Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Tak Ingin Kehilangan Lagi


__ADS_3

"Pelan pelan saja mengajak pasien berkomunikasi. Pasien memang sudah sadar tapi masih dalam tahap observasi kami. Kami masih belum bisa memastikan bahwa ingatannya kembali seutuhnya atau tidak. Masih perlu dipelajari terus."


Dokter memberi penjelasan yang meski belum sepenuhnya membahagiakan tapi tetap saja tangis haru dan bahagia Karin dan Delvara serta mbok Rati tidak bisa dibendung.


"Untuk sementara, cukup tanyakan apakah pasien mengenal kalian atau tidak. Tadi pihak kami sudah mencoba bertanya tentang nama pasien dan pasien menyebut namanya Zoya."


Sampai di situ, Karin langsung menghambur dalam pelukan Delvara sembari berucap "Alhamdulillah,,,".


"Silahkan menemui pasien. Dan ingat pesan saya, pasien jangan terlalu dipaksa mengingat hal hal yang mungkin belum bisa diingatnya dengan sempurna." sekali lagi dokter berpesan.


"Baik dokter. Terima kasih." ucap Delvara mewakili Karin yang masih belum bisa menguasai emosi dan dirinya.


Tidak heran, bahkan sangat wajar jika reaksi seorang ibu susah dikontrol sepertinya yang telah 12 tahun terpisah dari sang putri lalu dipertemukan kembali 2 bulan lalu dalam keadaan sang putri koma.


"Ma,,, mama siap temui Zoya?" bisik Delvara lembut sembari mengusap usap lengan Karin yang masih tergugu dalam pelukannya.


"Iya nak. Mama siap."


Kekuatan seorang ibu kembali muncul dan membuatnya kembali tegar. Karin mengusap airmatanya lalu tersenyum. Berusaha mengatakan pada seluruh dunia bahwa ia baik baik saja.


Meski ketika langkah membawanya menemui sosok Indah (yang telah mengaku bernama Zoya pada dokter) kemudian terhenti. Sorot mata sayu Zoya yang menoleh ke arah mereka berhasil kembali membuat pertahanan Karin runtuh seketika.


Delvara terdiam dipandangi dengan tatapan penuh keraguan oleh Zoya. Begitu pula mbok Rati yang jadi tidak yakin nduk Indahnya itu masih mengenalinya atau tidak. Hanya Karin yang terus menangis membendung segala rasa.


"Ma,,,ma,,," lirih Zoya kemudian.


Sangat lirih dan nyaris tak terdengar namun reaksi Karin sungguh sangat tidak terduga. Karin tau tau sudah merangsek ke depan dan memeluk tubuh lemah Zoya.


"Zoya,,, putri mama."


Karin menciumi wajah Zoya berkali kali hingga wajah itu pun basah oleh airmatanya.


"Mama,,, mama,, Benar ini mama??" tanya Zoya lirih membuat Karin berhenti menciuminya.


Diusapnya lembut puncak kepala Zoya sambil menatapnya penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Apa kata hatimu nak?" tanya Karin lembut dengan senyum keibuannya.


"Mama,,, Ini mamaku. Zoya kangen ma. Zoya takut." Zoya menangis disambut oleh dekapan hangat sang ibu yang juga tak kuasa menahan tangisnya.


"Iya nak, ini mama. Maafkan mama yang sudah membiarkanmu sendirian di sana. Tapi sekarang jangan takut lagi. Ada mama selalu akan menemanimu. Ada kakakmu juga yang akan menjaga dan tidak akan pernah membiarkan seekor nyamuk pun mengganggu kita."


Ucapan itu membuat tangis Zoya terjeda sebentar. Ia baru sadar ada sosok lain di dunia ini yang juga pasti sangat merindukannya. Dan sosok itu adalah Delvara.


"Kakak,,," lirih Zoya memandang sendu pada Delvara yang berdiri mematung dengan mata basah dan merah.


Pemuda dengan tubuh kekarnya itu tak kuasa menahan rasa harunya hingga airmata itu pun jatuh. Jatuh untuk sebuah kata bahagia telah menemukan Zoya sekaligus tangis untuk sebuah kata sedih akan nasib yang menimpa adiknya itu.


"Sini nak." panggil Karin ketika Delvara malah tetap terpaku di tempatnya berdiri.


Perlahan Delvara pun mendekat dengan langkah beratnya. Ia sungguh belum bisa bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang begitu tidak peka akan keberadaan Zoya padahal adiknya itu hanya bersama Rajesh, sahabat dekatnya.


