
"Jeshhh!!!!! Lo tuh mikirin apa sih dari tadi?? Gue ngomong sama sekali gak lo hirauin!! Lo anggap gue ini apa?? Ingat ya,,, Gue ini udah jadi istri lo!! Gak seharusnya lo cuekin gini!!"
Nadine membentak Rajesh yang asyik termenung sementara semua yang dikatakannya bak tak didengar oleh Rajesh.
"Apa sih Nadine?? Lo ngomong apa memangnya?" tanya Rajesh yang memang tidak mendengar sepatah kata pun karena otak dan jiwanya masih di rumah sakit bersama Zoya, hanya raganya saja bersama Nadine.
"Tuh kan. Lo emang keterlaluan deh." Nadine kesal.
"Lo kan tinggal ngulang lagi omongan lo tadi. Apa susahnya sih??" Rajesh ikut kesal dengan Nadine yang merajuk.
Sakit bekas pukulan Delvara masih begitu terasa di wajah dan beberapa bagian tubuhnya. Jadi kalau harus menghiraukan rengekan rengekan Nadine lagi, rasanya Rajesh tak mampu.
"Gue mau ajak lo bulan madu ke Paris. Sejak menikah lo belum ajak gue kemana mana. Masak cuma di kamar, di kasur, udah. Nggak seru tau." ujar Nadine dengan bibir mengerucut.
"Kalau pun kita ke Paris juga kita akan melakukannya di kasur dan di kamar kan? Apa bedanya?" Rajesh tanya balik.
"Ih lo tuh ya. Nggak peka!! Nggak romantis!! Permainan lo yang lihai aja tuh juga nggak cukup Jesh. Kita butuh suasana baru."
"Suasana baru yang bagaimana lagi sih Nadine? Kalau lo butuh suasana baru, coba deh lo belajar ngomong baik baik sama gue. Perlakukan gue seperti suami. Lo belajar cara bicara lo ke gue, lo ubah panggilan lo ke gue. Lo manggil gue aja masih Jesh,,, Jesh,, Jesh,,, kita juga masih lo gue. Kapan kita bisa seperti suami istri selayaknya?"
"Lo nuntut gue Jesh??" Nadine melotot.
"Bukan nuntut. Cuman masak lo kalah sama Indah? Indah selalu panggil gue dengan kata mas meski gue nggak pernah baik sama dia." jelas Rajesh.
"Oooohhh,,, jadi lo lagi banding bandingin gue sama cewek kampung itu??? Lo lagi muji dia yang menurut lo lebih bisa membuat lo merasa jadi suami, gitu???" Nadine makin melotot dan berkacak pinggang.
"Aaarrgghhh,,, susah emang ngomong sama lo!!!" Rajesh mengacak rambutnya dengan sangat frustasi lalu keluar kamar.
"Kemana lagi lo Jesh???!!! Kita belum selesai!!!" pekik Nadine namun tak dihiraukan oleh Rajesh.
Rajesh sebenarnya menyesal sudah bicara begitu di depan Nadine. Sama sekali tak ada niatan untuk membandingkan Nadine dengan istri pertamanya. Namun semua ucapan itu keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
Rajesh hanya merasa menikah dengan Nadine terasa hampa. Tidak seperti menikah pada umumnya. Entah kenapa ia rindu istri yang segan kepadanya, istri yang penurut, istri yang tak banyak menuntut, istri yang selalu sabar akan semua sikapnya.
Menikahi Nadine memang membuat seluruh kebutuhan biologisnya tercukupi. Nadine wanita yang cukup handal dalam melayaninya di ranjang. Nadine juga selalu bisa membangkitkan gairahnya. Tidak seperti istri pertamanya yang hanya mampu membangkitkan amarahnya.
Namun anehnya,,, Rajesh malah merindukan semua tentang istri pertamanya ketika ia sudah dipuaskan oleh Nadine.
"Aku kenapa sih? Kenapa nggak pernah bisa sedetik pun nggak mikirin Indah." gumam Rajesh pelan di perjalanan menuju ke rumah sakit.
Lagi.
Lagi lagi ke rumah sakit meski terus mendapat penolakan dan sikap kasar Delvara. Rajesh sendiri juga heran kenapa ia seakan nggak ada kapok kapoknya mengunjungi rumah sakit selama ini.
