
Zoya terlihat gelisah. Berkali kali ia mengecek ponselnya. Ia juga berjalan mondar mandir dengan rambut basahnya yang panjang tergerai. Usai penyatuan hebat yang kesekian kalinya dengan Rajesh, Zoya memang mandi. Dan sambil menunggu Rajesh selesai mandi juga, ia menghubungi Rodie.
"Kenapa masih centang satu ya? Padahal dia pasti sudah sampai. Kenapa tidak mengabariku? Angie dan Daniel juga nggak bisa dihubungi. Nggak biasanya mereka seperti ini." gumamnya heran.
Rajesh yang keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh bawahnya pun heran melihat Zoya yang terlihat sedang gelisah.
"Ada apa sayang?" tanyanya kemudian.
"Mmm ini mas,,, belum ada kabar dari Rodie. Angie dan Daniel juga nggak bisa dihubungi. Kira kira mereka kenapa ya mas? Kok perasaanku nggak enak. Mereka ada ngabarin ke mas nggak??"
"Sebentar mas cek ponsel ya." Rajesh memahami kekhawatiran istrinya tanpa sedikit pun merasa cemburu atau terganggu karena istrinya memikirkan lelaki lain.
Ini adalah satu hal yang sudah Rajesh pikirkan matang matang. Berbagi perhatian Zoya dengan Rodie adalah hal yang tidak pernah ia jadikan beban. Rodie sudah mengalah banyak kepadanya. Apa salahnya jika hanya berbagi perhatian wanita terkasih? Toh Rajesh juga paham bahwa istrinya hanya mencintainya.
"Nggak ada juga sayang." ujar Rajesh kemudian setelah mengecek ponselnya.
"Aneh saja kan. Nggak biasanya lho mas mereka seperti ini. Apa terjadi sesuatu ya?" Zoya makin gelisah.
"Sabar sayang. Tenangkan dirimu. Mungkin mereka memang belum sempat berkabar saja. Atau tepatnya,,, mereka belum ingin mengganggu kita. Padahal sih kitanya nggak merasa terganggu tapi wajar saja kalau semua orang menjaga jarak dulu dengan kita sekarang sekarang ini untuk memberikan waktu privacy. Jangankan Rodie,,,, nih mama,,, Del,,,, pada kemana mereka? Kita bangun kesiangan saja tak satu pun dari mereka berusaha membangunkan kita."
Rajesh mencoba menenangkan Zoya dengan hal hal sederhana yang bisa dimengerti dan masuk akal.
"Iya juga sih mas. Mungkin memang mereka sengaja ya tidak berkabar dulu." Zoya menerima kata kata Rajesh.
"Ya sudah. Kita tunggu sampai sore saja ya. Kalau mereka tidak juga menghubungi kita, maka kita cari tau apa ada masalah serius atau kenapa. Sekarang mas lapar hehehe,,," Rajesh nyengir kuda.
"Oh,,, bisa lapar juga kuda jantanku ini rupanya? Ku kira masih mau lanjut beberapa perlombaan lagi." goda Zoya.
"Lhoooo,,, jangan salah. Hayookk kalau mau tambah lagi. Siapa takut??" tantang Rajesh.
"Nggak mas ampuun. Nggak dulu ya." ganti Zoya yang mengiba karena ia benar benar kelelahan.
Pangkal pahanya juga mulai terasa ngilu selepas dibolak balik berbagai model oleh Rajesh. Untuk berjalan juga rasanya sakit bagian tengahnya.
"Hahaha,,, nyerah juga anda yaa." Rajesh tertawa puas dan merasa menang.
"Nyerah mas. Iniku sakit." Zoya menunjuk bagian intinya.
"Aduh sakit ya kue apemnya mas,,, sini mas tiupin." goda Rajesh.
"Kok kue apem sih?? Nggak ada yang lebih bagusan dikit apa??" sungut Zoya.
"Hahahah,,, apa dong??"
__ADS_1
"Mochi kek,,,"
Zoya bersedekap tangan ngambek tapi malah terlihat begitu lucu dan menggemaskan bagi Rajesh.
"Jangan ngambek ngambek mochi-ku. Nanti mas gumuuzzhh dan malah mas gigit lho mochinya. Mau??"
