Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Cek Kosong


__ADS_3

🌸Pov Alyssa🌸


Entah kenapa hati ini merasa tidak senang sejak wanita yang masih berstatus istri mas Rajesh itu muncul dalam hidupku. Bukan karena ia telah menabrakku, melainkan karena sejak kehadirannya dalam hidup kami,,, baik mas Rajesh atau pun mama,,, mereka lebih senang berdiam diri.


Mereka memang tetap perhatian padaku dan si kecil, tapi terlihat sekali itu hanya pengalihan.


"Alyssa,,, kamu sudah siap nak? Hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang." mama Rina berucap sembari tersenyum senang.


Tapi aku tau itu hanya di bibirnya saja. Hati dan pikirannya pasti masih terpaut pada wanita berkelas yang jauh berbeda denganku itu. Mama dan mas Rajesh nggak tau saja kalau malam itu menguping pembicaraan mereka.


Mereka masing masing membahas pertemuannya dengan wanita kaya bernama Zoya itu. Rupanya bukan hanya denganku dan mas Rajesh saja,,, Zoya juga bertemu dengan mama di lapangan balai desa saat membagi bagikan bantuan kepada warga yang membutuhkan.


Ah,,, kurang apa lagi dia? Kaya iya,,, cantik iya,,, baik hati juga iya,,, Apalah aku??? Tapi aku nggak mau menyerah begitu saja. Apa yang sudah ku genggam ini, tidak akan kulepaskan hanya demi kebahagiaan orang lain.


Aku juga ingin bahagia!! Anak ini juga!!


"Alyssa. Kok malah melamun?" tegur mama menyadarkanku kembali.


"Eh iya ma. Alyssa sudah siap kok. Bagas biar Alyssa saja yang gendong ma." ujarku.


"Jangan. Kamu bawa diri saja. Bagas biar mama yang gendong. Barang barangnya biar dibawa Rajesh. Kita tunggu dia sebentar ya. Katanya masih ke bagian administrasi. Memastikan sudah tidak ada yang belum selesai." kata mama seperti biasa, memperlakukanku secara istimewa.


"Iya ma." menurut sajalah aku.


Tak lama kemudian mas Rajesh datang. Bersama wanita yang bernama Siska. Mataku mencari cari keberadaan bosnya Siska. Tapi sepertinya dia tidak datang.


Baguslah!! Kalau sebelumnya aku berharap Zoya selalu datang menunjukkan rasa tanggung jawabnya setelah menabrakku, tapi setelah tau bahwa dia punya hubungan rumit dengan mas Rajesh,,, rasanya lebih baik dia tidak usah datang.


Hatiku masih nyeri kalau ingat ucapan mas Rajesh bahwa wanita itu adalah penyesalan terbesarnya. Begitu juga saat menguping mama yang berbincang dengan mas Rajesh,,, mama pun menangis bercerita bahwa Zoya sudah punya calon suami.


Sepertinya mereka masih belum rela melepas Zoya. Mereka tidak memikirkan perasaanku. Apa jadinya aku kalau Zoya kembali masuk dalam hidup mereka? Tidak!! Tidak boleh!!


"Ibu Alyssa,,, maaf hari ini ibu Zoya tidak bisa datang. Ada beberapa jadwal meeting yang tidak bisa dibatalkan atau ditinggalkan. Karenanya beliau mengutus saya untuk memastikan proses pemulangan anda berjalan semestinya. Ibu Zoya juga menitip salam kepada anda." Siska bicara begitu formal.


"Tidak apa apa. Begini saja sudah cukup. Terima kasih." ujarku senang tentu saja karena tak perlu risau melihat mas Rajesh kikuk seperti tempo hari.

__ADS_1


Setidaknya cinta lama itu tidak bersemi kembali. Pertemuan mereka hanya akan kembali memupuk rasa cinta di hati mas Rajesh.


"Ibu Zoya juga menitipkan ini. Mohon diterima." Siska mengulurkan sebuah amplop putih dengan kedua tangannya.


"Ini apa?" tanyaku dengan hati tidak karuan.


"Silahkan ibu buka." bukannya memberitahuku apa isinya, Siska malah membuatku makin penasaran.


Tanganku pun tergerak juga untuk membukanya. Ada sebuah kartu dengan tulisan tangan yang rapi mencerminkan betapa pemilik tulisan ini adalah orang yang berpendidikan.


Ku baca tulisan tangan yang pokok isinya masih seputaran permohonan maaf dan harapan semoga apa yang diberikannya dalam amplop itu bisa membuatku senang.


Sebuah cek kosong berada di balik kartu ucapan itu. Mataku tentu saja membulat sempurna melihatnya. Aku bukan orang kaya tapi aku pernah melihat barang semacam ini dulu saat mas Ferry, mantan kekasihku sering mendapatkannya dari wanita incarannya.


