
"Sudah sampai." ucap Delvara membukakan pintu mobil membuat Indah yang sempat terpaku jadi tersentak.
"Ng,, i,,, iya. Terima kasih."
Dengan penuh keraguan Indah pun turun dari mobil dan mencengkeram erat tas makanan bawaannya. Ia sangat takut.
"Ayo kita masuk. Saya antar kamu ke ruangan Rajesh." ajak Delvara.
"Ng,,, Ng,,," Indah susah berucap.
"Ada apa? Kamu butuh bantuanku?" tanya Delvara seolah tau.
"Bisakah saya minta tolong anda saja yang membawakan ini padanya? Saya malu masuk kesana. Saya juga takut mas Rajesh malu kalau saya masuk." Indah tertunduk lesu.
Delvara begitu ingin memeluknya dan meyakinkannya bahwa ada dirinya sebagai kakak yang akan selalu membelanya atau bahkan menjaganya tapi semua itu tidak bisa begitu saja ia lakukan mengingat Indah belum pasti adalah Zoya adiknya.
"Tidak usah bilang kamu istri Rajesh. Cukup ikuti aku saja. Lagipula, kamu datang bukan untuk hal yang buruk. Istri membawakan suami makan siang adalah bentuk perhatian dan itu tidak salah sama sekali jadi jangan takut." ucap Delvara.
"Tapi,,,"
"Ayo." Delvara tak mau dengar apa apa lagi dan bergegas melangkah membuat Indah mau tidak mau mengikutinya.
"Selamat siang Bapak Abdi." sapa seorang security di pintu depan kantor itu.
"Siang. Apa kabar pak Mahmud? Sehat? Anak istri sehat?" tanya Delvara yang dalam urusan kerja dikenal sebagai Abdi.
"Alhamdulillah semua sehat Bapak. Mau ketemu sama bos ya?" tebak security dengan label nama di dadanya bertuliskan Mahmud.
"Iya benar. Dia ada kan?"
"Ada bapak. Sedang ada tamu sih tapi sepertinya bapak kenal kok sama tamunya." Mahmud senyum senyum.
"Siapa memangnya?" tanya Delvara heran.
"Mbak Nadine, bapak." Mahmud memberitahu.
"Oh. Mmm,, baiklah.Terima kasih pak Mahmud."
__ADS_1
"Mmm maaf bapak. Nona yang sama bapak ini siapa ya? Mohon maaf saya hanya menjalankan tugas untuk mendata semua tamu yang masuk." Mahmud tampak tak enak hati tapi ia harus patuh pada peraturan.
"Oh ini. Dia adik saya. Tulis saja adik saya ya. Saya yang akan bertanggung jawab kalau memang adik saya ini nantinya membuat ulah." ujar Delvara meyakinkan Mahmud meski ia mendapat tatapan penuh protes dari Indah.
"Baik bapak." Mahmud makin tak enak hati jika harus bertanya lebih banyak lagi.
Lagipula yang datang bersama Delvara itu adalah adik sang pemilik saham terbesar di kantor ini. Dan sang pemilik saham bahkan menjamin bahwa yang diajaknya tidak akan berbuat macam macam. Jadi apa yang harus dikhawatirkan lagi?
"Maaf aku mengakuimu sebagai adikku. Aku cuma ingin membuatmu tak merasa bersalah atau takut karena sudah lancang mengaku sebagai istri Rajesh di tempat kerjanya. Aku tau pernikahan kalian masih dirahasiakan." ucap Delvara ketika keduanya berada dalam lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh Rajesh dan Delvara saja.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan dan membuat anda terpaksa berbohong." lirih Indah sembari tetap tertunduk.
Ia terlalu sibuk meredakan debaran jantungnya yang rasanya ingin berlompatan keluar. Entah karena takut dengan ekspresi Rajesh nantinya atau malah perasaan aneh yang ia rasakan setelah berlama lama berada di dekat Delvara.
Tiiing,,,pintu lift terbuka dan seorang wanita cantik tampak terkejut kedapatan tak sedang bekerja dan malah sibuk berdandan. Segera dilemparnya kaca dan lipstiknya lalu berbenah diri menyambut Delvara.
"Selamat siang bapak. Sel,,,lamat,, si,,ang nona,,,," wanita yang merupakan sekretaris Rajesh itu menilik penampilan Indah dari atas ke bawah dan matanya tertuju pada tas yang kelihatan berisi kotak makanan.
Indah tampak tidak nyaman ditelisik seperti itu.
"Jaga sikap dan pandanganmu. Dia adik saya." tegas Delvara tak suka dengan cara sekretaris itu melihat Indah.
