Aku Pernah Hancur

Aku Pernah Hancur
Bab 69. Mawar dan Fajar pulang ke Jakarta.


__ADS_3

Saat Nadin usai bersiap-siap iapun keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Rindu untuk memanggilnya kerana mereka akan segera pergi ke gedung pernikahan tersebut, saat berjalan menuju ruang tamu mereka kaget melihat Fajar yang sudah berada di bawah lantai Nadin dan Rindu pun mengangkat dan membaringkannya pada kursi panjang yang ada di ruangan itu, kemudian Rindu pergi ke kamarnya untuk mengambilkan minyak kayu putih dan segelas air untuk Fajar. Beberapa saat kemudian Fajar pun tersadar dari pingsannya.


"Apa kau baik-baik saja Nak?" kata Nadin.


"aku sudah mengingat semuanya Bu, dan aku minta maaf kalau aku tidak bisa menikah denganmu Rin..terimakasih karena kalian sudah sabar merawat ku selama ini tetapi aku harus pergi" ucapnya lalu pergi ke rumah Bu Asih untuk menemui Mawar.


"Apa? kau tidak bisa membatalkan pernikahan kita Mas...jangan pergiiiii" ucapnya berteriak memanggil Fajar sementara Nadin menahannya untuk tidak mengejar Fajar.


"Nak, kau tidak bisa memaksakannya..kemarin dia menerima pernikahan ini hanya sebagai ucapan terimakasih karena ia merasa hutang budi pada kita dan putus asa karena tidak bisa mengingat siapa dirinya, tetapi hari ini ingatannya sudah kembali dan kau harus bisa melupakannya" ucap Nadin sambil memeluk anaknya.


Tidak lama kemudian, Fajar pun sampai di rumah Bu Asih lalu ia pun melihat Mawar yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Mas, kenapa kau ke sini harusnya sekarang kau sudah ada di gedung pernikahankan?" ucap Mawar bingung.


"Aku sudah mengingat semuanya Mawar, kaulah calon istri ku bukan Rindu..Aku minta maaf...." ucap Fajar lalu memeluknya.


"kau tidak salah Mas, sekarang aku sangat senang karena ingatan mu telah kembali" lanjut Mawar dan mereka pun berniat akan balik ke jakarta untuk kembali melangsungkan pernikahan mereka yang sempat tertunda.

__ADS_1


Dua Minggu kemudian, Mawar dan Fajar berpamitan kepada Bu Asih dan Pak Damar tentu saja mereka berat hati melepas Mawar karena mereka sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


"berhati-hatilah Nak, jaga diri mu baik-baik dan semoga pernikahan kalian di lancarkan" ucap Bu Asih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bu,Pak..aku tidak akan ke Jakarta berdua saja dengan Mas Fajar karena aku akan mengajak kalian juga karena saat kalian merawat ku saat itu juga aku menganggap kalian sebagai orang tua kandung ku sendiri" ucap Mawar, meski Bu Asih menolaknya namun ia tetap saja memaksa nya dan akhirnya mereka mau ikut dengan Mawar dan Fajar ke Jakarta.


Sementara di Rumah sakit hari ini adalah hari di mana Putri sudah bisa membuka perban matanya, semua orang terkumpul disana kecuali keluarga dari Jalal karena Putri yang melarang Rudra untuk tidak memberitahu mereka dengan alasan tidak ingin keluarganya khawatir dengan keadaannya.


setelah perbannya selesai dibuka oleh dokter Putri pun diminta untuk membuka matanya secara perlahan, namun saat itu penglihatannya masih buram tetapi tidak lama kemudian Ia pun mulai jelas melihat apa pun di sekitarnya.


"Apa kau sudah bisa melihat?" ucap Dokter.


"selamat yah sayang" ucapnya lalu Putri berkata "terimakasih sayang".


lalu mereka pun bersiap-siap untuk pulang kembali ke rumah mawar, sementara Mawar dan yang lainnya Baru saja sampai di rumahnya namun mereka bingung melihat banyak polisi yang berada di halaman rumahnya ia pun langsung menghampiri salah satu polisi di sana kemudian polisi tersebut memberi tahu apa yang terjadi saat ini lalu Mawar dan yang lain nya pun langsung mengetuk pintu rumahnya dan dibuka oleh Bi Inah yang saat itu tidak pergi ke rumah sakit bersama Rudra dan yang lainnya. Saat Ni Inah membuka pintu begitu terkejutnya ia melihat Mawar dan Fajar berdiri di hadapannya sempat ia berpikir kalau saat itu ia hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan mereka.


"Bi Inah, aku sangat merindukanmu..apa kau baik-baik saja?" ucapnya Mawar lalu memeluk erat pembatunya itu.

__ADS_1


"apa ini nyata? non Mawar dan Mas Fajar masih hidup?" lanjutnya dan membalas pelukan Mawar.


"ya bi,, Bu Asih dan Pak Damar ini lah yang merawat ku selama ini..sebagai ucapan terimakasih aku membawanya untuk tinggal bersama ku dan akan menjadi orang tua baru untuk aku dan Putri" ucapnya sambil masuk kedalam rumah dan mempersilahkan mereka untuk duduk sementara Bi Inah pergi ke dapur untuk mengambilkan mereka minum.


"Bi, kenapa di rumah kita banyak sekali polisi dan penjaga bayaran?" ucapnya.


"semenjak non Mawar pergi banyak sekali hal-hal yang terjadi menimpa non Putri dan dua Minggu ini non Putri tinggal di sini untuk sementara oleh sebab itu banyak Polisi dan penjaga bayaran" lanjut Bi Inah dan ia menceritakan segalanya kepada Mawar. Ia sangat marah saat mengetahui Rasti lah penyebab semua itu, beberapa saat kemudian Bi Inah meminta mereka untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk menunggu kedatangan Putri dan yang lain nya. Mawar meminta Bu Asih dan Pak Damar untuk menempati kamar milik orang tuanya serta memakai semua pakaian yang ada di dalam lemarinya. sementara itu ia kembali ke kamarnya untuk mandi, setelah itu ia menemui Bi Inah di dapur dan meminta nya untuk menelpon keluarga Jalal dan meminta mereka datang ke rumahnya serta memberitahu tentang keadaan Putri sekarang.


Sesampainya keluarga Jalal di sana, mereka pun di persilahkan untuk masuk ke dalam rumah dan bi Inah meminta mereka untuk menunggu di ruang tamu sementara ia pergi menyiapkan minuman dan memanggil Mawar yang masih berada dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian Mawar pun turun dari atas tangga dan membuat semuanya terkejut melihat dirinya yang ternyata masih hidup, Mawar pun mendekati mereka lalu bersalaman.


"Syukurlah kau masih hidup Nak, saat mendengar kabar pesawat yang kau tumpangi jatuh kami semua merasa tidak ada harapan lagi untuk bisa bertemu dengan mu lagi" ucap Zahra.


"mereka lah yang menolong ku Bu" ucap Mawar mengarah ke Bu Asih dan Pak Damar.


"salam kenal Bu, Pak" ucap mereka bersamaan. Tidak lama kemudian Rudra dan Putri pun sampai di rumah dengan di temani oleh Fian dan Bunga,, namun Putri bingung setelah melihat dua mobil yang parkir di parkiran rumahnya dan ia tau kalau mobil itu adalah milik ayahnya dan Galang.


"apa kau menelpon ayah dan ibu?" Putri bertanya kepada Rudra.

__ADS_1


"tidak" ucapnya singkat.


"lalu kenapa mereka bisa ada di sini" gumamnya bingung, lalu ia mengetuk pintu rumahnya.


__ADS_2