
Delvara membantu membawakan tas mbok Rati selama mereka berdua berjalan menuju ke mobil Delvara yang ternyata masih terparkir di depan rumah Rajesh. Delvara yang semula masih enggan dan ragu meninggalkan rumah Rajesh akhirnya hanya bisa pasrah menunggu dan parkir di luar rumah. Meski tak tau apa yang ditunggunya sebenarnya namun Delvara merasa berat meninggalkan Indah.
Ia kesal namun tak kuasa untuk berbuat apa apa.
Beratnya hati pergi dari rumah itu rupanya karena Tuhan sudah menyiapkan skenario untuk Delvara bertemu dengan mbok Rati. Melihat mbok Rati keluar rumah dengan tas besarnya membuat Delvara penasaran sekaligus ingin memastikan apakah mbok Rati dalam kondisi sedang tidak baik. Jika benar begitu adanya, maka Delvara ingin menolongnya.
Sesampainya di mobil Delvara memasukkan tas milik mbok Rati itu ke dalam bagasi meski wanita bertubuh tambun itu menolak dibantu sebelumnya.
"Mbok itu bagi saya orang yang lebih tua dan harus dihormati. Jadi jangan larang saya untuk melakukan ini." ucap Delvara.
"Tapi kan si mbok ini cuma pembantu to cah bagus. Cuma orang rendahan. Ya masak malah tuannya yang angkat dan masukin tas si mbok?" mbok Rati sangat merasa tidak terbiasa diperlakukan begini.
"Siapa bilang mbok orang rendahan? Ingat mbok, semua manusia itu sama derajatnya. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tidak ada juga yang sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milikNYA. Jadi, mbok jangan pernah lagi merasa seperti itu ya. Lagipula, ini tuh bukan tuannya mbok. Ini bisa mbok anggap sebagai cucu mbok saja. Ya?" Delvara terus menunjuk dirinya sendiri setiap mengucap kata "ini".
Mbok Rati tidak bisa lagi membendung airmata harunya. Untuk sesaat tadi beliau merasa dan berpikir hanya hari hari buruk yang akan dilaluinya setelah keluar dari rumah Rajesh. Namun rupanya tuhan masih sayang kepadanya. Tuhan malah mengirimkan malaikat tak bersayap ini untuk menolongnya dan mengistimewakannya.
"Mbok mau anggap saya cucu mbok? Sejak kecil saya sudah kehilangan sosok nenek. Jadi kalau mbok bersedia anggap saya cucu mbok, maka saya akan sangat bahagia. Saya juga akan merasa bangga punya nenek cantik hati dan budinya seperti mbok." sekali lagi Delvara berucap tulus.
"Huhuhuhu,,,," mbok Rati tergugu dan Delvara mendekapnya.
"Cup cup cup,,, mau dibeliin balon apa permen kapas nih??" canda Delvara.
"Kenapa permen kapas to cah bagus?? Bukan permen yang lainnya?" protes mbok Rati disela isakannya.
"Karena gigi mbok udah pada ompong kan? Kalau makan permen kapas kan tinggal disesap saja." canda Delvara yang lalu mendapat pukulan pukulan kecil dari mbok Rati.
"Nakalnya cah bagus ini."
"Hehehe,,, Udah yuk kita pulang mbok." Delvara mengurai pelukannya diiringi anggukan kepala mbok Rati yang masih sibuk menyeka airmatanya.
"Silahkan mbok." Delvara membukakan pintu depan samping sopir untuk mbok Rati.
Mbok Rati tertegun sejenak.
__ADS_1
"Kenapa mbok?" tanya Delvara heran.
"Si mbok duduk di depan cah bagus??" tanyanya memastikan.
"Iya mbok. Nggak apa apa. Kan nanti kita bisa lebih leluasa ngobrolnya kalau mbok duduk di depan. Saya juga lebih bisa memastikan kalau mbok duduk sudah pakai seatbelt." Delvara tersenyum dan sangat mengerti kalau mbok Rati pasti tidak pernah dilakukan seperti ini oleh keluarga Rajesh sebelumnya.
Sudut hati Delvara merasa miris dengan tingkah laku keluarga sahabatnya itu. Berasal dari keluarga dengan latar belakang perekonomian dan bisnis yang bagus, hidup bergelimang harta, kaya raya tapi rupanya miskin etika.
"Si mbok penasaran seperti apa orang tuanya cah bagus ini." tutur si mbok begitu mobil sudah berjalan.
"Kenapa mbok?" tanya Delvara.
"Ya penasaran saja kok bisa mendidik putra sebaik ini. Baik budi pekertinya. Baik hatinya. Ganteng juga." puji mbok Rati.
