Aku Pernah Hancur

Aku Pernah Hancur
Bab 62. Mawar dan Fajar masih hidup.


__ADS_3

satu Minggu kemudian,


pagi itu ,,udara nya terasa sangat sejuk sekali..hembusan angin dari celah lubang kayu itu menusuk masuk kedalam kulit tubuh nya, sudah beberapa minggu ini ia masih saja terbaring lemas dan belum sadar dari koma nya. seseorang yang tinggal di rumah kayu yang sederhana itulah yang membantu nya dari kejadian itu dan ia adalah Mawar kakak dari Putri..


Untuk beberapa saat kemudian, seperti biasa Bu Asih, selalu mengganti pakaian nya serta memberinya ramuan yang akan ia oles kan ke seluruh tubuh nya dengan harapan bisa membantu ia agar cepat sadar dari koma nya.


Di sana bu Asih tinggal bersama suami nya yang bernama Damar. Suatu hari kemudian Damar mendapatkan informasi kalau tetangga nya juga menemukan salah satu korban dari jatuh nya pesawat itu, lalu ia pun memberitahu kepada Bu Asih. Lalu mereka berdua pun berniat untuk pergi ke rumah tetangga nya untuk melihat seseorang yang di temukan itu.


ke esokan hari nya, Bu Asih dan pak Damar pergi ke sana..dan kebetulan bertemu dengan tetangga nya itu di pinggir jalan, lalu seseorang itu langsung mengajak mereka ke rumah nya. Sesampai nya di sana mereka melihat Fajar yang sedang duduk makan di ruang tamu dengan di bantu oleh anak dari pemilik rumah yang bernama Rindu sementara Ibu nya bernama Nadin.


" Apakah dia orang yang kalian temukan?" kata Bu Asih kepada Nadin.


"iya Bu Asih, tapi saat ini beliau sedang hilang ingatan..dia lupa siapa diri nya, dimana tempat tinggalnya, dia melupakan segala nya" jawab Nadin namun ia telah memberikan nama yang baru untuknya "Tegar".


"Aku juga menemukan seorang Gadis di pinggir pantai tapi sudah hampir satu bulan ia belum juga sadar kan diri, sementara rumah sakit di desa kita hanya ada di daerah kota" ucap Bu Asih bingung menghawatirkan keadaan Mawar.


Tidak lama kemudian Bu Asih dan suami nya itu berpamitan untuk pulang. Sesampai nya mereka di rumah, begitu terkejutnya Bu Asih dan suaminya itu melihat mawar sudah sadar dari komanya, ia masih duduk di tempat tidur nya sambil memegang kepala nya yang masih terasa sakit itu lalu perlahan mereka mendekatinya.

__ADS_1


"Nak....syukurlah kau telah sadar, apa kau mengingat siapa dirimu?" ucap Bu Asih bertanya.


"iya Bu , nama saya Mawar..saya dari Jakarta, apakah Ibu dan Bapak ini yang sudah menolong ku?" lanjut Mawar.


"iya Nak, kau selamat dari kecelakaan pesawat hampir satu bulan yang lalu, dan kami menemukan mu terdampar di pinggir pantai" ucap nya, lalu tiba-tiba saja Mawar menangis karena mengingat keluarga yang di tinggalkan dan Fajar yang entah masih hidup atau telah meninggal. Jiwa nya terguncang, raga nya lemah, dan bibir yang masih kaku untuk berbicara membuat nya bingung harus berbuat apa dan bagaiman?. Namun Bu Asih mencoba menguatkan nya dan tetap memberi nya semangat agar kesehatan nya kembali pulih seperti sediakala. Kemudian Bu Asih meminta nya agar tidak terlalu banyak gerak dulu sementara ia pergi ke dapur untuk mengambilkan nya makanan.


"Bu! apakah aku bisa meminjam ponsel milikmu, keluarga ku pasti menghawatirkan ku" ucap Mawar sambil mengusap air mata di pipi nya.


"Boleh saja Nak, tetapi di sini tidak ada jaringannya..kau harus naik di atas gunung untuk mendapatkan sinyal dan jarak nya 10 Km. dari sini ke sana" ucap Bu Asih sambil menyuapinya.


