
Anak Nadine dirawat di rumah sakit hingga 3 hari dan selama itu pula Nadine terus cari perhatian pada Delvara. Dia selalu meminta bantuan ini dan itu. Dan Delvara yang hampir tidak pernah mengabaikannya, membuatnya makin besar kepala.
"Kamu jadi jemput kami kan, Del??" tanya Nadine di sambungan telponnya dengan Delvara.
"Iya. Nanti sekalian ada yang mau aku kenalkan padamu juga. Pakai pakaian terbaikmu." kata Delvara.
"Ok. Aku tunggu." Nadine senang.
Ia yakin pasti Delvara akan mengajaknya bertemu dengan klien atau sahabat atau orang penting lainnya yang memang perlu dikenal oleh Nadine juga. Secara, dirinya kan selalu punya tempat khusus dalam hati Delvara. Karenanya Nadine segera mempersiapkan dirinya.
Mengganti baju lusuhnya dengan beberapa baju baru baru yang dikirimkan Zoya melalui Siska. Memoles wajah dengan beberapa make up dasar yang juga diberikan oleh Zoya. Cukup lama ia menghabiskan waktu mempercantik diri.
"Aku nggak boleh malu maluin Delvara pokoknya. Mmm,,, bayinya gimana ya?? Kan kalau diajak jadi kelihatan kalau aku ini janda. Hmmm sial,,menyusahkan saja kamu ini." Nadine mencubit bayinya dengan keras saking kesalnya.
Bayi itu menangis seketika dan membuat Nadine pusing. Ia menutupi telinganya dengan sebal. Jika sebelumnya anak itu memang berguna untuknya mencari belas kasihan, namun sekarang ia sebenarnya sudah tidak butuh. Sudah ada Delvara yang akan menjamin hidupnya.
Tapi tangis bayi yang makin kencang itu membuatnya risih dan sekaligus tidak enak juga jika tangisan bayinya mengganggu pasien lainnya. Karenanya ia menepuk nepuk paha kecil itu meski tidak dengan lembut.
"Diam doooong. Berisik tauuu!!! Ganggu banget kalau mama mau dandan." ketusnya sambil tetap mematut diri di cermin.
Bersamaan dengan itu, Delvara pun datang dan heran kenapa Anji, anak Nadine menangis sekencang itu dan Nadine tidak terlihat berusaha menenangkannya.
"Anji,,,"
Delvara masuk dan mendekati Anji membuat Nadine terkejut.
"Del,,, sudah datang rupanya." ucapnya berbasa basi.
"Ada apa dengan Anji? Kenapa menangis sekencang ini? Dan kenapa kamu seolah tidak berusaha menenangkannya??" Delvara bertanya menuntut jawab.
Delvara sangat menyukai anak kecil dan sekaligus paling benci dengan wanita yang menelantarkan anaknya. Tiap kali ada berita berita seorang ibu tega membuang bayinya, emosi Delvara selalu terpancing.
Bukan tanpa alasan jika Delvara seperti itu, ia bisa dibilang tumbuh hanya dengan sang mama, Karin. Karena sang papa waktu itu sedang tidak berada dalam kondisi memungkinkan untuk bisa berkumpul dan turut membesarkannya. Delvara adalah sosok yang paling menyayangi mamanya karena ia tau benar seberapa berat perjuangan sang mama dulunya.
__ADS_1
Karenanya ia selalu heran jika di luar sana banyak para ibu ibu yang bisa dengan tega membuang bayi atau bersikap buruk pada anak anaknya.
"Ak,,, aku,,, aku tadi,,," Nadine gugup.
"Berhias diri??? Seperti inikah sikap ibu yang baik? Lebih mementingkan keperluan dirinya dulu dan mengabaikan putranya sendiri????" Delvara tidak bisa menutupi kemarahannya meski Anji itu bukan anaknya.
"Del,,, aku bisa jelasin." Nadine berusaha menenangkan Delvara.
"Ya,,, memang ada yang perlu kamu jelaskan. Apa ini???" Delvara menunjuk paha mungil Anji yang membiru bekas cubitan Nadine tadi.
Nadine terbelalak melihatnya. Ia sungguh tak menyangka akan sememar itu. Nadine segera putar otak untuk mencari alasan.
"Itu,,, itu tanda lahir Del. Ya,,, Anji memang punya tanda lahir di pahanya. Mungkin kamu kurang memperhatikan selama ini. Atau mungkin pas kamu datang, dia sudah pakai celana." kata Nadine.
