Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Angie,,, wanitaku.


__ADS_3

Detik berikutnya suasana semakin tidak kondusif. Pelaminan yang seharusnya menjadi saksi bahagianya dua insan yang telah terikat dalam sebuah hubungan halal malah kini berubah layaknya ring tinju. Terlihat Rodie sudah terjatuh karena mendapat bogem mentah dari Delvara. Dan meski terus diberondong pukulan dari Delvara, lelaki itu sama sekali tak melawan.


Justru wanita muda yang tengah hamil itu memekik meminta pertolongan karena Rodie terus saja dihajar Delvara. Khawatir wanita itu juga jadi sasaran pukulan membabi buta dari Delvara, mau tidak mau, Rajesh pun turun tangan. Melerai.


"Del,,, udah bro udah." Rajesh susah payah menarik tubuh Delvara menjauh dari Rodie.


"Lepasin gue. Dia harus dihajar. Berani beraninya dia permalukan dan nyakitin adik gue seperti ini!!!" sengit Delvara.


"Iya gue tau tapi lo tetap harus kontrol emosi lo. Jangan sampai emosi lo membawa masalah baru ke depannya. Adik lo butuh lo saat ini. Bayangkan dia sedang kalut dan malu pastinya saat ini. Dia butuh support lo. Jadi jangan buat diri lo dipenjarakan orang karena lo udah main hakim sendiri begini." Rajesh menasehati sambil terus berusaha menahan tubuh Delvara yang masih saja meronta.


Perlahan tubuh Delvara pun berhenti melawan. Dia menatap mata Rajesh. Berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Rajesh. Dan begitu ia merasa ucapan Rajesh ada benarnya, ia pun lantas menurut saja. Ia tak lagi mengamuk. Ia merapikan dirinya dan sangat berusaha menahan emosinya demi sang adik tersayang.


Delvara pun menyusul sang adik dan mamanya entah kemana. Yang jelas pastinya di ruangan lainnya untuk menenangkan diri.


"Bagaimana keadaanmu? Dokter? Rumah sakit?" Rajesh menawarkan opsi pengobatan seraya membantu Rodie bangkit.


Bagaimana pun, Rajesh tau betul lelaki itu tengah sakit. Kondisinya lemah untuk menerima pukulan keras seperti tadi. Rajesh khawatir jantung Rodie tidak kuat.


"I am ok. Nggak apa apa. Ini sepadan dan pantas untukku." jawab Rodie.


"No, you're not ok!! Bahkan ini semua juga nggak sepadan buat lo. Lo,,,," Rajesh menghentikan bicaranya karena Rodie sudah menggelengkan kepala pertanda meminta Rajesh berhenti bicara.


"Ini Angie. Wanita gue." Rodie malah mengenalkan wanita muda yang tengah hamil itu sebagai wanitanya kepada Rajesh.


Membuat orang orang kembali berkasak kusuk lagi. Suasana yang sempat hening, kini kembali menimbulkan suara seperti berdengung.


"Please!! Jangan bohongi gue. Lo boleh berlaku begini dan membuat semua orang membenci lo. Tapi gue tau ini hanya rekayasa lo kan?? Ini cara lo pergi dari dia kan??" cecar Rajesh.


Rodie menggeleng pelan lantas tersenyum.

__ADS_1


"Sama sekali bukan. Ini bukan rekayasa. Justru inilah yang terjadi sebenarnya. Gue nggak pernah sakit tapi gue punya wanita lain yang sedang mengandung anak gue. Jantung ini,,,, tidak lemah!!!" tegas Rodie sambil menunjuk tubuh di mana jantungnya berada.


Rajesh diam. Menatap sepasang netra yang berkaca kaca itu. Mencari kebohongan di sana dan ia menemukannya. Tatapan sedih lelaki itu sangat jelas.


"Lo gila!! Lo sadar nggak lo udah sangat menyakitinya?? Lo juga menyakiti diri lo sendiri!!" Rajesh mulai emosi.


"Hahaha,,, menyakiti diri gue sendiri?? Sama sekali nggak!! Gue bahagia. Sangat bahagia bahkan. Bersama Angie,,, gue bakal memulai hidup baru yang pastinya bahagia selalu meski harus kami awali dengan hal buruk seperti ini. Meski semua mata menatap sinis pada kami hari ini. Meski semua bibir bergunjing tentang kami hari ini, tapi akan ku tunjukkan pada kalian semua bahwa aku akan hidup bahagia!!" Rodie menunjuk semua orang orang dalam ruangan itu.


Semua auto diam dan menunduk. Malu ketahuan nyinyir meski kenyataan di depan mata memang layak untuk dijadikan bahan nyinyiran.


