
🌸Pov Zoya🌸
"Zo,,,"
Hanya panggilan singkat namun mampu membuat jantungku berdetak semakin kencang. Bahkan lebih kencang dari biasanya. Entahlah kenapa? Padahal tatapan mata pemilik suara yang memanggilku itu terasa begitu teduh seperti biasanya. Tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda.
"Haloooo,,,"
Kini aku terganggu dengan tangannya yang bolak balik di depan mataku.
"Apaan sih?" gerutuku.
"Lah kamunya dipanggil bukannya jawab malah ngelamun. Ngelamunin apaan sih by the way?? Aku kan udah di depan mata nih,,, nggak usah dilamunin gitu kali ah,,," ucap Rodie dengan nada tengilnya seperti biasa.
"Kamu tuh ya,,, bisa nggak sih sehariiiii aja nggak godain aku??" sungutku pura pura kesal seperti biasanya juga.
"Nggak bisa. Karena seumur hidupku pun aku nggak akan pernah lelah menjadi seperti ini selama wanitanya adalah kamu."
Deg,,, lagi lagi hati dan jantungku terasa tidak karuan mendengarnya. Dan lagi lagi mata itu,,,, menyorotkan ketulusan.
Rodie Arieanta,,, lelaki muda dengan semangat membara yang ku temui beberapa tahun lalu. Pebisnis muda yang sudah berhasil merintis beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa. Dia ku kenal dari kak Del yang sepertinya sengaja mengenalkan kami.
Dia baik, manis, hangat dan gigih. Itu ku akui. Tapi itu semua tak lantas cukup untuk membuatku terbebas dari kukungan status sebagai istri dari mas Rajesh. Aku masih setia menunggu lelaki bergelar suamiku itu datang dan menyelesaikan semua dan memperjelas status kami.
Tapi keinginanku itu tidak pernah terwujud hingga akhirnya hari ini ku putuskan untuk melangkah maju menyelesaikan semuanya. Toh dia sudah bahagia bersama Alyssa dan anak mereka. Untuk apa lagi aku menunggu??
Kembali ke Rodie,,,
Berkali kali dan rasanya tiap hari, bisa jadi sehari tiga kali bahkan dia mengucapkan kalimat cintanya padaku. Sudah seperti meminum obat dokter saja rasanya. Dia tidak pernah lelah. Tidak pernah bosan meski aku terus saja tidak memberinya jawaban apa pun.
Sempat terpikir dalam benakku bahwa ia hanya sekedar terobsesi padaku. Kelak jika aku mengiyakannya, maka perasaannya padaku akan berubah. Banyak kok laki laki seperti itu di dunia ini. Menggebu gebu saat berusaha mendapatkan wanitanya, over acting, obral janji manis dan begitu dapat,,, keluar sifat aslinya.
Tapi kembali lagi mengingat bahwa Rodie dikenalkan oleh kak Del, itu membuatku membuang jauh jauh prasangka burukku padanya. Tau sendiri kan kak Del? Sebelum mengenalkannya padaku, pasti Rodie sudah diseleksi ketat olehnya.
"Tuh kan ngelamun lagi."
"Eh,,," kali ini aku tak bisa mengelak lagi kalau aku memang sedang bercabang pikir.
__ADS_1
"Ya udah sih nggak usah dijawab dulu hari ini. Masih ada esok kok. Tenang. Santai. Hati ini masih sangat kuat dan punya banyak waktu menunggumu." ujarnya santai kayak di pantai.
Benar benar nggak habis pikir aku padanya.
"Yang terpenting saat ini tuh kamu." ujarnya lagi.
"Aku?" mataku membulat.
"Iya, kamu. Temukan dulu bahagiamu. Selesaikan semua yang masih mengganjal di hatimu." senyum manis dan sikap hangatnya kembali muncul.
"Kenapa?" tanyaku singkat meski itu menuntut banyak jawaban.
"Karena hanya dengan menemukan bahagiamu sendiri, baru kamu bisa bahagiakan orang lain. Aku selalu di sini menunggumu. Menunggu sampai kamu benar benar siap menjadi istriku. Jangan pernah takut aku berpaling hati tidak peduli berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menemukan bahagiamu. Aku juga akan tetap mendampingi dan membantumu juga."
"Rodie,,,"
Aku tak mampu berkata kata lagi. Entah kenapa hari ini aku merasa telah begitu jahat kepadanya. Pada dia yang hanya dan terus saja memikirkan bahagiaku. Pada dia yang rela mengabaikan bahagianya sendiri. Demi apa aku berbuat begitu padanya?? Demi mas Rajesh yang rupanya sama sekali tak memikirkanku itu??
