Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Kamu Siapa?


__ADS_3

Beberapa hari ini kondisi Zoya semakin membaik. Ia menunjukkan kondisi yang meningkat pesat. Dukungan keluarga dan penanganan yang tepat tentu menjadi salah satu penyebab terkuat.


Delvara bahagia tentunya karena apa yang telah diberikannya pada sang adik membuahkan hasil. Jangan ditanya berapa banyak uang yang harus keluar untuk biaya pengobatan Zoya. Koma berbulan bulan, sempat drop dan masuk ICU lagi, masa pemulihan yang terbilang lumayan memakan banyak hari, tentu bukan nominal yang kecil.


Tapi semua itu seakan terbalas dengan senyuman Zoya yang terus terukir di wajah cantiknya. Delvara merasa nominal itu seakan tidak ada bandingnya ketika melihat Zoya sudah bisa berdiri dan berjalan meski masih tetap harus didampingi.


Karena kondisi Zoya yang sudah semakin membaik itulah, maka Delvara memutuskan untuk kembali bekerja. Sudah saatnya ia kembali menata ulang dan mengoreksi semua pekerjaan anak buahnya selama ia tinggalkan.


"Kakak tinggal kerja dulu ya. Kamu sama mama sama mbok Rati dulu di sini." pamit Delvara pagi itu.


"Iya kak. Kakak tenang saja. Aku udah sehat. Kalau aku butuh apa apa juga ada mama dan mbok Rati yang pasti membantuku. Jadi kakak kerja yang tenang, jangan mikirin aku terus. Aku akan baik baik saja." ujar Zoya meyakinkan.


"Anak pintar." Delvara mengacak rambut Zoya yang selama di rumah sakit menjadi pendek karena sempat harus dicukur habis.


"Kakakkkk,,, berantakan nih rambutku." sungut Zoya.


"Halah orang rambut cepak gitu aja kok." ejek Delvara.


"Biar cepak tapi kan aku tetap cantik." Zoya membela diri.


"Iya deh iyaaaa. Adik kakak ini emang yang paling cantiiiiikk sedunia. Setelah mama tapi yaaa weeekkk." Delvara menjulurkan lidahnya.


"Aaaa mamaaaaa,,, Kakak tuh,,," rengek Zoya manja.


"Del,,, sudah dong godain adiknya. Sudah waktunya kamu berangkat. Kantormu dari sini kan lumayan jauh. Nanti kamu terlambat lho." Karin mengingatkan.


"Oh iya. Del lupa ma. Ingatnya berangkat dari rumah saja." Delvara bergegas mengambil tas kerjanya.


Delvara mencium tangan sang mama dan juga mbok Rati sebelum berangkat. Tidak lupa juga mencium kening sang adik setelah Zoya juga mencium tangannya.


Delvara lantas menghilang di balik pintu setelah mengucapkan salam. Tinggallah tiga wanita beda generasi di dalam ruangan itu.


"Kapan Zoya boleh pulang ya ma? Zoya kangen rumah. Seperti apa ya kondisi rumah sekarang?" ucap Zoya.


"Sejauh ini,,, apa yang kamu ingat dari rumah nak? Kamarmu mungkin??" tanya Karin lembut.

__ADS_1


Bagaimana pun, sesuai saran dokter, ingatan Zoya harus tetap diasah sedikit demi sedikit agar semakin banyak memori yang diingatnya. Agar dokter juga bisa semakin mantap memberikan diagnosa selanjutnya.


"Lampu hello kitty warna ungu. Boneka salju. foto mendiang papa. Foto kita bertiga, mama, aku dan kakak. Seprai hello kitty yang juga warna ungu. Bantal bentuk wajah hello kitty ungu juga. Semua hampir didominasi warna ungu." kenang Zoya.


"Kamu masih mengingatnya dengan baik nak. Mama senang mendengarnya."


Zoya mengusap sudut mata Karin yang basah oleh airmata bahagia.


"Apa yang kamu ingat, akan kamu jumpai lagi nak. Mama sama sekali tidak pernah mengubah apa pun yang ada di kamarmu. Tidak satu pun posisinya berubah. Mama hanya menutupnya dengan kain kain putih untuk menjaganya tidak kotor. Mencucinya pun mama enggan karena mama selalu yakin kamu akan kembali dan kamu akan bahagia melihat semua milikmu masih pada tempatnya."


"Terima kasih ma. Zoya jadi makin nggak sabar untuk pulang. Zoya ingin memulai hidup baru. Bersama mama, kakak dan mbok Rati."