"Rodie!! Pikirkan dia!!!" bentak Rajesh kemudian.


"Lebih baik gue pikirkan Angie. Dia kan sudah ada loe. Dia juga cintanya sama loe, bukan ke gue. Jadi untuk apa??" Rodie malah mencibir.


"Loe lupa?? Sekian lamanya loe menunggu dia. Dan setelah loe dapatkan, loe malah seperti ini." Rajesh benar benar kecewa.


"Ini semua salah loe!!! Seandainya saja waktu itu loe terima tawaran gue, dia nggak perlu dipermalukan seperti ini. Dia nggak perlu menanggung malu sekaligus sakit hati karena tau belang gue. Loe semua gara garanya!!!" Rodie malah menyalahkan Rajesh.


"Gila. Loe benar benar gila!!!" Rajesh beranjak dan pergi meninggalkan ruangan itu disusul oleh Alyssa dan Ferry yang juga bingung dengan kejadian ini.


Satu persatu orang dalam ruangan itu pun memilih meninggalkan ruangan resepsi yang telah berubah menjadi ruangan dramatis. Mereka merasa tak diperlukan lagi kehadirannya di sana. Bahkan tuan rumah penyelenggara pun sudah tidak terlihat di sana, jadi untuk apa lagi mereka di sana?


"Loe emang gila Rodie!!"


Angie, si wanita muda yang hamil itu menepis tangan Rodie di pinggangnya lalu mengatai Rodie setelah semua orang tak lagi memperhatikan mereka.


"Gue nggak punya pilihan lagi, Angie. By the way, thank you udah bantu gue. Sisanya biar gue urus sendiri." ucap Rodie.


"Gue nggak ngerti. Sebagai sahabat baik loe, gue prihatin. Gue juga kasihan. Gue tau loe begitu mencintai istri loe tapi gue nggak paham kenapa loe malah memilih menyakiti dia seperti ini?? Apa nggak ada cara lain??" cecar Angie.

__ADS_1


"Dengan begini dia akan benci gue. Dia nggak akan pernah maafin gue. Dan dengan begitu, kesempatannya untuk kembali pada cinta sejatinya akan lebih besar. Dia akan berhenti memikirkan gue dan sebagai gantinya,,, mantan suaminya yang akan kembali menjadi satu satunya pusat perhatiannya. Seperti yang selalu terjadi selama ini. Loe pikir kenapa dia begitu lama butuh waktu menjawab perasaan gue?? Karena dia masih cinta sama mantan suaminya. Jadi buat apa gue berada di tengah tengah dua orang yang sama sama masih saling mencintai?? Bukankah gue egois namanya??"


Angie menghembus napas kasar. Menggaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal. Lalu memunguti tasnya yang sempat jatuh dan isinya berhamburan keluar tadi saat panik melihat Rodie di pukuli.


Sebagai teman baiknya Rodie, Angie hanya membantu bersandiwara sebagai kekasih Rodie yang hamil dan menuntut tanggung jawabnya. Angie semula tidak mau tapi kembali,,, sebagai teman yang tau persis keadaan kesehatan Rodie,,, Angie kalah dengan bahasa Rodie yang meminta bantuannya untuk terakhir kali.


"Gue harap loe nggak menyesali keputusan loe ini, Rodie." sebelum pergi dari sana, Angie mengatakannya.


"Justru ini yang benar benar gue mau. Don't worry. I am fine."


Lagi lagi Angie hanya bisa menghembuskan napas kasar. Memeluk Rodie sejenak kemudian mencium kedua pipi sahabatnya itu.


"Gue sayang loe. I care about you, bro." ucapnya kemudian lalu pergi.


Meninggalkan Rodie yang memandangi seluruh sudut ruangan yang sudah sepi itu. Ruangan yang sempat menjadi saksi dirinya resmi menjadi suami Zoya sekaligus resmi menjadi orang terburuk di mata Zoya.


Sekarang tinggal menemui Zoya dan keluarganya, menerima semua konsekuensinya lalu pergi menjauh. Memberikan jeda dan ruang untuk Zoya menemukan kembali cintanya.


"Semua ini untukmu Zoya sayang. Ku harap kamu bahagia setelah ini. Lupakan aku. Bahagialah bersama Rajesh. Kejar cintamu."


Rodie mengecup foto pernikahan mereka yang ada di pintu masuk ruang resepsi. Menghapus airmatanya lalu melangkah pergi.


...\=\=\=\=\=...


...Author kabur sebelum dibully penggemar Rodie,,...


...With love, ...


...Author....

__ADS_1


__ADS_2