Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Menemukan Pelabuhannya


__ADS_3

Nadine berjalan menyusuri jalanan yang ramai dengan hati penuh emosi dan kekesalan sekaligus malu tak terperi. Langkahnya lebar lebar dengan tangan mengepal menahan amarah.


Anji yang menangis pun tak dihiraukannya hingga akhirnya Nadine memutuskan berhenti karena hujan mulai turun membasahi bumi.


"Bahkan langit pun ingin membuatku sial juga!! Nggak bisa apa nggak hujan dulu???!!!" teriaknya menghadap langit gelap.


Kekesalan itu makin tumpah ruah dengan hujan yang bukannya makin mereda tapi malah semakin deras saja. Nadine mulai kedinginan karena selain hujan yang lebat juga disertai angin kencang. Bajunya pun tak urung mulai basah meski ia berteduh karena angin yang terlalu kencang membuat air hujan seolah beterbangan kesana kemari.


"Sial!!!" teriaknya kesal.


Tiiin tiinn,,,, Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depannya dan membunyikan klaksonnya seolah memanggilnya. Nadine makin kesal dan melambaikan tangannya pertanda menolak. Sopir taksi itu pasti mengira dirinya tengah menanti kendaraan.


"Nadine!!! Sini masuk!!"


Nadine memicingkan matanya berusaha menembus gelapnya malam dan penerangan yang minim untuk tahu siapa sopir yang mengenalinya itu. Dan karena tampaknya Nadine tak juga mengenalinya, sopir taksi itu pun memutuskan turun.


"Ayo." ajak sopir itu begitu ia sudah berdiri tepat di hadapan Nadine.


Nadine melongo. Tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Sopir taksi dengan pakaian seragam khas sopir taksi yang mulai menguarkan bau keringat itu membuatnya berpikir keras.


"Dad,,,dy???" bibir Nadine terasa kelu.


"Iya. Ayo ku antar pulang. Kasihan anak kamu. Rumah kamu di mana?"


Sopir taksi yang ternyata adalah papa Gunawan itu menawarkan diri mengantar Nadine pulang. Papa Gunawan tampak tak mempersoalkan pertemuan terakhirnya dengan Nadine yang berakhir dengan pengusirannya dan pembuangan dirinya di sebuah hutan.


"Tidak." tolak Nadine yang merasa curiga sekaligus takut meski papa Gunawan tak tampak menaruh dendam padanya.


"Kenapa?? Kasihan anak kamu. Kalian pasti kedinginan kan? Di mana suamimu itu? Kenapa tidak menjemputmu? Kenapa membiarkan kalian kehujanan dan kedinginan di sini??"


Papa Gunawan melepas jaketnya yang sedikit bau itu untuk menutupi tubuh Nadine yang sudah mulai menggigil. Nadine ingin menolak tapi ia sulit mengakui bahwa jaket itu mampu memberinya sedikit kehangatan.

__ADS_1


"Ayo Nadine. Jangan takut. Aku tidak akan berbuat buruk padamu. Aku tidak akan membalas kejahatanmu dengan kejahatan juga. Aku tidak ingin tambah dosa lagi." ujar papa Gunawan.


Nadine mengernyitkan dahi mendengarnya. Terdengar sudah insaf saja mantan suami sirinya itu. Tapi Nadine tetap tidak mau percaya begitu saja. Ia masih ingat betul bagaimana buruknya ia memperlakukan mantan suaminya itu. Jadi mana mungkin pria tua itu bisa begitu baik padanya kalau tidak ada niatan lain??


"Bagaimana,,, Bag,,,bagai,,, bagaimana,,," bibir Nadine begitu kelu untuk bisa menyelesaikan pertanyaannya sendiri.


"Bagaimana aku bisa selamat dari ulah kalian maksudmu??" papa Gunawan meneruskannya.


Nadine mengangguk dan menelan ludah dengan susah payah.


"Aku berdoa pada tuhan dan memohon ampun atas semua kesalahanku. Aku juga berjanji jika ada yang bisa menolongku hari itu, jika tuhan masih bersedia memberiku kehidupan, maka aku akan melanjutkan hidup dengan bertobat. Dan ternyata tuhan mendengar doa doaku. Di tengah aku sudah berputus asa dan nafas sudah hampir putus,,, tenggorokan sudah kering,,, orang baik itu datang dan menolongku. Membawaku pulang ke rumahnya, menampungku dan membagi rejekinya yang tak seberapa denganku agar kami bisa sama sama makan." kenang papa Gunawan tanpa berniat menjelaskan siapa pahlawannya itu.


Nadine diam mendengarkan.