Tuhan,,, kenapa aku merasa jadi wanita terbodoh kali ini? Aku membuang banyak waktu dan merampas banyak kebahagiaan dari hidup Rodie demi lelaki yang bahkan telah lebih dulu menemukan bahagianya sendiri tanpaku.
"Maaf." hanya itu yang bisa bibir ini ucapkan saat ini.
"Apa sebenarnya istimewanya aku?" lirihku sembari tertunduk.
Aku merasa tak ada apanya. Hanya wanita lemah yang hidup terkukung masa lalu. Wanita muda yang selalu menutup hati untuk lelaki mana pun. Lalu Rodie,,, lelaki tampan dengan sejuta pesona yang bisa saja dengan jarinya menunjuk mana mana gadis yang ia mau.
"Semua tentangmu,,, istimewa. Jangan memintaku menjabarkannya satu persatu. Cukup kamu tau bahwa Kamu wanita pertama yang singgah di hatiku setelah mendiang mamaku. Kamu,,, cerita hidupmu,, semua mampu mengingatkanku pada mama dan aku tak mau kehilangan itu untuk kedua kalinya." tegasnya tanpa ada bau bau kebohongan sama sekali.
Begitulah Rodie,,, setiap harinya dan masih begitu sampai detik ini.
"Benar kamu sudah menandatanganinya?" tanyanya kemudian dan itu cukup membuatku paham apa yang tengah dibahasnya.
Aku mengangguk.
"Sudah yakin?" tanyanya lagi.
"Inshaallah."
__ADS_1
Ku dengar helaan napas lega darinya. Meski sorot mata itu sepertinya masih meragukanku. Rodie mencoba tersenyum.
"Semoga keputusan yang kamu ambil ini menjadi langkah awal bahagiamu. Semoga setelah ini tatapan cinta dari kedua bola mata ini hanya akan tertuju padaku." Rodie mengatakannya sambil menatap manik manik mataku.
"Sumpah aku cemburu Zo, melihatmu menatapnya dengan penuh cinta. Beberapa tahun terakhir ini aku belum pernah melihatmu menatap lelaki mana pun dengan tatapan seperti itu. Bahkan padaku yang tiap hari menyatakan perasaan terdalamku padamu. Tapi kemarin,,, di depannya, ku lihat cinta di matamu. Untuknya. Hanya untuknya."
Rodie memalingkan wajahnya. Sepertinya ia ingin menyembunyikan wajah sedihnya hanya untuk tidak membuatku ikut sedih.
"Rodie,,, aku,,,"
"Tak mengapa. Jangan merasa terbebani oleh kehadiranku apalagi perasaan cemburuku itu. Sudah,,, jangan dibahas lagi. Aku datang kesini untuk melihatmu bahagia, bukan melihatmu merasa bersalah kepadaku. Ayo,,, mana senyummu??"
Bibir ini meski kaku tapi tersenyum juga. Rodie memang paling pandai membolak balikkan perasaanku. Sedikit merasa bersalah, kemudian tiba tiba menjadi lega.
"Tunggu aku sebentar lagi Rodie."
Rodie terpaku mendengarku bicara demikian. Dunianya seolah berhenti berputar. Ia tak bereaksi untuk sesaat seolah tak percaya apa yang di dengarnya baru saja.
"Zo,,, antar aku ke dokter THT." pintanya kemudian membuat dahiku berkerut.
"Sepertinya telingaku pun sudah ikutan halu. Saking gilanya aku padamu, telingaku pun pasti ikut gila dan jadi salah dengar." tuturnya membuatku tak bisa menahan tawa.
"Apa yang kamu dengar barusan tidak salah. Sama sekali tidak salah." tegasku kemudian.
"Aku mimpi kan Zo?? Cubit aku Zo,,, tampar aku biar aku segera sadar dari mimpi indah ini. Kamu memberiku jawaban Zo?? Ini mimpi!!! Mimpi!!!" Rodie malah kelimpungan mendapati isyarat dariku.
"Ini nyata. Bukan mimpi. Aku memintamu menunggu sebentar lagi. Aku nggak mau menjalin hubungan denganmu sebelum semua kelar. Karenanya,,, bersabarlah sebentar lagi. Setelahnya hanya ada aku dan kamu. Bukan dirinya lagi."
Ku hentikan tangannya yang terus menampar nampar wajahnya sendiri. Dan ku lihat dua bola mata itu basah oleh airmata.
"Terima kasih Zo."
...\=\=\=\=\=\=...
...Luluh juga kan si Zoya,,, 😆...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....