Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Aku Lelah


__ADS_3

🌸Pov Zoya🌸


Airmataku yang serasa tak ada habisnya ini akhirnya menemui ujungnya juga. Aku, mbak Siska dan Rodie sudah sampai di tujuan. Seketika saja semua resah di dada menghilang begitu saja melihat timku di lapangan sudah menunggu kami. Antusias para warga yang sedianya akan mendapatkan bantuan dari kami juga menggugahku dari tangisan piluku.


Saatnya bekerja Zoya!!


Sedikit ku poleskan make up dan eye liner untuk menutupi sembab mataku. Minum beberapa teguk air putih agar aku merasa lebih tenang. Merapikan pakaian lalu bergegas turun.


"Terima kasih Rodie." ucapku pada lelaki baik yang sudah lama mengungkapkan perasaannya padaku namun belum pernah sekali pun ku iyakan.


"Siap? Yakin mau dilanjutkan? You feel better??" tanyanya kemudian.


"I am ok. Sudah di TKP nggak mungkin kan mau balik setir." ujarku sambil tersenyum meyakinkannya.


"Jangan senyum senyum gitu nanti aku makin cinta." bisiknya diiringi senyum tertahan mbak Siska yang ku tangkap basah.


"Rodie!!" sungutku pura pura marah.


"Peace." Rodie mengangkat dua jarinya yang berbentuk huruf V.


"Mbak Siska juga ini." tatapanku beralih pada sekretaris merangkap asisten pribadi pilihan kak Del untukku yang langsung menahan senyumnya itu.


Mbak Siska awalnya adalah sekretaris kak Del tapi kemudian kakak tersayangku itu merelakannya untuk mendampingiku.


"Maaf bu." ujarnya kemudian masih dengan nada paham apa yang sudah terjadi antara aku dan Rodie.


Yaahh,,, lelaki itu memang tidak pernah kenal kata menyerah. Meski dia tau aku ini masih terjerat status pernikahan yang menggantung, tapi dia tetap saja dengan percaya diri tingkat tingginya bilang akan menungguku sampai statusku jelas.


Tapi percayalah,,, aku tidak pernah punya niatan untuk mengerjainya dengan tidak pernah mengurus kejelasan statusku. Aku masih tetap aku yang dulu. Yang selalu takut akan sedihnya Tuhan jika ada hambaNYA yang bercerai.


Aku masih aku yang dulu,,,, yang tetap pasrah pada statusku. Aku selalu berharap bahwa mas Rajeshlah yang memutuskan hubungan dan status kami. Bukan aku.


Tapi beberapa menit lalu,,, saat ku tau bahwa yang kulakukan selama ini sia sia,, yang ku harap bisa ingat dan sadar apa yang harus dilakukan ternyata malah sudah lupa dan sudah membangun rumah tangga barunya dengan wanita bernama Alyssa itu.


Mas Rajesh bahkan tidak peduli dengan statusku yang masih tergantung padanya. Kenapa ia masih begitu suka mengabaikanku?? Dengan Alyssa,,, ia bisa bersikap begitu hangat, tapi padaku?? Mana pernah??


Hussttt Zoya,,, kenapa sepertinya nada bicaramu terdengar seperti protes dan tidak terima?? Kamu cemburu pada Alyssa??


Segera ku tepis jauh jauh semua isi kepalaku saat ini. Kulihat Rodie sudah bergabung dengan tim lapangan kami dan mulai antusias memberikan sepatah dua patah kata pembuka.


"Silahkan bu." Mbak Siska mempersilahkanku untuk menempati barisan di mana kami akan ikut membagikan beberapa bingkisan untuk mereka yang sudah hadir.

__ADS_1


Terlihat kerumunan dan barisan mulai kacau seperti ketakutan tidak akan mendapat bagian. Untungnya kemudian aparat keamanan mampu menertibkan mereka kembali. Itu membuatku tenang.


Hingga,,,


"Indah???"


Aku mendongak menatap pemilik suara yang memanggil nama lamaku itu. Mata kami beradu. Kami sempat terdiam beberapa saat. Diamku bukan apa. Sedang apa beliau di sini?? Ikut mengantri?? Yang benar saja?? Aku terpana sekaligus heran melihat penampilan mama mertuaku, Nyonya Rina.


Astaga,,, bahkan aku masih tak bisa mengubah panggilan Nyonya terhadapnya. Segitunya kah trauma di hati dan jiwaku terhadap keluarga itu??


"Kamu Indah kan??? Kamu menan,,,"


"Bu,,, bu Rina!! Ayo pulang!! Itu,,, Kata suamiku, Alyssa sudah lahiran. Ayo kita susul ke rumah sakit!!" seorang wanita sebaya dengan Nyonya Rina menariknya keluar dari barisan antrian para penerima bantuan sebelum Nyonya Rina menyelesaikan kalimatnya tadi.


"Apa?? Alyssa lahiran?? Kan belum waktunya??" Nyonya Rina tampak terkejut sekaligus heran dan juga cemas.


"Katanya dia ditabrak orang dan mengakibatkan dia pendarahan." ujar ibu ibu yang menariknya tadi.


