
"Hapus airmatamu. Saatnya bersikap biasa saja di depan istri Rajesh. Aku nggak mau kamu terlihat lemah. Tunjukkan mana Zoya yang selama selalu strong dan mampu membuatku terus mengaguminya." ucap Rodie.
Zoya menghapus lelehan air bening di pipinya. Beberapa kali menghirup oksigen agar napasnya lebih teratur. Agar otaknya juga mampu untuk diajak berpikir lebih jernih.
"Terima kasih Rodie."
"Jangan pernah sungkan. Aku selalu senang bisa membuatmu merasa nyaman. Ayo,,," Rodie menyodorkan lengannya.
"Untuk apa?" tanya Zoya heran.
"Masih mau sandiwara apa udahan aja? Kalau masih mau,,, kalungkan saja tanganmu agar sandiwaramu makin meyakinkan. Kalau kamu memilih udahan aja,,, ya nggak usah." kata Rodie mengingatkan Zoya pada sandiwara yang dibuatnya sendiri.
Memang benar. Akan lebih meyakinkan kalau ia menyambut lengan itu,tapi Zoya merasa itu tidak perlu. Percaya atau tidak percaya Rajesh pada sandiwaranya adalah urusan Rajesh.
"Kita bersikap biasa saja bisa? Setidaknya dia sudah dengar sendiri tadi aku mengenalkanmu sebagai siapa." kata Zoya.
"Ok. As you wish. Yuk,,, kita temui mereka." Rodie memang tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Zoya tersenyum dan mengangguk. Kemudian menyetarakan langkah langkahnya dengan langkah Rodie. Mereka berjalan bersama kembali menuju ke ruangan dimana Siska pasti sudah menunggu.
Langkah kaki Zoya terhenti ketika sayup sayup terdengar kumandang adzan dari bibir Rajesh. Terdengar sejuk. Bisa dilihat Zoya, Rajesh tengah menggendong bayinya dan mengumandangkan adzan di telinga mungil itu.
Zoya terkesima sekaligus heran,,, sejak kapan Rajesh pandai dalam hal hal begini? Setau Zoya, Rajesh dan keluarganya bukan individu yang banyak tau hal hal tentang agama.
"Kamu sudah berubah mas. Aku turut senang. Mungkin pernikahan kita dulu patut untuk dilupakan dan diselesaikan saja. Aku sama sekali tidak memberi pengaruh baik untukmu. Berbeda dengan mbak Alyssa yang mampu membuatmu kembali mengingat dan mendekat pada Tuhanmu." batin Zoya.
Kini ia semakin yakin untuk segera mengurus dan menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan status pernikahan mereka.Ia tak ingin lagi menjadi bayang bayang dalam langkah demi langkah kehidupan baru Rajesh.
"Mas,,, siapa nama yang cocok untuknya?" tanya Alyssa manja saat Rajesh selesai adzan.
"Ku kira kamu sudah punya ide untuk namanya." jawab Rajesh.
__ADS_1
"Belum mas. Kan ini lahirannya maju. Aku juga belum kamu antar untuk USG cek jenis kelaminnnya kan. Jadi aku sama sekali belum ada bayangan." kata Alyssa.
Kelahiran bayi itu memang maju karena adanya insiden tabrakan tadi jadi pantas saja Alyssa belum siap nama. Dan keterbatasan kondisi keuangan Rajesh memang belum memungkinkan untuknya membawa Alyssa USG. Niatnya baru minggu depan setelah Rajesh gajian, tapi sudah terlanjur terjadi hal seperti ini.
Zoya yang mendengar obrolan mereka pun kembali heran. Ia berpikir keras bagaimana bisa seorang Rajesh tidak bisa membawa istrinya hanya sekedar untuk USG? Tapi itu mau tidak mau membuat Zoya kembali menilik penampilan Rajesh.
Benar saja,,, lelaki yang dulunya selalu ingin tampil perfeksionis itu memang sudah tidak ada lagi. Rajesh berubah menjadi lelaki sederhana dengan tampilan paling sederhana juga. Berbanding terbalik dengan Zoya saat ini yang serba elegan.
Begitulah kehidupan,,, bak roda berputar. Tak selamanya berada di atas.
"Permisi mbak Alyssa,,," sapa Zoya sebelum pasangan itu membahas banyak hal dan menahan langkahnya terus.
