Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Terciduk Dan Pasrah


__ADS_3

"Ouhhh,,, ahhh,,, iya bener disitu sayang,,, ouhhh,,, Enak banget sayang. Kamu emang paling pinter nyenengin aku. Oouuhh,,, terusss sayang,,,"


Papa Gunawan memicingkan mata dan menempelkan telinganya di daun pintu kamar utama rumah itu yang selama ini menjadi kamarnya dan Nadine.


Suara suara itu kembali terdengar dan papa Gunawan yakin itu suara Nadine. Nadine yang sepertinya tengah dilanda kenikmatan yang sangat memuaskannya.


Tapi pertanyaannya,,, siapa yang memuaskannya??


"Nadine sama siapa? Harusnya lenguhan indah seperti itu hanya terjadi saat bersamaku. Apa mungkin dia main tangan sendiri?? Ahh,,, mana mungkin? Aku kan masih ada. Dia tinggal memintanya saja." batin papa Gunawan heran.


"Enak kan?? Mana lebih perkasa,,, aku atau bandot tuamu itu??"


Kali ini mata papa Gunawan mendelik sempurna. Jelas jelas ia dengar ada suara lelaki di dalam sana sedang menanyai Nadine tentang siapa yang lebih perkasa.


"Siapa dia?? Bandot tua?? Aku maksudnya???" gerutu papa Gunawan kesal.


"Ya kamu dong sayang. Bandot tua itu cuma perkasa kalau dikasi obat penguat saja. Kalau tidak ya letoy. Udah kayak terong kukus saja. Mengkerut dan buruk. Kalau punya kamu ini kan memang gagah dari sananya."


Sekali lagi papa Gunawan dibuat mendelik mendengar sendiri Nadine, istrinya malah memuji milik lelaki yang saat ini tentu sedang nangkring dengan gagahnya di atas tubuh dan perut buncitnya.


Ya,,, Usia kehamilan Nadine sudah menginjak angka 7 bulan akhir, sebentar lagi juga sudah masuk bulan ke 8. Dan anehnya, di masa masa seperti itu ia malah menghabiskan waktunya bersama lelaki lain di saat papa Gunawan tengah bekerja mencarikan nafkah untuknya.


"Kurang ajar!!!"


Mengingat dalam perut Nadine saat ini ada benihnya, emosi papa Gunawan meledak. Beliau tidak rela jika anak itu juga harus bertemu dengan terong milik orang lain. Apalagi kalau sampai kena pupuk kentalnya juga.


"Oouuhhh iyaa sayang. Keluarin semuanya. Aku haus sayang. Anak kita kangen sama ayahnya. Sirami dia sayang. Oouhhh,,, yang banyakkkk. Yang dalam aaarrgghhh aku juga keluar sayang."


Baru saja dibayangkan malah sudah kejadian. Dari racauan Nadine tadi sudah jelas bisa dipahami bahwa mereka telah sama sama mencapai puncak kenikmatannya dan tengah sama sama menikmati pelepasannya.


"Keluar di dalam,,, Sirami anak kita,,, Apa?? Anak kita???"


Pikiran papa Gunawan tentu terusik dengan kata kata itu. Papa Gunawan tak bisa lagi berdiam diri. Beliau pun mengintip dari celah pintu yang rupanya tidak menutup dengan sempurna.


Terlihat olehnya mereka berdua masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang dan lelaki yang dari penampilannya saja terlihat masih sangat muda dan gagah dibanding dengan papa Gunawan.

__ADS_1


Lelaki yang ditaksir seumuran dengan Nadine itu terlihat tengah mengecup mesra kening Nadine lalu mencium perut buncitnya juga. Cemburu menguasai papa Gunawan seketika.


"Apa apaan ini???"


Papa Gunawan membuka pintu dan membuat kedua insan polosan yang sedianya akan berpelukan, menjadi terlonjak kaget.


"Daddy???" mata Nadine membulat dan tampak heran melihat kedatangan papa Gunawan.


Hanya heran, bukan takut sudah keciduk.


"Kenapa?? Heran aku datang? Siapa lelaki ini dan kalian,,, Apa apaan ini?? Pakai bajumu Nadine!!!" bentak papa Gunawan.


"Oh ini,,, Ferry. Papanya anak ini." Nadine dengan santai malah memperkenalkan siapa lelaki muda itu sebagai ayah biologis dari bayi yang dikandungnya.


Hal itu tentu membuat si lelaki muda yang tadinya sempat pucat wajahnya, jadi kembali bisa tersenyum menang. Bahkan dengan santainya lelaki itu bangkit dan melenggang masuk ke kamar mandi. Hendak membersihkan diri.


"Nadine!!! Dan kamu!! Berhenti di situ!!!" bentak papa Gunawan kesal.


Lelaki itu mengurungkan langkahnya. Menoleh sesaat pada Nadine seolah meminta pendapatnya ia harus bagaimana.


