
"Suster segera siapkan ruangan di ICU. Pasien drop lagi." Perintah dokter sukses membuat jantung Karin dan Delvara serasa lepas dari tangkainya lagi.
Kemudian tubuh Zoya yang terlihat sangat pucat wajah dan bibirnya serta matanya terpejam didorong keluar oleh beberapa suster yang bergerak sangat cepat. Mereka seolah berburu dengan waktu.
"Tunggu!!! Del,,,, kenapa dengan Indah??" Rajesh yang rupanya masih berdiri di luar kamar Zoya heran dan ikut cemas.
Ia sampai memberanikan diri mencekal lengan Delvara yang tengah berjalan memeluk dan menopang tubuh sang mama.
"Lepaskan!! Bukan urusan lo!!" Delvara menepis kasar.
"Nggak bisa begitu dong Del. Indah itu masih istri gue!!" protes Rajesh tidak terima dirinya diabaikan begini.
"Istri yang sudah lo madu saat ia terbaring koma tepatnya!!" Delvara meneruskan sekaligus menyindir.
Rajesh terdiam kali ini. Sebenarnya dalam hati ia heran kenapa pernikahannya dengan Nadine bisa sampai di telinga Delvara secepat ini padahal mereka hanya menikah di bawah tangan dan tak mengundang orang luar, hanya keluarga inti saja.
"Tapi tetap saja lo gak bisa terus halangi gue untuk tau kondisi Indah." Rajesh mengejar dan kembali protes saat langkah Delvara sudah cukup jauh.
"Mbok,,, bisa bantu mama dulu ikuti dokter?? Nanti saya segera menyusul. Sepertinya ada yang harus saya tegaskan dulu pada lelaki tidak tau diri ini." kata Delvara pada mbok Rati yang langsung mengangguk dan mengambil alih Karin dari tangan Delvara.
Rajesh diam mendengarkan dan tak protes sama sekali dikatai seperti itu. Dia juga memberikan waktu untuk mbok Rati dan juga Karin berjalan menjauh. Tangan Delvara sudah mengepal kuat. Ingin rasanya menjotos Rajesh sampai bonyok tapi selanjutnya apa?? Malah akan berdampak buruk bisa bisa. Bisa saja Rajesh melaporkannya dan saatnya benar benar tidak tepat jika Delvara harus terlibat masalah lain saat ini.
Karin sangat membutuhkan keberadaannya saat ini. Karenanya sebisa mungkin ia tahan emosinya dalam meladeni Rajesh.
"Mau lo apa sebenarnya hah?? Belum cukup lo perlakukan adik gue secara buruk selama ini?? Belum cukup lo siksa batinnya?? Belum cukup lo hina dia?? Belum cukup lo khianati dia?? Belum bahagia lo dengan istri baru lo?? Dan setelah semua itu,,, Lo masih merasa pantas dan layak menyebut diri lo sebagai suaminya?? Lo waras hah???" bentak Delvara kesal.
Hanya begitu saja ia bisa sedikit meluapkan emosinya. Sebisa mungkin ia tak ingin main tangan.
"Gue tau gue salah bro. Tapi itu semua karena gue gak tau kalau dia itu Zoya." Rajesh berusaha membela diri.
"Gampang sekali mulut lo bicara mencari pembenaran atas diri lo ya. Meski dia bukan adik gue pun juga apa yang lo lakukan itu keterlaluan. Dan bagi gue,,, ini lebih baik karena akhirnya gue tau bahwa sahabat gue ini memang tidak layak disebut sahabat. Daripada lo tau itu Zoya dari awal dan lo hanya pura pura mencintainya dan memperlakukannya dengan baik hanya karena lo segan sama gue."
Lagi lagi Rajesh terdiam.
"Oh ya,, lo mau tau keadaan Zoya kan? Ok,,, gue kasih tau lo. Dia sudah sempat sadar dan ingatannya kembali. Dia mengenali gue dengan mama meski awalnya merasa ragu. Dan lo tau apa yang membuat gue sempat bahagia??" tanya Delvara dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Apa?" tanya Rajesh penasaran.
"Dia nggak kenal mbok Rati."
"Lalu??" Rajesh tidak mengerti.
"Lalu kemungkinan besar dia juga nggak akan ingat siapa lo. Jadi jangan terlalu percaya diri menganggap diri lo suaminya kalau dia sendiri bisa jadi nggak ingat lo siapa. Dan gue rasa,,, Sebaiknya memang begini saja." tegas Delvara lalu meninggalkan Rajesh yang terlihat pucat mendengarnya.
Delvara tak lagi menghiraukannya. Kakinya berjalan cepat menuju ke ruang ICU di mana Zoya sedang mendapat tindakan khusus lagi.
"Bagaimana dok? Apa adik saya baik baik saja??" tanyanya cepat begitu tiba dan melihat dokter baru saja keluar dari ruang tindakan.