"Dari sanalah aku melanjutkan hidupku, Nadine. Membuang semua kebencian atasmu dan suamimu. Merelakan semua yang kalian ambil karena toh itu juga bukan hakku sebenarnya. Memulai hari baru dengan hati yang lebih bersih. Dan syukurnya,,, meski hanya bekerja sebagai sopir taksi, bukan lagi manager,,, tapi aku merasa bahagia. Bersyukur atas apa yang ada tanpa menginginkan milik orang lain lagi."


Papa Gunawan mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Menyisakan Nadine yang tetap diam membeku dan hanya memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Papa Gunawan memang terlihat berbeda kini. Jauh dari kata berkelas tapi terlihat bersahaja. Dua tanda hitam membulat di keningnya menandakan ia menjadi sosok yang rajin bersujud. Jenggot yang memenuhi dagunya dan kepala berpeci itu juga semakin menambah aura keimanan yang kuat.


"Ak,,,aku,,," Nadine kembali di buat gagap.


Hatinya berkecamuk. Entah kenapa bertemu dengan papa Gunawan membuatnya takut sekaligus merasa terlindungi. Entah kenapa rasanya ia sudah berjalan jauh menyusuri padang pasir yang panas dan terik yang membuatnya kehausan dan kini di hadapannya ada sebuah oase.


"Kamu kenapa Nadine?" kembali suara lembut papa Gunawan mengusik jiwa Nadine.


Hingga akhirnya Nadine pun luluh. Jiwanya merapuh dan gengsinya terjatuh. Nadine menangis tersedu sedu sambil terduduk di lantai yang basah tempatnya berteduh.


"Nadine kamu kenapa?? Berdirilah. Di sini basah. Kasihan anakmu." papa Gunawan kaget dan berusaha membantunya bangkit namun tubuh Nadine bagai tak bertulang.


Sangat lemas dan lunglai hingga menyulitkan papa Gunawan untuk bisa membantunya berdiri. Akhirnya papa Gunawan berjongkok di depannya. Menatap intens pada wanita yang pernah membuatnya begitu tergila gila hingga gelap mata.

__ADS_1


"Ada apa Nadine?" tanyanya lembut sembari mengusap puncak kepala Nadine.


Sontak perbuatannya itu membuat Nadine menghambur kepadanya dan kembali menangis tersedu sedu.


"Maafin Nadine,daddy. Maaf,,, Maafin wanita jahat ini." ucap Nadine di sela sela tangisnya.


"Nadine,,, jangan meminta maaf padaku. Karena inshaallah daddy udah memaafkanmu dari hari itu. Minta maaflah kepadaNYA." jari telunjuk papa Gunawan menunjuk ke atas.


"Daddy mau bimbing aku?" Nadine bertanya dengan sangat lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Maksudnya? Suamimu??" papa Gunawan dibuat heran.


"Dia sudah mengusirku daddy. Nadine gak punya tempat tinggal dan tujuan sekarang. Nadine juga udah nggak punya apa apa. Nadine sudah dapat hukuman dari tuhan. Karma itu sudah berjalan daddy. huhuhu,,,,"


Papa Gunawan sempat terkejut dan mengelus dada mendengarnya. Tidak merasa bahagia di atas penderitaan dan karma yang diterima Nadine melainkan miris.


"Kamu mau ikut aku?" tanya papa Gunawan kemudian.


"Kemana daddy?" wajah Nadine mendongak dan matanya terlihat begitu basah oleh airmata penyesalan.


"Ke gubukku. Aku tidak bisa memberimu istana seperti dulu Nadine. Tapi inshaallah tempat itu akan bisa membuatmu lebih berdamai dengan dirimu sendiri. Setidaknya tempat itu mampu melindungimu dan anakmu dari matahari dan hujan. Kamu mau belajar agama bersamaku?" tanya papa Gunawan dengan tatapan teduhnya.


Nadine tak mampu menolak lagi. Baru kali ini ia merasakan kenyamanan dan ketenangan. Siapa sangka semua kejadian buruk yang menimpanya akhir akhir ini akhirnya malah membawanya menuju pelabuhan terakhirnya yang pernah terlewatkan.


"Nadine mau daddy. Nadine ingin bertobat. Nadine sudah lelah berjalan kesana kemari tanpa tujuan. Bawa Nadine pulang daddy."


Permintaan itu disambut dengan kata syukur yang terucap dari bibir papa Gunawan. Nadine membiarkan saja dirinya dibawa papa Gunawan ke dalam mobil taksinya. Melintas menembus hujan yang tiba tiba mereda setelah ia menemukan payung hidupnya.


...\=\=\=\=\=...


...Kisah Nadine dan papa Gunawan udahan ya sampai di sini,,, lelah author tuh bahas Nadine mulu 😆 time to focus ke tokoh utama cerita ini,,,...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2