Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

"Benarkah kamu nggak inget siapa aku, Indah?" tanya Rajesh dengan mata menahan bendungan airmata yang sekali kedip saja dipastikan sudah jatuh berderai.


Zoya yang dipanggil Indah oleh Rajesh dengan harapan nama itu bisa membawa memori tentang Rajesh, nyatanya hanya menggeleng lemah.


"Nak, benar kamu sama sekali tidak mengingatnya?" Karin bertanya lembut sembari mengusap puncak kepala Zoya.


Zoya tetap menggeleng tanpa melepas tatapannya dari Rajesh. Rajesh merasa lututnya semakin lemas dan rasanya sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Rajesh terjatuh dengan posisi bersimpuh. Membuat semuanya terkejut kecuali Zoya.


"Begitu buruknya aku hingga kamu pun enggan mengingatku. Aku pantas mendapatkannya, Indah. Atau siapa pun dirimu saat ini. Aku memang pantas untuk tidak diingat. Aku hanya manusia tidak guna yang sebaiknya memang tidak pernah hadir dalam hidupmu." Rajesh terisak.


Hatinya terasa sakit mendapati kenyataan ini. Satu sisi ia menerimanya, namun sisi lain hati yang masih begitu menginginkan Zoya terasa berat menerima.


Makin sakit rasanya mengingat status di antara mereka yang masih sah sebagai suami istri. Dulu, rasanya ingin cepat cepat menceraikannya namun sekarang kenapa semua rasanya tidak semudah itu? Dulu memilih bertahan karena harta peninggalan kakek Wardoyo saja,sekarang bahkan rasanya semua itu sudah tidak jadi pertimbangan.


Rajesh hanya menginginkan Zoya yang nyatanya malah sama sekali tidak mengenalinya.


"Nak,,, coba pelan pelan mengingatnya." pinta Karin.


Karin meminta Zoya mengingat bukan karena beliau ingin Zoya kembali pada Rajesh melainkan Karin ingin anak dan menantunya itu bisa melanjutkan apa yang sudah terjalin dengan ingatan dan pikiran yang jernih tentunya. Entah mereka mau kembali merajut ikatan rumah tangganya, entah mau selesai saja, Karin menyerahkan semua keputusan di tangan Zoya.


"Ma,, aku tidak ingat sama sekali. Rasanya juga aku baru melihatnya sekali ini. Memangnya siapa dia? Sebegitu haruskah aku mengingatnya?? Sepenting apakah dia dalam hidupku ma hingga aku benar benar harus mengingatnya???"


Hati Rajesh serasa dikoyak koyak mendengarnya. Halus namun sukses meluluh lantakkan hati dan jiwanya. Lebih baik ia ditampar, dipukul atau bahkan dihajar sampai berdarah darah daripada harus mendengar pertanyaan polos Zoya tadi.


Rasanya Sakit tapi tak berdarah.


"Dia itu,,,Rajesh. Dia,,,"


"Rajesh,, atau siapa pun kamu, maaf. Aku tidak bisa mengingatmu. Jika sekiranya sebelum hari ini kita pernah punya suatu hubungan, jika aku pernah punya kesalahan kepadamu,,, aku minta maaf. Aku mohon kamu mengerti. Aku memiliki keterbatasan saat ini. Hanya kata maaf yang bisa ku berikan sekarang dan entah sampai kapan. Rasanya aku begitu bahagia hanya dengan mengingat siapa orang tuaku dan saudaraku serta wanita baik itu."


Zoya dengan cepat memotong bicara Karin yang sedianya akan mengatakan siapa sebenarnya Rajesh. Zoya malah menegaskan bahwa ia sudah bahagia bersama Karin, Delvara dan juga mbok Rati.

__ADS_1


"Maaf,,, Aku merasa cukup bahagia bersama mereka saja. Dan siapa pun kamu, carilah kebahagiaanmu sendiri. Kamu berhak bahagia meski itu tanpaku." kembali Zoya bicara dan kembali Rajesh berurai airmata.


Dunianya serasa hancur berkeping keping. Tidak bisa dipungut dan diperbaiki lagi. Luluh lantak.


"Nak,,, Mama menghargai apa pun keputusanmu. Tapi mama harap kamu tidak gegabah mengambil keputusan. Kamu belum pulih sepenuhnya. Semua juga tidak semudah itu. Kalian itu adalah,,,"


"Aaaawww,,," Zoya memegang kepalanya dan terlihat kesakitan.


"Zoya,,, kamu kenapa nak? Apanya yang sakit??" Karin panik.


"Mbok,,, panggil dokter." titahnya kemudian ketika Zoya tiba tiba pingsan.


