
Rodie turun dari mobilnya dengan senyuman mengembang. Hatinya makin berbunga bunga mendekati hari pernikahannya dengan Zoya. Rasanya penantian panjang bertahun tahunnya akan segera usai.
Sudah diterima memang lamarannya oleh Zoya, sudah bisa dibilang usai memang penantiannya selama ini,,, tapi bagi Rodie apa pun masih bisa saja terjadi. Rodie hanya akan merasa penantiannya usai jika buku nikah sudah ada di tangan.
"Kok senyum senyum gak jelas gitu sih?" tegur Zoya, sang calon permaisuri hati Rodie yang rupanya sudah lebih dulu membuka pintu rumahnya.
Mereka memang ada janji untuk keluar membeli cincin pernikahannya. Persiapan sudah mencapai angka 80%. Lumayan susah untuk bisa menyamakan jam kerja dan kesibukan mereka mengingat keduanya adalah orang orang dengan kesibukan tinggi.
"Bukan senyum gak jelas tapi senyum gak betah." jawab Rodie yang kini sudah berdiri tegak di depan Zoya.
Bisa Zoya cium bau wangi parfumnya dan bahkan bau rambutnya yang memang selalu rapi dan wangi itu.
"Gak betah??" tanya Zoya heran.
"Iya gak betah. Gak betah mau halalin kamu." Rodie melepas kacamatanya sembari mengerlingkan sebelah matanya.
"Genitnyaaa,," sungut Zoya sambil memukul pelan lengan Rodie.
"Awww,,, lagi dong." goda Rodie.
"Isshh,,, mau terus dipukul apa mau beli cincin nih?" tanya Zoya.
"Maunya langsung nikahin kamu gak pakai lama. Pingin cepat punya anak banyak sama kamu. Mmm berapa ya,,, 8? 10? Apa 12 sekalian enaknya ya??" Rodie mengetuk ngetukkan jemarinya di dagunya terlihat berpikir.
"Ihh,,, dasar warga negara yang tidak baik. Pemerintah menggencarkan program 2 anak cukup malah dia mau punya anak 12." sungut Zoya membuat Rodie tak bisa menahan tawanya melihat wajah Zoya yang selalu menggemaskan baginya.
"Maunya kan 11, Zo. Biar pas untuk kesebelasan sepak bola. Tapi kan butuh pemain cadangan juga. Jadi 12 atau 13 ok lah. Aku pasti sanggup kok. Staminaku akan selalu ku jaga." kini Rodie menekuk kedua tangannya ke atas hingga menunjukkan otot kekar lengannya.
"Iihh mesummm,,," Zoya memukul mukul dada Rodie yang selalu suka menggodanya itu.
Jangan lupa,,,meski pernah menikah dengan Rajesh, tapi Zoya masih suci. Rajesh belum pernah menyentuhnya di ranjang. Jadi jangan heran kalau obrolan seperti ini saja mampu membuat pipi putih Zoya auto bersemu merah.
"Yee anak gadis malu yaa??" Rodie tak pernah lelah menggodanya.
Zoya hanya mencebik kesal dibuatnya.
"Kamu apain lagi anak mama ini nak Rodie? Lihat tuh pipinya sampai kayak kepiting rebus." Karin muncul dan ikut menggoda putrinya.
"Mamaaa,,," pekik Zoya semakin malu.
"Hehehe,,, sudah sana kalian berangkat dulu. Jangan sampai kakakmu marah karena pernikahannya ikut tertunda demi menunggu kalian yang belum sempat sempat beli cincin." ujar Karin mengingatkan.
"Hehehe,,, iya tante. Kami pamit dulu ya." Rodie menyalami dan mencium punggung tangan calon mertuanya.
"Hati hati. Titip Zoya ya. Jangan dibelikan permen atau balon kalau ngambek. Belikan saja kentang goreng."
"Siap tante. Dinaikin odong odong juga bisa nanti." sahut Rodie
__ADS_1
"Mamaaa,,, Rodieee,,," Pekik Zoya sekali lagi karena baik sang mama dan calon suaminya paling suka menggodanya.
"Hahaha,,," Rodie menggandengnya menuju ke mobil sambil tetap tertawa meski terus dicubiti pinggangnya oleh Zoya.
Keduanya pun pergi menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang juga terdapat banyak toko perhiasan di sana. Keduanya memilih tempat itu agar sekali pergi bisa dapat banyak pilihan tempat. Tidak perlu kesana kemari lagi. Libur bersama hari ini memang dikhususkan untuk membeli cincin pernikahan.
"Silahkan pilih."
Rodie mempersilahkan ketika mereka sudah sampai di toko pertama. Zoya pun mengangguk dan matanya mulai memperhatikan satu persatu detail perhiasan yang menyilaukan mata itu.
"Nggak ada." ujar Zoya manja setelah puas memilih.
"Ok, kita ke toko selanjutnya." jawab Rodie sambil sebelumnya mengucapkan terima kasih sudah dilayani oleh pelayan tokonya.