"Mbok gak bermaksud naksir saya kan?" goda Delvara yang lagi lagi kena pukulan kecil mbok Rati.
"Kalau cah bagus doyan sama si mbok terus apa kabar nduk Indah kelak? Masak nduk Indah malah dapat bekasnya si mbok?" kekeh mbok Rati yang sepertinya tetap menganggap kalau perasaan Delvara pada Indah adalah lebih dari sekedar suka.
Sungguh ia tak ingin menambah beban hidup Indah yang sudah berat menurutnya. Lagipula, hingga kini juga Delvara sendiri masih bingung dengan perasaannya.
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen yang ditempati Delvara, mbok Rati banyak cerita tentang Indah. Hobinya, sifatnya dan banyak hal lainnya selain asal usulnya. Ada rasa senang dalam hati Delvara karena akhirnya bisa tau banyak tentang gadis itu. Ada juga kesedihan untuk nasib buruknya. Ada kemarahan atas perlakuan Rajesh dan segala rasa lainnya yang bercampur aduk dalam dada.
Lagi lagi Delvara dibuat heran oleh sosok bernama Indah itu.
"Kamu itu siapa? Kenapa begitu menggangguku? Kita bahkan baru bertemu hari ini, tapi kamu seperti sudah lama ku kenal." batin Delvara bertanya tanya.
"Cah bagus,,, Kok ngelamun? Ini masih di jalan lho. Si mbok masih pingin hidup. Jangan ngelamun sambil nyetir ya." pinta mbok Rati.
"Hehehe,,, iya mbok maaf. Saya cuma heran saja. Entah kenapa saya kok rasanya udah kenal lama sama Indah tapi bahkan saya baru hari ini saja bertemu dan kenal dengannya."
Delvara kemudian menceritakan awal mula pertemuannya dengan Indah sampai akhirnya kejadian di rumah Rajesh tadi. Mbok Rati manggut manggut dan sudut matanya kembali berair.
"Dia itu anak baik. Meski gak jelas asal usulnya, tapi mendiang tuan Wardoyo menganggapnya sebagai cucu kesayangan." kenang mbok Rati.
__ADS_1
"Nggak jelas gimana maksud mbok?" Delvara penasaran dan membuat mbok Rati seketika menutup bibirnya yang sudah keceplosan itu.
"Ealah,,, mbok kok malah keceplosan to." sesalnya.
"Percaya sama saya mbok. Saya nggak pernah punya niatan buruk sedikit pun pada Indah."
Mbok Rati menatap Delvara ragu. Tapi kemudian beliau dengan gamblang menceritakan semuanya pada Delvara.
"Jadi dia lupa ingatan mbok? Apa sudah pernah berusaha mencari tau di internet atau media massa atau media cetak atau apalah gitu? Siapa tau ada yang mengakui sebagai keluarganya kan?" tanya Delvara heran jika sampai sekian lama pun tak pernah ada pihak keluarga yang mencari.
"Internet itu apa to cah bagus? Si mbok ora ngerti. Pokoknya yang mbok tau,,, Karena mirip sama orang dari masa lalu mendiang tuan Wardoyo, maka tuan Wardoyo sengaja menyembunyikan nduk Indah dari mata dunia ini. Biar tidak ada yang bisa mengambilnya kembali. Tuan Wardoyo sudah terlanjur sayang. Tapi sayangnya, saking sayangnya malah tuan sendiri yang menjerumuskan nduk Indah pada pernikahan koplak ini." sungut mbok Rati kesal.
"Saya jadi makin penasaran sama dia mbok. Seandainya saja dia bukan istri Rajesh. Saya pasti bisa dengan mudah bertemu dengannya." keluh Delvara.
"Ojo galau gitu cah bagus. Oh ya, dari tadi ngomong ngalor ngidul terus sampai lupa tanya nama cah bagus iki sopo to? Mbok itu lupa lupa ingat." kekeh mbok Rati.
"Delvara mbok. Mbok bisa panggil saya Del saja." Delvara tersenyum menanggapi.
"Den Del,,, Kok elek to?" kening mbok Rati berkerut.
"Gak mau ah. Panggil Del saja gak usah pakai embel embel "Den" segala. Saya bukan pak Raden."
Keduanya lantas tertawa dan mbok Rati sudah melupakan hal buruk yang menimpanya hari ini karena ternyata dibalik hujan itu,,, ada pelangi mewarnai.
...\=\=\=\=\=...
...Masih mbok Rati punya babnya ya,,,...
...Author lagi lagi kena jerat si bos seharian tadi. Lelah tapi kangen kalian,,, Jadi semangat nulis lagi 💪🤗...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1