
ke esokan harinya Mawar pergi lagi ke rumah Rindu karena ia merasa kalau Tegar itu adalah Fajar kekasihnya. Namun sesampainya di sana Rindu lebih dulu melihat nya lalu mengusir Mawar sebelum Fajar melihatnya, Rindu tidak kuat menahan Mawar yang ngotot ingin menemui Fajar akhirnya Rindu pun mendorongnya hingga terjatuh dan tak lama kemudian Mawar kembali bangun lalu menampar Rindu saat itu kebetulan sekali Fajar keluar dari rumah dan melihatnya tanpa penjelasan Fajar pun ikut mengusir Mawar karena ia tidak ingin bertemu dengan orang yang bermain tangan.
"maaf Fajar aku tidak bermaksud menamparnya, tetapi dia yang memulainya dia melarang ku untuk bertemu dengan mu" ucap Mawar, meskipun dengan sekuat tenaga ia meyakinkan Fajar namun tetap saja ia tidak ingin mendengarnya. Setelah beberapa kali di usir Mawar pun pergi dari sana dan ia merasa putus asa karena tidak bisa membuat Fajar untuk mengingat dirinya.
Sesampainya Mawar di rumah Bu Asih, ia langsung menemui pak Damar untuk meminjam ponsel nya untuk menghubungi Putri kembali.
"Nak, menurut Bapak nak Mawar pulihkan dulu kesehatan nya setelah itu Bapak janji akan mengantarkan mu ke kota, sekarang kita tidak bisa lagi pergi ke bukit itu karena tidak ada kendaraan tidak mungkin kalau nak Mawar harus jalan kaki ke sana kan?" ucap Pak Damar memberi pengertian kepada Mawar.
"tetapik pak! keluarga ku pasti mengira bahwa aku telah tiada, sementara di sini ada calon suami ku yang sedang mengalami amnesia aku tidak mungkin meninggalkannya di sini sendirian pak, aku harus membawanya pergi" ucap Mawar sambil meneteskan air mata. Pak Damar pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi lalu iapun menyerahkan ponselnya pada Mawar dan tidak lama kemudian Mawar pun pergi ke bukit sendirian dengan berjalan kaki, ia tidak mungkin mengajak Pak Damar yang usia nya sudah tidak bisa berjalan jauh.
Sesampainya di bukit, tiba-tiba saja jaringannya tersambung lalu terdengar ada pesan masuk setelah ia membukanya ternyata itu pesan dari Putri kemarin.
"Assalamualaikum.. maaf anda siapa yah?" saat membaca isi pesan dari Putri, ia sangat merasa senang sekali "iya yah? kenapa dari kemarin aku gak kirim pesan aja sama dia kan Putri bisa cepat tau kalau aku dan Fajar masih hidup" gumamnya sambil tersenyum. Kemudian ia pun mencoba menelponnya namun sayang saat itu ponselnya tidak aktif karena Putri dan sekeluarga sudah mengganti nomor ponselnya karena takut di teror Rasti usai mereka mengusirnya, lalu Mawar pun mengiriminya pesan ia berharap Putri membaca pesannya. Kini hari sudah mulai gelap awan-awan putih berubah menjadi hitam sementara ia masih dalam perjalanan pulang. perasaan khawatir pun kian mengganggu pikiran Bu Asih dan Pak Damar.
__ADS_1
"kenapa Bapak biarin Nak Mawar sendirian ke sana? Bapak kan tau disana banyak binatang buas?" ucap Bu Asih kesal.
"lalu mau bagaimana lagi Bu, ia tetap mau pergi kesana walaupun jalan kaki Bapak kan sudah tidak kuat berjalan jauh Bu" lanjutnya.
Tidak lama kemudian, Mawar pun sampai di rumah dan mereka pun lega ia sampai dengan selamat.
" Bagaimana Nak, apakah adik mu sudah menerima teleponnya" ucap Bu Asih namun Mawar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menunduk.