"Eh,,, nggak dulu. Jangan mas. Si mochi masih bengkak. Mmmm,,, kita turun saja dulu yuk. Makan dulu. Aku juga lapar ini." Zoya benar benar tak mampu untuk mengulang adegan adegan hebat mereka untuk sementara ini.
"Hehehe,,, iya sayang. Habis maem masuk kamar lagi ya." Rajesh mengedipkan matanya dengan nakal.
"Yaahhh,,, serius mas?? Lagi???" Zoya lemas duluan.
"Menyenangkan suami itu pahalanya besar lho. Menolak permintaan suami hukumnya dilaknat. Mau pilih mana??"
"Pinterrrr. Sini mas cium dulu." Rajesh meraih puncak kepala Zoya lalu menciumnya dengan hangat.
"Mas bercanda kok sayang. Mas tau kamu lelah. Tenang saja, mas beri waktu kamu istirahat. Lagipula,,, kita sudah menikah. Halal bagi kita melakukannya kapan saja di lain waktu. Tidak harus terus terusan seperti semalam hehehe,,," Rajesh berujar.
"Hehehe iya mas. Makasih ya atas pengertiannya." Zoya lega karena ternyata Rajesh tak benar benar memintanya melayaninya lagi.
Tubuhnya benar benar butuh dipulihkan terlebih dulu. Mengisi perut dengan makanan juga bukan pilihan yang salah saat ini. Karena untuk beraksi kembali juga dibutuhkan asupan gizi dan tenaga.
Keduanya lantas keluar kamar dengan bergandengan mesra. Disambut oleh siulan menggoda Delvara di ruang tengah yang kemudian langsung peringatan dari Karin untuk tidak menggoda dua insan dengan rambut masih basah basahan itu.
...~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~...
__ADS_1
Suara sirine terdengar begitu ribut di telinga. Suara teriakan orang orang korban kecelakaan beruntun juga menambah suasana jadi mencekam. Belum lagi tangisan anak anak keci dalam bus sekolah yang juga jadi salah satu korban kecelakaan. Tangisan para dewasa yang menyadari orang terdekatnya terluka parah pun tak kalah memilukan.
"Danieeellll bangun honeeeyyyy,,, banguuun,,,, buka mata kamu. Sabrinaaaa!!! My little baby,,,, buka mata sayang. Ini mommy,,,,"
Di antara ratusan suara tangis memilukan, tangisan Angie menyadarkan Rodie dari pingsannya. Mobil mereka menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun di sebuah ruas jalan Singapura akibat adanya sebuah kendaraan besar yang mengalami rem blong dan menabrak beberapa mobil di depannya yang tengah berhenti karena lampu merah.
Rodie masih merasakan pusing di kepalanya namun ia ingin tau apa yang terjadi di kursi depan. Ia memaksakan diri membuka matanya dan melihat sekeliling.
Sopir taksi mereka bisa dipastikan meninggal karena terjepit dan sudah tak bergerak sama sekali. Terlihat sebuah besi tajam juga menghujam bagian perutnya dan menimbulkan darahnya keluar tak terkendali. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Lalu di sebelahnya, Daniel dan Sabrina putri kecil Angie,,,
Keadaan mereka juga terlihat mengenaskan. Terjepit dan tak bergerak lagi meski tak terlihat semengerikan kondisi sang sopir. Hanya saja keadaan mereka terlihat tak berbeda. Keduanya tak bergerak dengan lelehan darah mewarnai wajah mereka.
"Angie,,," lirih Rodie berusaha menggapai tubuh Angie yang terus mengguncang guncang tubuh suami dan anaknya.
"Rodie,,, are you ok???" Angie bersyukur karena Rodie masih bernyawa.
Rodie hanya mengangguk pelan dan Angie langsung memeluknya sambil tetap menangis. Angie tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Duka tergambar jelas karena melihat kondisi suami dan anaknya. Angie seorang dokter, ia bisa tau keadaan keduanya yang sudah bisa dipastikan meninggal di tempat. Itu berat baginya,,, Namun ia juga masih merasakan bahagia karena sahabat tercinta masih selamat.
Keduanya pasrah berpelukan di dalam mobil sambil menunggu bantuan datang. Terlalu banyak korban dengan kondisi yang lebih parah yang lebih membutuhkan pertolongan lebih dulu.
...\=\=\=\=\=...
...*Otw kerja duluuuu*,,,,...
...*With love*, ...
...*Author*....
__ADS_1