Tapi tunggu,,,,


"Ini apa maksudnya??" tanyaku dengan perasaan kurang suka dan pikiran menebak nebak.


"Ibu Alyssa bisa isi sendiri nominal yang ibu mau. Usahakan tidak kurang untuk memenuhi keperluan bayi dan ibunya." Siska sangat sopan menjelaskan.


Benarkah?? Bukan untuk membeli kembali mas Rajesh? Bukan untuk membungkamku agar tidak banyak bacot dan menyerahkan mas Rajesh kepadanya lagi???


Siska itu rupanya pandai juga membaca pikiranku. Dia berhasil meniadakan kecemasanku dengan penjelasannya. Sebenarnya kalau dipikir pikir lagi memang untuk apa juga Zoya ingin kembali pada mas Rajesh? Kan dia sudah punya calon suami yang tidak kalah segala galanya dari mas Rajesh.


Tangan ini hendak menulis beberapa angka namun mas Rajesh mengambil pena itu dariku. Ia menggeleng pelan padaku memberi tanda seperti melarang.


"Kenapa mas?" tanyaku.


"Sudah cukup. Apa yang diberikannya kepada kita sudah cukup. Jangan mengambil apa apa lagi."


"Tapi mas,,," aku sebagai wanita yang tau seberapa besar pengeluaran kami dan berapa pemasukan mas Rajesh selama ini tentu ingin protes.


Ada rejeki kok ditolak??


"Iya Alyssa. Tidak perlu lagi meminta apa apa. Sudah cukup nak." mama menimpali.

__ADS_1


"Mama,,, ini bukan Alyssa yang minta. Ini kan diberikan. Lagipula ma,,, Mama juga tau kan kondisi kita. Iya kan mas??" ku tuntut mas Rajesh dan mama untuk mengesampingkan egonya.


"Tolong diterima bapak, ibu. Kalau ditolak nanti ibu Zoya pasti merasa sedih." Siska mendukung keinginanku.


Tapi kemudian,,,


"Dia bisa sedih?" lirih mas Rajesh dengan alis melengkung menunjukkan kesedihan.


"Pasti bapak. Ibu Zoya memberikan ini tulus dengan harapan uang ini bisa digunakan sebaik baiknya bila perlu ambillah sebanyak mungkin agar pendidikan anak ini kelak terjamin. Bukan maksud merendahkan, sekali lagi bukan. Tapi ini murni keinginan ibu Zoya." jelas Siska.


"Baiklah. Perempuan baik sepertinya tidak perlu bersedih lagi. Kami akan menerimanya. Alyssa,,, tulislah angkanya." titah mas Rajesh mantap.


"Jesh,,," mama sepertinya masih berat hati.


"Jangan menambahi kesedihannya lagi ma. Sudah cukup semua kesedihan yang kita berikan selama ini. Aku tidak bisa memberinya kesedihan lagi dengan menolak ini." tegas mas Rajesh.


Tanganku mendadak kaku. Deretan angka yang semula ada di kepalaku kini menguar entah kemana. Aku sakit hati lagi. Rupanya mas Rajesh mau menerima lantaran masih tidak bisa move on dari penyesalannya terhadap Zoya.


Zoyaaa,,,, kenapa kamu hadir lagi?? Kamu mengacaukan kebahagiaan dan kehidupan baru kami. Semula semua baik baik saja tapi lihatlah sekarang,,, kamu menyakitiku!!


"Apa sudah ditulis bu Alyssa??" Siska mengejutkanku.


Secepat kilat ku tulis saja asal sebuah angka 1 di depan dan 9 angka nol di belakangnya. Biar saja,,, kan dia kaya. Masak segini saja keberatan?? Dibanding dengan kebahagiaan kami yang porak poranda,,, angka segitu bukan apa apa.


Siska hanya tersenyum membaca angka itu lalu memfotonya dengan tujuan untuk bukti pada atasannya itu pastinya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi. Saya sudah sediakan mobil sekaligus sopirnya untuk mengantar ibu Alyssa sekeluarga pulang. Sekali lagi saya mewakili ibu Zoya memohon maaf sebesar besarnya." Siska sedikit membungkukkan badan.


"Sampaikan rasa terima kasih kami yang sebesar besarnya padanya." ucap mama dengan nada bergetar.


Ah rasanya aku ingin Siska segera pergi dan membawa nama Zoya pergi juga. Aku muak.


...\=\=\=\=\=...


...Author belum mau kasih kepastian sebenarnya hubungan Alyssa dan Rajesh itu seperti apa 😀...

__ADS_1


...With love,...


... Author....


__ADS_2