Papa Gunawan terperangah mendapati Nadine yang balik membentaknya bahkan mengancam akan mengusirnya seperti mengusir Rajesh dan mama Rina beberapa bulan lalu.


"Nadine,,, kamu sadar apa yang kamu ucapkan??" tanya papa Gunawan.


"Ya sadar dong. Rumah ini kan udah jadi milik aku. Semua aset juga atas namaku. Kamu cuma gembel yang ku beri kesempatan menumpang hidup selama ini." sinis Nadine membuat lelaki muda itu makin jumawa dan merasa menang.


Ia pun kembali naik ke ranjang dan merangkul tubuh polos Nadine serta meraba raba semua yang mampu dijangkaunya.


"Lepaskan tangan Kamu bajingannn!!!" papa Gunawan sangat emosi melihatnya apalagi melihat ekspresi Nadine yang malah sangat menikmati sentuhan sentuhan itu.


"Apa???Bilang sekali lagi!!" tantang Nadine kesal.


"Nadine,,, kamu itu istri daddy!! Bagaimana mungkin kamu berbuat seperti ini di depan mata daddy. Dan anak itu,,,"


"Anak Ferry. Ya kali aku mau dihamilin kakek kakek sepertimu?? Ngaca dong!!! Aku tuh selama ini mau sama kamu karena cuma mau hartamu. Anakmu itu udah bikin pacar kaya rayaku memutuskanku. Membuat aku kehilangan aset berhargaku. Jadi,,,apa salahnya kalau aku memanfaatkanmu?? Kamu dan kekayaanmu jadi penggantinya. Dan sekarang,,,karena kamu sudah lihat sendiri, ya sudah. Sekalian saja aku kenalkan siapa ayah biologis anakku."

__ADS_1


Bicara Nadine makin membuat telinga papa Gunawan panas. Dengan mudahnya Nadine bicara seperti itu dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia bahkan menyalahkan Rajesh atas kandasnya hubungannya dengan Delvara yang nyata nyata juga akibat perbuatannya sendiri juga.


"Pak tua,,, sebaiknya anda tau diri. Kemasi barangmu dan pergilah. Kamu sudah habis masa bakti di sini. Saatnya pensiun meniduri pacarku. Selama ini aku sudah baik lho memberimu bagian." ujar Ferry dengan santainya.


"Diam kamu bajingannn!!!" bentak papa Gunawan.


"Heh!! Udah bagus gue baik sama lo ya pak tua!! Jangan makin ngelunjak ya!!" Ferry mulai hilang kesabaran dan bangkit dari ranjang mendekati papa Gunawan.


"Mau apa kamu??" tanya papa Gunawan sedikit ngeri melihat kedua tangan Ferry sudah mengepal kuat siap meninju kapan saja.


Papa Gunawan dengan tubuh tuanya dan perut membuncit khas pria berumur tentu ngeri juga didekati lelaki muda kekar lengan dan kotak kotak perutnya berjumlah enam,,, lengkap dengan mata dan wajah marahnya dan kedua kepalan tangannya.


"Sekali lagi saya tanya!! kamu mau,,,,"


Buughh,,, Bugghh,,, Bughh,,,


Belum selesai papa Gunawan bicara, tinju Ferry sudah melayang dan bertengger di mulut serta beberapa bagian wajah dan tubuh papa Gunawan.


Mendapati serangan bertubi tubi seperti itu tentu membuat papa Gunawan sempoyongan. Papa Gunawan ambruk seketika dengan darah segar mengalir dari bagian bagian wajah yang terdapat luka menganga akibat kerasnya pukulan Ferry dan mungkin terluka akibat cincin yang dipakai Ferry.


Papa Gunawan mengerang kesakitan. Pandangannya juga mulai mengabur. Namun telinganya masih bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Nadine selanjutnya.


"Syukurin!! Makanya sadar diri. Udah tua gak usah belagu!!! Buang saja dia di pinggir hutan sayang. Biar di makan binatang buas sekalian." titah Nadine pada Ferry.


"Ok. Udah saatnya kita hidup bahagia tanpa bayang bayang bandot tua ini. Kekayaan ini semua sudah jadi milik kita. Akan ku gantikan posisinya besok di kantor." sahut Ferry dengan senyum puasnya.


Papa Gunawan tak mampu berbuat apa pun selain pasrah membiarkan tubuh lemasnya diseret Ferry lalu matanya ditutup kain sebelum Ferry memasukkannya ke bagasi mobilnya.


...\=\=\=\=\=...


...Hai sayang sayangku,,, Othor mo pamit libur up dulu ya untuk beberapa hari ke depan karena othor lagi sibuk menyiapkan semua keperluan untuk acara tahlilan setahun meninggalnya ibunda othor. Mohon berkenan mengirimkan Al Fatihah juga buat ibunda othor ya bagi readers muslim 🙏...


...With love, ...


...Author....

__ADS_1


__ADS_2