Dokter tak langsung menjawab. Beliau menyeka sedikit peluh yang hampir menetes dari keningnya. Dokter juga memperhatikan wajah satu persatu keluarga pasiennya. Mencoba membaca wajah manakah yang paling tegar untuk mendengar berita yang akan disampaikan.
"Maafkan saya. Saya harus menyampaikan berita buruk ini. Pasien sangatlah lemah. Tapi meski demikian, kami tetap berusaha memberikan yang terbaik. Dengan berat hati, saya harus menyampaikan kepada keluarga bahwa harapan hidupnya sangat tipis. Hanya bergantung pada alat bantu medis yang masih tertancap di tubuh pasien saja. Dan kapan pun alat alat itu dicabut, maka adik anda tidak akan tertolong."
Meski suara dokter makin lirih, namun Tangis Karin pun pecah. Tubuhnya meluruh dan lemas. Beruntung Delvara sigap menangkap tubuh Karin dengan sisa sisa tenaganya karena ia sendiri juga sebenarnya sedang rapuh.
"Cah ayuuuu,,,, sabar cah ayu,,,," mbok Rati berusaha menenangkannya.
"Iya cah ayu. Mbok tau ini berat untuk semuanya. Tapi cah ayu nggak boleh seperti ini. Cah ayu harus kuat, sabar dan tetap berdoa serta percaya pada kuasaNYA. Ayo jangan menangis lagi. Berdoa dan mintalah keselamatan untuk nduk Indah." ujar mbok Rati lembut.
Ucapan mbok Rati dibenarkan oleh Karin. Karin lantas mengusap airmatanya dan berdiri meski tetap dibantu oleh Delvara. Selanjutnya mbok Ratilah yang membimbingnya untuk duduk di bangku bangku yang tersedia di sepanjang lorong.
"Dok,,, jangan pernah mencabut alat alat bantu medis dari tubuh adik saya. Saya tidak banyak tau tentang medis tapi saya ingin adik saya tetap mendapat perawatan dan tindakaƱ terbaik dari tim dokter terbaik di rumah sakit ini. Jangan pedulikan masalah biaya karena nyawa adik saya lebih dari segalanya." Delvara terbawa suasana.
"Baik tuan. Saya mengerti. Saya sendiri yang akan memilih tim terbaik untuk menangani adik anda." ujar dokter meyakinkan.
"Terima kasih dokter." ucap Delvara sembari tersenyum lemah.
Namun seketika kilatan emosi kembali terlihat di matanya ketika sosok Rajesh berdiri tak jauh darinya dan Delvara yakin dia bisa mendengar apa yang ia bicarakan dengan dokter tadi.
Dengan emosi membuncah Delvara mendekat dan menarik krah leher kemeja lecek Rajesh.
Buggghh Bugghhh,,,, Delvara memukuli Rajesh bertubi tubi dan bak kesetanan. Rajesh sama sekali tak memberi perlawanan. Satu sisi ia tau ia pantas dipukuli begini, sisi lain ia turut merasa berduka atas apa yang menimpa Zoya.
__ADS_1
"Nak,,, nak,,, berhenti." pekik Karin melihat putranya membabi buta.
Namun saking marahnya, Delvara sampai tak mendengar suara Karin. Hingga akhirnya Karin pun membentaknya.
"Delvara Abdi Mandala!!!! Cukup!! Mama bilang cukup!!!"
Delvara langsung berhenti dan tersadar akan apa yang telah diperbuatnya. Ia bahkan untuk pertama kalinya membuat Karin sampai harus meninggikan suaranya dan itu karena Rajesh. Delvara menoleh Rajesh yang terkulai di bawahnya dengan bersimbah darah di bagian wajahnya.
"Puas lo????!!!!" teriak Delvara sambil mendorong dada Rajesh hingga tubuhnya menghantam ke lantai lagi setelah sempat berusaha bangkit.
"Cukup nak, cukup. Ini semua tidak akan merubah kondisi adikmu. Bukan dengan seperti ini nak." Karin menangis antara masih sedih dan juga menyesal sudah membentak putranya.
"Iya ma. Maafkan Del ma. Del sudah membuat mama marah." ujar Delvara.
"Bantu dia nak. Dia butuh pengobatan." titah Karin selanjutnya.
"Tapi ma,,,"
"Mama dan mendiang papa tidak pernah mengajarimu begitu bukan?" suara Karin begitu lembut namun berwibawa dan mampu membuat Delvara tak bisa lagi membantah.
Delvara membantu Rajesh berdiri dengan menariknya bangun.
"Lo lihat,,, bukan hanya bidadari yang terbaring lemah di sana yang sudah lo sakiti. Tapi bidadari yang satu ini pun lebih banyak lo lukai secara tidak langsung. Dan bidadari ini,,, dia juga yang membuat gue masih mau menolong lo. Jadi,,, apa belum cukup lo menyakiti keluarga gue????"
"Del gue,,, gue minta maaf."
Rajesh menitikkan airmata untuk pertama kalinya selama ia bersahabat dengan Delvara.
...\=\=\=\=\=...
...Tahun baruan kemana guys??? ...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1