
Sesampainya di kantor ia langsung menemui Galang di ruangannya dengan melewati meja kerja Mawar yang ada di depan ruangan Galang.
"kenapa Gilang terlihat sangat buru-buru sekali" gumamnya penasaran sembari memeriksa File yang sedang di pegangnya.
Gilang yang sedang bekerja di kagetkan oleh Gilang yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aura wajahnya yang selalu saja marah tidak membuat Gilang heran lagi, lalu Galang pun bertanya sedang apa Gilang di kantornya.
"Apa yang membuatmu datang ke sini tanpa menghubungi ku terlebih dahulu?" katanya dan menghentikan pekerjaannya lalu menutup laptot nya.
"Apa aku kau anggap klien, sampai aku harus membuat perjanjian dulu untuk bertemu dengan mu hebat sekali dirimu!!" katanya kesal.
" apa bicara ku membuat mu tersinggung sampai kau harus semarah ini? apa masalah mu?" Galang bertanya kembali dan mendekati Gilang langkah demi langkah.
"tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang kamu lakukan sehingga Ibunya Putri terlihat sangat membenci ku" lanjutnya dengan nada tinggi sampai obrolan mereka terdengar Oleh Mawar dari luar.
Galang pun menceritakan semua nya, pertama dari perasaan nya untuk Putri, lalu Putri menyuruhnya untuk menerima perasaan kakak nya sampai akhirnya di benci oleh Zahra karena mengira ia dari keluarga miskin, kemudian ia di hina dan di usir pada saat itu. Gilang yang mendengar penjelasan tersebut tiba-tiba saja memikirkan kembali tentang perasaannya pada Putri.
__ADS_1
"aku tidak ingin mempunyai mertua seperti itu yang hanya menilai orang dari luarnya saja" katanya dan karena kesal Gilang sampai memukul meja kerja Galang dengan sangat keras hingga tengah-tengah jari nya terluka. Lalu Galang meminta tolong kepada Mawar untuk segera mengambilkannya Obat untuk Gilang kemudian ia mengobatinya.
"Itulah yang terjadi Gilang, Ibunya memandang rendah diri mu tetapi aku sangat mencintai Putri untuk itu aku akan menjelaskan semuanya dan ku pastikan Ibunya pasti bisa menerima ku" katanya sembari mengikat perban pada tangan Gilang yang habis di oleskannya dengan obat merah.
Gilang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Galang yang lebih mengutamakan cinta nya di bandingkan harga dirinya dengan sikap Galang yang semakin membuatnya kesal akhirnya ia pun keluar dari ruangan Galang tanpa pamit dan menutup pintu nya dengan kencang.
"Dasar pemarah profesi nya Guru tetapi tidak punya sopan santun sama sekali" Kata Mawar kesal melihat sikap Gilang. saat ia hendak keluar dari kantor dan akan pulang ke rumahnya tiba-tiba saja Gilang di telpon oleh Ibunya. Indah memintanya untuk segera pulang agar menemani mereka bertemu dengan Zahra dan suaminya untuk membicarakan kelanjutan perjodohan antara Ratu dan Galang. Gilang pun segera pulang dan beberapa saat kemudian ia pun sampai di rumah nya dan terlihat kedua orang tuanya sedang menunggu kedatangan nya. Ia pun membantu membukakan pintu mobil untuk kedua orang tuanya. Saat Indah hendak masuk kedalam mobil ia pun melihat tangan Gilang di perban dengan kain putih iapun menghentikan langkahnya lalu bertanya!
"tanganmu kenapa Lang?" katanya namun Gilang menjawabnya " tidak apa-apa mah".
"mas Jalal, Zahra kenalin ini anak saya Gilang" mendengar itu Zahra merasa tidak percaya kalau selama ini ia sudah menghina anak sahabatnya sendiri dengan rasa penuh malu dan menyesal ia sampai tidak bisa tersenyum dengan benar dan tenang.
"oh jadi nak Gilang ini anaknya kalian?" katanya dengan sikap yang selalu kelihatan salah tingkah..