Mbok Rati panik namun masih bisa berpikir dan ingat bahwa memanggil dokter cukup dengan tombol darurat itu. Segera ditekannya berulang ulang.


"Ma,,, Zoya kenapa ma??" Rajesh ikut panik dan berdiri mendekati brankar Zoya.


"Tidak tau. Biar dokter memeriksanya dulu." sahut Karin tanpa menoleh.


Dokter dan timnya pun kemudian datang. Seperti biasa mereka akan meminta pihak keluarga keluar dulu untuk memberi ruang mereka mengerjakan tugasnya.


"Ini gara gara den Rajesh!!" teriak mbok Rati tiba tiba sembari menuding Rajesh.


Mbok Rati begitu tidak bisa menahan diri dan emosinya hingga terlontar begitu saja kata kata seperti itu. Anehnya, Rajesh hanya terdiam menunduk tak melawan atau pun sakit hati sama sekali diperlakukan demikian oleh mantan pembantunya.


"Husst mbok, nggak boleh ngomong gitu." Karin mengingatkan.


"Cah ayu,,, kalau bukan karena den Rajesh masuk dan memaksa nduk Indah untuk berpikir keras mengingatnya, pasti nduk Indah baik baik saja." mbok Rati sudah mulai menangis bersedih untuk Zoya.


"Tetap saja mbok, nggak boleh bicara begitu. Sungguh segala sesuatu yang terjadi itu sudah suratan dariNYA. Sebaiknya kita sama sama berdoa untuk Zoya ya mbok." Karin tetap berusaha menenangkan mbok Rati.


Bukan Karin tidak bersedih dengan yang terjadi lagi pada Zoya. Bukan juga tidak mencemaskan Zoya. Namun Karin lebih memilih berserah diri kepadaNYA. Berusaha sebaik baiknya bertindak. Dan sebisa mungkin tidak menyalahkan pihak pihak mana pun karena Karin merasa tidak sebaik itu untuk menilai keburukan manusia lainnya. Baik dan buruknya biar Rabbnya yang menentukan.

__ADS_1


"Maafkan Rajesh, ma. Semua yang dikatakan mbok Rati memang benar adanya. Ini semua terjadi karena kedatangan Rajesh. Seandainya Rajesh tidak memaksa masuk dan membuat Zoya berpikir keras, mungkin saat ini dia tetap tersenyum bersama kalian." lirih Rajesh.


"Sudahlah. Berdoa saja untuknya ya." ujar Karin.


Rajesh mengangguk meski dalam hatinya tetap tak bisa memaafkan diri sendiri yang secara tidak langsung pastinya jadi penyebab kondisi Zoya kembali drop.


"Selamatkan dia Tuhan. Dia berhak untuk tetap hidup dan bahagia. Kalau pun masih ada sisa derita, berikan saja kepadaku. Biar aku yang menanggungnya. Aku rela berbagi penderitaannya. Sudah cukup lama ia menderita, jangan lagi kau bebankan derita lainnya."


Rajesh berdoa dengan tulus untuk Zoya. Mengabaikan kebahagiaannya sendiri dan ini untuk pertama kalinya Rajesh mengharapkan hal baik untuk orang lain.


"Bangunlah kembali Zoya. Hiduplah. Aku masih ingin melihat senyummu. Aku masih ingin berjuang untukmu. Mendapatkan kembali hati dan cintamu yang saat ini masih terjebak bersama ingatanmu. Aku tidak ingin menyerah secepat ini, istriku. Bangunlah. Suamimu memerintahmu." batin Rajesh.


Bersamaan dengan itu dokter keluar dari ruangan Zoya.


"Pasien sudah sadar. Tapi saya minta jangan diganggu dulu. Biarkan dia istirahat dulu."


"Alhamdulillah." semua mengucap syukur.


"Adik saya kenapa dok??" Delvara yang sudah ditelpon oleh Karin datang tergopoh gopoh dan langsung mempertanyakan kondisi Zoya.


"Ingatannya jangan terlalu dipaksakan. Dia memang sudah ingat, tapi sepertinya tidak semuanya. Antara memang begitu adanya, atau sebagian dari dirinya menolak untuk mengingat. Jangan dipaksa. Pelan pelan saja. Jauhkan dari hal hal atau dari siapa pun yang mungkin membuatnya terluka atau pernah membuatnya mengalami trauma."


Dokter berpesan kemudian pamit. Meninggalkan semua yang kini menatap tajam pada Rajesh.


"Apa kamu sudah cukup sadar diri untuk pergi dari sini tanpa kami usir??" sindir Delvara.


Rajesh menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan berat hati, ia pun mengangguk kemudian melangkah pergi dengan hati dan kaki yang berat pula.


...\=\=\=\=\=...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2