Bagaimana pun, Zoya masih punya urusan di tempat tujuan semula. Semua sudah mundur dari jadwal akibat insiden ini dan Zoya tak ingin berlama lama lagi di sini. Ia tak ingin mengganggu kebahagiaan pasangan yang baru mendapat momongan itu.
"Iya. Silahkan." Alyssa yang sudah paham siapa yang datang, langsung mempersilahkan dengan ramah.
"Selamat atas kelahiran putranya ya mbak. Dan mohon maaf atas kecerobohan saya tadi." Zoya mulai bicara.
Alyssa tau benar kondisi keuangan Rajesh. Sebenarnya timbul ketakutan dalam hatinya nanti jika tiba waktunya melahirkan dan Rajesh tak mampu membiayainya. Alyssa sempat pasrah. Tapi dengan kejadian ini Alyssa makin yakin bahwa Tuhan memang sebaik sebaiknya pembuat skenario.
Tuhannya telah mengirimkan malaikat penolong meski harus dengan skenario kecelakaan seperti ini. Tak mengapa ia harus merasakan sedikit sakit tadi akibat pendarahannya, yang jelas kini bayinya lahir dengan perawatan selayaknya. Dan Rajesh juga tidak perlu keluar biaya untuk itu semua.
"Mbak Siska,,, Apa sudah diurus semua?" tanya Zoya memastikan.
"Sudah bu." jawab Siska mantap dan Zoya tak perlu meragukan kemampuan Siska mengurus hal hal semacam ini.
"Mbak Alyssa,,, Kalau begitu saya pamit dulu. Saya masih banyak pekerjaan. Hubungi saja nomer yang ada di kartu nama itu kalau ada apa apa ya. Jangan sungkan sungkan. Saya mungkin bisa datang lagi menjenguk mbak Alyssa kalau ada sisa waktu nanti." pamit Zoya.
"Terima kasih bu." Alyssa menjawab singkat karena ia mulai menangkap sikap aneh dari Rajesh tiap kali Zoya bicara.
"Mas Rajesh,,, saya permisi." pamit Zoya pada Rajesh yang tertunduk.
__ADS_1
"Ii,,, iya. Terima kasih." Rajesh jadi gugup.
Zoya keluar ruangan di susul Siska dan Rodie yang masih sempat kembali mengucapkan selamat atas kelahiran putra pasangan itu.
"Pelan pelan jalannya Zo." tegur Rodie yang melihat Zoya berjalan begitu cepat membuat Siska pontang panting menyeimbangkan langkahnya.
Sesampainya di mobil, Zoya kembali murung. Niat hati melepas status sebagai istri Rajesh memang kuat tapi rupanya sedikit terasa berat. Entah mengapa kini Zoya seperti tak ingin status mereka berubah. Tapi mengingat Rajesh sudah beristri,,,Zoya kembali sadar diri.
Emosinya naik turun hingga membuatnya tak mampu lagi menahan airmatanya untuk tidak tumpah kembali. Zoya menangis tersedu sedu sambil menutup wajahnya. Tidak peduli ada Siska yang duduk di belakangnya terheran heran. Sesekali Siska menatap Rodie yang hanya memberi kode untuk tidak mengganggu Zoya saat ini.
"Luapkan saja Zo. Tumpahkan semuanya. Sebisa mungkin jangan sisakan." ujar Rodie dengan tenang sambil menyetir.
Sepanjang perjalanan Zoya terus menangis berharap dengan begitu beban di hatinya menjadi berkurang. Tapi tiap kali mengingat kebahagiaan Rajesh bersama Alyssa, airmata itu kembali terkuras seperti tidak ada habisnya.
"Mas kenal ibu Zoya?" selidik Alyssa saat Rajesh masih membisu menatap pintu di mana tadi Zoya keluar.
"Eh,, Apa? Apa aku kenal Zoya?" Rajesh mengulang pertanyaan Alyssa.
Alyssa mengangguk dan berdebar menunggu jawaban Rajesh. Ada debar aneh mengganggunya saat ini.
"Iya. Aku kenal. Tidak hanya sekedar kenal bahkan. Dia pemilik hatiku Alyssa. Dia Indahku. Dia istriku yang ku sia siakan dan itu ku sesali selama sisa hidupku. Dia hal terindah sekaligus penyesalan terbesar dalam hidupku, Alyssa."
Airmata Rajesh pun tumpah. Membungkam Alyssa yang makin merasa kurang senang mendengarnya.
...\=\=\=\=\=...
...Sudah double up ya dan ini senin,,, ada yang sudi nyumbang votenya?? ðŸ¤...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1