Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Terima Kasih, Rajesh.


__ADS_3

"Selamat datang di kediaman kami."


Angie membukakan pintu untuk Zoya dan Rajesh dengan senyum yang dibuat buat. Keduanya benar benar datang ke acara yang katanya adalah untuk mengenang Rodie.


Tatapan mata Zoya langsung tertuju pada sebuah foto berhiaskan bunga bunga berwarna putih. Zoya melangkah masuk bahkan mengabaikan pemilik rumah yaitu Angie yang memilih menyingkir memberi jalan padanya untuk masuk.


Rajesh sendiri juga tampak tak ingin menghalangi calon istrinya mendekati foto Rodie itu. Rajesh bahkan diam diam mulai memanjatkan doa untuk mantan saingannya itu.


Foto berhiaskan bunga bunga itu seakan adalah jawaban dari ribuan pertanyaan yang selama ini terselip dalam hati semuo orang tentang kemana Rodie sebenarnya.


"Semoga kamu mendapatkan tempat yang layak di sisiNYA, Rodie." batin Rajesh.


Berbeda dengan Zoya yang masih terdiam di depan foto berbingkai emas dengan ukuran jumbo itu. Saking jumbonya sampai rasanya seperti tengah berhadapan dengan orangnya langsung.


Tangan Zoya tergerak untuk mengusap foto itu tepat di bagian pipinya. Airmatanya mulai berjatuhan membasahi pipi putihnya.


"Kenapa tidak bilang? Kenapa tidak jujur? Kenapa pergi tanpa kata?"


Zoya menekan dadanya yang tiba tiba terasa nyeri. Rasa kehilangan Rodie terasa begitu hebat memukul jiwanya. Semua barisan kejadian dan kenangan bersama Rodie perlahan berputar dalam ingatannya. Muncul silih berganti bak slide foto. Menimbulkan senyum sekaligus tangis kala Zoya mengingatnya.


Rajesh mendekatinya, memegang bahunya.


"Mas,,, Aku,,," Zoya merasa tak enak hati karena tidak bisa menahan diri untuk tak menangisi Rodie di depan Rajesh.


"Tidak apa apa. Luapkan saja semua kesedihanmu. Bagaimana pun juga, dia orang baik yang pantas untuk kamu tangisi kepergiannya."


Zoya menoleh kemudian masuk ke dalam pelukan Rajesh. Menangisi jiwa yang telah kembali kepada pemilikNYA, setaunya. Rajesh sendiri memberikan dada dan bahunya untuk bisa dijadikan tempat ternyaman sang wanita pujaan menumpahkan semua rasa yang melanda.


Angie mengusap airmatanya melihat adegan demi adegan di depan matanya. Ia sungguh tidak kuat jika harus terus berakting seperti ini. Ingin rasanya mengatakan pada Zoya bahwa lelaki dalam foto itu belumlah pergi dari dunia ini.


Ingin rasanya mengatakan bahwa lelaki itu kini juga tengah menangis bersamamu di atas sana. Di lantai atas, Rodie duduk di atas kursi rodanya dalam diam. Rodie bisa memandang Zoya dan melihat semuanya dengan jelas meski harus dengan menahan suara demi tak ada yang menyadari kehadirannya.


Beberapa kali mata Angie melihat ke arahnya dan setiap itu juga Rodie menggelengkan kepalanyà lemah seolah ia tau apa yang ada dalam kepala Angie. Rodie tau Angie ingin jujur pada Zoya, karenanya ia selalu menggeleng agar Angie tak melakukannya.

__ADS_1


"Sejak kapan ia meninggal, Angie?" tanya Zoya membuat Angie yang tengah memandang ke arah Rodie tersentak kaget.


Wajahnya memucat takut Zoya melihat apa yang matanya lihat di atas.


"Kenapa tak mengabariku? Bagaimana dengan anak kalian? Apakah balita itu tadi anak kalian?" tanya Zoya yang masih percaya dengan sandiwara Rodie terakhir kalinya.


Angie makin gugup. Matanya terus melihat ke atas dan itu membuat Zoya heran. Ia ikut melihat ke atas namun tak melihat apa pun di sana. Rodie sudah bergeser tempat hingga tak terlihat lagi dari bawah.


"Rodie,,, dia,,, meninggal,,," Angie tiba tiba lupa apa yang harus dikatakannya.


"Maaf,,, bisa saya pinjam toilet?" potong Rajesh mengalihkan pembicaraan.


"Ya,,, ya,,, tentu bisa. Silahkan." Daniel yang merasa posisi mereka terselamatkan oleh pertanyaan Rajesh itu langsung menunjukkan kemana arah menuju toilet rumah mereka.


