
Rajesh terduduk di lantai dengan mata basahnya. Betapa ia menyesal telah menyia nyiakan permata yang lama diincar dan sebenarnya sudah didapatnya.
Rajesh ingat betul, sejak kecil saat masih bermain main dengan Delvara, Rajesh memang sudah selalu perhatian pada Zoya kecil.
"Nanti kita main pengantin pengantinan seperti itu juga ya Zoya. Aku jadi raja dan kamu jadi ratunya. Aku pasti akan tampan sekali dan kamu juga akan cantik sekali."
Rajesh masih ingat betul saat kecil dirinya diajak menghadiri sebuah acara pernikahan rekan papa Gunawan dan mereka bertemu juga dengan Zoya dan Delvara. Melihat pengantin bersanding di pelaminan, Rajesh ingin merasakannya juga dengan Zoya.
Mungkin itu yang namanya cinta monyet namun cinta itu dalam diam selalu disimpannya dalam hati meski suatu hari kabar buruk tentang Zoya tersiar.
Zoya dikabarkan meninggal dan sejak saat itu hati Rajesh pun mati. Ia tak ingin lagi mencintai wanita mana pun. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan bermain main saja.
Hingga muncul Nadine,,, teman sekolah yang dikenalnya. Kagum,,, mungkin jika dibandingkan dengan perasaanya kepada Zoya kecil, perasaan Rajesh pada Nadine hanya sebatas kagum. Dia memang menginginkan Nadine, namun saat tau Nadine menjalin kasih dengan Delvara, ada rasa tidak terima dan sakit namun masih tak sesakit saat perasaannya terkubur bersama jasad Zoya kecil.
"Tuhan,,, kenapa Engkau mengelabuhiku seperti ini? Engkau tau kan betapa aku sangat kehilangan Zoya dulunya? Kenapa tidak Engkau biarkan aku mengenalnya sejak awal?? Kenapa harus membuatnya lupa ingatan dan mengenalkan dirinya sebagai orang lain padaku???"
Rajesh menyalahkan takdirNYA. Rajesh hanya bisa begitu. Semua sudah terlambat. Saat menyadari bahwa itu adalah Zoya yang didambanya, nyatanya saat ini Zoya sudah tak lagi bersamanya. Malah Nadine yang bersamanya.
"Apa aku masih boleh meminta agar Engkau membuatnya mengingatku Tuhan?? Aku tak ingin kehilangan dirinya lagi." rintih Rajesh.
"Lalu Nadine?? Bagaimana?? Harus ku apakan dirinya?? Aaarrgghhh,,, kenapa aku begitu ceroboh?? Dia begitu pandai merayu saat aku terlena." Kini Rajesh menyalahkan Nadine.
Sebenarnya ada kecurigaan saat Nadine datang kembali padanya setelah tau bahwa dirinya sudah tak sekaya dulu. Nadine adalah perempuan matrealistis, Rajesh curiga kenapa mau hidup susah dengannya? Hanya saja,,, Rajesh belum pernah dapat jawaban atas keraguannya itu.
Saat jiwa tengah goyah, saat nafsu merajai, maka disanalah Rajesh berada. Bersanding di depan seorang ustad yang menikahkannya secara siri dengan Nadine. Sebatas hanya untuk agar ada yang menemani saat tidur malam,,, sebatas hanya agar ada yang bisa melayani selama istri pertamanya masih terbaring koma.
"Bodoh kamu Jesh. Bodoh!!!" Rajesh memaki dirinya sendiri yang sudah mengutamakan nafsunya ketimbang akal sehatnya.
"Seharusnya aku bersabar dulu setidaknya sampai Indah,,, eh Zoya sadar. Setidaknya aku tidak akan terlihat begitu jahat karena telah memadunya saat ia terbaring koma. Mungkin saja dengan begitu, Delvara bisa memaafkanku. Arrhhgg,,, ini semua gara gara Nadine!!! Aku akan menceraikannya saja."
Rajesh mengusap wajahnya yang basah oleh airmata. Segera ia bangkit dan berencana pulang menemui Nadine. Ingin membicarakan hubungan mereka selanjutnya.
Tiba di rumah, Rajesh heran. Tidak tampak ada mobil kecil yang selalu dipakai sopir mengantar mama Rina. Mobil papa Gunawan juga tidak ada. Dan itu artinya mama Rina dan papa Gunawan memang sedang tidak ada di rumah. Namun justru yang membuat heran adalah adalah suara gaduh dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Nadine sama siapa??" batinnya sambil mendekati kamarnya sendiri.
Lamat lamat Rajesh mendengar suara tawa cekikikan Nadine. Kemudian juga suara lelaki yang terdengar tua dan berat. Rajesh menempelkan telinganya agar bisa mendengar percakapan keduanya.
