
"Alyssa buka pintunya. Jangan seperti ini. Kalau ada masalah mari kita bicarakan baik baik nak."
Sedari tadi Rajesh memanggil manggil tetap tak ada jawaban dari Alyssa. Hanya terus suara Bagas yang menangis. Akhirnya mama Rina ikut turun tangan menggedor pintu kamar Alyssa meski tak membuahkan hasil.
"Gimana ini Jesh? Apa dobrak saja? Mama khawatir Alyssa kenapa kenapa." ujar mama Rina panik.
"Baik ma. Mama minggir dulu." Rajesh mengambil ancang ancang dan memperkirakan sekuat apa tenaganya karena ia takut dobrakan pintu itu malah mengenai Bagas atau Alyssa di dalam.
Braaakk,,, Dalam hitungan ketiga, pintu pun terbuka dan betapa terkejutnya Rajesh dan mama Rina melihat pergelangan tangan Alyssa sudah berlumuran darah dan Alyssa sudah tak sadarkan diri. Tangannya yang berdarah itu menindih tubuh mungil Bagas. Mungkin karena itu sedari tadi bayi itu menangis.
"Alyssa!!! Ya Allah nak,,, kenapa senekad ini??? Ini ada apa sebenarnya?? Jesh??" mama Rina menuntut penjelasan.
Mama Rina yang baru kembali dari pasar memang tidak tau asal muasal perkaranya. Hanya tau Alyssa sudah mengunci diri dan Rajesh terus berusaha memanggil.
"Jesh!!! Jangan diam saja!! Bawa ke puskesmas!!" bentak mama Rina melihat Rajesh malah hanya terpaku.
"Ii,,,iya ma." Rajesh tergagap seperti baru sadar.
Segera ia membopong tubuh lemas Alyssa keluar kamar. Beberapa tetangga yang sempat mendengar kehebohan tadi sudah banyak yang datang berkerumun. Ingin tau lebih jelas apa yang sudah terjadi. Ada juga yang segera memanggilkan abang becak yang kebetulan lewat.
"Terima kasih pak." ucap Rajesh pada yang memanggilkan becak motor.
"Sama sama mas. Semoga mbak Alyssa baik baik saja." sahut orang itu.
Lalu dengan kecepatan semaksimal mungkin pengemudi becak mengantarkan Rajesh dan Alyssa ke puskesmas. Disusul oleh sepeda motor tetangga yang pemiliknya memutuskan membonceng mama Rina dan Bagas menyusul ke rumah sakit.
Mama Rina mengabaikan kasak kusuk tetangga yang mempertanyakan kondisi Alyssa. Kenapa sampai bunuh diri begitu? Padahal selama masa kehamilan juga tidak menunjukkan sikap aneh? Mama Rina tidak peduli meski mendengar jelas spekulasi spekulasi para tetangga. Baginya kini yang penting adalah kesembuhan Alyssa.
Alyssa segera mendapat perawatan sesampainya di UGD puskesmas. Rajesh yang belum sempat duduk kini mendapat banyak pertanyaan dari mama Rina.
"Sebenarnya ada apa?? Kalian bertengkar??" cecar mama Rina.
Rajesh menggeleng lemah.
"Lalu kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa sampai Alyssa nekad begini?" mama Rina belum puas.
__ADS_1
"Rajesh hanya meminta waktu ma." sahut Rajesh.
"Waktu??? Waktu untuk apa??" mama Rina heran.
"Untuk kami menikah. Rajesh ragu ma."
"Karena Indah?" selidik mama Rina.
Kali ini Rajesh mengangguk lemah. Dan mama Rina pun menghela napas berat. Beliau paham betul rasanya jadi Rajesh yang masih sangat mencintai istrinya tapi beliau juga tidak tega pada Alyssa jika sampai benar Rajesh menggagalkan pernikahan mereka.
"Awalnya mama juga ingin kalian kembali bersama. Tapi seketika mama juga ingat bahwa kamu sudah terlanjur mengikat janji dengan Alyssa. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa Indah juga sudah punya calon suami baru. Semua itu membuat mama perlahan melupakan keinginan itu. Mama berharap keputusan untuk menikahi Alyssa adalah yang terbaik."
Rajesh mendongak. Menatap sendu ke arah mama Rina yang membelai belai kepala mungil Bagas. Bayi itu pun tersenyum.
"Relakan Indah, Jesh. Mungkin saat ini itulah satu satunya yang bisa kamu lakukan. Jangan mengusiknya kembali. Jika sudah pernah menyakiti dan belum termaafkan, setidaknya jangan melukai dan mengusik lagi." lirih mama Rina berat dan dalam.
Rajesh diam sejenak lalu tangannya terulur untuk meminta mama Rina menyerahkan Bagas kepadanya. Mama Rina pun melakukannya dengan hati hati.
