
Indah melangkah dengan gontai sambil menenteng sebuah tas berisi makan siang untuk Rajesh. Indah begitu ragu apakah ia benar benar perlu mengantarkan makanan ini pada Rajesh.
Dan saat ia melamun di jalanan yang baru berjarak sekitar 200 meter dari rumah Rajesh, ia dikejutkan oleh bunyi klakson mobil. Indah mengira dirinya salah jalan atau hampir tertabrak lagi.
Rupanya tidak, ia masih di jalur pejalan kaki dan mobil berhenti tepat di depannya. Pemiliknya yang tidak lain adalah Delvara keluar. Indah segera menundukkan pandangan. Ia juga gelisah takut ada yang melihat atau jadi fitnah.
"Selamat siang Indah. Kamu mau kemana panas panas begini jalan kaki?" tanya Delvara dengan pandangan menyelidik melihat bawaan Indah.
"Mmm,,, saya,,, Saya,,,"
"Mau saya antar?" Delvara segera saja menawarkan diri.
"Tidak usah. Terima kasih."Indah menggeleng cepat.
Ia tidak membiarkan pemuda itu membawanya. Ia takut. Benar benar takut akan fitnah apalagi beberapa pasang mata ibu ibu yang kebetulan berada di depan rumahnya sudah mulai melirik lirik penasaran.
"Anggap saja sebagai permohonan maaf saya karena tempo hari saya sudah mengira kalau kamu adalah,,,, mmm,,,," Delvara paling tidak enak hati mengatakan kata pembantu.
"Tidak apa apa. Tidak perlu meminta maaf. Justru saya yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuat anda dan suami saya sedikit terlibat cekcok." Indah merasa tidak enak hati pada Delvara karena pemuda ini pasti sedikit banyak tau tentang rumah tangganya yang jauh dari kata harmonis.
"Zoya,,," lirih Delvara berharap pemilik nama itu bisa mengingat sedikit memori yang mungkin memang miliknya.
"Maaf??" rupanya Indah malah heran.
"Oh maaf. Lupakan. Kamu sebenarnya mau kemana? Apa itu makan siang untuk Rajesh? Kalau iya, ayo sekalian berangkat sama saya. Saya juga sedang menuju ke kantornya." ujar Delvara yang sebenarnya adalah berbohong.
Ia tak benar benar akan kesana karena pada kenyataannya ia hanya sedang memarkir mobilnya tak jauh dari rumah Rajesh siang ini hanya dengan harapan bisa menemui Indah. Dan rupanya Tuhan mentakdirkan mereka bertemu lagi.
"Benarkah?" tanya Indah ragu ragu.
"Ya benar. Jadi benar kamu mau kesana?"
Indah mengangguk ragu. Sebenarnya ia merasa ini adalah sebuah kebetulan yang tepat. Mau mengakui kalau tidak tau di mana alamat kantor Rajesh bukankah akan sangat memalukan? Tapi memang kenyataannya ia tidak tau.
__ADS_1
"Ya udah ayok. Keburu siang nanti keburu lewat jam makan siang Rajesh." ajak Delvara sambil melirik jam tangannya.
Delvara membukakan pintu samping depan untuk Indah namun gadis itu tampak ragu. Delvara yang pengertian pun menutup kembali pintu itu dan membuka pintu bagian belakang mobil berkapasitas 5 penumpang miliknya itu.
"Silahkan." Delvara mempersilahkan dengan sopan.
"Terima kasih." Indah tak ragu lagi jika duduk di belakang.
Meski akhirnya bak sopir dan penumpang, tapi Delvara senang akhirnya bisa berkesempatan berbicara lagi dengan Indah. Masih besar harapan dalam hatinya bahwa Indah itu adalah Zoya.
"Apa kamu nggak kangen mbok Rati?" tanya Delvara berbasa basi hanya demi membuat Indah mau mendongakkan wajahnya agar Delvara bisa melihat jelas seperti apa wajah Indah sebenarnya.
"Eh,,, mbok Rati? Mmm tentu saja kangen. Dia selalu baik pada saya." Indah sendu mengingat wanita paruh baya yang sudah dianggapnya nenek sendiri dan hal itu malah makin membuatnya menundukkan wajahnya.
"Mau ketemu sama mbok Rati kapan kapan? Saya bisa mengajakmu bertemu dengannya." ucap Delvara lagi.
"Ketemu?? Memangnya di mana mbok Rati?" akhirnya Indah mengangkat wajahnya dan jantung Delvara berdegup kencang melihat pantulan wajah itu di spion tengahnya.