"Terima kasih." ucap Rajesh.


"Jangan sungkan." Daniel tak curiga sama sekali dan membiarkan Rajesh menuju ke arah yang sudah ditunjukkannya tadi.


Daniel lantas kembali ke ruang di mana Angie dan Zoya berada.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi Angie." tuntut Zoya.


Dan sekali lagi itu membuat Angie gugup.


"Rodie meninggal tahun lalu." sahut Daniel mewakili Angie.


"Karena apa? Sakit? Kenapa sama sekali tak pernah ada kabar darinya? Apa karena ia meninggal lantas kalian juga merasa tak perlu mengabariku? Aku menunggu kejelasan selama ini Angie. Aku ikhlas ada kamu di antara kami selama ini. Tapi aku juga tak ingin digantung terus." ucap Zoya lagi.


"Maafkan kami Zoya. Kami terlalu larut dalam kesedihan kami. Rodie sahabat baik kami. Bahkan aku sangat berterima kasih karena ia telah bersedia menjaga Angie dan anakku selama ini."


"Anakmu?? Apa maksudmu? Bukankah dia anak Rodie??" Zoya mengerutkan alisnya dan sekali lagi menuntut jawaban dari Angie dan Daniel.


Kali ini baik Angie dan Daniel gugup karena Daniel malah tak sengaja mengatakan kebenaran tentang anak Angie.

__ADS_1


"Mmm,,, itu,,, maksudnya adalah,,, mmm,,, Maksudnya adalah aku sudah terbiasa menyebut Bella, sebagai anakku. Ya,,, Bella memang anak Rodie tapi sudah ku anggap anakku sendiri. Aku berterima kasih karena Rodie telah menjaga dengan baik jodohku ini. Begitu,,, iya kan honey?? Begitu kan??" Daniel tampak bodoh kali ini.


"Angie??" tatapan Zoya beralih pada Angie kali ini.


Angie menunduk, tak sanggup dipandang seperti itu oleh Zoya.


Sementara itu,,, di lantai atas,,,


"Kenapa diam di sini? Kenapa terus bersembunyi? Kenapa membiarkan kami menari di atas penderitaanmu? Jika benar kamu meninggal maka aku tak akan punya rasa bersalah sedikit pun jika tetap menikahi Zoya. Tapi melihatmu seperti ini,,, aku tak akan punya hati untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan kami."


Ucap Rajesh dengan tatapan tak berkedip melihat sesosok tubuh kurus terduduk di atas kursi roda dan menyimak semua yang tengah terjadi di bawah sana.


Rajesh memang sudah curiga sedari tadi saat bertemu dengan Angie dan Daniel di pusat perbelanjaan. Tambah curiga lagi karena Angie terus melihat ke atas seolah ada sesuatu atau seseorang di atas. Karenanya, Rajesh pura pura meminjam toilet agar ia bisa naik ke atas, mencari tau ada apa di atas.


Dan dugaannya memang benar,,, ada Rodie di atas.


"Tidak,,, kalian harus tetap menikah. Jangan membuat pengorbananku menjadi sia sia. Lagipula,,, kami telah bercerai. Jadi ku mohon,,, jangan batalkan pernikahan kalian." pinta Rodie dengan wajah memelasnya.


"Kamu tau,,, selama ini aku selalu merasa bahwa cintakulah yang paling besar untuknya. Tapi melihatmu kali ini,, aku merasa tak seberapa pantas. Aku mengaku kalah. Cintaku tak sebanding dengan cintamu." Rajesh berlutut di depan kursi roda Rodie.


"Aku tau itu. Cintaku memang menang darimu tapi tidak dengan tubuh lemahku. Cintaku cukup kuat untuknya tapi Tubuh lemah ini tak akan sanggup menjaganya sebaik tubuh kuatmu. Karenanya,,,, jangan mundur. Menikahlah dengannya untukku. Siapa lagi yang bisa ku percaya untuk menjaganya selain dirimu?"


Rajesh mulai menangis. Ia sungguh merasa dilema setelah bertemu dengan Rodie.


"Dalam kehidupan ini,,, kurelakan ia menjadi milikmu. Tapi jika ada kehidupan lain lagi,,, Berjanjilah,,,, kamu akan merelakan aku bersamanya." Rodie menggenggam tangan Rajesh meminta persetujuannya.


"Ya,,, aku janji."


"Terima kasih, Rajesh. Menikahlah. Bahagiakan dia,,,untukku."


Kedua lelaki itu saling menunduk dan menangis untuk sesaat.


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2