Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Kaya Monyet


__ADS_3

"Indah adalah Zoya?? Bagaimana mungkin??"


Rajesh berjalan sambil berpikir keras sampai ia tak fokus dengan beberapa orang yang juga jalan di koridor rumah sakit. Beberapa kali ia menabrak orang di depannya.


"Tidak mungkin!! Zoya sudah meninggal. Ah,,, ini pasti hanya alibi Del saja. Dia ingin memiliki Indah dengan cara seperti ini. Tentang saham,,, Sebaiknya aku segera cek apa benar dia menarik semuanya."


Rajesh bergegas kembali ke ruang inapnya di mana di sana ternyata sudah ada papa Gunawan dengan wajah marahnya. Begitu pula mama Rina.


"Kalian kenapa melihatku seperti itu??" tanya Rajesh tidak suka dilihat dengan tatapan mengintimidasi begitu.


"Apa sebenarnya yang terjadi??? Kenapa bisa perusahaan langsung anjlok begini?? Kenapa pihak investor terbesar sampai mencabut sahamnya??" tanya papa Gunawan yang ternyata tadi memang ke kantor dulu karena ada laporan penarikan saham dalam jumlah besar.


"Apa?? Jadi benar dia melakukannya?? Tega sekali dia!!!" Rajesh meremass jari jarinya.


"Ada apa sebenarnya Jesh?? Jelaskan pada kami." pinta mama Rina yang paling duluan takut jatuh miskin setelah mendengar berita itu dari papa Gunawan.


"Ini semua karena In,, dah." lirih Rajesh sempat terjeda ketika menyebut nama itu karena ia ragu siapa sebenarnya namanya.


"Indah??? Si babu?? Si anak gak jelas itu Lagi??? Dia lagi biang keroknya??" suara mama Rina meninggi.


"Dia bukan babu ma. Dia juga bukan anak gak jelas. Dia bahkan anak orang kaya. Yang babu itu bukannya malah mama kalau dipikir pikir lagi." ucap Rajesh yang sudah sepenuhnya percaya sekarang tanpa perlu melihat hasil test DNA itu karena ia tau Delvara tidak akan senekad itu mencabut saham kalau Indah bukan Zoya.


"Rajesh!!! Jaga bicaramu. Mama gak serendah itu!!! Lagipula atas dasar apa kamu menganggap dia itu anak orang kaya?? Kaya monyet??? Jelas jelas dia terdampar di sungai dan hidup sampai saat ini karena kebaikan dan kemurahan hati kita kok. " ketus mama Rina tidak suka disebut anak pembantu.


"Itu kenyataannya ma." sahut Rajesh malas lalu naik kembali ke atas brankarnya.

__ADS_1


"Jangan tidur Jesh!! Kamu belum jelaskan pada kami." papa Gunawan kesal karena Rajesh malah memperbaiki posisi tidurnya dengan merapatkan selimutnya dan memejamkan mata.


"Rajesh lelah pa. Mau istirahat dulu. Rajesh juga belum pulih. Bisa tinggalkan Rajesh sendiri sebentar??" pinta Rajesh tetap menyembunyikan wajahnya di balik selimutnya.


Baik papa Gunawan dan mama Rina saling berpandangan. Keduanya heran apa yang membuat putranya yang biasanya keras kepala kini berubah lembek begini. Karena itu, meski masih penasaran mereka memutuskan untuk memberi Rajesh waktu beristirahat dan mereka akan coba mencari tau sendiri jawabannya.


"Mbok,,, ngapain di sini??" tegur mama Rina heran saat melihat mbok Rati berjalan tergesa di rumah sakit elite ini.


Menurut mama Rina seorang rendahan seperti mbok Rati tidak sepantasnya berada di tempat ini.


"Eh Rina." mbok Rati tidak terlalu terkejut melihat mama Rina di situ karena mbok Rati tau Rajesh kecelakaan bersama Indah dan mbok Rati datang untuk Indah.


"Rina??" mama Rina menaikkan suaranya seolah mengingatkan mbok Rati tidak pantas menyebut namanya langsung begitu karena dia hanya mau dipanggil nyonya.


