
Tak lama kemudian, Karin pun kembali dengan seorang dokter dan beberapa perawat yang memang sudah khusus ditunjuk untuk merawat Indah. Karin sebenarnya sempat terheran melihat lelaki kusut yang tak lain sebenarnya adalah menantunya itu, masih berdiri di depan kamar inap Indah.
Karin memang belum pernah atau sempat mengenal Rajesh karena saat Indah diketahui memiliki DNA yang sama dengannya, Delvara sudah memutus hubungan dengan lelaki itu.
Dan saat ini pun meski lelaki itu sudah berdiri di depannya, Karin masih tak sempat untuk bertanya tanya karena ia masih mengutamakan keadaan Indah.
"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi padanya?" Rajesh membatin dengan perasaan tak menentu.
Satu sisi berharap ada keajaiban untuk Indah, namun sisi lain semakin takut kehilangan Indah.
"Jesh, kamu memang sudah kehilangan dia. Apa kamu masih belum sadar itu?" kembali hatinya bersuara dan itu membuatnya lesu kembali.
"Benar juga. Kalau pun Indah bangun, lalu apa?? Apa yang akan aku lakukan? Bersujud di depannya memohon ampun?? Lalu apa?? Apa dia akan memaafkanku? Setelah semua yang kulakukan padanya. Aku benar benar nggak waras jika masih mengharapkannya." Rajesh menyadari apa yang dilakukannya di sana tidak akan membuahkan hasil apa pun.
Dia mulai berjalan menjauhi kamar itu namun langkahnya kembali terhenti ketika hatinya merasakan sakit teramat sangat. Sakit yang sama dengan yang dirasakannya selama dua bulan terakhir ini. Sakit akibat suatu rasa yang sulit untuk diungkapkan.
Rindu,,, Rajesh merindukan Indah.
Kesabarannya, sifat mengalahnya, wajah teduhnya yang diam diam sering Rajesh curi pandang,,, lemah tubuhnya,,,dan banyak hal lain tentang Indah.
"Gila,,, Ya aku benar benar sudah gila. Apa kurangnya Nadine bagiku?? Dia sudah cukup baik menjadi istri pengganti Indah untukku. Nadine rela hidup susah denganku hanya karena ia mencintaiku. Nadine menerima hidupku yang sekarang. Harusnya aku berpuas diri. Tidak perlu lagi mengharapkannya."
Rajesh, yang kini juga telah berstatus sebagai suami Nadine, merasa telah mengkhianati Nadine yang sudah mau menerimanya meski keadaannya tak sekaya dulu.
Rajesh sempat tidak menyangka Nadine kembali datang padanya dan melanjutkan tawarannya sebulan lalu. Tanpa pikir panjang lagi,Rajesh mengiyakannya. Toh ia memang menyukai Nadine sedari dulu. Mereka pun menikah dua minggu lalu. Hidup bahagia layaknya pengantin baru. Hidup satu atap dengan mama Rina dan papa Gunawan.
(Eiittsss kok sama papa Gunawan juga sih thor??? Kan Nadine sama papa Gunawan itu???? Iyaa iyaaa,,, author juga inget kok. Tapi,,, kan ini emang bagian dari cerita deritanya Rajesh 🤫🤫🤫 author senyum licik 😏😏😏).
Rajesh kembali melangkah namun lagi lagi langkahnya kembali terhenti ketika beberapa perawat lagi berlarian membawa beberapa alat dan masuk ke ruang inap Indah. Tanpa bisa Rajesh kendalikan, kakinya kembali melangkah mendekati kamar yang sudah setiap dua hari sekali diam diam ia datangi tanpa pernah bisa masuk ke dalamnya.
"Suster,,, boleh saya tau bagaimana keadaan pasien di dalam??" tanyanya pada seorang suster yang tampak terburu buru masuk.
__ADS_1
"Maaf, anda siapanya pasien??" tanya suster itu membuat lidah Rajesh kelu.
Mau mengaku sebagai suami, Rajesh tiba tiba merasa tidak pantas. Mau mengaku orang lain, lalu apa haknya menanyakan keadaan Indah.
"Dia bukan siapa siapa dan suster tidak perlu menjawab atau menjelaskan apa apa kepadanya. Saya juga akan meminta security lain kali tidak membiarkannya mendekati kamar adik saya."
Suara bariton itu cukup dikenal oleh Rajesh tanpa perlu menoleh ke sumber suara. Apalagi sudah jelas, pemilik suara sudah menyebut bahwa pasien itu adalah adiknya.