Mereka lantas melanjutkan kegiatan hunting cincinnya ke toko kedua, ketiga, ke empat dan selanjutnya.Rodie dengan setia mendampingi Zoya. Memberikan komentar demi komentar jika memang Zoya memintanya.
"Ini bagus deh." akhirnya ada yang memikat hati Zoya.
"Kamu suka?"
Zoya mengangguk dan tersenyum. Rodie pun segera meminta pelayan mengurus sisanya. Sambil menunggu, Rodie mengatakan sesuatu pada Zoya.
"Terima kasih mau menjadi istriku, Zo."
"Sebenarnya sih terpaksa." Zoya malah menggodanya.
"Apa? Kamu ngomong apa?" tanya Zoya.
Ruangan toko yang ramai pengunjung memang mengharuskan mereka bicara lebih keras agar bisa didengar oleh lawan bicara.
"Hah???" Rodie gelagapan.
"Ngomong apa kamu tadi. Aku nggak dengar."
"Cincinnya sudah selesai, Zo. Yuk ke toko selanjutnya." Rodie mengalihkan perhatian Zoya.
"Ke mana lagi? kan sudah dapat cincinnya. Kenapa ke toko lain lagi?" tanya Zoya heran.
"Aku punya sesuatu untukmu di sana. Udah ah ayo." Rodie segera menggandeng Zoya dan membawanya ke toko lainnya.
Rupanya Rodie telah memesan sebuah set kalung dan liontinnya khusus untuk Zoya. Ada sebuah berlian kecil mengkilap yang dipercantik dengan inisial huruf R dan Z yang dirangkai sedemikian indahnya untuk menjadi liontinnya.
"Untuk wanita terkasihku." Rodie mengangkat kalung itu dan memposisikannya di depan leher Zoya.
"Rodie,,, ini cantik sekali. Ada namaku dan namamu." ucap Zoya.
"Boleh ku pakaikan?" Rodie meminta ijin.
__ADS_1
Zoya mengangguk dan menyingkap rambutnya dengan tangannya. Memudahkan Rodie untuk memakaikan kalung itu di lehernya.
"Terima kasih Rodie." Zoya memegangi liontin itu dan melihatnya lewat pantulan cermin.
"Semoga dengan melihatnya, selamanya kamu tetap ingat bahwa ada seorang Rodie yang pernah begitu mencintaimu. Rela menunggumu tak peduli berapa lama itu." ucap Rodie di belakang Zoya sama sama menghadap cermin yang sama.
Dari pantulan cermin itu bisa Rodie lihat senyum Zoya mengembang. Zoya terlihat sangat menyukai kalung itu.
"Tanpa kalung ini pun juga aku akan tetap mengingat perjuanganmu. Lagipula setelah ini kan kita akan hidup bersama. Kamu, aku dan ke 13 anak kita itu,,," ucap Zoya sambil menekuk wajahnya manja pertanda ia hanya menggoda Rodie tentang jumlah anak yang diinginkan Rodie.
"Hehehe,,, Semoga saja waktuku cukup." lirih Rodie.
"Apa?" Zoya tidak mendengarnya.
"Mmmm,,,,"
"Zoya?? Zoya kan??" seseorang menyelamatkan Rodie dari pertanyaan Zoya.
"Alyssa???" mata Zoya membulat melihat siapa yang tengah berdiri di sampingnya sama sama mematut diri di cermin.
"Sedang belanja juga?" tanya Alyssa.
"Iya. Tapi sudah selesai sih ini. Kamu apa kabar?" Zoya berbasa basi meski sebenarnya enggan berlama lama karena tak ingin bertemu Rajesh.
"Baik. Kalian lagi beli apa?" tanya Alyssa.
"Cincin pernikahan kami." Rodie yang menjawab.
"Wah sama. Aku juga. Di sini katanya paling bagus koleksi untuk cincin pernikahan." mata Alyssa berbinar dan menyisakan tanya di hati Zoya.
"Bukannya kalian sudah menikah? Mengapa membeli cincin lagi?" Rodie mewakili Zoya.
"Siapa? Kami belum menikah. Mas,,, sini." Alyssa memanggil Ferry.
"Kenalkan, calon suamiku. Mas Ferry." Alyssa sangat percaya diri mengenalkan Ferry pada Zoya dan Rodie.
"Lho?? Rajesh?? Bukannya dia suamimu?" tanya Rodie lagi seolah paham semua itu juga ingin dipertanyakan oleh Zoya.
"Mereka tidak pernah menikah. Dia orang baik yang menampung dan merawat anak istriku." kini Ferry yang menjawab.
Jawaban itu cukup merusak suasana hati Zoya. Serpihan rasa yang semula ditekan sedemikian rupa kini mulai kembali menggelora.
...\=\=\=\=\=...
...Jadi bagaimana? Rodie apa Rajesh aja nih buat Zoya??...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....