Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Terlambat


__ADS_3

"Nduk,,, nduk sudah ingat sama si mbok??" mbok Rati mendekat memastikan.


"Ingat dong mbok. Kan mbok udah Indah anggap sebagai nenek Indah sendiri selama ini. Mbok yang selalu baik sama Indah." ujar Zoya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah Gustiiiii,,, matur nuwun sudah mengembalikan ingatan nduk Indah." mbok Rati tak mampu lagi menahan tangis harunya.


"Iya mbok. Alhamdulillah." Ingin memeluk Zoya namun belum bisa jadilah mbok Rati berpelukan dengan Karin.


"Tapi Zoya masih bingung." lirih Zoya kemudian.


Semua auto berhenti menangis dan saling melepaskan diri dari kegiatan berpelukan. Semua mata tertuju pada Zoya. Menunggu kata kata selanjutnya.


"A,, Apa,,, Apa yang membuatmu bingung?" tanya Delvara harap harap cemas.


Ia sungguh belum ingin Zoya menanyakan Rajesh. Ia masih belum bisa rela jika Zoya secepat ini mencarinya. Meski sang mama sudah mengatakan banyak hal tadinya, tapi hati Delvara masih begitu kecewa pada Rajesh.


"Kenapa bisa mbok Rati ada di sini?"


Aaahhh,,, rasanya semua bernapas lega. Rupanya Zoya hanya heran bagaimana bisa mbok Rati berada bersama mereka.


"Oh itu nduk,,, si mbok sudah tidak lagi be,,," mbok Rati berhenti.


Beliau ragu untuk melanjutkan perkataannya tentang dirinya yang sudah tidak lagi bekerja di rumah keluarga Rajesh. Takut Zoya ingat akan nama itu.


"Si mbok dengar nduk Indah sakit, makanya si mbok ikut jagain di sini." akhirnya mbok Rati sedikit memilih kalimat yang berbeda.


"Iya sayang. Mbok Rati selalu ikut menemani mama dan kakakmu menjagamu." Karin menimpali.


"Terima kasih mbok." ujar Zoya kemudian sembari menatap wajah mbok Rati.


"Kak,,," pandangan Zoya beralih pada Delvara.


"Yy,,, ya." Delvara tiba tiba gugup takut ditanya yang macam macam.


"Zoya mau istirahat lagi. Boleh minta tolong bukakan pintu itu? Zoya nggak mau pakai Ac. Biar udara alam saja yang masuk." Zoya menunjuk ke arah pintu dan jendela kaca tertutup tirai tipis yang kalau di buka langsung menghamparkan pemandangan taman dan alam terbuka.

__ADS_1


Kamar VVIp ini memang memberikan fasilitas terbaik untuk para pasien dan juga keluarga yang menunggui.


"Tentu sayang. Kakak buka dulu ya." ujar Delvara dengan perasaan jauh lebih baik karena ketakutannya tidak terbukti.


Zoya masih belum menyinggung soal Rajesh sama sekali. Kalau boleh berharap buruk maka Delvara berharap ucapan dokter tentang ingatan Zoya yang terjebak di beberapa bagian saja terbukti. Delvara berharap, bagian tentang Rajesh tidak pernah dimunculkan kembali dalam ingatan Zoya.


Semuanya kemudian pindah ke ruang tunggu memberikan waktu pada Zoya sendirian dan beristirahat.


"Nak,,, tidak apa apa kalau pun adikmu mengingatnya." ujar Karin seolah tau apa yang tengah dirasakan oleh Delvara.


"Maaf ma. Berat sekali rasanya memaafkannya atau merelakan Zoya mengingatnya." Delvara tertunduk.


"Pelan pelan ya nak. Lepaskan kebencian dalam hatimu kalau kamu ingin hidup tenang." kata Karin.


"Akan Del coba ya ma." Delvara tidak mau serta merta menolak.


Karin mengangguk dan tersenyum.


"Mbok,,, bisa antar saya ke kantin? Saya kok pingin beli cemilan ya tiba tiba." pinta Karin.


"Kalau mama mau biar Del yang belikan." tawar Delvara.


Mbok Rati mengangguk dan langsung menggamit lengan Karin berjalan bersama menuju kantin rumah sakit yang letaknya lumayan tidak jauh.


Tengah antre menunggu di kasir hendak membayar, Karin dikejutkan oleh seseorang yang menyapa dan menariknya keluar dari antrian.


"Tante,,, eh mama,,, eh tante,,," Rajesh bingung mau memanggilnya apa.


