
"Maaf."
Rodie mengatakannya di depan Karin, Delvara dan juga Zoya keesokan harinya di rumah besar milik keluarga Delvara ini. Rumah yang biasanya selalu menyambutnya dengan kehangatan, hari ini hanya menampilkan wajah wajah sendu. Tidak ada Maria di sana karena Maria merasa dirinya sebaiknya tidak ikut campur.
Bukan merasa diri bukan anggota keluarga, melainkan memberi privacy pada mereka. Maria pikir, Zoya mungkin akan malu jika ada dirinya juga. Mereka masih belum terlalu akrab mengingat pertemuannya baru beberapa kali saja.
"Segampang itu???" cibir Delvara.
"Kak,,," lirih Zoya berusaha meminta sang kakak untuk tidak emosi lagi.
Zoya bisa melihat beberapa luka lebam dan juga beberapa yang sudah tertutup plester luka di wajah Rodie. Zoya tau itu pasti perbuatan kakaknya.
"Zo,,, aku tau aku kurang ajar. Aku terlalu naif untuk mengakui perangai burukku di belakangmu. Tapi aku tetap memohon maafmu. Maaf untuk tidak bisa menjadi suami dan imam yang baik seperti yang pernah ku janjikan padamu. Maaf hanya bisa menjadi suami di atas kertas saja. Maaf untuk hanya bisa mendampingimu di pelaminan beberapa jam saja. Maaf,,, Maaf untuk semua."
Rodie menunduk namun secepat kilat ia mengangkat wajahnya. Menoleh kanan kiri demi mengusir airmata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Aku mengerti. Dan aku memaafkanmu." ucap Zoya kemudian.
"Dek,,, semudah itu memaafkannya? Ini bukan hanya menyangkut perasaan dan harga dirimu sebagai istrinya saja. Tapi juga nama baik keluarga kita tercoreng akibat perbuatan terkutuknya itu." Delvara mulai emosi.
"Del,,," tegur Karin meminta sang putra mengendalikan dirinya meski apa yang dikatakannya memanglah benar.
Apa yang menimpa Zoya kemarin berimbas besar pada nama baik keluarga yang selama ini dijaga. Meski memang tidak banyak yang mereka dengar dari para mulut netizen, tapi tetap saja sebagai pemimpin kerajaan bisnis keluarga,,, rasanya bak dilempar kotoran ke wajah saja.
Sangat memalukan.
"Kak,,, aku tau. Aku cukup paham apa yang kakak rasakan. Tapi cobalah untuk tidak melihat sisi buruknya saja. Lihatlah sisi baiknya juga." pinta Zoya.
"Sisi baik?? Di mananya??" Delvara heran dan tak mengerti mengapa adiknya itu masih saja melihat kebaikan dari kejadian memalukan itu.
Begitu pula Rodie,,, ia sempat tertegun mendengarnya. Tertegun sekaligus takut jika rekayasanya malah berakhir tidak sesuai yang direncanakannya.
__ADS_1
"Ada kak. Selalu ada hal baik di balik sebuah keburukan. Setidaknya dengan kejadian kemarin aku jadi tau bahwa suamiku ini, adalah lelaki yang bertanggung jawab. Meski harus bertaruh dengan kebahagiaan rumah tangga kami, tapi ia menyanggupi untuk bertanggung jawab atas kehamilan kekasihnya. Itu nilai plusnya. Setidaknya dia tidak pernah meminta perempuan itu untuk menggugurkan kandungannya."
"Zo!! Dia menyakitimu!! Dia berselingkuh di belakangmu!!" kembali Delvara emosi.
"Delvara Abdi Mandala!!!" kini ganti suara sang ibu yang meninggi menandakan beliau marah pada sang putra.
Karin memang paling tidak suka jika urusan rumah tangga itu dicampuri. Baik oleh orang tua maupun saudara. Karin adalah tipe orang yang memberikan kebebasan kepada seseorang menyikapi dan memutuskan apa yang harus dilakukannya dalam menghadapi sebuah persoalan.
Sama halnya dalam masalah ini,,, dia memang duduk mendampingi putrinya, tapi dia tidak akan menghujat atau pun menghakimi Rodie. Dia memilih menyerahkan semuanya pada Zoya. Biar Zoya yang menentukan langkahnya kemudian.
Delvara mengerti sang ibu marah padanya. Karenanya ia tak lagi berbicara dan mendengarkan saja.
"Terima kasih Zo." lirih Rodie.
