
...🌸POV ZOYA🌸...
Ah,,, silaunya,,,,
Ku coba untuk menghindari cahaya silau yang mengganggu tidurku. Rasanya masih ingin berlama lama tidur. Tubuhku merasakan kelelahan yang luar biasa tapi kenapa ada yang mengganggu saja.
Apa sih yang bikin silau ini?
Makin ku hindari, cahaya silau ini makin menghangatkan wajahku saja. Ini rasanya persis seperti saat sedang berjemur di jam 7-8 itu. Tapi aku kan tidak sedang berjemur sekarang. Aku rasa aku juga belum lama tertidur. Aku masih sangat lelah. Rasanya semua tulangku dilolosi.
Tapi cahaya ini benar benar mengusikku. Membuat mata ini mau tidak mau mulai terbuka walau hanya memicing sebelah.
Astaghfirullah!!! Aku memang tidak sedang berjemur melainkan aku bangun kesiangan. Aku makin panik melihat jam di dinding sudah menunjukkan angka 8.
Apa apaan ini? Mana bisa anak gadis bangun siang seperti ini??? Apa kata orang??
Tidak biasanya aku bangun siang dan sampai melewatkan sholat subuh begini. Bergegas ku singkap selimut yang menutupi tubuhku lalu aku memekik.
Aaarrrgghhh,,,,
Kenapa aku sama sekali tak memakai busana? Kemana piyama tidur kesayanganku? Apa yang ku lakukan semalaman sampai bangun bangun dalam kondisi polos begini???
Belum hilang rasa bingung dan panikku,,, aku dikejutkan oleh sebuah gerakan melingkari pinggangku.
"Eeehhh,,,," reflek ku dorong tangan kekar yang memelukku itu.
Enak saja dia!! Siapa dia berani beraninya memelukku dalam kondisi tak berbusana ini??
"Sayang,,,, ada apa?" suara serak dan sebuah kepala manusia menyembul keluar dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuh yang sedari tadi ternyata ada di sebelahku.
"Hah!!! Mas!!! Ngapain kamu di sini???!!!" pekikku makin panik melihat keberadaan mas Rajesh mana bisa ku lihat dirinya juga berpolos ria.
"Ha?? Mas di sini,,,dari semalam sayang. Kita kan,,,," wajah mas Rajesh jadi terlihat bingung dengan pertanyaanku itu.
"Dari semalam??? Ngapain???" sekali lagi aku bertanya.
__ADS_1
"Lha,,, kita,,,,begituan." mas Rajesh terlihat bingung namun dia membuat sebuah tanda dari jari jarinya.
Jempol dan telunjuk kirinya membentuk lingkaran lantas telunjuk kanannya dibuat keluar masuk dalam lingkaran itu. Dan aku cukup tau makna dari bentuk dan gerakan tangan seperti itu. Emosiku tersulut tanpa bisa ku tahan. Reflek tanganku menarik sebagian besar selimut untuk menutupi tubuh polosku. Namun yang ada malah tubuh polos mas Rajesh sekarang yang terpampang di depan mataku. Dan aku jadi makin emosi.
"Massss!!!! Apa apaan sih Kita!!! Astaghfirullah,,, Kita kan,,,,"
Nada bicaraku yang semula meninggi perlahan mengendur saat otakku mulai sinkron dan bisa mengingat semuanya. Sudah jadi kebiasaan burukku bangun tidur dengan setengah nyawa saja. Akibatnya pagi ini aku bahkan lupa bahwa aku dan mas Rajesh sudah menikah. Dan semalam tentu saja kami,,,, hehehe,,,,
Aku ingat semuanya. Rasa manis bibir mas Rajesh,,,, rasa geli disertai ledakan kenikmatan yang ku rasakan menjalari seluruh tubuhku tanpa tersisa satu lekukan pun oleh permainan jari dan lidah mas Rajesh,,,, semua kelembutan yang diberikannya kepadaku semalam suntuk hingga luapan luapan rasa nikmat yang ku rasakan tiap kali miliknya menembus bagian intiku lebih dalam dan semakin dalam.
Rasa nikmat yang tak bisa ku deskripsikan secara detail bagaimana rasanya. Yang berkali kali ku rasakan dalam semalam. Yang mampu membuatku tak mengenali diriku sendiri. Aku tak mampu menahan bibirku untuk tidak mengeluarkan suara mendesahh,,, aku tak mampu melawan nikmatnya rasa itu hingga tubuhku yang baru malam ini merasakan rasa nikmat sebuah penyatuan perlahan pun mengimbangi.
Belum lagi bisikan bisikan mesra di telingaku dari mas Rajesh,,, menambah gelora lain dan membuang jauh jauh rasa malu. Aku hanya mengikuti alur. Aku menikmati semua kenikmatan bercinta dalam sebuah hubungan halal dan bersyukur karena semua itu diberikan oleh mas Rajesh.