"Beneran dad?? Jadi daddy udah berhasil mengubah semua jadi atas nama daddy???" suara Nadine terdengar bahagia.
"Daddy?? Siapa yang dipanggil Nadine dengan kata daddy?? Dan apa yang sedang mereka bahas?? Atas nama daddy semua?? Apanya yang atas nama??" Rajesh makin heran.
Kembali Rajesh menempelkan telinganya berharap agar suara orang di dalam kamar itu mampu menembus tembok yang lumayan tebal itu.
"Bener dong. Yaaaah meski harus main curang dan banyak memalsukan tanda tangan. Tapi yang penting kita kaya sayang. Daddy bahagia sekali. Apalagi ditambah dengan kehamilan kamu ini. Rasanya dobel dobel bahagianya daddy."
Suara lelaki itu sepertinya dikenali oleh Rajesh tapi Rajesh pikir itu tidak mungkin. Rajesh memilih lebih fokus pada apa yang dibicarakan dua manusia itu.
"Nadine hamil?? Sejak kapan??" batinnya makin heran.
"Kamu yakin kan anak ini bukan anak Rajesh?? Ini anak daddy kan??" tanya lelaki itu lagi membuat alis Rajesh terangkat.
"Anak daddy?? Maksudnya???"
"Bener dong dad. Ini anak daddy. Nadine kan selalu minum obat anti hamil sebelum main sama Rajesh. Kalau sama daddy, nggak pernah. Jadi Nadine yakin ini anak daddy." suara Nadine terdengar begitu manja dan menggoda.
Jari jemari Rajesh mengepal menahan amarah. Ia hendak menempelkan lagi telinganya saat suara mama Rina terdengar.
"Rajesh!!! Ngapain sih mengendap endap di depan kamar sendiri???" Mama Rina datang dan memekik melihat Rajesh begitu.
"Ma,,, husssttt!!!!" Rajesh memberi tanda mama Rina untuk tidak bersuara.
Namun yang didalam kamar bisa mendengar keributan di luar. Nadine segera membuka jendela kamar dan mengeluarkan sang daddy dari sana.
"Apaan sih kamu itu?? Ini kan rumah sendiri dan ini kamarmu sendiri. Kenapa musti mengendap endap begitu?? Masak mau intip istri sendiri??? Dasar aneh kamu ini." mama Rina tetap mengomel.
"Ma!! Diam dulu." Rajesh kesal.
__ADS_1
"Rajesh, mama,,, ada apa?? Kok kalian ribut ribut??" Nadine keluar dengan wajah bangun tidurnya.
"Kamu?? Sedang apa di dalam??" ketus Rajesh.
"Aku?? Tidur. Dan terbangun karena suara gaduh kalian." jawab Nadine polos sambil merapikan anak rambut yang berantakan seperti baru bangun tidur.
"Bohong!!! Kamu sama siapa di dalam???" Rajesh merangsek masuk dan mencari cari keberadaan sosok yang dipanggil daddy oleh Nadine tadi.
"Sendiri dong. Kan kamu baru datang ini. Memangnya sama siapa lagi aku?? Aneh deh kamu ini." tampik Nadine.
"Jelas jelas aku dengar suara kamu lagi ngomong sama laki laki di sini tadi!!!" bentak Rajesh.
"Laki laki?? Kamu ngigau?? Aku sendirian dari tadi." Nadine tetap menampik.
"Bohong!!! Telingaku nggak tuli!!"
"Ya udah kalau memang aku sama laki laki lain,,, coba mana orangnya?? Ada??" Nadine malah menantang.
Rajesh segera mencari cari keberadaan orang itu. Di dalam lemari, di bawah kolong, dalam kamar mandi, semua tidak luput dari pemeriksaannya tapi ia tak menemukan siapa pun.
"Kamu pasti sudah menyuruhnya keluar kan?? Kamu sembunyikan dia di mana hah???" Rajesh tidak percaya.
"Kamu gila Jesh!! Aku udah bilang aku lagi tidur dan kamu datang datang menuduhku bersama laki laki lain??? Ma,,, anak mama udah gila kayaknya ini." ujar Nadine mulai kesal.
"Kamu hamil!!! Dengan lelaki itu!!! Ya,,, aku mendengarnya!!!" Rajesh tetap seperti orang gila di mata Nadine dan mama Rina, menuduh sembarangan.
"Rajesh cukup!!! Kalau kamu masih tetap sibuk mendatangi rumah sakit dan menjenguk istri kampunganmu itu,,, kamu akan semakin gila!!!" pekik Nadine lalu meninggalkan mama Rina yang keheranan dengan pertengkaran mereka.
"Ini ada apa sih sebenarnya Rajesh?" tanya mama Rina dan hanya dijawab dengan kata "Aaarrgghhhh" oleh Rajesh.
...\=\=\=\=\=...
...Nyaris ketahuan lho,,, ðŸ¤...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....