Tepatnya mantan sahabat.


"Kak,,," tangan Zoya terulur minta digenggam.


Tangan Delvara begitu kaku dan gemetar untuk menyambut tangan lemah yang sudah pernah disaksikannya sendiri dengan mata kepalanya telah melalui hidup yang begitu berat dan keras.


"Pukul kakak, Zoya. Pukul kakak yang begitu tidak becus menjadi kakak untukmu. Pukul kakak, Zoya!!" di sela sela tangisnya, Delvara mengutarakan kemarahannya pada dirinya sendiri.


"Nggak kak. Kakak nggak salah. Mama juga nggak salah. Tidak pernah ada yang salah dengan takdir ini. Buktinya kita sekarang juga bisa bertemu dan berkumpul kembali juga karena takdirNYA kan?" ujar Zoya.


Delvara mengangkat wajah basahnya, memandang wajah sayu adiknya yang masih terlihat pucat. Sungguh hatinya terasa begitu nyeri tiap kali melihat wajah itu. Wajah penuh derita yang selalu membuatnya mengingat satu wajah yang bertanggung jawab atas kemalangan adiknya.


"Itu siapa ma? Kenapa beliau juga menangis?" tanya Zoya ketika matanya menangkap sosok tambun dengan kain kebaya dan tampilan ala ala Jawanya menangis juga di ruangan itu.


"Kamu nggak mengenalinya nak?" tanya Karin heran.


Zoya hanya terus menatap wanita tambun yang tak lain adalah mbok Rati itu. Namun sepertinya ingatannya tak membuahkan hasil. Zoya kemudian menggeleng dan menyerah.


"Coba kamu ingat ingat lagi nak." pinta Karin lembut.

__ADS_1


Bagaimana pun, Karin sangat tidak ingin jika Zoya tidak ingat akan mbok Rati yang malah selalu ada dalam hidupnya selama Karin dan Delvara tak bersamanya. Bagi Karin, mbok Rati juga sama berharganya.


Zoya tetap menggeleng lemah.


"Coba nak." pinta Karin lagi.


"Cah ayu, tidak apa apa. Jangan dipaksa. Kasihan nduk Indah. Masih ada hari lain lagi untuk mengingat si mbok." ujar mbok Rati berusaha membesarkan hati Karin walau sejujurnya mbok Rati sangat bersedih karena sepertinya ingatan Zoya ada gangguan lagi.


"Ma,,, Kak,,, Peluk Zoya. Zoya kedinginan." ujar Zoya dengan suara makin lemah.


Dan itu membuat baik Delvara dan Karin kembali cemas. Namun keduanya segera mendekat dan memberikan dekapan hangat semampunya.


"Mata Zoya kenapa berat sekali ya ma? Apa Zoya masih mengantuk setelah sekian lama tertidur??" lirih Zoya makin terdengar pelan.


"Nak,, kamu nggak apa apa kan? Apa ada yang sakit? Biar kakakmu panggilkan dokter dulu ya." Karin makin cemas karena Zoya sepertinya mulai ngelantur.


"Nggak ma,,, Zoya hanya ingin tidur dipeluk mama sama kakak." Zoya menolak.


Delvara hanya mengangguk namun dengan satu tangannya ia memencet tombol pertolongan untuk memanggil dokter atau perawat. Lalu ia memberikan isyarat pada Karin untuk tidak panik karena bantuan sebentar lagi akan datang.


"Ma,,, Kak,,, Zoya mau tidur lagi." mata Zoya mulai terpejam tepat saat para dokter dan perawat datang dan dengan segera bisa membaca situasi yang ada hanya dengan melihat monitor yang mendeteksi betapa lemahnya detak jantung Zoya.


Dokter memberi isyarat perintah pada timnya untuk bergerak cepat. Tidak lupa meminta pihak keluarga keluar dan memberikan ruang gerak untuk mereka bekerja dulu.


"Dokter tolong jangan biarkan adik saya tertidur lagi. Jangan biarkan dia meninggalkan kami lagi dok." pinta Delvara yang kini sangat cemas.


Di belakangnya sudah ada Karin yang menangis berpelukan dengan mbok Rati. Mereka tentu merasakan ketakutan yang sama saat ini. Baik Delvara dan Karin juga pasti tak ingin kehilangan Zoya untuk kedua kalinya.


"Kami akan berusaha sebaik baiknya."


Hanya itu kalimat dokter yang tetap tak bisa meredakan ketakutan dalam jiwa mereka.


...\=\=\=\=\=...


...Happy new year guys 💃💃💃...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2