Aku Pernah Hancur

Aku Pernah Hancur
Bab 86. makan siang pun berlangsung di rumah Rudra dan Putri.


__ADS_3

sementara hari sudah mulai siang, terik matahari pun sudah terasa sangat panas,, Risma melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan jam 11.30 Ia pun menengahi pembicaraan mereka yang sedang asyik mengobrol dan berkata sekarang waktunya jam makan siang. akhirnya mereka semua pun melangkah menuju meja makan di sebelah dapur sana namun beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dari depan rumah Risma pun pergi untuk melihatnya ternyata Rindu yang baru saja sampai di sana, Rindu pun mencium ujung tangan Risma lalu ia mempersilahkan Rindu masuk dan ikut makan siang bersama mereka.


"jujur saja Bu aku merasa malu jika harus makan siang bersama kalian semua" ucap Rindu merasa tidak enak.


"kenapa kau harus malu? aku yang mengundang mu kan?" lanjut Risma.


"maksudku mereka semua kan keluargamu, tapi aku bukan siapa-siapa kalian " ucap Rindu menghentikan langkahnya.


"tidak apa-apa!! ayo segera masuk karena kita akan segera makan siang" ucap Risma merangkul Rindu sembari berjalan menuju meja makan.


setelah sampai di meja makan Risma pun memperkenalkan Rindu kepada semua orang yang ada di sana, dengan muka terkejut dan merasa tidak percaya Mawar terbangun dari tempat duduknya dengan pandangan tajam terhadapnya, Risma yang melihat ekspresi wajah dari Mawar pun mengatakan mengapa ia sampai melirik Rindu seperti itu. kemudian Mawar berkata kalau ia sebelumnya sudah mengenal Rindu karena ia lah yang sempat menolong dan merawat Fajar sampai sembuh sewaktu kecelakaan pesawat waktu itu.


Risma yang mendengar ucapan Mawar itu makin merasa kalau Rindu adalah seorang perempuan baik-baik iya sangat mempunyai sifat keprimanusiaan" gumamnya. sementara ia tidak mengetahui bahwa sebelumnya Rindu sangat tergila-gila pada Fajar namun Mawar tidak membahas masalah itu karena situasinya tidak memungkinkan lalu Risma pun mempersilahkan Rindu untuk segera duduk dan mulai makan siang bersama.

__ADS_1


bahkan saat makan siang pun Mawar masih melirik ke arah Rindu iya sangat merasa tidak nyaman Rindu berada disana apalagi saat ini Risma sangat mempercayainya dan menghargai dirinya sebagai tamu di rumah itu Mawar takut kembalinya Rindu akan merusak rumah tangganya bersama Fajar padahal Ia tidak mengetahui bahwa sekarang Rindu sedang mengejar perhatian dari Rudra karena menurutnya Rudra lebih segala-galanya daribpada Fajar yang hanya bekerja di kantor milik istrinya Mawar.


beberapa saat kemudian makan siang pun selesai Angel membersihkan kembali meja makannya yang dibantu oleh Dewi sementara yang lainnya pergi berkumpul kembali ke ruang tamu tetapi saat itu mawar malah mengajak Putri untuk berbicara berduaan saja di dalam kamarnya.


"kenapa kita harus berbicara di dalam kamar berduaan saja Kak apa ada yang ingin kakak sampaikan padaku?" ucap Putri penasaran.


"apakah perempuan itu yang kau ceritakan padaku waktu itu yang sempat menolong Ibu mertuamu" lanjut mawar.


"iya Kak namanya Rindu memangnya ada apa?" ucap Putri semakin penasaran lalu mawar pun menceritakan semuanya kepada Putri untuk sejenak Putri merasa takut dengan kehadiran rindu di tengah keluarga mereka karena ia yakin sekarang yang rindu inginkan bukanlah Fajar tapi Rudra. tanpa rasa sabar Putri ingin sekali menceritakan semua ini kepada Rudra namun ia harus menahan keinginannya itu sampai keluarganya pulang dari rumahnya karena takut mereka curiga karena tidak melihat mereka berdua akhirnya mawar pun mengajak Putri untuk segera keluar dari kamar dan berkumpul dengan mereka semua.


"duduklah dulu Mbak biar aku saja yang membuatkan kopi untuk mereka" ucap Angel sembari menuntun Putri duduk di di kursi yang ada di sana.


"terima kasih yah Angel kau sudah mau membantuku" ucap Putri padanya.

__ADS_1


"itu sudah kewajibanku Mbak, aku kan memang bekerja untuk kalian di rumah ini" lanjutnya tersenyum tidak lama kemudian Dewi keluar dari kamar kecil dan menghampiri Putri.


"tanganmu kenapa kak? kenapa kau memegangnya seperti itu kelihatannya kau sedang kesakitan" ucap Dewi.


"tiba-tiba saja tangan kakak terasa keram Wi, saat kakak ingin membuatkan kopi untuk ayah dan yang lainnya tetapi tidak apa-apa nanti juga sembuh sendiri" ucap Putri pelan lalu Dewi mengajak Putri untuk beristirahat ke dalam kamarnya sementara Angel melanjutkan membawa kopi yang akan diberikannya pada Rudra.


"kenapa kau yang mengantarkannya ke mana Putri" Rudra bertanya.


"Mbak Putri sedang berada di dalam kamar nya Mas tangannya terasa keram, mungkin dia kecapean" lanjut Angel lalu pergi kemudian Rudra pun memberikan kopi itu kepada yang lainnya sementara ia pergi menyusul Putri ke dalam kamarnya sesampainya disana ia pun langsung membuka pintu kamarnya lalu menghampiri Putri yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya sambil memegang tangannya itu.


"kenapa tanganmu bisa keram sayang, apa kau kecapean?" tanya Rudra dengan rasa khawatir.


"tidak apa-apa sayang sebaiknya kau berkumpul dengan yang lainnya di luar sana aku hanya butuh istirahat sebentar." lanjut Putri dan meminta Rudra untuk kembali mengobrol dengan yang lainnya namun sebelum pergi dari sana ia pun mengambil minyak oles yang ada di laci sebelah kanan tempat tidur mereka dan mengoleskan minyak itu pada tangan Putri setelah itu itu ia pun pergi dan membiarkan Putri untuk beristirahat.

__ADS_1


sementara di ruang tamu Risma merasakan bahwa ia tidak melihat putri dari semenjak selesai makan siang tadi Ia pun menanyakan tentangnya kepada yang lainnya kemudian Dewi mengatakan bahwa Putri sedang beristirahat di dalam kamar tidak lama kemudian terdengar suara tangisan dari arah kamar indah Risma pun terbangun dari tempat duduknya dan mengarah ke lantai atas menuju kamar indah. saat Risma membuka pintu kamar indah ternyata Indah sudah berada di bawah lantai ia terjatuh dari atas tempat tidurnya sampai terlihat sedikit benjolan pada keningnya Ia pun melangkah cepat lalu mengangkat Indah dan di gendongnya. Angel pun ikut berlari masuk kedalam kamar indah kebetulan saat itu ia sedang membersihkan lantai atas Angel ingin sekali mengambil indah dari tangan Risma dan menggendongnya namun ia sadar diri bahwa ia bukanlah siapa-siapa mungkin perasaan yang seringkali ia rasa sangat dekat sekali dengan indah hanya sebatas karena ia merindukan anaknya.


__ADS_2