Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Tidak Baik Untukmu


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, Nadine sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu, apa yang diinginkan terkabul. Aku masih selalu mencintaimu dan mengharapkanmu berubah pikiran."


Nadine berdecih sebal saat membaca pesan dari Delvara itu. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Nadine mencintai Delvara. Lalu tau bahwa dia jadi anak tunggal dan pewaris satu satunya dari sebuah keluarga kaya raya setelah putri mereka dikabarkan meninggal dunia,,, itu membuat Nadine makin cinta.


Cinta uangnya dulu baru cinta orangnya tapi.


Hanya saja, akhir akhir ini Nadine malas menanggapi Delvara karena lelaki itu tak mengabulkan keinginannya. Ia yang keberatan jika harus tinggal bersama mama mertua, mulai menggertak Delvara dengan cara sedikit menjauhinya.


"Biarkan saja. Del itu cinta mati sama gue. Jadi nggak mungkin kalau dia bakal lebih memilih mamanya. Suatu saat dia akan sadar bahwa dia itu nggak bisa hidup tanpa gue. Dia bakal ngemis sama gue untuk gue kembali seperti dulu lagi." gumamnya sambil mengeringkan rambutnya setelah pergulatan panjangnya dengan papa Gunawan.


Lelaki tua itu memang masih pandai memuaskannya. Puas secara lahir dan juga batin. Lelaki ber"uang" yang cukup bodoh untuk mau menuruti semua maunya.


Tentu saja seorang Nadine tidak mau dinikahi secara sah meski papa Gunawan dulu pernah memintanya. Nadine hanya mengincar hartanya. Untungnya dengan segala tipu daya dan permainan cantiknya di ranjang, Nadine mampu meyakinkan papa Gunawan bahwa kalau mereka menikah sah nanti bisa jadi masalah besar.


Yang namanya bangkai, suatu saat akan tercium juga. Begitu kata Nadine yang diiyakan oleh papa Gunawan.


Papa Gunawan sebenarnya hanyalah opsi ketiga jika nanti dua target Nadine lolos. Target pertamanya tentu saja Delvara. Nadine tetap yakin Delvara akan mengalah. Namun tetap saja Nadine harus sigap akan segala kemungkinan.


Kalau Delvara mundur,,, ya pindah ke Rajesh saja. Sahabat baik Delvara yang juga kaya raya setau Nadine. Anak tunggal dan pewaris tunggal juga. Jika sampai Rajesh bisa digaetnya, bukan hanya uang berlimpah yang bisa ia dapat, namun juga sekalian sebagai ajang balas dendam pada Delvara jika benar lelaki itu sampai memilih mamanya.


Nadine yakin, Delvara akan hidup tersiksa menyaksikan kebahagiaannya bersama Rajesh nantinya.


Lalu papa Gunawan, sementara dua target mudanya belum bisa dengan leluasa ia mintai uang, maka disitulah posisi papa Gunawan ditempatkan. Untuk menunjang segala penampilan dan biaya hidup Nadine. Lelaki tua itu lebih gampang mengeluarkan uang. Toh istrinya juga tetap dapat jatah yang lebih sebenarnya lebih sedikit dari bagian Nadine.


"Kamu di mana Nadine? kenapa pesanku cuma dibaca saja? Kita bisa ketemu nggak hari ini?" lagi lagi pesan dari Delvara masuk.


Nadine hanya menyungging senyum di satu sudut bibirnya. Ia makin yakin, semakin dijauhi, Delvara semakin mencarinya. Karenanya, Nadine memutuskan untuk tidak membalasnya.


"Kamu masih marah? Maaf ya sayang. Bisa kita bicarakan ini lagi?"


Mata Nadine langsung melebar membacanya. Ia membaca ada sebuah sinyal mengalah dari Delvara.

__ADS_1


"Tapi aku masih sibuk. Kita ketemu 4 hari lagi. Aku harap kamu nggak bikin aku kecewa lagi. Aku harap kamu udah tau mana yang lebih harus kamu prioritaskan! Ingat, hubungan kita udah bukan seumur jagung lagi, Del. Kamu mau semuanya berakhir begitu saja hanya demi mama kamu?" ketik Nadine setengah mengancam.


Tidak ada balasan dari Delvara. Nadine yakin Delvara pasti setuju dengan pemikirannya.


"Nadine sayang,,, kok lama di kamar mandinya? Ayo sayang. Lebih cepat. Nanti kita terlambat lho ke bandara." suara papa Gunawan terdengar di balik pintu kamar mandi hotel.


