
Dua bulan sudah berlalu namun belum ada perubahan pada kondisi Indah ( yang masih belum ingin author sebut Zoya sebelum dia sadar 🤫ðŸ¤). Namun begitu, sang mama tetap setia menemani putri kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik mirip dengan sang nenek,Hesti.
"Ternyata dugaan si mbok benar ya cah ayu kalau nduk Indah ini ada hubungannya sama keluarga cah ayu karena dia mirip sama Hesti. Kadang suka mikir,,, dunia ini sempit sekali. Kita dipertemukan dalam serba kebetulan. Hesti dan Wardoyo adalah teman si mbok. Si mbok tau benar betapa Wardoyo mencintai Hesti, nenekmu cah ayu. Dia juga merindukanmu meski belum pernah berkesempatan mengenalmu. Seandainya Wardoyo masih hidup, dia pasti sangat bahagia mengetahui bahwa nduk Indah sebenarnya cicitnya." ujar mbok Rati sambil menyeka airmata di sudut netra tuanya.
Ia ingat betul wajah kakek Wardoyo yang selalu hidup dalam jiwanya. Ia bisa membayangkan bagaimana senyum kakek Wardoyo akan mengembang mengetahui fakta ini.
"Iya mbok. Semua yang terjadi adalah kehendakNYA dan DIA tidak pernah tidak menyiapkan hal hal indah dibalik sebuah keburukan yang terjadi."
"Pantas saja Wardoyo menempatkan nduk Indah sebagai pion utama mendapatkan harta kekayaannya." gumam mbok Rati lirih.
"Maksudnya apa mbok?" tanya Karin bingung.
Mbok Rati pun kemudian menjelaskan secara rinci tentang pernikahan Rajesh dan Indah. Rupanya naluri kakek Wardoyo memang benar. Diam diam beliau memang meyakini bahwa Indah ada hubungannya dengan Hesti, mendiang kekasihnya. Karenanya, kakek Wardoyo memberi syarat sebelum mama Rina dan anaknya benar benar menguasai harta peninggalannya.
Karin manggut manggut mengerti meski sedikit menyayangkan pernikahan itu karena akhirnya pernikahan itu malah menyakiti putrinya baik secara fisik maupun jiwanya. Karin menatap Indah yang masih tetap menutup rapat kedua matanya. Karin mengusap usap puncak kepala Indah dengan lembut. Tidak lupa juga mengelus pipi mulusnya.
"Zoya,,, anak mama,,, mama tau kamu lelah dengan semua yang sudah kamu lalui nak. Semoga setelah ini, kamu akan semakin kuat. Semoga yang tersisa untukmu hanya kebahagiaan nak. Mama senang kamu terlepas dari mereka tapi mama tetap sedih kalau kamu nggak segera bangun nak. Ini mama. Apa kamu nggak ingin melihat wajah mama nak? Apa kamu nggak rindu sama mama? Bangun sayang,,, buka matamu. Mama ingin mendengar suaramu, mama ingin berbicara hati ke hati denganmu sayang."
Setiap hari,,, Karin mengucapkan kalimat yang sama tanpa putus atau hilang harapan sedikit pun. Ia percaya,,, Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan pasti mendengar semua pinta hambaNYA. Hanya saja,,, hambaNYA ini perlu extra sabar.
"Sabar ya cah ayu. Ayo, makan dulu. Si mbok sudah masak sayur urap kesukaan cah ayu. Mumpung masih hangat. Bagaimana pun,cah ayu harus tetap jaga kesehatan biar bisa nemenin nduk Indah terus,,, eh nduk Zoya maksud si mbok."
Mbok Rati begitu sulit mengubah panggilan itu meski sudah bisa dipastikan bahwa Indah adalah Zoya.
"Nggak apa apa kok mbok. Kalau nanti Zoya sudah sadar, dan dia lebih suka dipanggil Indah sama mbok, nggak apa apa kok. Indah juga bukan nama yang buruk. Semua yang ada pada dirinya memang indah."
Karin tak mempermasalahkan meski mbok Rati mau memanggil putrinya dengan nama apa pun. Ia sadar bahwa mbok Rati jauh lebih mengenal putrinya lebih baik daripada dirinya. Mbok Rati bahkan lebih tau apa yang jadi kesukaan atau apa yang tidak disukai Indah selama 12 tahun terakhir ini.
"Monggo cah ayu. Sudah si mbok ambilkan makanannya." mbok Rati menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan sayur urap, ikan asin dan sambal.
__ADS_1
"Terima kasih mbok." Karin menerimanya lalu mulai menyuap makanannya.