Deggg,,,,


Baik jantung Karin maupun mbok Rati yang setia mendengarkan pun seakan berhenti berdetak. Mereka heran sekaligus cemas kenapa Zoya hanya menyebut nama mereka saja. Kenapa Zoya tidak menyebut nama Rajesh?


Tok tok tok,,,


Jantung mereka kembali berlompatan ketika terdengar suara ketukan di pintu. Semuanya menoleh ke arah pintu.


"Iya nduk Indah." jawab mbok Rati dan segera bergegas membuka pintu.


"Den Rajesh,,???" tenggorokan mbok Rati serasa tercekat melihat siapa yang datang.


Rajesh dengan wajah brewoknya yang terlihat tidak terawat, pakaian yang juga tampak lusuh, mata panda, pokoknya tidak seperti Rajesh yang selama ini tampil selalu stylish. Kini sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh harap untuk diijinkan masuk.


"Tolong mbok. Biarkan saya masuk menemui istri saya." ujarnya dengan nada penuh permohonan.


"Tapi den,,," mbok Rati tentu ragu.


"Siapa mbok? Dokterku ya? Suruh masuk saja." suara Zoya terdengar begitu ceria.


"Den,,, den,,," mbok Rati gagal mencegah Rajesh yang nyelonong masuk melewati dirinya.


Rajesh tercekat memandang Zoya yang wajahnya langsung berubah melihatnya. Begitu pula wajah Karin yang juga menunjukkan ekspresi kaget akan kedatangannya. Mbok Rati di belakang Rajesh hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena tak bisa menghalangi Rajesh masuk.

__ADS_1


"Indah,,, mmm,,, Zoya maksudku. Maafkan aku." ujar Rajesh sambil memandang wajah ayu Zoya meski kini rambutnya tak lagi tergerai panjang.


"Maaf??" lirih Zoya dengan alis tertaut dan wajah bimbang.


"Aku tau,, Aku sudah banyak menyakitimu. Bahkan orang tuaku juga begitu. Aku juga tau kesalahanku kepadamu begitu banyak dan mungkin kamu tidak segampang itu memberi maaf kepadaku. Tapi aku tetap yakin hatimu sangat baik,,, jadi tolong,,, aku mohon maafkan kami." Rajesh menangkup sepuluh jarinya di depan dada.


"Aku,,," Zoya tidak bisa meneruskan kata katanya.


"Nak,,, kamu mau mama dan mbok Rati tinggalkan kalian berdua di sini?" tanya Karin yang sepertinya bisa membaca situasi.


"Tidak ma. Kalian tetap di sini saja."


"Kamu yakin nak? Atau kami pindah saja duduknya di sana?" tunjuk Karin di sofa ruangan tunggu dalam kamar itu.


"Nggak ma. Jangan tinggalin Zoya." Zoya meraih tangan Karin seolah sangat takut ditinggalkan olehnya.


Rajesh merasa hatinya begitu nyeri melihat sendiri betapa Zoya memiliki trauma mendalam akibat apa yang sudah terjadi selama ini. Dia bahkan sampai ketakutan begitu jika harus berhadapan dan ditinggal berdua saja dengannya.


"Seburuk itu aku menciptakan trauma dalam hatimu, Zoya. Maafkan aku." kembali Rajesh berucap dan kali ini disertai dengan airmata yang entah sejak kapan sudah dibendungnya.


Zoya menatap ke arahnya masih dengan alis tertaut. Tanpa kata.


"Aku mungkin tidak tau diri jika aku mengatakan ini. Tapi aku hanya ingin jujur kepadamu, Zoya. Aku menyesal. Aku berharap kamu masih sudi memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku yang sudah banyak dosa ini begitu tidak tau malu karena masih menginginkanmu tetap menjadi,,,,"


"Kamu siapa sebenarnya?? Kenapa datang datang meminta maaf dan banyak bicara? Kamu membuatku takut!!!" potong Zoya cepat karena ia sudah sangat merasa tidak nyaman sejak orang yang merasa tak dikenalnya itu masuk.


"Zoya,,, kamu nggak ingat aku??" Rajesh tersentak menyadari hal itu.


Bukan hanya Rajesh, Karin dan mbok Rati pun demikian. Mereka juga terkejut karena ternyata Zoya tidak mengingat Rajesh. Keduanya bingung. Harus bahagia dengan ingatan Zoya yang tidak sepenuhnya kembali atau bersedih???


...\=\=\=\=\=\=...


...Menurut kalian,,, Zoya beneran nggak ingat ato cuma pura pura nih??? Kalian ngarepnya gimana??...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2