Saat itu memang Anji hanya terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi belum berpakaian lengkap karena sang ibu masih sibuk berdandan ria.
"Oh ya??" alis Delvara naik sebelah menunjukkan bahwa dirinya tidak percaya.
Delvara hanya mengangguk dan memperhatikan gerakan Anji yang selalu kembali menangis kalau pahanya yang memar tersentuh. Delvara yakin itu bukan tanda lahir melainkan bekas cubitan. Delvara kecewa karena Nadine masih saja suka berbohong.
Singkat kata,, mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju sebuah restoran mewah yang rupanya sudah dipesan oleh Delvara. Untungnya Anji sudah tidak rewel lagi dan tertidur.
Melihat setting restoran yang sangat romantis, Nadine jadi besar kepala. Ia tau betul dan sudah sangat bisa menebak ada acara apa ini.
"Ini sih pasti acara Lamaran. Ya,, Del pasti akan melamarku di tempat romantis ini. Ah,,,jadi tidak sabar segera menerima lamarannya." batin Nadine berbunga bunga.
Pantas saja kan tadi Delvara memintanya memakai pakaian terbaiknya. Rupanya ini semua jawabannya. Delvara akan melamar Nadine. Nadine senyum senyum sendiri membayangkan kemenangannya ini.
"Hai,,," Zoya datang bersama Rodie dan juga Karin serta mbok Rati yang malam itu juga tak kalah cantik meski usianya sudah sangat tidak muda lagi.
"Tante,,, apa kabar?" Nadine maju menyalami dan menyambut sang calon mertua, Karin.
"Baik Nadine. kamu apa kabar? Mana anak kamu?" Karin selalu baik kepadanya dan makin membuat Nadine yakin ia akan diterima menjadi menantunya.
__ADS_1
"Itu tante lagi bobo. Oh ya tante, Nadine mau minta maaf atas sikap Nadine sebelumnya ya. Nadine tau Nadine salah. Tapi sekarang Nadine nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Nadine akan menerima dan menganggap tante seperti mama Nadine sendiri. Akan Nadine jaga dan rawat seperti mama sendiri."
Nadine mulai menebar janji manisnya mengingat dulu pernikahannya dengan Delvara sempat terus tertunda karena Nadine tak bersedia tinggal bersama Karin juga jika mereka sudah menikah.
"Terima kasih Nadine." Karin hanya tersenyum manis.
"Yuk tante,,," Nadine mengambil alih tangan Karin yang sedari tadi hanya digandeng oleh mbok Rati untuk diajak duduk di dekat kursinya.
"Tante duduk di sini saja sama si mbok." tolak Karin halus.
Nadine mengangguk dan tidak memaksa lagi. Lagipula juga ia tidak tulus mengajak Karin duduk di sebelahnya.
Meja yang sudah terpesan ini menyediakan 7 kursi. Ada Delvara, Zoya, Rodie, Karin, mbok Rati dan Nadine. Nadine heran kenapa Delvara memesan 7 kursi sedangkan mereka hanya ber 6. Siapa yang akan datang lagi??
Makanan yang dipesan juga sudah mulai berdatangan menunjukkan bahwa acara makan bersama sebentar lagi akan dimulai tapi kursi itu masih kosong dan seperti sengaja dikosongkan. Herannya lagi memang Delvara yang memintanya untuk tidak diduduki dan kursi itu ditempatkan di sisi kanannya.
Nadine yang duduk di sisi kirinya terus penasaran. Hingga akhirnya ketika semua sudah tersaji di meja,,, tiba tiba Delvara berdiri seolah menyambut kedatangan seseorang. Sontak semua mata tertuju padanya dan mengikuti arah tatapan mata Delvara.
"Kamu sudah datang. Ayo,,, ku kenalkan pada keluargaku." Delvara menyambut tamu specialnya.
"Halo semuanya." suara lembut gadis cantik itu sangat merdu di telinga semua yang mendengar.
"Mama,,,Zoya,,, dan semuanya yang ada di sini,,, Kenalkan, ini Maria, kekasihku, calon istriku. Aku mengundang kalian semua malam ini untuk menyaksikanku menyematkan cincin ini di jarinya."
Jika ada raut wajah bahagia dan terharu pada diri Zoya dan Karin,,,maka ada raut kemarahan di wajah yang lainnya. Nadine merasa sangat marah dan kecewa akan kejutan Delvara ini.
...\=\=\=\=\=\=...
...Kaget Nadine???...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1