"iya, saya Gilang yang pernah kau hina dan kau usir, dan ingat aku tidak sudi kalau kakak ku Galang sampai menikah dengan anak mu apalagi yang bernama Ratu itu." sahut Gilang sangat marah sampai menunjuk dirinya.
__ADS_1
"Gilang!! kamu yang sopan nak" kata Indah sembari menurunkan tangan Gilang yang menunjuk Zahra.
"jangan ajarkan aku sopan santun bu, tetapi ingat kan sahabat Ibu ini bagaimana cara menghargai orang lain". lanjut Gilang dan dia pergi meninggalkan mereka dengan amarahnya yang membara, di dalam perjalanan pulang ia membawa mobil dengan sangat kencang di tambah pikiran yang sedang kacau membuat nya hampir kehilangan kendali. Ia hampir menabrak mobil Rudra yang hendak membawa ayahnya kerumah sakit karena penyakitnya kumat lgi. Rudra menghentikan mobilnya dan menghampiri mobilnya Gilang lalu memaksa Gilang untuk keluar dari mobilnya, Rudra memperingati Gilang untuk lebih berhati-hati tetapi Gilang malah nyolot dan mendorong Rudra yang sedang memegang leher baju nya. Rudra merasa sangat marah lalu ia pun kembali mendekati Gilang dan ingin memukulnya, tiba-tiba saja Putri yang hendak pergi ke sebuah warung itu datang dan mencegah mereka.
"Berhenti!!! Rudra apa yang kamu lakukan sikap mu seperti orang yang tidak pernah di ajarkan sopan santu apa dengan memukulnya kau akan merasa puas?" kata Putri dengan berusaha melepaskan tangan Rudra dari kerah bajunya Gilang dengan satu tangan kirinya dan melihat kejadian itu seolah Rudra lah yang bersalah.
"kau tidak apa-apa" tanya Putri kepada Gilang lalu mambatu nya masuk ke dalam mobil dan menyuruhnya untuk segera pulang. kemudian Rudra pun melepaskan nya lalu pergi tanpa mengatakan apapun dan melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit, beberapa saat kemudian ia pun sampai di rumah sakit, dan ayahnya langsung di tangani oleh Dokter-dokter pilihan yang di percayai oleh keluarganya sejak dulu. setelah di periksa, salah satu Dokter pun keluar dari ruangan tersebut dan memberitahukan kabar buruk.
"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" Rudra bertanya.
"maaf Rudra bersabarlah, kami sudah berusaha sebaik mungkin namun ayahmu kini telah tiada, kau terlalu lama membawanya ke rumah sakit hingga ayahmu tidak bisa tertolong" kata Dokter sembari menepuk bahu Rudra dan menguatkannya .
"Ini tidak mungkiiiiinnnnnn" ia berlari memasuki ruangan ayahnya sambil menangis dan menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya yang terbaring kaku.
"jangan tinggalkan aku sendirian ayah...bangun! cukup wanita itu yang meninggalkan ku jangan dirimu lagi ayah, aku mohooooonnnn" Rudra tak hentinya menangis ia pun berusaha kuat dan membawa jenazah ayahnya pulang karena hari pun sudah larut malam maka ia pun menunggu besok untuk memakamkan ayahnya. Rasa marahnya terhadap Gilang kian memuncak andai saja ia tidak menghalangi perjalanan nya mungkin nyawa ayahnya dapat tertolong. Dan iapun marah kepada Putri yang sudah menyalahkannya dan membela Gilang yang sudah jelas-jelas bersalah. Rudra pun tertidur di samping mayat ayahnya dan di antara orang banyak yang sedang mendoakan kepulangan ayahnya,sambil memeluk fotonya. Malam pun berlalu dan ia bersiap-siap untuk mengantar ayahnya ke tempat peristirahatnya yang terakhir. dengan mata yang masih lembab karena menangis dan ia berjalan dengan langkah kaku yang tertatih-tatih dengan rasa penyesalan yang tiada akhir karena ia terlambat membawanya ke rumah sakit "maafkan aku ayah" kata nya dalam hati.
__ADS_1