Lima atau enam kali mungkin aku serasa menggelepar dan terbang ke angkasa oleh luapan kenikmatan yang tak bisa ku bendung. Itu yang bisa ku ingat dalam semalam. entah berapa yang tak ingat. Rasanya sangat tidak adil dibanding dengan mas Rajesh yang mungkin hanya 2 kali saja menyemburkan lahar panasnya dalam rahimku.
Itu sih aku yakin karena dia yang perkasa dan aku yang kewalahan. Mengingat itu, mendadak aku jadi malu melihat gerakan jari jari mas Rajesh. Reflek ku tutup wajahku yang memerah bak kepiting rebus.
"Sayang,,, kamu menyesal ya?" tanya mas Rajesh dengan suara yang memperlihatkan perasaan bersalah.
Nah kan,,, dia pasti takut dan salah paham dengan kebiasaanku bangun tidur dengan setengah nyawa.
"Kamu kenapa sayang?" tanyanya lagi masih dengan wajah dan suara bersalah.
"Mas maaf,,, aku,,,"
"Kamu menyesal melakukannya? Kamu belum ikhlas??" guratan kecewa sekaligus bersalah kembali ku lihat jelas di wajah mas Rajesh.
"Bukan. Bukan begitu mas." jawabku cepat.
"Lalu apa?" mas Rajesh kembali murung.
"Aku hanya,,, lupa kalau kita sudah menikah." ku gigit bibir bawahku dengan wajah paling lucu sedunia ku rasa saat itu.
Mas Rajesh tak berkedip memandangku. Sepertinya dia masih tidak paham. Ya tentu saja tidak paham. Bagaimana bisa aku melupakan pernikahan kami? Setelah semalaman suntuk dipuaskan olehnya, mana bisa disebut normal kalau aku bisa lupa??
__ADS_1
"Mas maaf,,, Jangan salah paham ya. Ini karena aku biasa bangun tidur dengan setengah nyawa." lantas ku jelaskan dengan kata kata yang ku harap bisa membuatnya mengerti.
Wajahnya berubah ubah selama aku menjelaskan padanya. lantas di akhir penjelasan bisa ku lihat ia menahan tawanya.
"Jadi begitu? Istri mas ini suka lupa apa yang terjadi semalam?" tanyanya sambil tetap menahan tawa.
Aku mengangguk polos dengan wajah malu. Malu banget malahan. Rasanya ingin bersembunyi saja di palung terdalam lautan.
"Tapi kalau sama ini,,, ingat gak???"
Mas Rajesh membuka keseluruhan sisa selimut yang menutupi tubuh bawahnya. Alhasil sebuah tongkat kecoklatab raksasa yang sudah tegak mengacung langsung mencuat dan membuatku terpekik.
"Eehhh aaauuwww,,," ku tutup mataku saking kagetnya.
"Jangan ditutup. Kan sudah halal kalau mau lihat dengan jelas. Kalau sekalian mau di ukur juga boleh kan untuk menandai daerah kekuasaanmu hehehe,,," mas Rajesh malah cengengesan dan menurunkan kedua tanganku yang menutup mataku.
"A,,, apa??" aku jadi gugup mendengar perintahnya itu.
Tapi aku penasaran juga dengan tongkat raksasa itu. Karenanya,,, ku putuskan mendekat. Menyentuhnya, merabanya, merasakan semua gurat gurat biru yang menghiasi batangan itu. Rasanya kaku dan tegang.
Tiba tiba aku merinding mengingat dan menyadari bahwa benda itulah yang semalam bermain main dengan lihainya di dalam tubuhku. Benda itulah yang memberiku kenikmatan tiada henti hentinya. Rasa takut mulai menyusupi diriku.
Jalan surgaku apa kabar bentukannya sekarang?? Berlubang menganga sebesar tongkat inikah???
Kembali ku tutup mataku menyadari bahwa aku bukan anak gadis lagi. Aku bukan perawan lagi. Tapi mengingat rasa yang tercipta oleh benda itu semalam,,,
Ku buka kembali mataku. Ku pererat cengkeramanku pada benda itu lalu dengan gerakan tak sadar alias mengikuti naluri tubuhku sendiri,,,, ku dekatkan bibirku pada puncak mengkilatnya.
Ku kecup perlahan lantas,,,,
"Mas,,, boleh minta lagi???"
...\=\=\=\=\=\=\=...
...Sudah cukup ya,,,!!! Biarkan pagi ini Zoya sama Rajesh lomba lagi. Author mau kerja dulu 🥴 otw kerja sambil nahan pengen wkwkwk...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....