Telinga ini masih tetap mendengarkan meski tanganku sibuk membagikan bingkisan pada antrian selanjutnya. Sumpah,,, fokusku hanya pada mereka berdua.


"Astaghfirullah!! Alyssa kecelakaan?? Ayo bu,, antar saya ke rumah sakit!!" pinta Nyonya Rina dan diiyakan oleh ibu ibu tadi.


Lalu dengan ekor mataku, bisa ku lihat mereka berdua pun pergi menjauh. Napasku tiba tiba berat dan dadaku sesak. Airmata yang semula mengering perlahan kini mulai membuat pandanganku mengabur.


*Zoya!!!


Kenapa masih terus punya semacam rasa iri pada Alyssa?? Mungkin wanita itu memang jauh lebih baik darimu yang tidak pernah berhasil membuat keluarga itu menerimamu. Apa kamu nggak dengar?? Bahkan mertuamu itu sudah pandai mengucap kalimat istighfar. Bukankah sudah jelas bahwa kehadiran Alyssa dalam keluarga mereka membawa perubahan baik untuk keluarga itu*?


Kamu bukan siapa siapa Zoya!! Berhenti meratapi nasib atau mengeluhkan keadaan. Bangkit dan tata masa depanmu!! Lihat itu!!! Lelaki baik yang setia menunggumu itu!! Tidakkah kamu ingin memberinya kesempatan?? Tidakkah kamu lelah membuatnya menunggumu??


Sudut hatiku memarahi otak kotorku yang dipenuhi rasa tidak terima dengan perlakuan mereka sebelumnya kepadaku. Sifat egois dan merasa diri sendiri paling baik berhasil merajai dan meracuni pikiranku untuk sesaat.


Setan pasti tersenyum menang saat ini, hmmm.


"Bu." mbak Siska menyenggol tanganku yang tak bergerak lagi.


"Eh,,, maaf. Ini pak. Semoga bermanfaat ya." ucapku pada lelaki tua yang pasti menungguku mengulurkan bagiannya.


Hmm,,, aku ternyata malah melamun tadi. Fokus Zoya!! Fokus!!


Sesi bagi bagi akhirnya selesai. Hari sudah semakin sore. Kami pun berkemas. Mbak Siska sibuk mengurus yang harus diurusnya sementara aku memilih duduk di bawah tenda portable yang sebentar lagi juga akan dibongkar.

__ADS_1


Aku membalas beberapa pesan singkat dari kakak tersayangku yang selalu tidak lupa menanyakan bagaimana jalannya acara berbagiku. Ku ketik semua cerita selain pertemuanku dengan mas Rajesh dan Nyonya Rina. Biarlah,,, yang itu nanti ku bahas di rumah saja.


"Indah."


Seketika aku menoleh dan sekali lagi aku dibuat terkejut dengan kedatangan Nyonya Rina. Bukannya tadi beliau ke rumah sakit ya? Kenapa tiba tiba di sini lagi??


"Nyo,,,"


"Tidak Indah. Jangan memanggilku begitu." ku lihat sudut mata wanita itu mulai basah.


Nyonya Rina menangis?? Apa benar?? Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan menantunya, Alyssa?


Perasaanku jadi kembali campur aduk. Terlepas dari setan yang selalu membuatku iri pada Alyssa, Aku masih tetap merasa bersalah karena telah ceroboh dan membuatnya celaka walau tak sengaja.


"Maafkan,,"


"Zo,,, ibu ini siapa?" Rodie datang menginterupsi perkataan nyonya Rina.


"Ini,,," aku bingung harus mengenalkannya sebagai apa.


"Ibu belum dapat bingkisan? Mari ikut saya." Rodie mengira beliau adalah salah satu penduduk yang ingin meminta bingkisan kami.


"Rodie,,, bukan. Ibu ini bukan datang untuk itu. Kenalkan, ini Nyonya Rina. Ibunya mas Rajesh." aku menegaskan nama itu dan mengangguk membuat Rodie berusaha mengingat dan untungnya lelaki cerdas itu cepat terkoneksi pikirannya.


"Oh,,, halo bu. Apa kabar?" sapanya ramah.


"Ba,,, baik." nyonya Rina sedikit gagap dengan pandangan menyelidik ke arah Rodie.


"Ini Rodie. Calon suami saya."


Mata basah itu seketika mengalirkan bulir bulir beningnya dan itu membuatku makin tidak paham apa sebenarnya yang membuat beliau menangis.


"Selamat. Kalau begitu,,, permisi." pamit beliau sambil menyeka airmatanya.


Aku dan Rodie saling bertatapan. Kami sama sama tidak mengerti tapi ya sudahlah. Lebih baik kami pulang. Hari ini cukup melelahkan bagi jiwa ragaku. Ku putuskan mengutus mbak Siska saja untuk kembali ke rumah sakit membesuk Alyssa.


Bukan tak mau menemuinya,,, tapi sudah tak mampu. Aku lelah. Sungguh teramat lelah.


...\=\=\=\=\=...


...Author juga lelah lembur lagi dan lagi 🥴🥴...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2