Delvara tak lagi menggubrisnya dan menuju ke pintu masuk ruangan Rajesh.
"Maaf bapak. Bisa tunggu sebentar? Bapak Rajesh masih ada tamu." sekretaris itu memberitahu.
"Saya tau. Tamunya itu pacar saya jadi tak mengapa kan kalau saya masuk?? Saya yakin pacar saya datang bukan urusan pekerjaan. Dia juga sahabat Rajesh sama seperti saya." ujar Delvara.
"Baik bapak. Silahkan masuk kalau begitu." sekretaris itu tak ingin lagi mengusik dan memilih kembali ke tempat duduknya meski ia masih kepo dengan gadis yang diakui Delvara sebagai adiknya itu.
"Nggak pantes banget kalau itu adiknya pak Abdi. Dekil begitu. Gak modis lagi. Ah sudahlah,,, bodo amat." akhirnya sekretaris itu memilih cuek.
"Sebenarnya Nadine sedang apa di sini?" batin Delvara yang baru tau rupanya Nadine menemui Rajesh tanpa dirinya.
Delvara sebenarnya masih enggan bertemu dengan Nadine tapi mengingat Indah masih membutuhkannya, Delvara mengalah.
Pintu dibuka tanpa diketuk dan pemandangan di depan mata sungguh membuat kedua orang yang baru datang itu terpaku tak percaya. Dengan mata kepala sendiri keduanya menyaksikan kejadian tak senonoh dimana Nadine tengah mengangkang lebar di atas meja dan jari jari nakal Rajesh mengekspos bebas gua miliknya.
__ADS_1
Dengan Rajesh yang berdiri dengan gagahnya dan menikmati sesapan demi sesapan di batang keperkasaannya yang dikulum habis oleh Nadine. Keduanya melakukan posisi yang biasanya disebut dengan enam sembilan namun dalam kondisi Rajesh berdiri di tepi meja di mana Nadine mengangkang.
Bruuuaaakkk,,,bawaan Indah pun berjatuhan membuat yang ada di dalam ruangan baru menoleh saking asyiknya dengan kegiatan mereka. Keduanya serempak melepaskan diri melihat siapa yang datang.
Indah tak bisa menahan diri melihat pemandangan menjijikkan itu. Ia berlari kembali masuk ke dalam lift. Dan Delvara memutuskan mengejarnya daripada menanyakan kejelasan pada Rajesh dan Nadine akan apa yang dilihatnya baru saja.
"Sial!!!" umpat Rajesh panik karena ketahuan oleh Delvara dan Indah.
"Bagaimana ini??" Nadine tak kalah panik.
"Kamu sih!!" Rajesh menyalahkan Nadine yang tadi tiba tiba datang mengadukan Delvara yang katanya cuek dan tak mau menjawab telponnya padahal ia sedang tak enak badan dan butuh perhatian Delvara.
Nadine kelelahan habis dari luar negeri bersama sugar daddynya yang sudah tidak bisa lagi memberinya waktu bermanja manja karena sang sugar daddy harus sudah kembali ke sisi singa tuanya.
"Ya mana aku tau Del akan datang." Nadine membela diri.
"Aaarrgghhhh." Rajesh mengacak rambutnya dan frustasi.
"Jesh,,, gimana dong enaknya nih? Kita musti jelasin sama Del kalau semua ini gak seperti yang dia pikirkan." desak Nadine.
"Gila ya,,, Kamu pikir Del sebodoh itu?? Sudah jelas jelas dia melihat apa yang kita lakukan." gerutu Rajesh kesal.
"Terus gimana dong??" Nadine merengek manja minta diberi solusi.
"Pulanglah. Aku juga gak tau harus gimana. Sial!!!Sial!!!" Rajesh menggebrak meja.
Sekretaris yang mendengar keributan di dalam dan sempat melihat dua orang yang baru datang pergi dengan buru buru tampaknya bisa menduga duga apa yang terjadi.
"Dasar si bos. Punya pak Abdi diembat juga rupanya. Apa punyaku saja masih belum cukup? Apa servisku kurang memuaskan??Hmmm,,," batin si sekretaris plus plus itu.
Dia hanya mencibir ketika melihat Nadine keluar dengan wajah anehnya. Wajah wajah malu dan panik akibat ketahuan selingkuh.
...\=\=\=\=\=\=...
...Bonus lagi satu ya gengs,,, Mana nih vote dan hadiah buat aku yang udah kerja keras melawan kantuk dan jari yang bolak balik typo ini???...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....