"Iya daddy. Ini udah selesai kok." sahut Nadine mempercepat gerakannya menyelesaikan bagian dari ritual mandinya.


Setelah itu Nadine keluar dengan rambut yang masih setengah basah. Papa Gunawan langsung menangkap tubuh rampingnya dari belakang. Mengendus aroma shampoo yang menguar dan menciumi tengkuk Nadine.


"Daddy, geli ah. Jangan begitu. Nanti nggak jadi ke bandara lho kita." Nadine mengingatkan.


"Ah baiklah. Nanti kita tempur lagi di Itali ya." meski masih ingin berlama lama menikmati tubuh istri sirinya itu, tapi papa Gunawan akhirnya mengalah dan menahan naffsunya.


Keduanya bersiap berangkat ke bandara menggunakan mobil dari fasilitas hotel saja karena mobil papa Gunawan ditinggal di hotel.


"Cah bagus Del,,, kenapa to kok kayaknya sedih gitu? Ono opo? Cerita sama si mbok." mbok Rati memperhatikan Delvara yang duduk termenung memegangi ponselnya.


"Ealah cah bagus Del ternyata lagi galau karena cinta toh. Berat ini. Berat. Angel wesss angeeellll,,," ujar mbok Rati.


"Del nggak mungkin ninggalin mama di panti jompo mbok. Tapi Nadine, nggak mau tinggal sama mama. Del sendiri nggak tega juga kalau harus ninggalin mama di rumah yang berbeda. Kalau untuk barang sehari dua hari,,, seminggu paling lama sih nggak apa apa. Tapi kalau untuk seterusnya, Del nggak bisa mbok."


"Kan sudah si mbok nantinya yang akan jaga mama. Urusan mama bisa cah bagus Del percayakan sama si mbok. Tapiiii,,,," mbok Rati menjeda bicaranya.


"Tapi apa mbok?"


"Seorang istri yang baik adalah yang tidak menghalangi suaminya berbakti kepada orang tuanya. Apalagi pada ibunya. Istri yang baik justru akan mendukung dan senantiasa mengingatkan suaminya untuk tetap menjalankan baktinya kepada orang tua selama mereka masih hidup bahkan walau mereka sudah meninggal. Jadi kalau ada wanita yang dari awal sudah tidak bersedia atau bahkan terkesan menghalangimu berbuat benar,,, bukankah dia tidak baik untukmu?"


Delvara otomatis menggeleng.


"Nah itu cah bagus Del sudah tau jawabannya. Mbok belum tau yang namanya non Nadine itu seperti apa orangnya. Tapi mendapat pertanyaan cah bagus Del itu saja mbok sudah bisa menyimpulkan kalau non Nadine itu,,, Mohon maaf ya cah bagus kalau mbok terpaksa bilang begini,,, Non Nadine rasanya kurang pantas untuk cah bagus Del pertahankan."

__ADS_1


Delvara menunduk. Otaknya membenarkan apa yang dikatakan oleh Mbok Rati namun hatinya yang terlanjur cinta masih susah menerima.


"Berdoa saja sama yang di Atas. Mohon petunjukNYA. Kalau memang non Nadine itu memang jodoh terbaik untuk cah bagus,,, semoga dimudahkan segala urusan kalian, diberikan jalan keluar terbaik. Tapi kalau memang non Nadine bukan yang terbaik, semoga saja Allah membuka dan menunjukkan kepada cah bagus."


"Terima kasih mbok." Delvara menggenggam tangan mbok Rati.


"Sama sama cah bagus Del. Wah, si mbok patah hati ini." celetuk mbok Rati.


"Kenapa mbok?" tanya Delvara heran.


"Lha ternyata ada saingan lagi buat dapetin cah bagus Del. Nduk Indah belum bisa dikalahkan ehhh sekarang ada non Nadine. Si mbok ya jelas kalah saing iki. Angel wesss angeeelll,,,"


Delvara tertawa karena tingkah lucu mbok Rati. Kehadiran wanita itu benar benar cukup memberi warna. Delvara berharap mbok Rati juga bisa menciptakan tawa untuk sang mama.


"Del nggak sabar pingin kenalin mbok sama mama. Mama pasti senang ada mbok." ucap Delvara.


"Wahhh si mbok mau ketemu camer ini."


"Camer apa mbok??"


"Ya calon mertua toh. Masak cabe merah???"


"Mbok ini bisa saja." Sekali lagi Delvara dibuat tertawa oleh ulah mbok Rati.


...\=\=\=\=\=...


...I love you, mbok Rati 🤣 Angel wesss angelll,,,...


...With love, ...


...Author....

__ADS_1


__ADS_2