Panggil tante seperti biasa tapi bukankah Karin adalah mertuanya sekarang? Mau panggil mama, sungkan karena belum tentu Karin menganggapnya sebagai menantu.


"Mau apa toh den? Jangan ganggu cah ayu den. Cah ayu mau segera balik ke kamar. Sudah ditunggu sama cah bagus Delvara." mbok Rati tergopoh gopoh berusaha menjauhkan Rajesh dari Karin.


"Tidak apa apa mbok. Dia ini suami Zoya. Dia tidak akan berbuat yang tidak baik kepada ibu mertuanya. Saya yakin, orang tuanya pasti tidak pernah mengajarinya berbuat demikian. Kalau pun orang tuanya mengajari, saya yakin dia bisa memilah mana yang baik dan yang buruk." ujar Karin meminta mbok Rati tidak usah cemas.


Rajesh menunduk dan merasa sangat tersindir oleh kalimat lembut Karin tadi. Ia merasa kikuk dan sangat malu berada di depan ibu mertua yang anaknya sudah sangat disia siakannya.

__ADS_1


"Kamu Rajesh bukan?" tanya Karin dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Rajesh yang setia menunduk.


"Zoya sudah lumayan membaik. Kalau kamu ingin menemuinya, bersabarlah dulu. Dokter belum berani memutuskan apakah ingatannya sepenuhnya kembali atau dia terjebak di bagian bagian tertentu saja. Cukup berdoalah untuknya agar ia juga mengingatmu. Agar kalian bisa menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil." Karin begitu bijak meski bicara dengan orang yang sudah menyakiti putrinya.


"Terima kasih tante,,, mmm,,, ma??" Rajesh masih ragu harus memanggilnya apa.


"Selama Zoya belum mengenalkanmu secara resmi kepada saya, kamu boleh memanggil saya dengan panggilan tante dulu. Atau mana pun yang membuatmu merasa nyaman." Karin tersenyum.


Mbok Rati tertegun bagaimana bisa Karin masih bisa tersenyum di depan lelaki itu. Dalam diamnya, mbok Rati sangat mengagumi Karin. Mbok Rati sekarang paham, kenapa baik Delvara atau pun Zoya bisa tumbuh menjadi anak anak baik. Karena dalam darah mereka mengalir darah bidadari tak bersayap seperti Karin.


"Apa sudah selesai cah ayu? Takutnya cah bagus khawatir kalau kita terlalu lama." ucap mbok Rati kemudian.


"Iya mbok. Kita ke kamar sekarang."


Sebelum melangkah, Karin menatap Rajesh yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Maafkan putra saya kalau dia sudah berbuat kasar kepadamu. Dia begitu karena dia sangat menyayangi adiknya. Dia bisa memaafkanmu kalau kamu hanya mengkhianatinya. Tapi karena kamu menyakiti adiknya, dan secara langsung juga menyakiti saya,,, dia tidak bisa begitu saja melupakan apa yang sudah kamu lakukan. Meski bibir ini tersenyum untukmu, tapi ketahuilah Jesh. Hati saya menangis. Tidak ada seorang ibu pun yang tidak terluka atas luka anak anaknya. Tapi sebagai sesama manusia, saya punya tugas untuk memaafkanmu meski mungkin kamu akan mengulanginya lagi dan lagi suatu saat nanti."


Rajesh seketika terjatuh dan bersimpuh di kaki Karin. Ia bahkan menangis tersedu sedu.


"Maafkan Rajesh ma. Rajesh memang salah. Sangat salah malah. Mama jangan meminta maaf untuk Delvara. Karena Rajeshlah yang salah. Beri Rajesh kesempatan memperbaiki semuanya ma. Rajesh menyesal ma."


"Bangunlah." Karin menegakkan tubuh lemas Rajesh.


"Kesempatan itu datangnya bukan dari saya tapi dari Zoya. Dia yang paling berhak memutuskan apakah kamu bisa diberi kesempatan lagi atau tidak. Bukan saya."


Rajesh menunduk kembali. Tiba tiba hatinya takut jika Zoya tak mau memaafkannya. Begitu besar kesalahannya, apakah mungkin untuk bisa dimaafkan oleh Zoya??


Tiba tiba Rajesh merasakan sesak dalam dadanya. Sungguh rasanya tidak enak ketika menyadari kita telah jatuh cinta pada seseorang yang sudah menjauh dari kita. Sudah terlambat.


"Kalau begitu, saya permisi kembali ke kamar dulu." Pamit Karin langsung meninggalkan Rajesh yang masih terpaku.


...\=\=\=\=\=...


...Pelan pelan saja ngasi karmanya ya,, kan kasihan Rajesh 🤭...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2