"Nadine,,, ada apa? Mama dengar kalian ribut ribut tadi. Ada masalah apa?"
Mama Hesti keluar kamar dengan rambut masih basah dan wajah berseri seri lalu menyapa Nadine yang juga baru keluar kamar dengan wajah cemberutnya.
"Anak mama tuh. Bisanya bikin Nadine kesel aja. Udah tiap hari pergi gak jelas kemana. Mending pergi lama pulang bawa uang. Ini pulang pulang wajah bonyok semua, uang nggak ada." sungut Nadine masih kesal.
"Maafin Rajesh ya." hanya begitu yang bisa diucapkan oleh mama Rina.
"Beneran pa??" seperti biasa mama Rina langsung hijau matanya.
"Bener dong. Papa lagi dapat rejeki tadi makanya papa ingin menyenangkan kalian." lirik papa Gunawan pada Nadine yang memberengut karena jatah belanjanya jadi dibagi dengan mama Rina.
"Waahh,,, papa memang paling pinter cari duit." mama Rina memuji suaminya.
"Ya udah deh ma, ayok." ajak Nadine masih kesal.
"Iya tunggu mama ambil tas dulu ya." mama Rina segera menghambur meninggalkan dua orang pengkhianat dalam rumah tangganya.
"Nadine nggak suka ya bagian Nadine di bagi bagi lagi." cetus Nadine setengah berbisik.
__ADS_1
"Jatah kamu utuh sayang. Ini uang daddy dapat dari ambil tabungan nenek tua itu. Dia saja yang nggak tau. Makanya sana, kamu ajak dia senang senang dulu biar daddy bisa bongkar bongkar isi lemarinya siapa tau ada barang berharga lainnya lagi yang bisa kita uangkan." kata papa Gunawan.
Papa Gunawan terlalu tau kalau mama Rina itu tidak pernah mengecek surat surat berharga yang dikiranya masih genap dan aman di tempatnya menyimpan. Padahal sudah beberapa kali papa Gunawan ambil dan jual diam diam sejak perekonomian mereka jatuh begini.
"Cari yang banyak atau Nadine kabur dari daddy. Nadine lelah diajak sandiwara begini. Kapan sih warisan kakek jatuh ke tangan Rajesh???!!!" gerutu Nadine kesal.
Dia bela belain mau menjadi istri Rajesh demi warisan itu tapi nyatanya tidak kunjung ada. Yang dipikirnya Rajesh juga punya banyak tabungan ternyata juga tidak ada. Entah dikemanakan oleh Rajesh, Nadine belum pernah tau.
"Nadine tuh kangen jalan jalan ke luar negeri lagi. Belanja barang branded. Ke salon mahal." ketus Nadine lagi.
"Iya iya. Daddy janji kita akan segera kaya raya. Makanya ajak sana nenek sihir ini lebih lama di luar biar daddy lebih bebas menggeledah." bisik papa Gunawan.
"Ayo Nadine." mama Rina sudah siap dengan gaun terbaiknya dan juga tas mahalnya yang membuat Nadine iri dan kesal karena mama Rina punya juga barang yang seperti miliknya.
"Berangkat dulu ya pa." pamit mama Rina.
"Iya ma. Yang lama ya senang senangnya." ujar papa Gunawan.
"Ok pa."
Mama Rina segera menggandeng Nadine dan meminta Nadine yang menyetir mobil. Mereka tak lagi punya sopir pribadi karena lebih memilih uang untuk gaji sopir dipakai untuk kepentingan yang lain saja.
"Mama gak capek hidup begini? Mama itu anak orang kaya kan? Nadine heran deh,,, padahal kan mama ini anaknya kakek Wardoyo tapi kok bisa bisanya cewek kampung itu yang dapat warisan." gerutu Nadine sambil menyetir.
"Nadine,,,makanya bantu mama nyingkirin si babu itu. Biar Rajesh cuma jadi milikmu seorang." ujar mama Rina.
Sekali lagi Nadine hanya menghela napas malas karena ia tidak mau mengotori tangannya untuk itu. Dia hanya mau terima beres dan bebas menikmati semua itu.
...\=\=\=\=...
...Masih part nggak penting tapi sayang nggak di up 😀...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....