Lalu Mawar pun meminjam motor kepada Bu Asih untuk pergi ke sana, namun ia tidak mempunyai sepeda ataupun motor, mendengar itu..Mawar merasa sangat kebingungan karena ia harus naik apa ke sana.


Kini sore pun sudah berganti malam, Nadin meminta Tegar untuk beristirahat dan memintanya untuk tidak terlalu memaksakan keinginannya untuk mengingat siapa dirinya karena takut mengganggu kesehatan nya yang baru saja pulih itu.


sementara Rindu, ia gadis berusia 25 tahun yang pekerjaan hari-harinya hanya membantu Ibunya "Nadin" mengambil ikan dari hasil para nelayan. Walaupun ia baru mengenal Fajar hampir dalam satu bulan ini, namun ia sudah menyukai nya sejak pertamakali ia dan Nadin menemukan nya di pinggir laut. Rindu merawat Fajar dengan sangat baik, namun Nadin tidak mengetahui maksud dari kebaikan Rindu.


Setelah beberapa hari kemudian..kesehatan Mawar pun telah pulih kembali sementara Fajar masih lupa akan ingatan nya. pagi itu Mawar meminta tolong kepada Pak Damar untuk mengantarkan nya ke gunung itu, namun Pak Damar menyarankan nya untuk menyewa motor saja pada Nadin tetangga nya itu dan Mawar pun setuju "baiklah" ucap nya singkat.

__ADS_1


Sesampainya mereka di rumah Nadin, di sana sangat sepi seperti nya sedang tidak ada orang di rumah itu.


"Mungkin mereka sedang pergi mengambil ikan di laut Nak" ucap Damar.


"Apakah tempat nya jauh dari sini Pak?" lanjut Mawar.


"Tidak jauh dari sini Nak, ayo kita kesana" lalu mereka pun pergi menemui Nadin. Sesampai nya di sana mereka pun bertemu dengan Nadin tetapi ia hanya sendirian, tidak ada Rindu ataupun Fajar di sana.


"Pagi Bu Nadin, maaf pagi-pagi saya mengganggu. Apakah saya bisa menyewa motor nya Bu Nadin?" ucap Damar.


"ooh,, tentu saja boleh Pak..memang nya Pak Damar mau kemana?" lanjut nya.


"mau mengantarkan Nak Mawar ini ke gunung sana, ia ingin menghubungi keluarganya. Bu Nadin tau sendiri kan? di sini tidak ada sinyal" kata Pak Damar.


"Baiklah,, ayo ke rumah..kita ambil motor nya" sambung Bu Nadin, lalu mereka pun menuju ke rumahnya.


Sesampai nya di sana, Mawar langsung mengambil motor nya dan pergi bersama Pak Damar. Dalam perjalanan yang lumayan jauh itu tidak membuat nya merasa lelah karena ia terlalu rindu kepada adik nya Putri dan tidak sabar memberitahu nya kalau ia masih hidup.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sana. Dengan cepat ia mengambil ponsel dari dalam kantong nya dan mencoba mengingat nomor telepon dari rumah nya, namun saat ia menelpon beberapa kali tidak di angkat oleh Bi Inah, kemudian ia pun menelpon Putri namun saat itu Putri sedang pergi ke rumah sakit untuk cek kesehatan nya yang memang sedang tidak membaik karena terlalu banyak pikiran dan banyak hal yang terjadi dalam satu bulan ini. Mawar pun bingung harus menghubungi siapa lagi..karena yang ia tau hanya nomor telepon rumah nya dan Putri, untuk sesaat ia merasa putus asa dan tiba-tiba saja raut wajahnya terlihat sangat lesu.


"sabar yah Nak, besok kan kita bisa menghubungi mereka lembali, mungkin saja saat ini mereka sedang sibuk" ucap Pak Damar dan Mawar mengangguk-nganggukkan kepala nya seolah berkata "Baiklah", lalu mereka pun kembali pulang ke rumah nya.


__ADS_2