Sebuah rasa yang kembali susah dideskripsikan kembali mengganggunya. Ada rasa sakit dan perih seolah sangat tersakiti melihat wajah itu namun juga ada rasa bahagia bak tak ingin lagi berpisah dengannya.
"Awas!!!" pekik Indah.
Ckiiittt,,,Delvara dengan cepat menginjak rem dan beristighfar dalam hati. Tak henti hentinya ia mengucap syukur karena tak sampai menabrak namun juga ia menyalahkan diri sendiri yang malah terpaku karena Indah.
"Kamu nggak apa apa?" tanya Delvara memastikan setelah ia menepikan mobilnya.
"Nggak apa apa. Maaf, mungkin sebaiknya kita tidak usah berada dalam satu tempat yang sama. Saya permisi turun." ucap Indah seakan ia tau apa penyebab Delvara hilang fokus.
"Tunggu Zoya!!!" cegah Delvara begitu Indah membuka pintu mobil.
Indah kembali dibuat heran oleh Delvara yang sudah untuk kedua kalinya memanggilnya dengan nama lain. Kening Indah pun berkerut tanda tak paham.
"Zoya,,, kamu Zoya kan? Adikku?" Tanya Delvara dengan tatapan sendu dan penuh kerinduan.
__ADS_1
Indah menatapnya dan tak bergeming. Entah kenapa dalam hatinya sebenarnya ia selalu merasa nyaman berada dekat Delvara namun statusnya sebagai seorang istri tak memungkinkan hal itu terjadi meski Delvara adalah sahabat Rajesh.
"Zoya,,, ini kakak. Kamu gak kenal sama kakak? Kamu gak ingat kakak?"
"Maaf,, anda salah orang. Saya bukan Zoya. Saya Indah. Permisi." Indah kembali membuka knop pintu mobil.
"Zoya adikku mengalami kecelakaan 12 tahun silam. Ia terjatuh ke sungai di daerah Bogor dan hingga kini belum ditemukan. Aku dan mama sudah berusaha keras mencari jejaknya tapi hasilnya nihil. Dan itu membuat mama jadi mengalami gangguan jiwa. Mama sangat merindukan putri kecilnya dan berharap keajaiban akan datang. Keajaiban yang akan membawa kembali gadis kecil kami."
Delvara tak lagi melarang Indah membuka pintu mobil namun ia bersandar di joknya dan memejamkan mata sembari mengucapkan kalimat itu. Dan Indah,,, entah kenapa ia urung membuka pintu mobil. Ia memilih mendengarkan cerita itu.
"Kami merindukanmu Zoya. Pulanglah. Ingatlah pada kami. Gunakan sedikit celah dihatimu untuk mengingat kami. kami percaya kamu masih hidup." kembali Delvara berkata.
Tak terasa wajah Indah sudah basah oleh airmatanya sendiri. Entah mengapa ia sangat mendalami cerita itu. Ia bahkan tak bisa mengontrol emosinya untuk tidak sampai menangis.
Delvara menghela napas berat dan panjang. Lalu menoleh ke belakang di mana Indah masih menatapnya dengan mata basahnya.
"Maaf. Aku antar kamu sekarang ke kantor Rajesh. Duduklah yang benar." ucap Delvara lalu menghidupkan kembali mesin mobil dan kembali menuruni jalanan.
Indah tak lagi menolak atau meminta keluar. Ia masih tenggelam dalam kesedihan akan cerita singkat Delvara yang entah kenapa begitu menggugah jiwanya.
Sepanjang jalan Indah masih menangisi kisah yang sepertinya tak asing baginya namun lambat laun ia pun bisa menormalkan kembali perasaannya saat ia ingat apa yang menimpa dirinya 12 tahun lalu saat ia terbangun di sungai dan bertemu kakek Wardoyo.
"Mungkin aku terbawa perasaan saja karena kebetulan ceritanya mirip dengan yang menimpaku. Aku juga terbangun di tepi sungai namun aku tak ingat apa pun. Yang ku ingat hanya dekapan hangat kakek Wardoyo. Kek,,,Indah kangen."
Bulir bulir bening yang kembali berjatuhan segera ia hapus saat ia sadar mobil Delvara sepertinya sudah sampai di tujuan. Dan melihat gedung pencakar langit yang ia yakini sebagai tempat Rajesh bekerja itu, nyali Indah pun ciut.
Ia merasa tak pantas masuk ke sana apalagi mengenalkan diri sebagai istri Rajesh.
...\=\=\=\=\=...
...Up tengah malam pun author jabanin demi kelean sayang sayangku 😘😘...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....