"Baik. Saya permisi." suster pamit diiringi anggukan sopan Delvara.
Delvara berjalan melewati Rajesh tanpa bertegur sapa. Namun Rajesh memberanikan diri mencekal tangan Delvara.
"Del,,,"
"Lepasin atau gue tuntut lo dengan tindakan mengganggu ketenangan??" ancam Delvara tanpa menoleh.
Rajesh melepaskannya karena ia sungguh tak ingin menambah deretan masalah dengan Delvara. Rajesh tau betul kuasa Delvara. Dengan apa yang ia punya, Rajesh hanyalah seekor lalat dari tempat sampah yang bisa sewaktu waktu dibasminya.
"Gue minta maaf." lirih Rajesh.
"Untuk semuanya." setelah menelan ludah dengan susah payah, Rajesh hanya bisa mengucapkan dua patah kata itu.
"Kalau untuk pengkhianatan lo dan Nadine, gue udah maafin dan bahkan gue ingin ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Ternyata suami idaman Nadine hanya seperti ini. Tapi kalau untuk urusan Zoya,,, Jangan pernah harap ada kata maaf dari gue." tegas Delvara.
"Lo gak bisa egois begini Del. Indah,,, Mmmm Zoya,,, dia itu masih istri gue." ujar Rajesh.
"Apa?? Nggak salah lo ngomong?? Apa telinga gue yang salah dengar???" sindir Delvara.
Rajesh tertunduk dan kembali hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tiba tiba terasa sakit dan kering.
"Atas dasar apa lo tiba tiba datang dan mengatai gue egois?? Atas dasar apa tiba tiba lo mengakui Zoya sebagai istri lo??? Lo masih ingat kan,,, gadis yang lo nikahi itu Indah, bukan Zoya!! Dan Indah yang itu, sudah lenyap ketika hasil tes DNA itu mengatakan bahwa dia adalah Zoya." tegas Delvara.
__ADS_1
"Lagipula, suami macam apa yang tega menikah lagi saat istrinya masih terbaring koma tak berdaya?? Saat istrinya masih terombang ambing jiwa dan hidupnya. Apa masih layak lelaki yang demikian menyebut dirinya sebagai suami???"
"Del,,, lo boleh dan bebas memaki gue semau lo. Tapi lo tetap nggak bisa begini dong. Urusan gue menikah lagi, itu termasuk dalam urusan rumah tangga gue dengan adik lo. Lo nggak bisa terlalu jauh masuk dan mencampuri. Bukan tidak mungkin juga adik lo memperbolehkan gue menikah misalnya dia udah sadar. Jadi gue harap,,, lo jangan memutus sepihak pernikahan kami. Setidaknya sampai adik lo sendiri yang memutusnya."
Sok bijak,,, itulah kata yang paling tepat untuk Rajesh saat ini. Dia bicara seolah olah dialah yang paling benar.
"Ok. Gue pastikan saat Zoya sadar nanti, dia langsung mengurus surat cerainya.Gue pastikan dia akan sangat membenci lo!!." ucap Delvara sambil menunjuk jantung Rajesh.
Rajesh hanya bisa diam tanpa menyahut.
"Del,, bisa masuk dulu? Temui adikmu. Zoya udah sadar." suara Karin membuat Delvara dan Rajesh serempak menoleh.
"Apa ma?? Zoya sadar??" binar bahagia tampak di wajah Delvara.
"Iya nak. Masuklah dulu. Kita sama sama temui Zoya." ajak Karin masih dengan wajah herannya melihat Rajesh.
"Ayo ma." ajak Delvara dengan mengabaikan Rajesh.
Keduanya masuk tanpa mengajak Rajesh. Menutup pintu pun tepat di depan wajah Rajesh yang sangat ingin menyusul masuk. Kembali Rajesh hanya bisa tertunduk lesu di depan kamar inap Indah.
"Siapa dia nak?" tanya Karin pada Delvara.
"Sampah non organik ma." sahut Delvara sekenanya.
"Del!!!" bentak Karin halus yang merasa tidak pernah mengajari anak anaknya bahasa bahasa yang tujuannya merendahkan seseorang.
"Maaf ma. Tapi nanti saja membahas dia ya. Sekarang lebih penting kita temui dan sambut Zoya kita." ajak Delvara yang sangat malas jika harus membahas si sampah non organik itu.
...\=\=\=\=\=\=...
...Selamat malam 🤧🤧🤧 Satu bab pengantar tidur buat kalian dan juga author yang masih gak jelas hidungnya ya 🤧🤧...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....