"Biarkan Alyssa dan Bagas hidup. Jangan rampas kebahagiaannya. Begitu pula dengan kebahagiaan Indah. Bukankah ia sudah menemukan bahagianya sendiri saat ini? Mama lihat lelaki itu cocok dengannya. Tampaknya juga sangat baik dan menyayangi Indah." kembali mama Rina berujar.
"Mama tau dan mama minta maaf untuk itu. Ini semua karena mama. Seandainya saja bisa, mama ingin menukar nyawa mama dengan Alyssa. Biar mama saja yang mati membawa semua kepedihan ini. Jangan kamu, jangan Alyssa, jangan Indah yang mati." mama Rina mulai tergugu.
"Mama jangan bilang begitu. Maafin Rajesh ya ma. Rajesh banyak membuat mama menderita batin memikirkan hidup Rajesh yang berantakan." Rajesh memeluk sang mama dengan sebelah tangannya sementara tangan satunya tetap menggendong Bagas.
"Pasien sudah sadar."
Bertepatan dengan itu seorang perawat puskesmas memberitahukan berita itu. Langsung saja Rajesh dan mama Rina bergegas masuk menemui Alyssa.
"Alyssa." sapa Rajesh dan hanya mendapati Alyssa yang memalingkan wajahnya menghadap ke tembok.
"Kenapa senekad ini Alyssa?? Semua masih bisa dibicarakan kan?" mama Rina mengusap usap puncak kepala Alyssa.
"Alyssa sudah tidak punya keberanian untuk menatap hari hari selanjutnya ma. Semua terasa gelap. Bahkan lebih gelap daripada malam pemerkosaan itu. Alyssa takut ma. Takut dunia akan mencemooh Bagas. Alyssa tidak sanggup menghadapi dunia ini sendiri atau berdua saja dengan Bagas ma. Alyssa lebih baik mati!!! Kenapa kalian membawaku kesini?? Untuk apa?? Untuk memaksa Alyssa menerima semua hinaan dan cacian?? Untuk menyiksa Alyssa dan Bagas??"
Alyssa terus protes meski wajahnya tetap menghadap tembok. Mama Rina menghela napas berat. Tak tau harus jawab apa lagi.
__ADS_1
"Bahkan mama juga nggak bisa jawab kan?" sindir Alyssa.
"Mama,,, Alyssa,,," Mama Rina benar benar tak punya ide harus menjawab apa.
"Maafkan aku, Alyssa. Maaf kalau aku sempat meragu. Tapi sekarang aku sudah sadar bahwa tidak seharusnya aku terkukung dalam masa lalu. Kamu benar akan hal itu. Aku akan tetap menikahimu seperti rencana awal kita. Kita akan hidup bahagia. Kamu, aku, Bagas dan juga mama. Bantu aku melupakan masa laluku lagi, Alyssa. Bantu aku merelakannya bahagia bersama pilihannya saat ini." Rajesh kini yang menyahut dan memohon pada Alyssa.
Alyssa seketika memutar kepalanya dengan mata basahnya. Menatap sepasang mata Rajesh seolah mencari kepastian di sana. Senyumnya kemudian terukir dari bibirnya yang pucat.
"Benarkah itu mas? Benarkah masih ada masa depan untukku dan Bagas??" tanyanya penuh harap.
"Benar Alyssa." sahut Rajesh singkat.
"Terima kasih mas. Terima kasih mama." Alyssa menatap keduanya bergantian.
Rajesh hanya mengangguk dan mama Rina tersenyum senang melihat ada semangat dan kehidupan lagi di kedua bola mata Alyssa.
"Cepat sembuh ya. Biar pernikahan kalian bisa segera terlaksana." pinta mama Rina.
"Rajesh boleh minta waktu mengurus perceraian Rajesh secara sah dulu ma, Alyssa? Rajesh nggak ingin menjadikan Alyssa istri kedua dari satu pernikahan. Biarkan Rajesh menyelesaikan dulu satu persatu." kata Rajesh.
Alyssa tampak berpikir sejenak, sejurus kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan mas. Aku akan menunggu. Ku hargai pemikiran baikmu ini. Terima kasih sudah berusaha menempatkanku di posisi terbaik dan satu satunya." ujar Alyssa tetap tersenyum.
"Sama sama Alyssa. Bersabarlah sedikit lagi sambil menanti kesembuhanmu."
Alyssa pun mengangguk mengiyakan. Ia merasa Rajesh tak akan lepas darinya. Usahanya mempertahankan lelaki itu tidak sia sia. Meski harus menyisakan sakit di pergelangan tangannya yang sengaja ia lukai sendiri demi mencari simpati.
...\=\=\=\=\=...
...Dasar Alyssa 🤨🤨...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1