Bohong kalau bilang Karin menikmatinya namun Karin tak mau sampai asam lambungnya kambuh karena terlambat makan. Benar kata mbok Rati tadi bahwa bagaimana pun juga Karin wajib menjaga kesehatannya demi bisa menjaga Indah.
Mbok Rati ganti menunggui Indah sementara Karin masih makan. Sejatinya Karin meminta ditemani makan namun mbok Rati mengaku sudah makan di rumah tadi sebelum ke rumah sakit membawakan segala keperluan Karin.
Tit,,, Tit,,, Tampak ada pergerakan di layar monitor dan itu membuat mbok Rati kebingungan. Orang tua dan awam sepertinya tidak tau apa pun mengenai alat alat medis yang sudah serba canggih itu. Satu satunya yang meyakinkannya adalah jari jemari Indah bergerak gerak meski sangat pelan.
"Cah ayuuuuu,,,,," pekiknya membuat Karin nyaris menjatuhkan makanannya saking terkejutnya.
Bergegas ia meletakkan makanannya dan mendekati mbok Rati.
"Ada apa mbok?" tanyanya heran karena mbok Rati tampak kebingungan.
"Anu,,, ng,,, nduk Indah,,, ng,,,"
"Zoya kenapa mbok?" tanya Karin heran karena tak melihat sesuatu terjadi.
"Nduk Indah cah ayu,,," mbok Rati menggenggam tangan lemah Indah.
"Iya Zoya kenapa? Mbok tenangkan diri dulu ya. Minum ini dulu mbok." Karin mengulurkan sebotol air mineral kepada mbok Rati yang segera meneguk secukupnya.
"Gimana mbok? Sudah merasa lebih tenang?" tanya Karin melihat mbok Rati sudah terlihat lebih tenang.
"Terima kasih cah Ayu. Tadi si mbok lihat tangan Nduk Indah tadi gerak gerak. Jari jarinya cah ayu."
"Yang benar mbok?" Karin tentu saja tidak percaya karena layar monitor tidak menunjukkan perubahan apa pun.
"Beneran cah ayu. Sumpah. Jari yang ini." mbok Rati menunjuk jari Indah yang terhubung dengan sebuah alat medis.
__ADS_1
"Mbok,,, seandainya apa yang mbok lihat tadi adalah benar, mari kita sama sama berharap bahwa ini akan menjadi awal yang baik untuk kesadaran dan kesembuhan Indah. Sudah saatnya ia bangun dan menata hidupnya lagi." ujar Karin sendu karena tak melihat apa yang tadi dilihat oleh mbok Rati.
"Aamiin,,, iya cah ayu. Maafkan si mbok kalau si mbok membuat cah ayu kecewa lagi karena harapan itu harus memudar lagi." mbok Rati merasa tak enak hati pada Karin tapi beliau yakin apa yang dilihatnya tadi tidak salah.
Jari jari Indah memang bergerak gerak meski pelan.
"Jangan meminta maaf mbok. Saya justru yang ingin minta maaf sama si mbok karena si mbok juga jadi hanya punya harapan yang entah kapan bisa menjadi kenyataan. Kita berdua sama sama menyayanginya mbok, tidak heran kalau si mbok juga berharap kesembuhannya."
"Iya cah ayu."
Mbok Rati bangkit dari duduknya dan memeluk Karin dengan hangat. Menyalurkan kembali kekuatan pada jiwa seorang ibu yang tentunya sangat rapuh dihadapkan pada kenyataan seperti ini. Dua bulan menanti tanpa kepastian tentu sangat menyayat hati Karin dan di sanalah mbok Rati berada.
Menguatkannya.
"Cah ayu,,," mata mbok Rati kembali berbinar melihat kembali pergerakan di layar.
"Iya mbok. Saya juga melihatnya. Dokteeeeeerrrrr,,,," Karin menghambur keluar mencari dokter.
Karin langsung panik dan lupa kalau memanggil dokter tidak perlu berlari keluar karena di dalam kamar VVip itu sudah ada tombol khusus memanggil bantuan.
Di depan pintu, ia sedikit terkejut ketika sesosok lelaki muda berdiri di sana dengan wajah kusut dan brewoknya. Karin tidak tau itu siapa namun dia tak ingin menggubrisnya. Ada Zoya yang lebih membutuhkannya saat ini.
Karin kembali berlarian memanggil manggil dokter.
"Apa Indah sudah sadar? Atau terjadi sesuatu yang buruk padanya??" lelaki berwajah kusut yang tak lain adalah Rajesh mulai menduga duga.
...\=\=\=\=\=...
...Maaf gengs kemarin libur,,, author lagi ngedrop abis lembur terus 😔🤧😩 Hari ini juga satu aja dulu ya. Author mau istirahat dulu biar cepat sembuh, bisa up banyak lagi 😉...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....