya memilih mas Rajesh. Aku minta maaf jika aku sudah menggugat cerai dirimu karena aku kehabisan kesabaran menunggumu. Maafkan aku untuk semua hal yang telah berlalu."
"Tidak apa apa. Apa yang kamu lakukan sudah benar, Zo. Menggugat lelaki pecundang sepertiku adalah tindakan benar." jawab Rodie.
"Dan mas Rajesh,,, Aku sangat mencintaimu mas. Kamu tau itu. Tapi aku ingin minta maaf juga kepadamu tapi untuk hal hal yang akan terjadi nantinya jika kamu menyetujui keputusanku selanjutnya." ujar Zoya.
"Katakan sayang,,," pinta Rajesh.
"Kita akan tetap menikah hanya jika kamu setuju dan mengijinkanku membawa dan merawat Rodie bersama kita. Aku ingin menebus semua kesalahanku padanya mas."
"Tidak Zo,,, jangan!!!" larang Rodie.
"Boleh,,, tentu saja boleh. Bahkan aku juga menginginkan hal yang sama. Kita akan merawatnya bersama sama. Dia akan menganggapnya keluarga." Rajesh mengabaikan perkataan Rodie.
"Kalian tidak perlu melakukan ini kepadaku,,," Rodie kembali menangis.
"Terimalah tawaran kami atau kamu ingin melihat selamanya kami tak pernah terikat ikatan yang sah? Kamu sudah dengar sendiri kan keputusannya? Kita juga sudah sepakat untuk bersikap gentle dan menerima semua keputusannya bukan? Sekarang giliran kami yang memaksamu Rodie." ujar Rajesh.
"Jika tidak bisa menjadi suamiku,,, setidaknya jadilah kakakku." pinta Zoya.
Rodie mengangguk sambil berlinang airmata. Setidaknya, dengan begini ia akan tetap bisa menghabiskan sisa umurnya bersama Zoya.
...\=\=\=\=\=...
...Minal aidin wal Faidzin ya sayang sayangku,,, ...
...🙏🤝...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....