"sabar Nak semuanya pasti akan baik-baik saja" lanjut Pak Damar lalu mereka mengajak Mawar untuk makan malam bersama namun Ia menolak karena sedang tidak berselera untuk makan dan lebih memilih untuk beristirahat di kamar, Bu Asih pun mengerti dengan apa yang ia rasakan jadi tidak akan memaksa nya.
"lakukan tugas ini dengan baik dan benar, bayarannya akan saya berikan jika semuanya sudah terselesaikan" ucapnya.
"baik bos" lanjut orang suruhannya yang terdiri empat orang itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Bunga terus saja menghubungi Rudra untuk memberitahukan itu pada nya namun saat itu ponselnya sedang tidak aktif, lalu kemudian ia pun menghubungi Fian namun Fian tidak mengangkatnya karena saat itu ia sedang fokus menyetir dan akan ke kantornya. Terpaksa Bunga pun pergi langsung ke rumah Putri berharap masih ada waktu untuk bisa menyelamatkannya, Sementara di rumahnya ..Rudra sedang bersiap-siap akan pergi ke kantor iapun meminta Putri untuk mengambil ponselnya yang saat itu sedang di charger dengan mode pesawat, tanpa menyalakan ponselnya terlebih dahulu iapun langsung berpamitan pada Putri.
" sebaiknya kau makan dulu sayang, tidak mungkin beraktivitas dengan perut kosongkan?" ucapnya lembut.
"aku akan makan di kantor saja sayang, hari ini aku sangat kesiang karena terlalu lama bercumbu denganmu semalam" ucapnya mengejek.
"kau ini ada-ada saja" lanjut Putri namun sebelum berangkat kerja Putri pun meminta Rudra untuk mengunci semua pintu rumah dengan memakai kode rahasia yang baru karena ia takut sewaktu-waktu Rasti pasti akan kesana lalu Rudra pun menurutinya.
"barhati-hatilah sayang, hubungi aku jika terjadi apa-apa" ucapnya merasa tidak enak meninggalkan Putri sendirian di rumah dan setelah itu ia pun pergi ke kantornya. Beberapa saat setelah Ia ke kantor, orang suruhan Rasti pun tiba di rumahnya mereka langsung berpencar ke arah tiap pintu rumahnya namun tidak ada satupun pintu yang bisa di buka. Akhirnya mereka pun menemukan jendela yang terkunci namun mudah di buka, mereka pun masuk lalu mencari keberadaan Putri di setiap sudut rumah sebesar itu sementara Putri yang masih berada di dalam kamar nya merasa ada seseorang yang masuk ke rumahnya namun ia tidak pergi memeriksanya karena pikirnya mungkin saja Rudra. Tidak lama kemudian salah satu dari mereka menemukan kamar Putri dan melihatnya di dalam sana dengan spontan Putri berteriak histeris melihat wajah orang bertopeng masuk ke dalam rumahnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa meskipun ia berteriak sekencang-kencangnya tetap saja tidak ada yang mendengar lalu mereka pun membawa Putri keluar lewat jendela lagi dan memasukannya ke dalam mobil mereka kebetulan sekali Bunga baru saja sampai di sana iapun berteriak minta tolong setelah melihat Putri di bawa, dengan tubuh yang masih gemetar serta suara nafas yang terdengar berhembus sangat cepat membuatnya kebingungan harus bagaiman namun ia terus saja menghubungi Rudra tak lama kemudian ia pun menjawab telepon dari Bunga.
"Hallo, ia kenap Bunga? tidak biasanya kau menelponku sampai panggilan tak terjawab sebanyak ini" ucap Rudra.
"Rudra, kau harus pergi mencari Putri ia di culik..dan sekarang aku berada di depan rumahmu cepat Rudra" ucap Bunga.
__ADS_1
"apaaaaa?" katanya dan untuk sesaat Rudra merasa bersalah karena telah meninggalkannya sendirian di rumah, perut yang masih kosong pun tidak terasa lagi laparnya setelah mendengar kabar itu ia pun berlari keluar dari ruangannya dan pergi mencari Putri.