Batinnya semakin tersiksa melihat sang istri yang sama sekali belum disentuhnya itu malah tersenyum menghadapi rekayasanya. Dalam hati, ia sangat memuji dan merasa sangat beruntung mendapatkan istri seperti Zoya. Namun rasa itu juga semakin diiringi dengan perasaan merelakan. Merelakan Zoya untuk berbahagia dengan Rajesh, bukan dirinya yang sekarat itu.
Sisi hatinya yang lain juga memberontak. Mengutuk Tuhan akan takdir hidupnya ini.
Kalimat yang dinantikan Rodie akhirnya keluar dari bibir Zoya. Rasa lega sekaligus sakit mengiris rongga dada Rodie. Ia senang dan lega karena akhirnya Zoya memutuskan melepaskan dirinya, namun hatinya sakit melepaskan sang istri tercinta yang telah lama didamba.
"Maaf Zo."
"Tidak apa apa. Apa aku boleh merepotkanmu sekali lagi? Bisakah kamu mengurus perceraian kita sebelum kamu menikahinya?" tanya Zoya kemudian.
"Tentu saja. Apa pun itu akan kulakukan. Ini semua tidak sepadan dengan apa yang sudah kulakukan padamu." sahut Rodie cepat.
"Terima kasih Rodie. Ku ucapkan selamat untukmu. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Jadilah suami dan ayah yang baik. Aku minta maaf telah banyak menyita waktumu selama ini. Aku juga meminta maaf telah begitu egois. Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu yang terus menungguku tanpa kepastian."
"Tidak Zo. Jangan meminta maaf untuk apa pun itu. Aku tidak pernah sakit atau kecewa menerima semua itu. Aku tidak pernah keberatan atau menyesal untuk semuanya."
Rodie berkata jujur meski itu semua sekarang dianggap sampah oleh Delvara. Dalam diamnya Delvara tengah berpikir keras bagaimana bisa dirinya terlewatkan hal ini. Bagaimana bisa ia tidak pernah tau bahwa selama ini Rodie punya selingkuhan.
__ADS_1
"Apa mungkin itu terjadi saat dia di luar negeri?? Rodie kan memang sering ke luar negeri dan selalu pergi sendiri. Bahkan sekretarisnya pun dilarang ikut. Ya,,, pasti itu semua dilakukannya dengan perempuan itu di luar negeri. Sepertinya aku harus cari tau siapa wanita itu."
Delvara membatin dalam hati dan makin yakin mengingat wajah Angie yang memang khas dengan mata sipit dan wajah orientalnya. Seperti bukan asli orang pribumi.
"Aku akan mengurus semua keperluan perceraian kita secepatnya." Rodie mengatakannya dengan hati yang hancur.
"Terima kasih." dengan hati yang hancur pula Zoya mengatakannya.
Ingin mengutuk takdir tapi dirinya tau betul bahwa ia hanyalah manusia biasa yang memang hanya menjalankan semua takdirNYA. Zoya hanya yakin bahwa di balik badai ini, Tuhan telah menyiapkan pelangi untuknya.
Ini hanyalah soal waktu saja.
"Biarkan waktu yang menyembuhkanku. Aku memang tidak pantas untuk menjadi istrinya. Aku masih belum bisa mencintainya sepenuh hati. Aku akan sangat merasa bersalah jika hidup bersamanya dengan hati yang masih mendua."
Zoya melepas kepergian Rodie dengan masih memikirkan sosok Rajesh. Namun melepaskan Rodie membuatnya malah merasa lega karena jujur sejak bertemu dengan Alyssa, hatinya gundah. Fakta tentang hubungan Alyssa dengan Rajesh terus mengusik hati dan pikirannya.
Ia menjadi semakin merindui sosok yang selama ini dibencinya. Makin kesini entah mengapa rasanya makin tak bisa memungkiri bahwa hati telah memilihnya.
"Temukan bahagiamu juga, Zo. Ikuti kata hatimu. Aku tau,,, kamu masih mencintainya. Kalian masih saling mencintai satu sama lain. Mengapa harus terus menerus menyiksa hati dan diri???"
Kata kata yang terucap dari bibir Rodie sebelum ia benar benar pergi kembali terngiang di telinga Zoya semalaman. Otaknya berputar keras.
"Apa semua ini adalah kesengajaan???"
...\=\=\=\=\=\=...
...Selamat pagiiii,,, selamat beraktifitas kembali....
...With love, ...
...Author....
__ADS_1