"Namamu kan Rina toh? Lagipula saya sudah tidak bekerja denganmu jadi tidak perlu menyebutmu nyonya lagi. Kamu juga usianya kecilan dari saya. Kamu anak angkatnya Wardoyo yang merupakan teman saya. Seharusnya kamu yang menunjukkan sikap hormat pada teman ayah angkatmu ini." sindir mbok Rati.


"Heh babu!!! Lancangg kamu ya!! Kamu lupa selama ini siapa yang sudah menerimamu bekerja?? Siapa yang sudah menggajimu juga??" sengit mama Rina.


"Tentu saja saya ingat. Semua itu jawabannya adalah Wardoyo. Dia yang mengajak saya bekerja, bukan menerima. Dia juga yang selalu menggaji saya meski saya bekerja di rumahmu. Saya ingat orang baik itu. Dan saya sangat bersedih karena kehilangan dia. Makin bersedih lagi karena dia memiliki anak angkat yang sifatnya sama sekali tak mewarisi dirinya yang baik. Yah,, namanya saja anak angkat yang ayahnya juga nggak jelas. Gak heran kalau sifatnya juga gak jelas."


Nyinyiran mbok Rati membuat hati mama Rina dongkol. Ingin cari pembelaan dari papa Gunawan tapi suaminya itu masih di toilet.


"Sudah ya. Saya mau pergi. Orang baik hati yang sudah menerima saya setelah kamu membuang saya lebih memerlukan saya. Lebih baik saya bersamanya daripada menghabiskan waktu dan emosi saya bersamamu anak angkat. Kacang emang suka meresahkan kalau sudah lupa sama kulitnya." pamit mbok Rati masih dengan niatan mengejek mama Rina.


"Mboookkk!!! Awasss kamu ya!!!"

__ADS_1


Mama Rina menghentak hentakkan kakinya kesal ditinggal melenggang cantik oleh mbok Rati. Mama Rina sungguh merasa sudah dihina oleh mbok Rati mana tadi mbok Rati menyinggung masalah statusnya dengan kakek Wardoyo.


Mbok Rati tak lagi menoleh atau ingin meladeni mama Rina lagi. Mbok Rati malah makin mempercepat langkahnya dan itu membuat mama Rina heran sebenarnya mau kemana dan menemui siapa mbok Rati itu.


"Mending aku ikutin aja deh. Pingin tau siapa sih majikannya sekarang kok babu itu sampai berani beraninya menghinaku." cetus mama Rina yang kelewat penasaran.


Mama Rina berjalan cepat namun waspada takut sewaktu waktu mbok Rati tau kalau mama Rina mengikutinya. Mbok Rati rupanya menuju ke halaman depan rumah sakit dan menyambut seorang wanita yang tak lagi muda namun wajahnya masih memperlihatkan sisa sisa kecantikannya.


"Siapa dia? Apa itu bosnya si babu sekarang? Kalau lihat dari mobilnya sih memang orang keyong." gumam mama Rina melihat merk mobil besar warna hitam metalic yang tadi sopirnya membantu menurunkan wanita ayu itu.


Mama Rina melihat mbok Rati dan wanita itu sempat berpelukan dan saling menangis lalu juga tersenyum bahagia bersama. Keduanya tampak begitu dekat dan saling menguatkan.


"Masak sih si babu sedekat itu dengan bosnya?? Nggak jijik apa si bos sama babu dekil bau itu?? Ihhh kalau aku sih ogah ya,,," mama Rina bergidik sendiri membayangkan jika ia yang harus berpelukan dengan mbok Rati.


Mama Rina masih tetap mengekori langkah mereka hingga mereka sampai di area di mana mama Rina tau bahwa itu menuju ke ruang Cempaka di mana Indah dirawat.


"Lha bukannya ini menuju ke ruang cempaka? Mau ngapain si babu miskin ini ke area VViP?" gumam mama Rina masih mengintip.


"Kok ke kamar Indah?? Memang apa hubungan wanita itu dengan Indah?? Dan itu,,, kenapa Delvara memeluk dan mencium tangannya?? Siapa sih dia??? Dan kenapa si Indah itu begitu istimewa dipilihkan ruang VVIp dan dikunjungi oleh orang orang kaya juga??" mama Rina tak habis pikir dan tak bisa terima.


...\=\=\=\=\=...


...Selamat Natal bagi yang merayakan 🤗...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2